OurPHJourney-Ridha-Melodi-Aku-harus-berdamai-dengan-diriku-sendiri

//OurPHJourney-Ridha-Melodi-Aku-harus-berdamai-dengan-diriku-sendiri

OurPHJourney-Ridha-Melodi-Aku-harus-berdamai-dengan-diriku-sendiri

Our PH Journey

oleh M. Nailur Ridha (Jatim-Luar Jawa)

Februari 2020

 

“Sebelum aku berdamai dengan semua pihak,

Aku harus berdamai dengan diriku sendiri”

Saya dari keluarga broken home, saya kurang mendapatkan kasih sayang. Mereka (orang tua) punya masalah sendiri. Tapi, saya yakin masih sayang. Kalau tidak, pasti kita tiada. Karena kasih Tuhan, bersama restu orang tua.

Usia 16 bulan, ayah meninggalkan saya (kata embah). Tapi tetap saja beliau punya alasan kenapa harus pergi.  Usia 6 tahun, sebelum masuk SD (dulu di desa saya tidak ada TK), ibu juga meninggalkan saya.  Itulah takdir.

Apakah saya tidak marah? Tentu saja tidak. Saya tidak tahu apa-apa. Tapi, saya mulai jengkel saat saya  kelas 2 SMK. Saat itu saat pertama tanggung jawab ayah saya lepas. Ayah tidak lagi memberi saya zakat fitrah.

Ayah punya istri baru (ibu tiri). Mereka punya anak 1 perempuan, saya tidak tahu saat ini sudah kelas berapa. Ibu punya suami baru (bapak tiri). Mereka punya anak 2 perempuan, sudah kuliah semua.

Pada saat saya semester 3 saat main layangan, tiba-tiba saya tidak punya tenaga. Pulang dari bermain, saya bilang sama keluarga kalau tiba-tiba tidak punya tenaga. Alhamdulillah, kalau soal kesehatan, keluarga sangat cekatan. “Ya, nanti malam ke dokter”. Kebetulan mainnya ke klinik dokter spesialis penyakit dalam. Saat itu saya divonis penyakit dalam (kan waktu itu belum tahu bahasa yang benar adalah diagnosa). Saat itu sugesti mengambil alih hidupku.

Saya bercerita dengan dosen namun beliau tertawa. “Ya kalau jantungmu bocor, mati Do”. Lah, aku sependapat. Itu kontrol aku terakhir dimasanya. Dan bertahan sampai aku semester 12. Artinya, sugesti itu memang berpengaruh. Tapi, tetap saja tubuh butuh asupan gizi yang pas. Tanggal 10 Desember 2015 aku drop dan dirawat inap di RSUD Kab. Sumenep.

Tanggal 15 Desember 2015 aku keluar RS. Biasa, habis tidur di RS harus bertanggung jawab. Kontrol pertamaku berkesan. Lagi-lagi bahasa jantung bocor keluar. Dokter menyarankan untuk dibawa ke Surabaya. Sebab, SDM dan alat di RSUD Sumenep yang kebetulan masih kelas C tidak lengkap untuk kebutuhan pemeriksaan saya.

Akhirnya, saya ke RSUD dr. Soetomo tanggal 31 Desember 2015. Di sana, pertama didiagnosa klep jantung rusak. Saya diminta untuk echo. Bahasa menentukan sesorang mau stress apa tidak. Wah echo itu apa. Segala bayang terbang menduga-duga. Sebab, waktu itu saya belum kenal kalian, tidak tahu apa-apa.

26 Januari 2016 pertama echo. Rasanya seperti diulek-ulek. Dalam hati bilang, berkali-kali juga tidak apa-apa. Nah, saat itu diagnosa mulai berubah, kembali ke jantung bocor. Padahal tanggal 31 Desember 2015 saat di rontgen masih katub bermasalah. Saat itu juga saya didaftarkan untuk echo mulut.

Echo dada kan cuma ‘begitu’, saya kira echo mulut juga sama. Eh ternyata…

Tanggal 4 Februari 2016 echo mulut, sebelumnya sudah dikasih tau untuk puasa dari jam 3. Wah, ingin rasanya memaki semua orang. Bahasanya dokter seolah saya tidak ada usaha untuk menelan, padahal itu sudah mentok. Saat itu saya diberi pengetahuan baru oleh dokter. Namanya PH (hipertensi paru). Lah, ada kasus baru. Sudah ASD PH, berat lagi.

Tanggal 5 Maret saya MRS untuk proses kateterisasi. Hasil kateterisasi keluar 1 minggu setelahnya. Walau saya tinggal jauh tidak ada alasan untuk dipercepat. Saat kontrol setelah kateterisasi saya dibuat drop sama dokter. Bener waktu itu saya tidak tahu apa-apa, tetapi penjelasan dokter sangat jelas. Bahasa kedokterannya konservatif. Tapi, saya bilang sama keluarga untuk kontrol setiap bulan. Saya tidak cerita kalau itu artinya saya tidak bisa sembuh. Saat itu saya beneran dalam batas, mau marah tidak tahu sama siapa, mau bilang Tuhan tidak adil tidak berani.

Bulan Agustus 2016 saya ditelepon dosen wali saya. Sebab saya tidak melakukan pembayaran uang semester dan tidak ada aktifitas perkuliahan. Saya sudah di batas, saya diam tidak melakukan apapun. Saya bercerita kalau kondisiku seperti ini. Tidak bisa sembuh, sebab tidak ada tindakan apapun yang bisa menyembuhkan. Obat yang saya minum bukan obat penyembuh, tapi pencegah. Tanpa bicara dengan keluarga, saya berhenti kuliah secara tidak langsung. Sayangnya tidak seperi yang diharapkan. Istrinya om, kebetulan dosen di universitas tempat saya menumpuk buku. Beliau tahu saya tidak melakukan registrasi. Saya ditelepon, semua keluarga ditelepon. Akhirnya, saya bisa registrasi lagi sebab portal dibuka 1 jam.

Setelah semua proses perkuliahan saya lalui, saya ditelepon lagi oleh dosen wali. Beliau bertutur seperti ini: Mas, mas. Gitu aja sampeyan mundur. Kalau sampeyan dikasih sakit, ya syukuri Allah masih percaya sama kamu mampu.

Dalam hati saya ngedumel. Saya sakit, pak. Apa yang harus disyukuri ? (lemah iman)

Beliau lanjut berkata, saya mas setiap bulan 2x cuci darah.

Sampai sekarang dosen wali saya tersebut masih hidup.

Mundur waktu itu, saya tetap rutin kontrol. Hingga akhirnya saya membaik dan bisa melanjutkan kuliah. Hingga akhirnya saya diluluskan paksa oleh Kajur, sebab kalau tidak lulus, akreditasi bisa turun (hehe). Artinya, diluluskan paksa. Semua dosen membantu kepentinganku untuk lulus sehingga saya tidak ada kesulita. Semester 13 saya dinyatakan lulus dengan predikat. Sangat puas sekali, bagaimana tidak, kuliah hampir 7 tahun.

Tahun 2018, harapan baru muncul. Sebab, dokter echo bilang data tahun 2016 sudah kadaluarsa. Dan di 2018 ada perbaikan, artinya saya bisa dioperasi (open heart). Tepat tanggal 22 November 2018 saya daftar kateter.

Akhirnya saya kateter tanggal 7 Februari 2020. Tanggal 12 Februari kontrol pasca kateter, tanggal 19 Februari saya didaftarkan echo mulut lagi karena data berlaku cuma 1 tahun.

Jantung itu dalam kitab Mukasifatul qulub. Disebut hati. Ada segumpal daging dalam tubuhmu, apabila daging itu bagus maka baguslah semuanya. Daging itu bernama hati. Maka dari itu, saya berpandangan, biar jantungku bagus maka saya harus menjaga hatiku. Sebelum saya berdamai dengan semua pihak, saya harus berdamai dengan diriku sendiri.

asli:

Keluarga saya broken home kak.

Sayang kurang dapat kasih sayang.

Saya juga broken.

Mereka punya masalah sendiri.

Tp, saya yakin masih sayang.

Kalau tidak pasti kita tiada.

Karena kasih Tuhan, bersama restu orang Tua.

Usia 16 bulan “Kata Embah” Ayah ninggalin saya.

Tp, tetap aja beliau punya alasan kenapa harus pergi.

Usia 6 tahun.

Sebelum masuk SD. (Dulu d desa saya tidak ada TK)

Ibu juga ninggalin saya.

Itulah takdir……….

Apakah saya gag marah.

Tentu saja tidak.

Saya tidak tau apa apa.

Tp, saya mulai jengkel sama ayah saat saya kelas 2 SMK. Saat itu saat pertama tanggung jawab ayah lepas.

Dia sudah tidak memberi saya zakat fitrah.

Ayah punya istri baru.

Namanya ibu tiri.

Punya anak 1.

Gag tau kelas berapa adik saya. Cewek.

Ibu punya suami baru.

Namanya bapak tiri.

Punya anak 2 cewek semua.

Sudah kuliah semua.

Semester 3 pas waktu itu lagi main layangan.

Tetiba aku gag punya tenaga.

Pulang dr main.

Aku bilang sama keluarga.

Kalau tetiba aku gag punya tenaga.

Hamdala.

Kalau soal kesehatan keluarga sangat cekatan.

Y tar malam ke dokter.

Kebetulan mainnya k klinik dokter sp. Penyakit dalam.

Saat itu aku d vonis penyakit dalam. (Kan belom tau waktu itu, bahasa yg benar diagnosa).

Saat itu Sugesti mengambil Alih Hidupku.

Saya cerita sama dosen.

Beliau tertawa.

Ya kalau jantungmu bocor mati dok.

Lah. Aku sependapat.

Itu kontrol aku terakhir dimasanya. Dan bertahan sampai aku sms 12.

Artinya sugesti itu memang berpengaruh.

Tp, tetap saja tubuh butuh asupan gizi yg pas.

Tgl 10 Desember 2015 aku ngedrop.

Dan diRanap di Rsud kab. Sumenep.

Tgl 15 Des 2015 aku keluar.

Biasa habis tidur d RS. Harus bertanggung jawab.

Kontrol pertamaku berkesan.

Lagi lagi bahasa jantung bocor keluar.

Dokter menyarankan unt d bawah k surabaya.

Sebab SDM dan alat d RSUD sumenep yg kebetulan masih kelas C gag lengkap unt kebutuhan pemeriksaan saya.

Akhirnya saya k RSUD soetomo tanggal 31 Desember 2015.

Di sana pertama di diagnosa klepnya rusak.

Aku di minta echo.

Bahasa menentukan seseorang mau stres apa tidak.

 

Wah echo itu apa.

Segala bayang terbang menduga duga.

Sebab waktu itu aku gag kenal kalian.

Gag tau apa apa.

26 Januari 2016 aku pertama echo.

Dan rasanya di ulek ulek doang.

Dalam hati bilang.

Berkali kali juga gpp.

Nah saat itu diagnosa mulai berubah.

Kembali ke jantung bocor.

Padahal tgl 31 desember 2015 saat d ronsen masih katup bermasalah.

Wkwkwkwk.

Saat itu juga aku d daftakan Echo mulud.

Echo dada kan cuma gitu.

Echo mulu aku sangka sama.

Eh. Tenyata…….

Tgl 4 Februari aku echo mulut, sebelumnya uda d kasil tau suruh puasa dr jam 3.

Wah. Ingin rasanya memaki semua orang.

Bahasany dokter seolah aku gag ada usaha untuk nelen.

Padahal itu uda mentok.

Saat itu aku di beri pengetahuan baru sama dokter.

Namanya PH.

Lah.

Ada kasus baru.

Uda asd PH. Berat lagi.

[08:16, 2/14/2020] M Nailur Ridha. PH Sumenep: Tgl 5 maret aku MRS.

Unt proses chateterisasi.

Hasil chat tetap 1 minggu setelah proses.

Walaw aku jauh.

Gag ada alasan unt mempercepat.

[08:18, 2/14/2020] M Nailur Ridha. PH Sumenep: Saat kontrol setelah chat aku d buat drop sama dokter.

Bener waktu itu aku gag tau apa apa.

Tp, penjelasan dokter sangat jelas.

Bahasa kedokterannya konservatif.

Tp, aku bilang sama sama keluarga kontrol tiap bulan.

Aku gag cerita kalau itu artinya aku gag bisa sembuh.

Saat itu aku beneran dalam batas.

Mau marah gag tau sama sapa.

Mau bilang tuhan gag adil gag berani.

Agustus 2016.

Saya di telp. Sama dosen Wali saya.

Sebab saya tidak melakukan pembayaran uang semesteran.

Dan tdak ada aktifitas perkuliahan.

Aku sudah d batas.

Aku diam tidak melakukan apapun.

Aku bercerita kalau kondisiku seperti ini.

Gag bisa sembuh.

Sebab gag ada tindakan apapun yg bisa menyembuhkan.

Obat yg saya minum bukan obat penyembuh.

Tp, pencegah.

Tanpa bicara sama keluarga saya berhenti kuliah secara tak langsung.

Sayangnya tidak seperti yg diharapkan.

Istrinya om, kebetulan dosen d univ aku menumpuk buku.

Beliau tau aku tidak melakukan regestrasi.

Aku di telp. Semua keluarga d telp.

Akhirnya aku bisa regestrasi lagi.

Sebab portal di buka 1 jam.

KKN masih berlaku saat itu.

Wkwkwkjw.

Setelah semua proses perkuliahan aku lalui.

Aku d telp. Lagi sama Doliku. (Dosen Wali)

Beliau bertutur seperti ini.

Mas mas.

Gitu aja sampeyan mundur.

Kalau sampeyan d kasik sakit, y syukuri Allah masih percaya kamu mampu.

Dalam hati aku ngedumel.

Saya sakit pak, apa yg harus d syukuri ( lemah iman) 🤭🤭🤭🤭

Saya mas, tiap bulan 2x cuci darah.

Sampai sekarang masih hidup dosen wali saya.

Mundur waktu itu, aku tetap rutin kontrol.

Hingga akhir nya aku membaik dan melanjutkan kuliah.

Hingga akhirnya aku di luluskan paksa sama Kajur, sebab kalo aku gag lulus, akreditasi turun.

Heeee

Artinya d luluskan paksa.

Semua dosen membantu kepentinganku unt lulus, jadi gag ada kesulitan.

Sms 13 aku d nyatakan lulus dengan predikat.

Sangat puas sekali.

Gimana gag puas.

Kuliah hampir 7 tahun.

Wkwkwkkw

2018 harapan baru muncul.

Sebab dokter Echo bilang data 2016 kadaluarsa.

Dan d 2018 ada perbaikan.

Artinya aku bisa open.

Tepat tgl 22 November 2018 aku daftar chateter.

Setelah melalui proses.

Akhirnya aku chat tgl 7 februari 2020.

Tgl 12 Februari aku kontrol pasca chateter.

Tgl 19 Februari 2020 aku di daftarkan Echo mulut lagi.

Karna data berlaku cuma 1 tahun.

JANTUNG itu dalam kitab Mukasifatul qulub.

Di sebut Hati.Ada segumpal daging dalam tubuhmu, apa bila daging itu bagus, maka baguslah semuanya

Jika daging itu rusak, maka rusaklah semuanya.

Daging itu bernama hati.

Maka dari itu, saya berpandangan, biar jantungku bagus maka aku harus menjaga hatiku.

Sebelum aku berdamai dengan semua pihak.

Aku harus berdamai dengan diriku sendiri.

 

By | 2020-03-07T12:37:37+00:00 March 7th, 2020|Our PH Journey|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
WhatsApp chat