OurPhJourney-Luluk- Selalu Ada Hikmah Dibalik Setiap Ujian

/, Uncategorized/OurPhJourney-Luluk- Selalu Ada Hikmah Dibalik Setiap Ujian

OurPhJourney-Luluk- Selalu Ada Hikmah Dibalik Setiap Ujian

  Selalu Ada Hikmah Dibalik Setiap Ujian

pada dasarnya saya merasa biasa saja layaknya orang normal pada umumnya,semua aktifitas bisa saya lakukan tanpa ada keluhan. Keluhan mulai terasa sejak saya hamil anak pertama, mudah lelah saat beraktivitas meskipun ringan. Yang paling terasa yaitu saat saya menolong persalinan, saat saya melakukan tekanan pada kepala bayi (istilah medisnya stenen) yaitu menahan perinium saat kepala bayi membuka pintu agar tidak terjadi robekan jalan lahir, dan tugas bidan pada saat itu adalah menahan. Pada saat itu jantung saya berdebar kencang tak beraturan, namun semua itu tidak ku hiraukan mungkin saja karena kelelahan pada saat itu.

Sinyal tubuh sudah mulai terlihat bahwa ada ketidaknormalan dalam jantungku. Namun aku selalu meyakinkan diri bahwa aku baik-baik saja. Yang lebih parah lagi saat proses  merujuk pasien yang hendak bersalin dengan resiko ke RSUD, saya mendampingi mulai masuk UGD hingga pasien masuk kamar bersalin semua saya urus termasuk administrasinya,saat itu saya benar-benar lelah. Saat pasien diperjalanan menuju kamar bersalin tiba-tiba saya pusing pandangan gelap kemudian saya pingsan akhirnya dilarikan ke ugd.

Hal itu berulang kali terjadi saat menolong persalinan. Saat itu saya hanya di cek laborat dan gula darahku 60 mg/dl. Setelah sadar saya langsung minta minum dan dokter menyarankan minum segelas air gula. Akhirnya perlahan saya pulih dan segar kembali. Anak pertama saya lahir secara normal di bidan praktek mandiri, alhamdulillah semuanya lancar tanpa komplikasi pasca melahirkan.

Singkat cerita pada tahun 2013 anak saya sakit sampai dia meninggal dunia di usia 2 tahun 1 bulan. Saat itulah kondisi saya selalu drop, sering pingsan, sering masuk RS, karena memang saya belum bisa menerima kepergian dia. Saya sangat terpukul sekali melepas kepergian anakku. Bila teringat anakku jantung ini langsung berdetak tidak teratur keras sekali, tidak mau makan, tidak bisa tidur dan keseharian saya menangis dan menangis. Awalnya dokter mengira saya hypoglikemi karena gula darah saya selalu dibawah 80.

Tahun 2014 saya hamil anak kedua dan mulai lagi keluhan tidak nyaman. Leher seperti tercekik dan kadang seperti ada benjolan besar didalamnya, mudah lelah bahkan jalan sebentar saja sudah tidak kuat bahkan mau muntah. Di usia kehamilan 4 bulan saya periksa ke dokter spesialis penyakit dalam saya di ronsen dan diketahuilah jantung ini ada pembengkakan. Saya diberi obat jantung digoksin furosemide dan spironolacton. Dokter menyalahkan saya karena waktu itu saya hamil dalam kondisi jantung bengkak.

Namun saya tetap melanjutkan kehamilan saya dan saya berhenti minum obat jantung itu karena saya kasihan dengan bayi saya. Selama 9 bulan saya menahan rasa sakit dileher seperti tercekik, tanpa berobat ke dokter. Saya hanya mengandalkan do’a pada saat itu. Akhirnya menjelang persalinan, bayi saya lahir didalam mobil saat perjalanan menuju klinik bersalin. Dokter spesialis kandungan di klinik itupun marah setelah tahu bahwa jantung saya bengkak. Kondisi saya dipantau sangat ketat pada saat itu. Padahal saya merasa baik baik saja hanya seperti tercekik dileher. Alhamdulillah semuanya lancar dan saya pun diperbolehkan pulang.Oksigen selalu terpasang selama 3 hari.

Tahun 2016 saya hamil lagi (masih belum kapok juga) saya orang medis namun saya tidak memikirkan resiko, saya hanya mengandalkan Allah saja. Usia 7 bulan bayi saya meninggal seteah mendapat perawatan di ICU RSUD PMK dengan diagnosa pneumonia. Keluhan semakin bertambah sering sesak nafas. Namun saya tidak menghiraukan semua itu karena terlalu fokus ingin memiliki anak saja. Menjelang persalinan saya rencana akan bersalin secara normal akhirnya pembukaan rahim tidak ada kemajuan. Mudah lelah dan kadang jantung ini seperti akan berhenti mendadak. Singkat cerita karena sudah diobservasi namun belum juga ada kemajuan pembukaannya, dokter menyarankan saya harus operasi (SC).

Akhirnya timbul rasa cemas dalam diri saya membuat saya harus mengatakan bahwa jantung saya tidak normal. Benar benar nekat saya saat itu karena tidak mengatakan riwayat penyakit saya. Dokter pun kebingungan dan akhirnya saya menceritakan semuanya. Dokter menyarankan saya untuk operasi ke surabaya tetapi saya menolak. Hingga akhirnya saya operasi di klinik itu.

Apa yang terjadi di ruang operasi?.Setelah saya dibius lokal saturasi oksigenku turun drastis dari 96 turun sampai 80. Langsung dipasang oksigen 100% sambil dipompa. Semua dokter panik dan ketakutan, tapi saat itu saya baik-baik saja. Proses operasi berjalan lancar akhirnya saya dipindah ke kamar perawatan. Malamnya saya tidur pulas. Paginya saya kejang 2kali, membiru,dan detak jantungku saat itu hanya 35. Akhirnya saya dilarikan ke ugd dan masuk ICU. Seluruh tubuhku membiru, seperti mau menghadapi sakaratul maut.Tidak bisa diungkapkan bagaimana rasanya pada saat itu.

Akhirnya saya di echo dan diketahuilah bahwa jantung saya bocor disertai hipertensi paru berat dengan lubang 4,7 cm dan Hipertensi Paru 93,45 mmhg. Semenjak terdiagnosa jantung bocor dengan Hipertensi Paru, saya teratur minum obat dan rajin kontrol. Hidup dengan hipertensi paru pastinya membuat aktifitas sehari-hari jauh berbeda dibandingkan dulu. Saya jadi lebih sering di rumah, aktivitaspun serba dibatasi, tidak bisa mandiri dan selalu bergantung pada orang lain. Keluar rumahpun harus dibatasi waktunya karena memang sudah tidak kuat dan setelahnya harus rebahan dulu beberapa jam.

Keluarga saya bagaimana? Hanya suami yang paham dengan kondisi saya. Impian saya bagaimana? Ya memang jadi banyak mengubur mimpi-mimpi yang dulu sudah direncanakan. Salah satunya adalah naik haji, rehap rumah. Tapi, saya sudah tidak sedih lagi dan bisa menerima sakit ini.

Saya justru banyak bersyukur dengan kondisi seperti ini masih bisa bekerja, masih bisa ikut membantu orang lain walaupun kinerja saya mungkin saja tidak semaksimal teman-teman yang lain. Hal yang sangat istimewa adalah saya lebih khusyu’ dalam beribadah, itulah kenikmatan dibalik sakit ini. Saya bisa lebih fokus lagi dengan ibadah sunnah misalnya sholat malam dzikir tadabbur quran dan sebagainya.

Saya berbagi cerita di sini ingin menyampaikan kepada teman-teman yang lain agar  janganlah terlalu larut bersedih akan nasib kita, tetaplah bersemangat, lakukan apa yang masih bisa dilakukan walaupun hal kecil. Jagalah kondisi badannya masing-masing. Pintar pintar lah membaca alarm tubuh. Yang terakhir, tetaplah berusaha mencari kesembuhan (ke ahlinya yaitu dokter, bukan ke tempat lain) dan berdoalah, ingatlah kalau Allah yang memberi kita sakit dan Allah pula yg menyembuhkan.

By | 2020-01-30T12:16:44+00:00 January 30th, 2020|Our PH Journey, Uncategorized|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
WhatsApp chat