KULWAP (KULIAH WHATSAPP) Tema : Mengatasi-masalah-tanpa-masalah

///KULWAP (KULIAH WHATSAPP) Tema : Mengatasi-masalah-tanpa-masalah

KULWAP (KULIAH WHATSAPP) Tema : Mengatasi-masalah-tanpa-masalah

Kuliah Whatsapp Adalah Program Tanya Jawab Lewat Group Di Aplikasi Whatsapp Antara Anggota Yhpi Dengan Dokter/Narasumber Ahli Lainnya Untuk Topik2 Terkait Hipertensi Paru Yang Diadakan Secara Rutin Dan Berkala.

Untuk bergabung dalam group Whatsapp dan mengikuti kuliah berikutnya, silakan hub 085210006799

Untuk membaca materi tanya jawab lainnya yang lebih lengkap, silakan klik LOGIN.

 

KULIAH WHATSAPP (kulwap)

Mengatasi masalah tanpa masalah

Jumat, 31 januari 2020 pukul 19.30-21.00 WIB

Narasumber : Vega Annisa Solenta, M.Psi., Psikolog Klinis

Psikolog Pijar Psikologi

Moderator : dr. Novi, mba Arni, mb Umi

 

Pembukaan :

Selamat malam senang sekali saya bisa berkesempatan untuk ada di tengah-tengah Anda. Pada saya akan memfasilitasi sesi sharing secara psikologis. Mari sama-sama belajar bersama saya, memahami diri secara psikologis, sehingga Bapak/Ibu dan saya semakin mengerti apa yang dibutuhkan diri untuk meningkatkan kesehatan. Saya menyebut ini sebagai sesi sharing, agar lebih akrab dan santai, sehingga Bapak/Ibu dapat belajar mengungkapkan pikiran dan/atau perasaan yang sedang dialami, baik itu yang bersifat negatif ataupun positif. Saya akan membantu memfasilitasinya. Jika ada hal-hal yang belum mampu saya respon, akan saya catat dan simpan dulu pertanyaannya, dan akan saya respon di kesempatan berikutnya.

 

 

Pertanyaan & Jawaban Kulwap :

 

  1. Ahmad Firmansyah/39Tahun/Buaran Cakung

Pertanyaan : Bagaimana menilai bahwa diri kita Asertif secara objektif?, apa harus survey orang” dilingkaran kita?

Jawaban: Selamat malam Pak Ahmad. Terima kasih atas pertanyaan bagusnya.. Saya jawab sesuai pengetahuan saya saat ini ya. Bisa jadi, jawaban ini tidak selalu tepat untuk setiap orang. Dan bisa pula ada perkembangan pengetahuan yang belum saya ketahui. Menurut saya, evaluasi perilaku asertif terhadap diri dapat dilakukan secara intrapersonal (melibatkan proses diri) dan/atau interpersonal (melibatkan orang lain). Evaluasi secara intrapersonal dapat dilakukan dengan meninjau kembali, apakah sudah melakukan perilaku asertif dengan lengkap meliputi deskripsi perilaku, perasaan, interpretasi, konsekuensi, dan juga intensinya. Objektivitas evaluasi tersebut perlu dikroscek dengan orang lain, melalui pertanyaan-pertanyaan konfirmasi pesan, seperti “Dari semua yang tadi aku jelaskan, bagian mana yang masih belum membingungkanmu?”. Pertanyaan tersebut dapat dikembangkan sesuai kebutuhan. Mari sama-sama mengingat bahwa perilaku asertif dimunculkan untuk 1) menyampaikan pesan (harapan, pikiran, perasaan, batasan-batasan, dll) kepada orang lain, dan 2) tanpa menyakiti, menyinggung, atau melanggar hak-hak orang ybs. Sehingga, kedua poin tersebut sepertinya dapat digunakan sebagai acuan untuk mengevaluasi perilaku asertif diri, apakah sudah tercapai atau belum. Semoga menjawab poin yang ditanyakan ya..

  1. Nama Tedja Purnama Usia 67 thn Domisili Jakarta.

Pertanyaan: Selamat siang materi kali ini sepertinya ringan tp cukup rumit untuk diuraikan krn setiap masalah pasti akan berdampak terlebih obat bagi phers, secara kejiwaan dgn kita dibawah naungan yhpi banyak masalah dapat terpecahkan, dr segi obat  kita dpt harga obat yg murah, tdk punya obat begitu banyak yg dgn suka rela membantu dgn ikhlas, lg mudeng kena masalah diri banyak yg memberi bahu untuk bersandar, mslh yg paling sulit adalah bgmn membangun kepercayaan diri dgn kondisi beragam penyakit yg disandang dgn enjoy tanpa hrs terlihat ringkih. Terimakasih

Jawaban: Selamat malam Pak Tedja. Terima kasih atas pertanyaan menariknya. Saya memahami bagaimana sulitnya menjadi pasien, dalam forum ini khususnya pasien PH. Saya bisa membayangkan betapa banyak usaha Bpk dan teman-teman lain di grup ini, untuk menerima hingga mampu menyesuaikan diri dengan kondisi terbaru. Beratnya penyakit dapat memengaruhi banyak aspek psikologis, seperti kepercayaan diri salah satunya. Saya pun memahami bahwa proses menumbuhkan, membentuk, dan mempertahankan kepercayaan diri tidaklah instan dan mudah. Lalu, bagaimana membangun kepercayaan diri pada seorang pasien? Sejujurnya, saya tidak punya cara atau langkah-langkah pastinya Pak. Ini karena langkah-langkah yang diambil perlu disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan, dan karakteristik orang ybs. Tetapi, mari kita coba menggunakan penalaran sederhana yang runtut untuk memahami apa saja yang bisa dilakukan secara mandiri..

1)    Mari mengidentifikasi penyebab menurunnya atau rendahnya kepercayaan diri. Membuat daftar dan mengurutkannya dari yang paling tinggi ke rendah, akan membantu kita lebih paham dengan jelas;

2)    Mari mengenali diri lebih dalam (lengkap dengan kelebihan, kekurangan). Proses pengenalan diri ini dapat dilakukan secara mandiri dan/atau melibatkan orang-orang signifikan di sekitar kita untuk mendapatkan perspektif lain, sehingga kita bisa meramunya dengan objektif. Atau, kita bisa membaca referensi tentang karakteristik seseorang dengan kepercayaan diri yang tinggi, kemudian mengevaluasi kepercayaan diri kita sudah sejauh apa;

3)    Mari mengidentfikasi sumber-sumber dukungan emosional dan penerimaan sosial yang berdampak signifikan bagi diri (misalnya dari pasangan, orangtua, anak, rekan kerja, sesama pasien, dst);

4)    Mari mengidentifikasi dan mengapresiasi usaha-usaha diri kita dari yang skala kecil-besar dalam melalui kondisi-kondisi berat. Dalam konteks malam ini ialah kondisi setelah terdiagnosis PH. Membuat daftar usaha yang telah dilakukan pada masa-masa kemarin, seiring waktu akan memungkinkan kita untuk merasakan kepuasan terhadap diri. Berikan apresiasi yang pantas pada diri terhadap usaha-usaha yang dinilai membantu. Semoga menjawab poin yang ditanyakan, atau mendapatkan gambaran baru yang lebih jelas ya Pak…

  1. Dian umur 29thn dari Palu

Pertanyaan : Asalamualaikum…

Mama dan kakak2ku serumah dengan sy, mereka semua menggantung hidup dgn sy, terkadang apa yg sy lakukan n berikan tdk disyukuri, semntara sy sakit n harus mncari nafkah bkn hnya untuk anak2ku tp kluargaku juga. Terkadang jg mereka lakukan yg tidak sy inginkan dan sukai membuat sy kecewa dan marah. Bagaimana cara sy mmberitahu kepada mereka untuk menerima apa yg ada, memberitahu apa yg saya tdk suka tanpa menyakiti n menyinggung perasaan keluargaku. Terimakasih

Jawaban: Waalaikumsalam. Selamat malam Mbak Dian. Terima kasih atas pertanyaan bagusnya ya.. Mbak Dian, apakah sudah pernah mencoba perilaku asertif kepada keluarga? Lalu, bagaimana respon mereka? Mungkin, dua pertanyaan reflektif tersebut bisa menjadi bahan untuk evaluasi diri ya Mbak. Pada dasarnya, keberhasilan perilaku asertif tidak hanya bergantung pada bagaimana usaha kita, tetapi juga bagaimana respon orang di sekeliling. Ketika lingkungan tidak merespon secara positif, besar kemungkinan perilaku asertif dari diri kita cenderung lebih sulit dibentuk, bahkan dipertahankan. Tetapi, kunci-kunci penting dari penerapan perilaku asertif dimanapun dan kapanpun cenderung akan tetap sama saja. Yang bisa dimodifikasi untuk mencoba meningkatkan keberhasilannya adalah wujud konkrit dari kunci perilaku asertif (ada di salah satu slide saya). Diantara lain memodifikasi waktu penyampaian, bahasa tubuh (intonasi suara, ekspresi wajah, sikap tubuh, dll), penyesuaian bahasa atau kalimat yang digunakan, sikap kompromi – toleransi – fleksibilitas diri terhadap respon lingkungan sosial, dsb.

  1. Weni , 30th  Jogja

Pertanyaan : saya akui saya ini orangnya terbuka, ceplas ceplos. Apa yg sy ungkapkan berdasarkan kebenaran (terlalu jujur) gak bisa ngampet apa yg menurut sy tidak benar. Namun niat baik sy kdang ada yg menganggap hal negatif dan menimbulkan kesalah pahaman. Bagaimana sy menyikapi sikap sy.

Jawaban: Iya bu, sangat bisa dipahami kesulitan yg Bu Weni temui. Sepertinya, kesulitan itu juga banyak dialami yang lain, termasuk saya.. Tentu saja, cara yang saya pilih untuk menghadapi kesulitan serupa belum tentu akan efektif untuk orang lain, tetapi silahkan jika ingin mencobanya. Ketika menemui kesulitan tersebut, biasanya saya akan:

  • Diam dan berjeda dulu sembari menginstropeksi diri,
  • Saya perhatikan lagi kalimat sampai sikap saya ketika berbicara dan menimbulkan penilaian negatif atau kesalahpahaman dari orang lain,
  • Jika sekiranya mampu, saya akan mengkonfirmasi pada lawan bicara saya tentang bagian mana yang membuatnya menilai negatif atau salah paham terhadap saya,
  • Jika ada hal-hal yang perlu diluruskan, saya akan menyampaikannya secara asertif, pun ketika saya yang membuat kesalahan maka saya akan terbuka untuk meminta maaf ttg bagian yg memang salah
  • Jika tdk mendapatkan solusi yang dirasa nyaman, saya akan melihat ke dalam diri kemudian mencoba memberikan toleransi-kompromi sebagai sikap fleksibel dan rasa hormat saya thdp pilihan sikap orang lain

Weni : mba lha aku punya muka judes bawaan lahir tp hatiku baik loh tak sejudes wajahku. Jd blm ngomong aja udah pd takut

 Jawab : wah sama berarti kita. Saya juga dibilang judes, bahkan ketika saya belum ngomong apa2 mbak. Wkwkkwkwk. Ndapapa.. Respon orang macem2, maka apakah mgkn itu alarm bagi kita utk memberikan toleransi atau kompromi?

Weni : aku pernah ribut krn protes dgn sikapku

Jawaban : hya.. Begitulah menariknya brproses dgn manusia ya mbak… Unik-unik responnya. Aja-aja ada.. Tetapi ketika bisa bertumbuh dari hal-hal itu, akan serta merta meningkatkan kepuasan diri loh, wlopun dlm kondisi khusus dgn sakit tertentu, tdk menghalangi kita utk terus tumbuh secara psikologis. Obat mampu menyembuhkan atau memperlama harapan hidup secara fisik, sementara penerimaan dan respon positif terhadap masalah2 mampu menumbuhkan diri dan memulihkan kondisi psikologis (mental).

  1. Sudendi Retno Efendi 28 tahun Purwokerto Jateng

Pertanyaan:

Bagaimana tips melatih anak balita agar memiliki kemampuan asertif? Atau dengan kata lain kiat-kiat perlakuan melatih anak agar mampu asertif sedini mungkin. Terimakasih

Jawaban: Selamat malam Pak.. Terima kasih atas pertanyaannya. Pada dasarnya, pembentukan perilaku manusia dapat dilakukan dengan berbagai metode. Ketika yang dihadapi adalah balita, beberapa hal berikut sepertinya perlu dipastikan ada lebih dahulu ya Pak:

  • Kelancaran anak dalam berbicara secara verbal.
  • Kesesuaian pemahaman dan respon anak terhadap pesan kita (orangtuanya) secara verbal ataupun non-verbal.
  • Kesiapan orangtua yang akan menjadi model atau contoh bagi anak selama membentuk perilaku baru. Untuk metode pembentukan perilaku yang bisa coba diterapkan pada anak antara lain metode token ekonomi, bermain peran, pemberian penguatan sosial secara positif, dll. Bpk bisa mencari detail penjelasannya di artikel dari internet (buku, jurnal, modul pelatihan pembentukan perilaku, blog atau website terpercaya).
  1. Ibu Indri

Pertanyaan :

Ingin tanya mb, perilaku asertif ini bagaimana penerapannya kalo untuk kondisi kami yang sakit kronis/kurang bisa beraktifitas sehari2, dalam hubungan dgn keluarga dan teman, mungkin bisa diperjelas contoh2nya.

Jawaban: perilaku asertif utk kondisi-kondisi khusus atau umum, pada dasarnya sama. Bisa dilakukan dengan:

  • Tentukan untuk tujuan apa suatu pesan perlu disampaikan, contoh: utk memahamkan suami bahwa aku nggak sanggup mencuci baju lagi karena terlalu berat. Bentuk pesan asertifnya bisa dengan: sayang, rasanya badanku jadi jauh lebih lemas setiap kali aku coba bantu kamu nyuci pakaian-pakaian kita dan anak-anak. Aku akan terbantu banget, kalau ada solusi lain dari ini. Yang terpikir sejauh ini, adalah laundry cuci, atau kita luangkan di hari minggu utk nyuci bersama-sama. Itu kalau kamu sepakat dan tdk memberatkanmu. Kan diluar rumah kamu sudah kerja, jadi kita bisa cari solusi yg sama2 nyaman, dan sehat semuanya.. Menurutmu gimana sayang?.
  • Berikan respon langsung pada lawan bicara, contoh: jika suami merespon dgn mengiyakan saran laundry atau nyuci bersama di hari minggu. Bentuk respon langsung kita: ahhh syukurlah. Lega aku sayang. Makasih banyak ya sudah ngertiin dan bikin aku ngerasa lebih ringan. Step selanjutnya silahkan dicek lagi slide nya yaa…
  1. Mama Denisa 9thn

Pertanyaan: Dengan  pertumbuhan anak sy yg semkin besar salah ga dok klo sy mengajarkn anak sy  untuk balajar mandiri secra pelan2 agar tdk sllu begrgntung sama org tua.. Krn slma ini apa2 dari hal kecilpun sllu mnta bntuan mama ny.. Dan anak sy sllu mnolak klo sy sruh mlkukan hal yg mnrut sy mmpu dia krjakan sndiri. Di satu sisi kasian dg kondisi kshatanny tp d sisi lain saat sy sdang tdk ada stidaknya dia bs mlkukan hal kcil sendirian tnpa bntuan org lain krn blm tentu juga org lain bs mngrti dg kondisi sakitnya anak sya kdang org dkat pun msh mnganggap anak sy manja.

Jawaban: hmmm.. Pertanyaan yg sangat menarik. Tetapi, saya tdk dalam porsi utk menyalahkan atau membenarkan ya.. Saya lebih ingin mengajak ibu dan tmn2 yg lain utk lebih dulu memahami kebutuhan psikologis anak di tiap rentang usia tertentu. Silahkan baca artikel berikut utk memahami lebih detail perbedaan perkembangan psikologis manusia:

Jika batita sudah waktunya berganti makanan pokoknya, maka bu A akan mulai memberikan MPASI bukan? Nah, pola perilaku ibu tersebut juga dapat diterapkan utk memenuhi kebutuhan psikologis anak sesuai tahapan usianya. Mengapa? Karena ketika kebutuhannya berbeda, maka kita perlu menyesuaikan diri dgn itu. Dengan memiliki pemahaman terhadap kebutuhan psikologis anak, maka orangtua akan lebih memahami apa yang perlu diberikan pada anaknya.. 🙂

  1. Deni

Pertanyaan : Gimana menerapkan sikap asertif buat diri sendiri. Jika org tersebut pemalu dan suka memendam perasaan sendri. Sulit mengungkapkan isi hatinya.

Jawaban : mungkin bisa dimulai dgn latihan mengungkapkan pikiran, perasaan, pendapat, dll secara mandiri lewat menulis ekspresif. Cek link berikut utk tau lebih banyak ttg apa itu menulis ekspresif: https://pijarpsikologi.org/menulis-ekspresif-cara-mudah-lepas-dari-stres/. Selain itu, mari luangkan waktu utk mengidentifikasi apa saja yg menyebabkan diri cenderung pemalu dan suka memendam perasaan sendiri. Identifikasi ini disebut dgn proses mengenali diri utk lebih memahami kebutuhan psikologis diri..

 

 

By | 2020-03-07T12:20:49+00:00 March 7th, 2020|Kuliah lewat WhatsApp|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
Open chat