Mengelola Emosi-KULWAP

///Mengelola Emosi-KULWAP

Mengelola Emosi-KULWAP

Kuliah Whatsapp adalah program tanya jawab lewat group di aplikasi whatsapp antara anggota YHPI dengan dokter/narasumber ahli lainnya untuk topik-topik terkait Hipertensi Paru yang diadakan secara rutin dan berkala.

Untuk bergabung dalam group whatsapp dan mengikuti kuliah berikutnya, silakan hubungi Admin Pusat YHPI 0811-8986-799

 

PENGUMUMAN KULWAP YHPI

  • Waktu : Jum’at, 8 November 2024
  • Pukul : 19.00 – 20.30 WIB
  • Narasumber : Rt. Annissa Apsyari, M.Psi. Psikolog
  • Tema : Mengelola Emosi
  • Moderator : Amida

Untuk melihat materi silahkan KLIK DISINI

 

Rekan-rekan semuanya pasti sudah tidak asing ya dengan yang namanya emosi, emosi ini sangaat dekat sekali dengan kehidupan kita sehari-hari. Emosi dibutuhkan loh agar orang-orang bisa mengenal diri kita, mengetahui apa yang sedang kita lalui, bahkan membuat kita terhubung dengan orang2 di sekitar kita

Emosi ini merupakan pola reaksi yang kompleks di dalam diri kita yang melibatkan berbagai macam hal, seperti pengalaman, perilaku, bahkan fisik kita yang kita gunakan untuk menangani persoalan yang kita hadapi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenal emosi yang kita rasakan dan meregulasinya dengan tepat agar kita sehat selalu, baik secara fisik maupun psikis

Emosi ini sudah ada sejak kita lahir dan semakin kita dewasa, akan semakin berkembang. Dari sekian banyak emosi yang ada, setidaknya kita perlu untuk mengenal dan memahami emosi dasar, seperti senang, sedih, takut, marah, terkejut, dan jijik…

Semua emosi ini memiliki peranan penting di dalam kehidupan kita, jadi tidak ada salahnya kok jika kita sedang merasa sedih, merasa marah, kecewa, justru hal tersebut manusiawi sekali

Yang penting adalah kita sadar akan emosi yang dirasakan, menyadari juga apa yang melatarbelakanginya, dan dapat meregulasinya dengan mengekspresikan emosi2 yang kita rasakan ini dengan tepat…

Jadi, yuk sama2 kita belajar untuk memahami perasaan yang dirasakan dan meregulasinya dengan baik. Karena pada dasarnya, regulasi emosi yang tepat akan membawa banyak manfaat bagi diri kita, baik secara fisik maupun psikis.

1. Pertanyaan:

Nama : vonny, usia : 28 tahun, domisili : makassar. Bagaimana agar dapat mengetahui bahwa kita memiliki kecerdasan emosional didalam diri kita.

Jawaban:

Selamat malam mba vonny, senang sekali mba vonny bertanya tentang hal ini. Pertanyaan yang sangat menarik. Cerdas secara emosional tuh apa sih? Nah, cerdas secara emosional itu ketka kita mampu untuk bisa memahami emosi, baik diri sendiri maupun orang lain lalu meregulasinya dengan tepat.

Jika kita berbicara kecerdasan emosional, kita akan melihat beberapa aspek yang menyusunnya, diantaranya:

  1. Self-awareness, yaitu bagaimana kita bisa menyadari dan memahami diri sendiri (perasaan, pikiran, hal yang melatarbelakangi tindakannya)
  2. Self-regulation, yaitu bagaimana kita bisa mengelola dan menangani perasaan kita agar dapat diekspresikan dengan tepat
  3. Motivasi, yaitu bagaimana memotivasi diri ketika kita berada dalam keterpurukan/putus asa, mampu berpikir positif dan optimis dalam hidup
  4. Empati, yaitu bagaimana kita paham perasaan, pikiran, tindakan orang lain dari sudut pandang orang tersebut. Hal ini juga berkaitan dengan kemampuan kita untuk memahami perasaan sendiri
  5. Keterampilan sosial, yaitu kemampuan untuk memahami, menyikapi , dan memengaruhi emosi orang lain, tercermin dari sikap yang fleksibel dan udah beradaptasi sehingga memungkinkan kita mudah diterima oleh orang lain.

Kebayang kan yang cerdas secara emosional itu orang yang seperti apa? Orang2 yang paham dengan dirinya sendiri, atas perasaan, pikiran, dan tindakannya. Lalu bisa mengelola perasaannya, optimis dalam hidup, dapat berempati dengan orang lain di sekitarnya, dan memiliki keterampilan sosial yang membantunya mudah beradaptasi di lingkungannya…

Lalu bagaimana kita bisa mengetahui kalau kita sudah punya kecerdasan emosional atau belum? Kita bisa mencoba untuk mengukur seberapa jauh kita memiliki 5 komponen tersebut, mba. Namun jika menginginkan hal yang lebih akurat, dapat dilakukan asesmen terkait dengan hal tersebut. Mungkin itu yang bisa saya sampaikan, semoga dapat menjawab pertanyaannya mba vonny.

Vonny:

Malam mba nisa senang skali berjumpa lagi sama mba nisa .. Dari tadi saya tunggu2 . Maaf yang saya mau tanyakan di poin. 5 .. Sikap fleksibel itu bagaimana mba…

Psikolog:

Waaaahhhh… Jadi terharu saya ditunggu. Fleksibel di sini adalah mudah dalam beradaptasi, menjalin relasi, bisa menyesuaikan diri dengan situasi lingkungan sekitar. Kita bisa dengan mudah bergaul dan “masuk” ke mana2 dengan mudah

Karena dalam keterampilan sosial ini bukan hanya sekedar diri kita memahami lingkungan sekitar saja. Tetapi sampai pada bagaimana kita bisa berkontribusi di lingkungan kita, seperti mengembangkan orang lain, bagaimana kita bisa menolong orang lain, berkomunikasi dengan baik, hingga bagaimana kita bisa mengelola “konflik” yang mungkin terjadi ketika kita dihadapkan pada situasi yang di luar harapan/ekspektasi kita. Semoga dapat menjawab pertanyaannya mba vonny

2. Pertanyaan:

Nama : isla, usia : 38 tahun, domisili : sidoarjo. Saya merasa di fase tidak ada energi dalam menghadapi emosi. Saat saya tersinggung dengan sikap atau perkataan orang, tidak seperti dulu yang emosi pengen marah2 atau sejenisnya. Hanya diam, memandanginya dan dalam hati berkata, “tidak bisakah bersikap biasa saja, segala sesuatu bisa dibicarakan dengan baik.”

Namun, saya sebenarnya sangat sedih, dalam hati menangis guling-guling. Apa pengelolaan emosi saya sudah baik sehingga tak lagi marah2? Atau justru sudah di fase lelah dan menyerah? Terima kasih

Jawaban:

Hallo mba isla, terima kasih sudah bertanya, saya izin coba untuk menjawab ya mba. Pengelolaan emosi yang tepat ini adalah bagaimana kita bisa memahami emosinya, kita bisa menamai emosi apa yang muncul dan apa yang melatarbelakanginya sehingga kita tau apa yang dapat kita lakukan untuk mengelola perasaan tersebut. Pengelolaan emosi yang baik adalah bagaimana kita bisa menangani perasaan ini agar dapat terungkapkan dengan tepat atau melakukan respons ekspresi yang sesuai.

Dalam menghadapi situasi, tak jarang pula emosi yang muncul ini bisa lebih dari pada satu, semisal sedih dan marah, atau terkejut dan senang, atau mungkin yang dirasakan adalah kesal, kecewa, dan marah sekaligus. Perasaan-perasaan ini yang perlu bisa kita hayati dan pahami… Sebenarnya aku ini sedang merasakan apa ya? Dan apa yang melatarbelakanginya?

Terkait dengan emosi marah… Ketika marah, reaksi semua orang yang umum terjadi adalah merasakan “panas” di dalam diri, otot2 menegang, dahi mengkerut, dada dan jantung berdebar. Jadi umum sekali sensasi ini dirasakan oleh kita ketika marah. Namun setiap orang memiliki caranya tersendiri untuk mengekspresikan marahnya, ingat bahwa kita memiliki kontrol atas diri kita dan kita dapat memilih perilaku apa yang akan kita munculkan dalam merespons marah, ada yang langsung berbicara, ada yang memaki, bahkan ada yang lebih memilih diam. Namun yang jelas, pengeskpresian yang tepat adalah ketika kita merasa lega setelah mengekspresikan hal tersebut dengan tepat .

Mungkin ini beberapa yang bisa dilakukan ketika kita perlu mengelola emosi kita:

  1. Kenali emosinya, lalu identifikasi dampak dari emosi yang dirasakan, semisal: “aku merasa …. Saat ini” dan “perasaan ini membuatku ingin ….”
  2. Identifikasi penyebabnya, “apa yang terjadi?”, “aku telah melakukan …”, “aku ingat bahwa aku menyadari ….”, dst
  3. Identifikasi perilaku dan pikiran, misalkan “ketika aku merasa … , aku … (tuliskan perilaku/tindakan yang dilakukan)”, lalu identifikasi pikiran aoa yang muncul
  4. Fokus tentang emosi yang dirasakan, misalkan “apakah marah ini sesuai dengan situasi yang dihadapi?”, “apakah situasi sulit yang dihadapi ini dapat aku kendalikan?”, “jika di luar kendaliku, apakah situasi sulit tersebut dapat aku terima dan toleransi?”, “jika tidak, batasan apa yang perlu aku tetapkan?” Mungkin itu yang bisa saya sampaikan, semoga dapat membantu

3. Pertanyaan:

Nama: lilik, usia : 30 th, domisili : kudus. Apakah menjauh dari orang lain yang kita anggap toxic termasuk bagian dari pengelolaan emosi yang benar? Bagaimana kalau yang toxic adalah dari keluarga sendiri, karna kalau mendengar ucapannya membuat kita jadi overthinking berhari-hari.

Jawaban:

Selamat malam mba lilik, terima kasih atas pertanyaannya, saya coba  menjawab ya mba. Membatasi diri dari “terpaparnya” hal-hal yang dirasa tidak nyaman merupakan salah satu cara kita untuk melindungi diri, apalagi kalau hal-hal tersebut membuat kita merasa jadi overthinking ketika kita terus menerus mendengarnya.

Menurut saya hal tersebut adalah hal yang wajar, sebagai bagian dari kontrol diri kita dari keadaan tidak nyaman dan mencari hal yang pada akhirnya membuat kita merasa lebih nyaman. Selama kita masih aktif, bisa bersosialisasi, memiliki kelompok pergaulan, dan memiliki dukungan secara sosial maupun emosional dari lingkungan kita, hal tersebut masih dalam batasan yang wajar. Semoga dapat menjawab pertanyaannya

4. Pertanyaan:

Nama : nurhayati, usia : 35 tahun, domisili : jakarta barat. Saat ini saya sedang diterpa ujian,suami masuk RS sudah 3 hari ditambah anak demam juga sedangkan suami ga ada yang jaga di RS anak juga di rumah cuma sama kakak nya yang masih SMP.. sebetulnya saya lelah harus bolak balik ke RS ke rumah,ngurus ini itu sedangkan saya juga punya penyakit. Kadang saya suka teriak, nangis saking capek nya gimana agar saya bisa mengontrol semua nya?(saya juga ada hipertiroid). Terimakasih

Jawaban:

Hallo mba nurhayati, semoga selalu dalam keadaan yang fit ya mba. Saya paham sekali dengan kondisi yang sedang dihadapi… Pasti rasanya cape sekali dengan berbagai kondisi yang harus dihadapi dan diselesaikan sekaligus, terlebih jika hal tersebut dilakukan sendiri

Rasa sedih, kesal, cape yang dirasakan adalah hal yang wajar dan hal ini membuat mba nurhayati ingin menangis, teriak untuk sekedar melepas emosi2 yang muncul

Mencari dukungan sosial dan emosional merupakan hal yang penting, carilah orang yang dirasa nyaman dan dapat diandalkan untuk menjadi tempat berbagi. Pada dasarnya kita adalah makhluk sosial, membutuhkan orang lain, tidak apa-apa banget jika kita membutuhkan orang lain ketika kita dihadapkan pada kesulitan atau situasi yang kita hayati dapat membuat kita merasa lelah.

Mengontrol diri itu perlu dilakukan agar kita dapat bereaksi dan berespons dengan tepat, tetapi ketika kita sangat mengontrol diri kita, hal tersebut perlu dipertimbangkan… Tidak semua hal di dunia ini harus kita kontrol dan kita atasi sendirian. Semoga jawaban saya dapat membantu dan semoga mba nurhayati diberikan kekuatan untuk menghadapi kondisi saat ini… Aamiin

5. Pertanyaan:

Nama : sunarti, usia.: 57 thn, domisili : jakarta pusat. Saya sudah bersahabat  dalam komunitas, ketika sahabat menyakiti dan melukai hati saya, dan untuk menghindar konflik, saya memilih.mundur dan tidak mau bersahabat lagi, karena bukan sekali ini saja dan dia tidak merasa bersalah atau minta maaf .

Jadi kalau tidak penting saya tidak mau berkomunikasi lagi. Jadi untuk meredam emosi saya pilih tidak berteman karena ada ketakutan, apa nanti dia menyakiti hati saya, memang saya jadi negatif thinking.

Apakah saya salah dengan keputusan saya itu? Karena saya sudah tawar hati dan ketika sahabat saya mundur dari komunitas saya tidak menahan dan memang saya saling minta maaf. Tapi saya tetap mundur tidak mau bersahabat lagi.  Daripada saya berkawan dan jasi emosi kan saya ada PH juga darah tinggi. Mohon pencerahannya mbak. Terima kasih

Jawaban:

Hallo, selamat malam bu sunarti, terima kasih pertanyaannya, saya coba untuk menjawab bu. Dengan kondisi yang dihadapi saat ini, saya paham sekali dengan situasi dimana ibu yang merasa terluka oleh sahabat ibu dan memilih untuk mundur, tidak bersahabatan lagi untuk menghindari konflik, apalagi kejadiannya telah berulang kali dan memunculkan rasa takut tersakiti lagi

Terkait dengan pertanyaan bu sunarti, apakah keputusan ini tepat? Saya rasa selama kedua belah pihak (baik dari ibu dan teman ibu) sama-sama bisa memahami dan menerima konsekuensi dari keputusan tersebut, saya rasa tidak apa2 dan tidak salah . Semoga menjawab pertanyaannya ya bu

6. Pertanyaan:

Nama : hesti, usia : 36th, domisili : bandung jawa barat. Pertanyaan : ketika sedih, marah, tertekan semua bercampur aduk dan menangis tidak bisa ditahan seketika saya suka nangis kejer saya keluarkan semua sampai jantung lelah dan tenang sendiri .. Salahkah seperti itu? Atau saya harus berusaha untuk tahan rasa ingin nangis saya, tapi kalo ditahan kadang suka nyesek di dada. Terimakasih

Jawaban:

Hallo mba hesti, selamat malam. Semoga dalam keadaan yang baik ya hari ini mba…. Saya coba untuk jawab pertanyaannya ya mba.

Menangis adalah reaksi yang umum terjadi ketika merasa sedih, apalagi kalau yang muncul adalah berbagai perasaan yang bercampur aduk. Melalui menangis dan keluarnya air mata, keluar juga berbagai hormon seperti endorphins, hormon kesenangan yang dapat meredakan rasa sakit serta meningkatkan mood.

Justru malah emosi yang dirasakan itu perlu disalurkan dengan respons-respons yang tepat, jadi apa yang dirasakan dan dilakukan oleh mba hesti, menurut saya sudah tepat, selama apa yang dilakukan dan diekspresikan ini tepat, sejalan dengan emosi yang sedang dirasakan. Malah kalau menahan2 emosi yang dirasa atau memendamnya, bikin kita jadi gak sehat. Mungkin itu yang dapat saya sampaikan, semoga menjawab pertanyaannya ya mba

7. Pertanyaan:

Nama : lina,  umur : 35th, domisili: tangsel. Dok, saat ini saya sedang mencoba mengelola suasana hati untuk trus positif,  saya mulai menanam pohon, dan saya merasa bahagia ketika pohon itu berbuah dan saya bisa panen. Walau hanya tomat beberapa buah. Efek bahagia saya rasakan saturasi mulai naik yang awal 90 saat ini 95. Saya tidak lagi mau merasa sedih, karena pernah memendam kesedihan membuat imun langsung drop. Pertanyaannya, apakah sebesar itu pengaruh rasa bahagia terhadap kesehatan kita sendiri? Saya jadi semangat untuk mencari apa lagi aktivitas yang bisa membuat saya bahagia.

Jawaban:

Hallo, selamat malam mba lina, semoga dalam keadaan yang fit dan bahagia. Terkait dengan pertanyaannya, menarik sekali dan saya turut senang jika mba lina dapat merasakan kebahagiaan dan merasa banyak keuntungan yang didapatkan dari kebahagiaan/rasa senang tersebut.

Menurut penelitian, rasa senang banyak sekali manfaatnya yang berkaitan dengan kesehatan, baik secara fisik maupun psikologis. Faktanya perasaan senang yang dirasakan dapat membantu kita menemukan solusi-solusi yang baru, membuat kita lebih kreatif karena kita dapat melakukan hal-hal  yang baik.

Kita pun jadi lebih semangat, lebih aktif bergerak, lebih banyak bersyukur, dan yang terpenting dengan adanya perasaan senang, kita bisa lebih baik dalam mengatasi/menanggulangi hal-hal yang berpotensi membuat kita stres. Jadi ketika kita happy, tubuh kita pun akan terasa jauh lebih fit dan membuat kita lebih berenergi. Semoga dapat membantu

8. Pertanyaan:

Nama : anita, usia : 34 tahun, domisili : yogyakarta. Semenjak saya di vonis ASD PH tahun 2022 saya merasa hidup saya sudah mati. Saya jadi gampang sedih (nangis tiba²) dan ngerasa makin sensitif terhadap perasaan. Jadi saat ini saya lebih nyaman sendirian, dirumah main sama anak dan melakukan hal-hal yang bikin hati saya tenang. Apakah ini masih wajar?

Jawaban:

Selamat malam mba anita, terima kasih atas pertanyaannya, saya izin menjawab ya mba. Setiap manusia akan beradaptasi jika menghadapi situasi yang baru baginya, terlebih kondisi yang dihadapi adalah sakit kronis, jadi wajar jika terjadi berbagai penyesuaian di dalam kehidupan, seperti yang dilakukan oleh mba anita saat ini. Saya juga paham sekali dan wajar sekali ketika kala itu mba anita mendapatkan diagnosis, hidup serasa sudah mati, mudah menangis, dan makin sensitif.

Namun hal yang terpenting adalah bagaimana kita dapat memahami kondisi diri dengan berbagai penyesuaian yang dilakukan sesuai dengan kondisi saat ini, lalu memahami perasaan apa yang dirasakan, apa dipikirkan, dan apa yang melatarbelakangi hal tersebut muncul sehingga kita bisa mengetahui tindakan apa yang tepat untuk kita lakukan.

Tidak apa-apa jika saat ini mba anita memilih di rumah dengan anak dan melakukan hal-hal yang membuat hati senang, hal ini menurut saya masih wajar. Selama masih memiliki terkoneksi/terhubung dengan orang-orang terdekat, selama masih bisa menjalin relasi dan hubungan dengan orang-orang sekitar, saya rasa masih dalam batasan yang wajar. Mungkin itu yang dapat saya sampaikan, semoga dapat menjawab pertanyaannya mba.

9. Pertanyaan:

Nama : harini, usia: 34, domisili: tuban.  Pertanyaan: semenjak sakit ASD dan PH saya merasa hanya menjadi beban untuk keluarga. Saya kadang sedih suka menangis sendiri. Saya merasa bersalah dg diri saya sendiri yang selalu merepotkan keluarga saya. Bagaimana cara mengatasi rasa bersalah ini.

Jawaban:

Hallo, selamat malam mba harini… Semoga dalam kondisi yang fit ya hari ini… Aamin. Saya coba menjawab pertanyaannya ya mba. Saya paham sekali bagaimana rasa sedih dalam diri mba harini ini muncul dan membuat mba harini merasa bersalah, merasa merepotkan keluarga dengan kondisi saat ini

Terkait dengan rasa bersalah dan merepotkan orang sekitar ini menurut saya perlu mba harini komunikasikan dengan keluarga… Luangkan waktu  untuk berbicara dari hati ke hati, saling berbagi terkait dengan apa yang sebenarnya dirasakan, apa yang dipikirkan, baik oleh mba harini maupun anggota keluarga yang membantu mba harini sehingga dapat saling memahami pikiran dan perasaan yang dirasakan.

Dengan berkomunikasi dan saling memahami, setidaknya akan membantu mba harini dan keluarga dalam meregulasi situasi yang dihadapi ini. Mungkin itu yang dapat saya sampaikan… Semangat mba… Memang tidak mudah untuk saling berbicara dari hati ke hati, tetapi ada baiknya perlu dicoba

10. Pertanyaan:

Nama: kartika, usia: 30, domisili:pekalongan.  semenjak sakit aku merasa banyak orang yang meremehkan tenagaku, seperti rasa ego yang tinggi dari yang dulu melakukan semua” sendiri tiba tiba banyak yang overprotective, aku tahu mereka sayang sama aku tapi hati kecilku pengin aktivitas sendiri, terkadang aku nangis karna hal hal sepele seperti baru baru ini aku ambil surat rujukan di faskes 2 dengan teman karna suami ada kegiatan.

Pas pulang ada tetangga yang bawa mobil memaksa aku pulang ikut beliau karena saat itu gerimis dan takut aku sakit, saat di jalan entah kenapa merasa sedih sekali karena berasa beban buat semua orang ya walaupun aku tau mereka melakukan itu karena mereka sayang sama aku (aku merantau tidak ada sanak saudara cuma berdua sama suami). Bagaimana cara buat mengelola emosi yang tiba-tiba sedih dan menangis karena hal-hal sepele.

Jawaban:

Selamat malam mba kartika, terima kasih sudah bertanya, saya coba menjawabnya ya mba. Terkait dengan kondisi yang dialami, saya paham sekali kondisi mba kartika saat ini, ketika banyak yang menawarkan bantuan namun mba kartika sendiri sudah terbiasa untuk melakukan berbagai hal secara mandiri. Reaksi-reaksi dari lingkungan yang dirasa tidak biasa, menjadi overproctective ini pun sangat saya pahami dan setuju dengan mba kartika, banyak yang menawarkan bantuan sebagai bentuk kepedulian dan rasa sayang dari lingkungan kepada mba kartika. Rasa sedih, ingin menangis, kerap hadir diikuti dengan perasaan menjadi beban semua orang pun saya paham sekali

Namun, hal yang bisa dilakukan saat ini untuk mengelolanya dapat dimulai dari memahami emosi yang sebenarnya sedang hadir dan dirasakan oleh mba kartika saat ini. Apa perasaan dan pikiran yang hadir saat itu? Lalu menelaah situasi apa yang sebenarnya melatarbelakanginya? Sadari terlebih dahulu apa yang dirasakan agar kita dapat “menamai” emosi yang hadir dan mengetahui penyebabnya. Dengan mengetahui penyebabnya, kita dapat menemukan cara/strategi selanjutnya yang tepat dan dapat kita lakuan, fokuslah kepada apa yang kita miliki dan apa yang dapat kita lakukan

Selain itu, dengan mengubah cara berpikir akan membantu dalam meregulasi emosi dan situasi yang dirasakan. Setidaknya kita dapat menemukan perspektif baru yang lebih baik. Carilah teman/orang lain yang dirasa nyaman dan dapat berbagi dengan mba kartika. Komunikasi menjadi hal yang terpenting di sini agar sama-sama mengetahui apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkan, baik dari mba kartika, maupun orang lain di sekitar mba yang menunjukkan kepedulian terhadap mba kartika. Mungkin itu yang dapat saya sampaikan mba, semoga menjawab pertanyaannya mba kartika

11. Pertanyaan:

Nama : dyah, usia : 31, domisili : jepara. Saya asd dan belum bisa dilakukan tindakan untuk penutupan. Saya mempunyai anak berusia 4th. Biasanya emosi saya dengan mengeluarkan suara keras dan perasaan jengkel. Itu kadang jadi membuat detak jantung semakin cepat dan ngos2an. Saat berdebat ataupun bercerita ttg sesuatu saya terasa ngos2an. Bagaimana cara mengatasinya? Apakah saya harus berbicara dengan santai?? Tapi memang sudah kebiasaan saya seperti itu. Jika sudah sampai ngos2an saya lalu diam. Kadang secara mendadak nafas jadi sesek. Dan butuh sejenak untuk atur atas kembali.

Jawaban:

Hallo selamat malam mba dyah, terima kasih atas pertanyaannya… Saya coba menjawabnya ya mba. Anak umur 4 tahun ini sedang lucu2nya ya mba, terkait dengan hal yang dihadapi, kuncinya di sini adalah perlu dipahami terlebih dahulu emosi/perasaan apa yang muncul saat itu dan apa yang melatarbelakanginya. Ketika kita merasa kesal atau marah, debar jantung secara alami akan berdetak lebih cepat. Dengan mencoba untuk menenangkan diri, tidak begitu reaktif, mungkin hal ini yang dapat dilakukan.

Ada istilah “motion change emotion”, dimana gerakan yang dilakukan akan turut memengaruhi perasaan kita. Semisal, ketika ingin marah, dari posisi berdiri, kita bisa mencoba untuk duduk terlebih dahulu, sambil mengatur napas untuk relaksasi sampai dirasa lebih tenang, barulah berbicara. Mungkin saja hal ini merupakan pembiasaan yang baru dalam pengekspresian emosi mba dyah, tetapi ada baiknya untuk dicoba. Mungkin itu yang dapat saya sampaikan mba, semoga bermanfaat.

12. Pertanyaan:

Nama: desmita, usia: 42 tahun, domisili:batam. Semenjak dua tahun belakangan ini saya susah sekali mengontrol emosi, marah marah ngak jelas, apalagi badan saya semakin hari semakin ngedrop, apakah penyebab emosi yang tak bisa dikendalikan seperti ini akan mengakibatkan fatal bagi kesehatan saya

Jawaban:

Selamat malam mba desmita, semoga dalam keadaan yang fit, saya izin jawab pertanyaannya ya mba. Terkait degan emosi yang dirasakan dan pengelolaannya akan memengaruhi kehidupan kita karena pada dasarnya emosi merupakan reaksi yang melibatkan pengalaman, perilaku, psikologis, maupun fisik kita, yang akan digunakan oleh kita dalam menangani persoalan atau situasi yang dihadapi…

Dalam hal ini regulasi emosi sangat dibutuhkan oleh kita untuk mengelola emosi yang dirasakan, mengendalikan emosi ini agar kita dapat merespons pengalaman-pengalaman emosional dengan tepat. Ingat bahwa regulasi emosi yang tepat akan memengaruhi berbagai aspek kehidupan kita, salah satunya adalah kondisi fisik maupun psikis kita. Jadi, regulasi emosi ini akan memengaruhi kondisi fisik maupun psikis kita.

Jadi, pesan saya mulailah untuk melatih pengelolaan emosi ini untuk jiwa dan raga yang lebih baik. Mungkin ini yang bisa saya sampaikan mba desmita, semoga dapat menjawab pertanyaannya ya mba

13. Pertanyaan:

Nama : muslimah, usia : 39, domisili : bengkulu. Apakah pasien PH itu sebuah penyakit yang menyerang mental. Yang di rasa gampang emosi, terkejut, baperan mudah sedih, sering minder dan merasa lemah dan sering memilih diam untuk mengalah. Bagai mana mengatasi ini semua walaupun kita dalam posisi benar. Sehingga kita sering memilih menjauhi bersosialisasi terhadap kerabat tetangga maupun teman. Bagai manakah pengelolaan mental kita di posisi yang seperti ini. Terimakasih

Jawaban:

Hallo mba muslimah, terima kasih atas pertanyaannya, saya izin menjawab pertanyaannya ya mba. Setiap situasi/kondisi yang berkaitan dengan diagnosis penyakit, akan memengaruhi kita secara fisik maupun psikis. Namun hal ini bukan berarti sebuah penyakit akan menyerang mental, hal ini bergantung pada kendali bagaimana kita berpikir dan mempersepsikan hal tersebut.

Situasi/kondisi dengan penyakit tertentu, terutama penyakit kronis dapat mengubah bagaimana cara kita berespons dan bersikap, hal ini pun berkaitan dengan kondisi tubuh kita saat ini yang mungkin sudah tidak sama dengan dulu. Oleh karena itu, kita dapat berlatih untuk memahami diri, mulai dari perasaan dan pikiran, serta menemukan strategi yang tepat untuk mengelola emosi perlu dilakukan agar kita dapat beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang baru.

Terkait dengan posisi yang benar yang dimaksud oleh mba muslimah, apakah posisi benar yang dimaksud ini adalah ketika sedang berbicara, apa yang kita sampaikan ini benar namun kurang dipahami oleh lawan bicara sehingga ada perspektif lain dari lawan bicara yang akhirnya membuat mba muslimah menjadi ingin berargumen?

Jika hal tersebut yang dimaksud, kuncinya adalah komunikasi dan mungkin dapat mencoba untuk berkomunikasi lebih asertif, kita dapat menyampaikan apa yang ingin disampaikan dengan cara yang dapat diterima oleh lawan bicara kita. Mungkin itu yang dapat saya sampaikan, semoga dapat menjawab pertanyaannya mba muslimah.

 

Semoga apa setiap kulwap yang diberikan dapat memberi manfaat dan proses yang terus meningkat bagi rekan2 semua di sini. Terima kasih juga atas kesempatan dan kepercayaan yang diberikan kepada kami. Semoga malam2 kulwap bersama kami dapat memberikan manfaat bagi semuanya dan progres yang baik bagi rekan2 semua… Aamiin…

Sedih sekali rasanya hari ini menjadi hari terakhir saya mengisi kulwap di sini. Walaupun malam ini merupakan malam terakhir saya mengisi kegiatan kulwap di sini, semoga bukan menjadi hari terakhir saya dapat bersilaturahmi dengan rekan2 di sini. Mohon maaf juga bila ada salah kata atau kekurangan dari kami selama kami mengisi kegiatan kulwap selama beberapa tahun ini. Tetap semangat, tetap saling berbagi, saling menguatkan satu sama lain. Jangan berhenti dan jangan bosan untuk terus belajar dan berproses, sekecil apapun upaya belajar kita, pasti ada hasil dan proses yang kita dapatkan.”_Rt. Annissa Apsyari, M.Psi., Psikolog

By | 2024-12-23T14:26:20+00:00 December 23rd, 2024|Kuliah lewat WhatsApp|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
Open chat