Ternyata aku tak sendiri-Wahyu Nur-OPJ

//Ternyata aku tak sendiri-Wahyu Nur-OPJ

Ternyata aku tak sendiri-Wahyu Nur-OPJ

OurPHJourney (OPJ) merupakan sesi sharing perjalanan hidup bersama Hipertensi Paru.

Oleh: Wahyu Nur Haryanti

 

Semangat berobat lagi aku tak sendiri

 

Assalamu’alaikum wr.wb

Selamat malam teman² semua. Perkenalkan nama saya Wahyu Nur Haryanti, usia 24th, biasa dipanggil Nur. Saya berasal dari Wonogiri Jateng dan sekarang tinggal di Bekasi. Diagnosa ASD secundum + PH. Biasa kontrol di RS Harapan Kita dengan dr. Rina Ariani.  Awalnya saya tidak tahu jika memiliki PJB PH, karena dari kecil tidak ada gejala apapun. Menginjak usia remaja, haid saya tidak teratur, kadang haid kadang malah berkepanjangan, saat itu ibu membawa saya ke spesialis kandungan tetapi hasilnya, tidak ada penyakit apapun dan katanya hormon saja yang tidak seimbang.

Tahun 2016 pernah mengalami haid 2 bulan tidak berhenti sampai HB drop, saat itulah dada mulai nyeri² engap. Tetapi saking awamnya tidak kepikiran untuk periksa ke dokter jantung ataupun paru. Dokter spesialis kandungan pun hanya menyarankan untuk transfusi darah saja. Hari demi hari ku lalui.. drama haid berkepanjangan sudah mulai normal setelah terapy hormon, tapi nyeri dada dan engap makin kesini makin kerasa, apalagi ketika kerja, saya mencoba berpikir positif mungkin ini efek setelah anemia.

Di tahun 2019 saya menikah dan memutuskan ikut suami ke Bekasi. Makin bertambah usia, dada makin nyeri makin engap. Saya dan suami sudah berniat untuk periksa ke dokter paru tapi ragu² , karena saya masih kekeh dengan pemikiran saya mungkin itu efek anemia dulu. Akhirnya saya mengurungkan niat untuk periksa.

Masuk di tahun 2020 dada makin tidak enak, untuk aktivitas jalan agak jauh engap, lemes, bahkan keringat dingin. Tiba di bulan ramadhan saya drop , tepat jam 12an malam dada saya nyeri dan sesek nafas sampai dibawa ke IGD.

Saat itu lagi gencar²nya covid, jadi saya harus masuk ruang isolasi dulu dan wajib rontsen paru² (karena saturasi 50-60), dari situlah dokter curiga, paru² saya bersih tapi jantung saya bengkak. Akhirnya saya dirujuk ke RS Hermina Bekasi yang alatnya lebih lengkap, di RS sini lah diperiksa oleh dokter jantung ternyata saya ada kebocoran dan Hipertensi Paru.

Saya bingung, panik,  sedih bercampur jadi satu. Tidak di sangka² selama ini jantung saya bocor. Saya pun tidak berani memberi tau keluarga, saudara, teman kalau sebenarnya saya ada PJB PH, hanya saya dan suami yang tahu. Alasan saya untuk tidak memberitahu, karena saya tidak mau orang² sekitar saya mengasihani bahkan yang lebih kejam membully/orang jawa bilangnya ngerasani. Saya belum cukup kuat mental untuk mendengar itu hehe, saya belum hamil aja jadi bahan perbincangan sana sini, jadi lebih baik saya dan suami memendam semuanya. Tapi makin kesini saya butuh dukungan keluarga dan saya akhirnya memutuskan untuk memberitahu keluarga saja. Alhamdulillah keluarga sangat support jadi makin semangat untuk berobat. Apalagi setelah gabung YHPI, saya tidak merasa sendiri lagi, bisa saling sharing.

Setelah merasa tidak sendiri dan mulai menerima kondisi ini saya semangat sekali untuk kontrol. Kontrol di RS Hermina hanya berlangsung 4 bulan, dokter mengrujuk saya ke RSUD Bekasi untuk rencana tindakan kateterisasi penutupan ASD, tetapi ternyata ASDnya tidak bisa ditutup dengan ASO dikarenakan posisi bocornya malalign khawatir lepas selain itu tidak reaktif oksigen juga, jadi dokter langsung merujuk lagi ke RS Harapan Kita untuk rencana tindakan operasi.

Di Harkit masih harus rawat jalan dulu karena PH masih tinggi, dosis sildenafil dinaikkan, setiap 6 bulan dilakukan RHC untuk mengevaluasi tekanan parunya. Rencana bulan ini RHC yang ke 4 untuk melihat lagi berapa tekanan PARInya. Sebenarnya RHC ke 3 dengan PARI 4 dokter sudah ACC untuk operasi, karena ada proses pemeriksaan yang tertunda jadi saya harus RHC lagi.

Semenjak di Harkit keluhan² jarang muncul lagi, yang awalnya tidak bisa jalan agak jauh, sekarang pelan² bisa meskipun ada rasa engap, mungkin karena sebelumnya dosis silde hanya 20-25mg sekarang jadi 50mg ke badan lebih fresh lebih plong walau masih ada rasa engap² juga kalau kecape’an. Oh ya…dulu setiap hari saya stres suka mikir yang tidak², kapan saya sembuh kapan PH saya turun hingga saya sadar, ya udahlah ya dinikmatin aja prosesnya yang penting minum obat dan kontrol rutin untuk PHnya kapan turun udahh itu Allah yang ngatur, kalau sudah ditakdirkan begini kita sebagai manusia cuma bisa ngejalanin… ikhlas legowo insyaAllah berbuah manis perjuangan kita.

Sekian cerita pengalaman hidup saya, dengan adanya pengalaman yang seperti ini menjadikan saya lebih aware lagi untuk perkara kesehatan, kalau tubuh sudah memberi sinyal² sebaiknya segera periksa jangan ragu atau ditunda². Untuk teman², semangat berjuang! Semangat sembuh!!

By | 2023-01-09T07:09:29+00:00 January 9th, 2023|Our PH Journey|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
Open chat