OurPhJourney- Yanti – Ini Semua Adalah Mu’jizat

//OurPhJourney- Yanti – Ini Semua Adalah Mu’jizat

OurPhJourney- Yanti – Ini Semua Adalah Mu’jizat

Ini Semua Adalah Mu’jizat, Saya Masih Bisa Bernapas Sampai Sekarang

Saya mulai terasa sesak nafas, di bulan Oktober 2011. Saat itu hasil rontgent  memperlihatkan kalau jantung saya sangat besar, hampir menutupi setengah dada saya, tetapi sayangnya saat itu di RS tersebut tidak ada dokter spesialis jantung nya. Karena saat itu saya tidak suka pengobatan medis, saya malah memilih pengobatan herbal.

Saya dirawat inap selama 1 bulan di Holostic Purwakarta dan sempat lanjut berobat jalan selama 2 bulan. Tapi kondisi malah semakin memburuk, saat itu kami hanya tahu jantung saya besar dan bocor, tetapi tidak diketahui berapa kebocorannya. Saya sudah tidak bisa beraktivitas sama sekali selama 4bulan, bedrest di tempat tidur dan hanya mengandalkan terapi Bekam, akupuntur, terapi lebah, terapi metode korea, tetapi semua itu malah memperburuk kondisi saya.

Akhirnya di pertengahan bulan Desember 2011, saya terpaksa di bawa ke RS Jantung Bina Waluya, di daerah Pasar Rebo. Barulah hari itu diagnosa yang sebenarnya keluar, Serambi dinding jantung saya bocor 2,9cm dengan Hipertensi Paru (PH) dan mulai hari itu saya minum Sildenafil dan dorner. Dengan kondisi saya yang drop, dokter menyarankan untuk dilakukan pemasangan ASO, tetapi karena biayanya sangat mahal akhirnya kami sekeluarga memutuskan untuk ke RS Harapan kita.

Saat itu belum ada BPJS, baru ada Jamkesda. Akhirnya dengan modal nekad kami pun ke RS Harapan Kita dan bertemu dengan Dr. Pradith. Niatnya hanya kontrol, tetapi hari itu juga dokter menyarankan saya untuk di rawat. Alhamdulillah, saya dapat kamar dan dirawat selama 5 hari disana. Selama saya di sana, tidak ada tindakan apapun yg dilakukan oleh dokter, hanya minum obat dan dokter yg visit pun hanyalah asisten dokter. Saat itu saya sekamar dengan 5 orang penderita jantung yang kondisinya lumayan parah. Karena faktor psikologis, kondisi saya malah semakin memburuk. Dihari ketiga, tiba-tiba saya drop dan hampir tidak tertolong, tubuh sudah dingin, kejang yang luar biasa, sudah tidak bisa membuka mata, hanya telinga yang bisa mendengar. Obat sudah tidak bisa masuk, cairanpun sudah tidak bisa dikeluarkan. Akhirnya dokter berinisiatif memasukkan obat melalui dubur. Alhamdulillah tubuh langsung bereaksi, kejangnya berhenti dan darah mulai terasa mengalir. Tetapi selama 2 hari tekanan darah saya di posisi 70/40 dengan saturasi di 70 dan kondisi tubuh saya dingin.

Akhirnya orang tua saya memutuskan untuk mengeluarkan paksa dari RS Harapan Kita dan langsung di pindah ke RS Jantung Bina Waluya. Alhamdulillah, setelah sampai di Bina Waluya, saya langsung di tangani oleh Prof Dr Munawar, pemilik dari RS tersebut. Dalam waktu 2 hari kondisi saya stabil, tekanan darah naik di posisi 90/70, saturasi di 85 dan di hari ketiga dokter menyarankan agar melakukan tindakan pemasangan ASO. Tetapi karena terkendala biaya, dimana saat itu biayanya 100jt, akhirnya kami minta mundur dihari senin. Tapi Allah Maha Baik, di hari ke 4, saya bisa melakukan tindakan pemasangan ASO, tanpa harus mengeluarkan biaya, karena ada seorang dokter yang menjamin bahwa saya bisa membayar di akhir bulan. Saat itu PH saya di 74, itu hasil dari Echo di TVg. Saya tidak melakukan kateterisasi terlebih dahulu, jadi langsung pasang ASO.

Saat itu dokter hanya memberi 2 pilihan, Pemasangan ASO segera dilakukan tetapi akan tetap menderita PH severe seumur hidup, resiko selamat hanya 1%. Pilihan yg kedua, hanya minum obat seumur hidup, hidup dengan PH dan jantung bocor, resiko selamat 0%. Kami pun memilih yang pertama, apapun hasilnya kami pasrahkan sama Allah, kami hanya bisa berusaha. Alhamdulillah, pemasangan ASO berjalan lancar selama 3-4 jam dan kondisi saya stabil. Allahu Akbar, apapun hasilnya hanya Allah yang punya kuasa atas diri saya. Tekanan paru saya setelah di pasang ASO di posisi 64mmHg. Alhamdulillah selama 3 tahun kondisi saya stabil.

Hingga suatu hari di tahun 2014 saya melakukan perjalanan ke luar negeri. Saya disana kelelahan, naik tangga setinggi 30meter, dan sejak itu jantung saya mulai terasa kencang detaknya. Selama 3hari semakin membengkak, tetapi saya harus pulang ke Indonesia, jadi saya tidak berani ke RS walaupun kondisi sesak nafas.

Ketika di dalam pesawat saat perjalanan pulang saya melakukan kesalahan lagi, saya terkena air di toilet dan itu semakin memperparah keadaan saya. Kaki semakin besar dan sudah tidak bisa berjalan. Begitu turun dari pesawat, saya langsung di bawa ke RS, masuk ke UGD dan ternyata detak jantung saya 160detak/menit. Akhirnya saya dikejut dengan 50 joule dan sempat di ruang ICU selama 2 hari. Sejak saat itu saya didiagnosa aritmia. Sehari-hari saya tetap bisa beraktivitas, saya tetap bekerja di sebuah bank swasta. Hampir setiap 3 atau 4 bulan saya masuk rawat inap karena harus dikeluarkan cairannya.

Mulai tahun 2016 kondisi saya semakin menurun. Saya mulai sering Amnesia, setahun bisa 4 kali amnesia. Di tahun 2017 sempat terkena infeksi bakteri dan di diagnosa tumor dan cancer di paru-paru. Hanya karena RS tidak berani ambil resiko jika saya melakukan bronkoskopi dimana saya harus dibius total, dan melihat kondisi fungsi jantung saya yang hanya 36%, akhirnya diagnosa tumor dan cancer tidak bisa di tuntaskan. Dokter hanya berpesan, jika nanti sampai batuk darah, segeralah ke dokter.

Sejak 2017, saya mulai terapi oksigen. Saya lakukan sehari 3kali, sebelum tidur, setelah tidur dan setelah pulang kerja. Ternyata ini membantu saya dalam hal amnesia. Tahun 2107, amnesia saya mulai berkurang. Di tahun 2018, alhamdulillah saya bisa ibadah ke tanah suci untuk umroh dan disana sempat masuk RS di Madinah, tetapi setelah itu saya bisa melakukan ibadah umroh dengan lancar.

Tahun 2019, bulan juni saya terserang aritmia lagi. Sempat dikejut sebanyak 3kali dan beberapa hari di ruang ICU. Dokter menyarankan saya untuk melakukan ablasi. Alhamdulillah dengan bantuan BPJS, saya bisa diablasi di RSPAD Gatot Subroto di bulan September kemarin. Alhamdulillah sejak saat itu kondisi saya stabil. Tetapi seperti biasa, edema tetap menjadi masalah saya sampai saat ini.

Dulu waktu pertama kali di diagnosa PH (hipertensi paru), saya merasa hidup saya akan segera berakhir. Sampai suatu saat saya membuka Facebook dan bertemu dengan YHPI (Yayasan Hipertensi Paru Indonesia) , pada saat itu ada artikel yang judulnya Hidup Bersama PH(hipertensi paru). Dan ada kalimat banyak penderita PH(hipertensi paru) yang bisa bertahan hidup lebih dari 25 th setelah di diagnosa. Dan itu adalah momen dimana saya merasa hidup kembali.Saya yakin walau saya penderita PH tapi saya bisa bertahan hidup untuk jangka waktu yang lama dan akan bermanfaat untuk orang banyak, aamiin. Positif thinking, ikhlas dan sabar serta semangat terus ya. Insya Allah kita selalu dalam lindungan  Allah SWT dimanapun kita berada.

Demikian cerita hidup saya bersama PH(hipertensi paru) . Terima kasih YHPI yang selalu menjadi penyemangat ketika kondisi sedang drop. Banyak bantuan dan saran teman-teman yang sangat membantu saya dalam melalui hari-hari saya. Hidup saya berubah 180 derajat setelah terdiagnosa PH. Banyak aktivitas yang tidak bisa saya lakukan lagi dan saya suka memaksakan diri kalau saya bisa. Tetapi ujung-ujungnya saya pasti drop.

Tetapi ketika saya sadar siapa diri saya sekarang, saya sadar kalau tubuh saya sudah tidak seperti dahulu, banyak hal yang harus dirubah dan banyak hal yang memang sudah tidak boleh dilakukan. Dan Ikhlas serta sabar dan menerima semua keadaan kita sekarang. Alhamdulillah kondisi saya stabil. Saya terserang aritmia kemarin karena saya memaksakan diri naik tangga setinggi 30 meter dan akhirnya saya langsung drop.Kemarin di RSPAD, ketika saya bertemu dengan  team dokter BTKV, dokternya mengatakan seperti ini teman-teman, “Kasus saya adalah kasus yang langka, dan sebuah mukjizat dari Allah dimana saya sampai sekarang masih bisa bernafas, karena dengan kondisi PH severe dan dipasang ASO, secara teori pasien tidak akan bisa bertahan hidup karena tekanan PH yang tinggi bisa menyebabkan jantung tiba-tiba berhenti karena tidak ada lubang untuk dilalui tekanan PH tersebut “.Mendengar hal itu, saya hanya bisa bersyukur kepada Allah, karena masih diberi kesempatan hidup kembali.

Tipsnya adalah:

  1. Ikhlas dan pasrah, terima PH ini sudah bagian dari hidup kita
  2. Minum obat rutin
  3. Terapi oksigen, saat ini saya pakai oksigen hanya di malam hari ketika sedang tidur sampai pagi hari
  4. Hindari udara dingin, pakai jaket, pakai masker, minum air hangat
  5. Kontrol cairan yg masuk ke tubuh
  6. Hindari makanan yang berpotensi menyebabkan kambuh : seafood, es, santan, durian, jeroan dan sebagainya.
  7. Usahakan selalu bergerak, walau hanya gerakan kaki dan tangan
By | 2020-01-30T12:59:18+00:00 January 30th, 2020|Our PH Journey|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
WhatsApp chat