OurPHJourney – Dwi Subiyanto – Perjuangan Untuk Hidup Lebih Lama

//OurPHJourney – Dwi Subiyanto – Perjuangan Untuk Hidup Lebih Lama

OurPHJourney – Dwi Subiyanto – Perjuangan Untuk Hidup Lebih Lama

“Harapanku, aku masih ingin hidup lebih lama dalam keadaan sehat.” – Dwi Subiyanto

Assalamu’alaikum w.w

Selamat berjumpa…

Semoga kita dalam keadaan sehat…

Perkenalkan, saya Dwi Subiyanto dari Purwokerto.

Mari kita simak kisah ceritaku….

Aku dilahirkan dalam keadaan normal dan sehat…

Memang ketika sekolah pelajaran OR, terutama lari aku pasti tertinggal dengan teman2, karena gak kuat lari secara terus menerus pasti sesekali jalan.

Di usia 21 tahun aku mendaftar CPNS, untuk melengkapi berkas ada surat keterangan dokter, pas diperiksa ternyata tensi saya 170/110, jadi dokter belum bisa memberikan surat keterangan sehat.

Aku berobat untuk menurunkan tensi, seminggu kemudian aku datang lagi ke dokter untuk minta surat keterangan sehat, tensi sudah turun dan diberi surat keterangan sehat.

Seleksi CPNS lolos.

Dua (2) tahun menjadi CPNS, tiba saatnya pemberkasan untuk jadi PNS 100%, ada persyaratan lagi surat keterangan dokter.

Dokternya sudah ditunjuk, aku diperiksa ternyata, tensi saya seperti dulu 170/110, jadi belum diberi surat keterangan sehat, malah diberi obat turun tensi, seminggu berikutnya saya periksa lagi, tensi dah turun, diberi surat keterangan sehat.

Tensi begitu tinggi saya gak merasa pusing atau apa, saya nyaman2 saja. Sehingga tidak pernah kontrol ke dokter.

Singkat cerita, ditahun 2005 an, ada keanehan, saya nuntun motor beberapa meter koq terasa ngempos, megap2, padahal biasanya engga, jadi besoknya aku dokter biasa, tensi tinggi, keluhan ngempos.

Aku disarankan ke dokter jantung.

Aku ke RSUD Banyumas, disana, ditangani sama dr. Bambang Purcahyo, SP.JP, saya diperiksa dan dijadwalkan echo.

Setelah di echo, dokter menyampaikan ini PH dan diberi resep hanya satu obat VIAGRA, saya kaget koq viagra, setahu saya viagra itu obat kuat untuk laki2, mengatasi disfungsi ereksi, pasien lain dan orang2 juga mengira aku disfungsi ereksi.

Aku beli di apotek harganya woow… Mahal bingit…….

Sudah kubeli, aku tidak lanjutin kontrol ke RSUD Banyumas, aku pindah kontrol di RS Margono, aku ditangani sama dr. Wasid, SPJP,  ayah dari dr. Abraham, SPJP, saya diberi obat biasa untuk turun tensi, rutin saya kontrol ke RS margono. Suatu saat ada yang menyarankan ke alternatif, saya ikut ke alternatif, dipijat,  malamnya saya gak bisa tidur dan sesak napas pagi langsung ke Margono, dan disuruh rawat inap masuk di ICCU. Kondisi masih bisa jalan sendiri, saya ke RS margono juga sendirian, niatnya hanya priksa, gak tahu aku akan disuruh rawat inap.

4 hari rawat inap, saya dengar pembicaraan dr. Wasid mengatakan ini harus ke Jakarta. Saya takut sekali.

Setelah rawat inap saya hanya rutin kontrol ke RS Margono.

Karena rasane ajeg, saya pengin kontrol lagi ke RSUD banyumas. Ketemu lagi dengan dr. Bambang Purcahyo, obatnya kisaran amplodipin, digoxin dan ada tambahan *dorner*, dorner belum terkafer Askes, jadi beli sendiri, harganya mahal juga, 3 strip 200 rb. Kalau 9 strip 600 rb.

Mendengar di Margono ada dr. Jantung baru, aku pindah lagi ke Margono.

Di RS Margono ditangani dr. Yusup,  SPJP pengganti dr. Wasid yang pensiun.

Aku di echo ulang dari hasil echo diberi resep seperti biasa dan tambahan sildenafil dan beli sendiri, harganya wooow… Juga.

Beberapa hari minum sildenafil, rasane biasa2 aja, masih megap2, cepet capai, hanya ada perbedaan , maaf milik pribadiku jadi mudah sekali ereksi, tambah JOSS walau tanpa disentuh, seperti dulu ketika pernah minum viagra.

Beberapa bulan kemudian, aku disarankan ke RS Harkit aja di Jakarta, oleh dr.  Yusup. Kali ini aku nekad berobat ke RS harkit, hanya berdua dengan istri.

Karena proses pemriksaan tidak cukup sehari, nginep di pondokan belakang Harkit.

Rencana mau di aso, sudah dilaksanakan tindakan kateter, tidak jadi dipasang ASO, karena tekanan paru terlalu tinggi. Pulang ke Purwokerto.

Kembali berobat ke RS Margono, beberapa tahun kemudian pengin berobat ke Sarjito, karena mendengar di RS Sarjito ada penanganan pasien PH, dan bertemu dr. Krisdinarti.

Di RS sarjito, echo ulang dan hasilnya, kembali mau di ASO, sama seperti di Harkit, peristiwa lama kembali terjadi, belum jadi di ASO karena tekanan paru tinggi. Selanjutnya kenal dengan sildenafil, walaupun kadang harus bayar mahal karena persedian kosong, sildenafil sangat bermanfaat efek sampingnya buat aku…

Meskipun minum sildenafil sepertinya belum merubah keadaan menjadi sembuh, atau berkurang ngemposnya ketika berjalan naik, atau naik ke lantai 2, tapi setiap bulan, aku berharap selalu tersedia sildenafil, justru karena efek sampingnya sangat bermanfaat buat aku.

Sampai sekarang saya masih rutin kontrol di RS margono, dan sesekali kontrol di RS Sarjito…

Harapanku aku masih ingin hidup lebih lama dalam keadaan sehat

Do’a kita bersama… Aamiin YRA….

Wassalamu’alaikum w.w

 

By | 2019-09-25T04:17:23+00:00 February 18th, 2019|Our PH Journey|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
WhatsApp chat