Berkah Dibalik Ujian Sakit-Hafni-OPJ

//Berkah Dibalik Ujian Sakit-Hafni-OPJ

Berkah Dibalik Ujian Sakit-Hafni-OPJ

Oleh: Hafni

 

~Berkah Dibalik Ujian Sakit~

 

Assalamualaikum wr. wb. Selamat malam teman-teman. Namaku Hafni, asal ku dari Aceh. Ini kisah hidupku, penuh dengan perjalanan yang tak masuk akal. Tahun 2012, di usia 21 tahun, aku memutuskan untuk menikah meski masih duduk di bangku kuliah.

Keputusan ini tentu penuh dengan tantangan, namun aku yakin dengan pilihan ini. Dua bulan setelah menikah, alhamdulillah aku langsung diberi anugerah kehamilan. Di tengah kebahagiaan ini, ujian berat mulai datang. Sejak awal kehamilan hingga tujuh bulan, aku mengalami batuk yang tak pernah reda. Setiap hari terasa berat, keluar masuk rumah sakit . Namun aku terus bertahan hingga akhirnya melahirkan anakku secara prematur pada tahun 2013.

Setelah melahirkan, batukku sempat mereda selama satu bulan, namun tak lama kemudian datang lagi, bahkan semakin parah. Saat diperiksa, dokter mendiagnosis aku dengan infeksi paru-paru dan TBC. Aku menjalani berbagai pengobatan, namun tak ada yang berhasil. Hingga suatu hari, aku dirawat di rumah sakit milik tentara. Di sana, aku terus-menerus diinfus cairan hingga tubuhku mulai membengkak. Dokter pun menyebut ada kemungkinan gangguan ginjal.

Kondisiku semakin memburuk dan aku dipindahkan ke rumah sakit kecil. Di sana, aku diberi suntikan obat yang semakin memperburuk keadaanku. Tubuhku mulai gemetar kayak orang kedinginan, pikiranku kacau, dan aku seperti berada di alam bawah sadar. Seolah ada sesuatu yang menguasai tubuhku. Kemudian, aku dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) di Aceh. Dokter-dokter di sana hanya bisa menggelengkan kepala melihat kondisiku yang semakin parah. Berat badanku mencapai 100 kg, tubuhku bengkak, dan kata-kataku tak lagi jelas. Mereka mengatakan kondisiku diperparah oleh efek obat-obatan yang diberikan sebelumnya.

Setelah 19 hari menjalani berbagai pemeriksaan tanpa hasil yang jelas, dokter menduga aku mengalami masalah jantung bocor VSD dan autoimun. Namun, obat yang diberikan tetap tidak memperbaiki kondisiku. Di tengah putus asa, keluargaku memutuskan untuk keluar paksa dari rumah sakit. Aku merasa harus pulang, melanjutkan kuliah, dan merawat bayiku yang masih kecil.

Dengan tekad yang kuat, orang tua ku mencoba berbagai cara tradisional agar aku sembuh. Berkat uap dan terapi alami yang mendorong keluarnya keringat dan pipis pun banyak, perlahan-lahan tubuhku mulai kembali normal tidak bengkak lagi. Walaupun masih sulit berjalan masih kaku karena lama kaki bengkak seperti kaki gajah,

Tahun 2015 adalah momen keberhasilanku menyelesaikan kuliah, meskipun perjuangan kesehatanku belum selesai. Dari tahun 2016 hingga 2020, aku menjalani hidup tanpa obat, meski hidup dengan jantung berdebar cepat,karena aku sudah trauma dengan rumah sakit 8 th lebih aku tidak pernah ke rumah sakit,aku takut sama dokter yang bilang aneh-aneh, karena pernah waktu itu seorang dokter penyakit dalam memvonis aku tidak akan lama lagi hidup di suruh banyak istighfar, sehingga membuat aku semakin stres

Namun, pada tahun 2021, aku mulai merasakan perubahan yang mengganggu. Aku merasa takut bertemu orang, berkeringat dingin, dan sering pusing ketika bicara dengan orang asing. Ketakutan ini semakin parah di tahun 2022, hingga adikku mendorongku untuk berobat kembali, dengan harapan aku bisa memiliki anak lagi. Aku pun berobat kembali awal nya terasa takut pasti ini akan seperti dulu namun setelah berjumpa dengan seorang dokter di RS beliau tidak menakuti dan memberi semangat hingga aku pun mau menjalani segala macam pemeriksaan.

Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan medis, hasilnya menunjukkan bahwa aku tidak memiliki autoimun atau bocor jantung seperti yang diduga sebelumnya. Ternyata, aku didiagnosis dengan Hipertensi Pulmonal primer (PH primer), sebuah kondisi yang belum di ketahui penyebab nya.

Sejak saat itu, kata dokter aku harus minum obat secara rutin untuk menjaga kesehatanku seumur hidup tidak boleh hamil lagi,hatiku sempat sedih dan hancur keinginan ku memiliki anak pun terkubur, namun dokter tersebut memberikan semangat banyak orang yang lebih berat ujian dari kita, apapun yang Allah takdirkan itulah yang terbaik.

Akhirnya aku pun berdamai dengan keadaan ku meski harus bergantung pada obat, aku bersyukur kondisiku membaik, aku pun sudah bisa menjalani aktivitas ku seperti orang lain walaupun terbatas,setiap bulan rajin kontrol dan rajin minum obat, obat sildenafil sudah bagai vitamin bagiku, dan setiap kontrol selalu dapat pujian dari dokter karena semakin segar dan sehat

Kini, meski hidup dengan penyakit yang mengerikan menurut orang-orang, aku tetap berusaha menjalani hidup dengan normal. Sebagai seorang guru, aku kerap merasa dikucilkan oleh rekan-rekan di tempatku mengajar, namun hal itu tak mematahkan semangatku.

Dengan suasana hati yang selalu gembira aku bisa hidup normal. Aku malah banyak mengukir prestasi di sekolah sebagai guru teladan,dan terpanggil mengikuti kuliah profesi guru padahal aku bukan lah S1 pendidikan melainkan S1 pertanian, berkah yang ku dapat dari ujian sakit.

Perjalanan hidup dengan kondisi PH memang tidak mudah , namun dari setiap tantangan yang kuhadapi, aku belajar untuk selalu bersyukur dan bertahan. Aku percaya, dengan semangat dan tekad yang kuat aku pasti bisa hidup seperti orang normal, hari hari ku jalani dengan pikiran yang positif  Kalau hidup dan mati ku sudah Allah gariskan. Jika waktunya tiba kita bergeser satu langkah pun tidak bisa, tapi jika Allah belum berkehendak sakit yang keras pun kita masih bernafas, tetap semangat untuk sahabat semua.

By | 2024-12-23T13:57:59+00:00 December 23rd, 2024|Our PH Journey|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
Open chat