Bukan Ditidurkan, Tetapi Aku Koma-Nurdiana-OPJ

//Bukan Ditidurkan, Tetapi Aku Koma-Nurdiana-OPJ

Bukan Ditidurkan, Tetapi Aku Koma-Nurdiana-OPJ

Oleh: Nurdiana

 

~ Bukan ditidurkan, tetapi aku koma ~

part 1…..

Sepenggal cerita, kisah dimana riwayat itu menumbuhkan rasa syukur dan menguatkan jiwa raga dalam setiap lembaran kisah nya,

Namaku Nurdiana, usiaku saat ini Alhamdulillah sudah 33 tahun. Jauh sebelum saat ini banyak cerita yang berat dan penuh perjuangan, namun begitu indah untuk di lalui. Sejak kecil aku memang tidak memiliki berat badan yang bisa di katakan gemuk, bahkan kurang dari berat badan normal pada umumnya anak anak.

Cerita orang tua, saat kecil dulu aku memang gampang sekali sakit dan sering di bawa berobat namun di kira plek atau paru-paru, dan sempat menjalani terapi obat paru paru untuk riwayat sakit ku saat itu, Alhamdulillah SD, SMP aku mulai membaik. Dan masuk lah aku ke tingkat SMA. Kegiatan sekolah semakin padat, dan hobi di luar kegiatan sekolah pun cukup banyak aku jalani. Dan disini lah awal mula kisah keistimewaan jantung ku bermula,.

Awal aku terdiagnosa PH saat usia ku 17 tahun saat itu tidak ada keluhan sesak atau sakit dada, tapi keluhan awal pada saat itu pingsan pada saat kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Setelah kejadian itu aku dibawa ke RSUD kab Serang, untuk pemeriksaan lanjutan, di ekg dan di echo dari situ dokter menjelaskan aku ada kelainan jantung/( jantung bocor) bak petir menyambar disiang hari, saat pertama kali tau aku ada kelainan jantung rasa nya sakit sekali.

Terpukul dan seolah tak percaya, dulu aku tau nya penyakit jantung adalah penyakit yang sulit untuk di obati, penyakit jantung adalah hal yang melenyapkan harapan dan cita-cita ku. Di satu sisi aku tidak bisa berbuat apa², mengingat orang tua hanya tinggal ibu, bapak sudah tenang di sisi Allah saat aku duduk di bangku SMP kelas 2.

Tak terbayang dalam benak ibu bagaimana ini bisa terjadi, harus seperti apa cara mengobatinya sedangkan yang aku tau biaya operasi itu sangat mahal dan waktu itu blm ada bpjs, Ibu hanya berusaha membawa aku berobat alternatif, dan ke klinik terdekat, saat keluhan itu muncul,, Tapi waktu demi waktu bisa aku lewati, bahkan aku bisa menyelesaikan sekolah ku sampai lulus. Dan bahkan sempat bekerja di salah satu perusahaan di daerah ku selama 6 bulan.

Tapi kondisi ku mulai sering sakit, sering pingsan dan akhir nya aku memutuskan untuk resign di saat kondisi ku mulai fit , merasa tidak betah di rumah saat aku tidak melakukan apa pun di rumah setelah sudah tidak bekerja lagi, dan akhir nya aku menerima tawaran untuk menjadi guru PAUD di salah satu taman bermain,, Tapi lagi dan lagi ternyata..

 

part 2….

Tapi lagi dan lagi. ternyata keluhan itu sering muncul, pingsan menjadi keluhan utama ku, selain pingsan, cepat capek dan kadang sesak menjadi hal yang mengkhawatirkan bagi ibu dan keluarga , namun seiring berjalannya waktu, hal itu menjadi kebiasaan ku saat mengalami rasa capek, atau kaget,

Kadang merasa kesal, sedih, Bingung berkecamuk, keadaan yang tidak tau bagaimana mengobati nya, Berobat Alternatif kemana pun sering di datangi, tapi hasilnya nihil, sampai dimana saat rasa pasrah itu datang, Dan rasa tak ingin untuk sembuh, masa bodo dengan keadaan ini..

Namun Allah berkehendak lain, Allah memberi ku hal yang menjadi doa di penghujung Ramadhan tahun itu, (2013).

Alhamdulillah tahun 2013 aku dipertemukan dengan laki laki yang menerima ku apa ada nya, meski kami tidak cukup saling mengenal, tapi feeling seorang ibu sangat kuat, ibu meminta nya untuk menjadi suami saya. Dan dia hanya meminta waktu untuk meminta restu orang tua dan keluarga nya. Singkat cerita kami menikah di tahun 2013

dan alhamdulillah di tahun yang sama aku hamil.

selama hamil kondisi kesehatan ku naik turun, sampai harus di rawat di RS umum daerah beberapa hari, dari situ dokter merujuk ku ke RS Jantung Harapan Kita, lalu aku bertemu dengan Dokter Popy, dalam pemeriksaan dokter popy bilang bahwa kehamilan ku bisa mengancam nyawaku bila terus dipertahankan, Sedih dan takut begitu kuat menyelimuti hati, sampai sampai aku drop,

Namun peran suami dan org tua begitu kuat untuk mensupport ku, akhirnya aku lebih memilih mempertahankan kandungan ini dengan segala konsekwensinya, bukan karena saya menentang yang dokter jelaskan, tapi tidak sampai hati rasa nya untuk merelakan buah hati pertama ku untuk dikeluarkan secara paksa (di gugurkan).

Tekad ku kuat, aku berprinsip tidak akan menyerah sebelum berperang, meskipun berat, aku siap menjalani nya, Aku pasrah kan pada Allah dan alhamdulillah suami dan orang tua ku begitu menjaga dan menyayangi ku,

Dalam ikhtiar ku, aku selalu berdo’a. semoga Allah memberi kan kesehatan untuk aku dan anak yang ada di dalam kandungan ku, aku ingin sekali bisa melahirkan nya ke dunia dengan selamat. Akan tetapi saat usia kandungan ku baru  berusia 25 minggu, aku merasakan kontraksi yang luar biasa tapi rasa nya masih hilang timbul, lalu suami ku membawa ku ke RSUD balaraja, tapi alat dan ruangan di RS tersebut tidak lengkap

Sehingga dokter merujuk ke RSUD Tangerang, saat di RSUD Tangerang dokter kandungan memberikan obat penguat paru untuk bayi ku, lalu dokter memutuskan untuk dilakukan operasi sesar, tapi dokter kandungan memberikan pilihan kepada keluarga dan suami ku,, Anak nya atau ibu nya yang harus diselamatkan, suami ku meminta persetujuan ku, hati ku hancur saat itu, aku sudah merasakan pergerakan buah hati ku di dalam perut ku, suami ku pun ikut menangis memeluk ku, dia bilang jika ini memang takdir Nya kita harus ikhlas, tapi qodarullah…

ternyata ruang NICU di RS tersebut penuh akhirnya aku di rujuk ke RS cipto di bawa oleh ambulans, kami hanya berdua saat itu, tanpa keluarga yang mendampingi, suami selalu menguatkan saya dengan selalu berdo’a di sepanjang perjalanan kami

Sesampainya di RS Cipto saya mendapatkan pemeriksaan tapi saat itu dokter membaca riwayat penyakit ku, ada kata² dokter yang membuat hati ku semakin hancur saat itu, dokter blng “Jantung udah acak²an koq di bawa kesini ” Yaa Allah aku menangis mendengar kata² dokter itu, tapi dari situ aku pasrah..

Akhirnya aku minta pulang paksa, Aku bilang ke suami ” Aku mau pulang, aku udah pasrah, apapun yang terjadi nanti aku mau lahiran dirumah, akhirnya meski dengan terpaksa dokter mengizinkan aku pulang.

Sampai dirumah kondisi ku membaik, alhamdulillah aku masih bisa aktifitas ringan,

9 Januari kontraksi itu muncul lagi, kali ini lebih sering tapi karena aku udah ga mau di bawa ke RS, akhirnya suami ku panggil bidan terdekat, tapi ternyata bidan itu ga sanggup dan ga mau mengambil resiko, sudah mendatangi 4 bidan tapi mereka semua ga berani ambil resiko dan menyarankan untuk di bawa ke RSAB HARAPAN KITA tapi ternyata darah sudah bnyak keluar dan sudah pembukaan 5, orang tua ku sangat panik, keluarga pun bingung harus seperti apa, tapi suamiku mencoba menenangkan, aku ingat betul pertanyaan nya, (mamah mau nya gmna? Dibawa ke RS atau pasrah dan lahiran di rumah dengan kondisi seperti ini)

aku memilih yakin tetap di rumah, dan qodarullah anak ku lahir di rumah dengan bantuan mak dukun dengan berat hanya 900gram

 

Part 3…

 

Ya, hanya 900 gram

Anak ku terlahir prematur, namun aku berhasil melahirkan nya tanpa bantuan medis,

Aku percaya keajaiban Allah itu nyata, dan allah tunjukan kuasanya terhadap kami,

Singkat cerita 5 tahun setelah melahirkan dan anak saya sudah tumbuh besar

 

Kondisi saya kembali menurun,

sering pingsan dan sakit dada kembali muncul,

Akhir nya tahun 2018 saya lanjut periksa ke RS jantung harapan Kita,

Dan bertemu lah saya dengan dokter olfy, saya memberanikan diri untuk tindakan operasi meskipun blm mantap waktu itu untuk melakukan operasi,

Namun proses demi proses dijalan kan,

Saya mendapatkan jadwal cateter pertama tahun 2019

Namun hal tak terduga terjadi, BPJS suami saya bermasalah karna dia baru pindah kerja di PT baru, dan BPJS nya belum aktif hingga akhir nya cateter saya batal di lakukan, sedih rasa nya, dan saat itu saya kembali mundur, tidak ingin lanjut Karna seperti di permainkan oleh kebijakan RS.

 

Ditengah upaya kami untuk mendapatkan jadwal ulang untuk cateter ternyata tak semudah itu, saya harus menunggu satu tahun lagi,

Kondisi ku pun semakin menurun, semakin sering pingsan, dan kepala saya sering terbentur dinding atau lantai yang mengakibatkan masalah baru muncul, awal nya saya sering kaku dan kram pada lengan dan leher, saya coba cex ke RS terdekat, namun di rujuk ke RS Siloam Karawaci Tangerang, dari hasil pemeriksaan

saya terdiagnosa Spasmofilia grade 2 dampak dari sering jatuh saat pingsan,

Untuk meyakinkan hasilnya, saya di EEG dan CT scan dan hasilnya positif saya mengidap spasmofilia grade 2

Dari spasmofilia ini saya juga sering kaku dan kejang, kaki dan tangan sampai ke mulut kaku semua, ini yang membuat suami saya panik dan bingung dengan gejala ini,

Dengan adanya keluhan baru saya rasa kondisi kesehatan saya sangat kompleks,

Jantung bocor plus gangguan saraf,

Namun semua itu ternyata belum selesai, awal tahun 2021 saya sering merasakan sakit dan kram perut bagian bawah, saya coba cekx dan hasil dari USG menyimpulkan saya terkena gangguan pencernaan usus buntu yang harus segera di lakukan operasi karna usus nya sudah mulai membusuk,

Ya Allah, ujian itu begitu berat, tapi Allah selalu memberikan jalan terbaik nya,

Bukan jantung yang dokter operasi namun malah usus buntu duluan, dan ini menjadi operasi pertama saya, padahal selama ini saya takut sekali untuk melakukan operasi,,

 

Tapi Alhamdulillah satu persatu dapat di lalui,

 

Sampai tahun 2022 jantung saya semakin berat, kondisi saya semakin memburuk, pingsan dan sesak pun semakin sering bahkan kadang sampai harus di rawat di RS terdekat,

Akhir nya suami saya meminta untuk saya lanjut berobat dan kembali ke RS yang sama,

Saya sempat menolak nya, namun dengan penjelasan suami, saya mau melanjuntukan nya,

saya melihat anak yang sudah semakin tumbuh besar dan cantik sekali,

ini menjadi salah satu alasan saya mau melanjuntukan pengobatan

saya ingin terus merawat nya,

Dengan dorongan dan support yang luar biasa dari suami, saya kembali mau untuk proses operasi,

2022 sampai 2024 kami menjalani proses yang panjang dan melelahkan, namun suami tetap support dan selalu menguatkan saya,

Dan tiba waktunya yang kami nanti nantikan adalah

Jadwal operasi itu pun datang,

Juli 2024 saya mendapatkan tlp dari RS untuk datang ke RS untuk proses operasi, tentu nya sudah melalui serangkaian proses yang begitu panjang sebelum nya,

Bahkan dokter bedah sudah menjelaskan sblm nya bahwa kasus saya kompleks karena ada kelainan syaraf tapi saya yakin dengan segala konsekuensi nya, yang ada di benak saya bahwa “saya akan sembuh setelah operasi” , jadi apapun yang dokter bilang saya tetap bersedia untuk tindakan operasi, dan alhamdulillah selalu ada support terbaik dari suami dan keluarga…

 

Part 4…

 

09-07-2024 di jam 08:00 wib operasi di mulai,

Butuh waktu 7 jam untuk proses operasi nya, waktu yang singkat menurut ku karena ternyata tidur ku pasca operasi lebih lama, ya kurang lebih 120 jam aku tertidur pasca operasi, bukan di tidurkan tapi aku koma, koma karena pasca operasi membuat sistem syaraf di tubuh ku melemah, Dokter menyarankan untuk suami ku mencari obat yang Dokter resep kan, obat itu untuk merangsang sistem syaraf di tubuh ku agar bereaksi,

suami ku bilang obat nya susah sekali di dapat, hingga keluarga, sahabat bahkan orang-orang terdekat ku ikut mencari, akhirnya obat itu berhasil di dapat dan qodarullah aku sadar dari koma, tapi saat aku mulai sadar masalah baru muncul, ternyata ada bakteri di paru² yang mengharuskan aku melakukan tindakan bronkoskopi, dan selama di ICU suster selalu melakukan suction (sedot dahak), blm lagi fungsi ginjal yang menurun dan harus di lakukan tindakan cuci darah, sebanyak 2x ..

2 minggu berjuang di ruang ICU membuat suara ku hilang, tapi alhamdulillah kondisi ku berangsur membaik ,

Setelah diruang rawat aku fikir semua sudah kulalui tapi ternyata kaki dan tangan ku melemah dan dokter menyatakan aku terindikasi struk ringan 😭 hancur sejadi² nya hati ku saat itu,

yang ada di fikiran ku aku harus pakai kursi roda dan harus lagi dan lagi merepotkan orang-orang terdekat ku,, tapi tim dokter menguatkan aku bahwa itu hanya sementara,,

 

Dan setelah 25 hari berada di RS akhir nya suami saya meminta ijin untuk bisa mendatangkan anak kesayangan saya, penyemangat hidup saya, hampir sebulan saya tidak memeluk nya, hampir sebulan saya tidak mampu membelai rambutnya, Akhir nya pihak RS memperbolehkan anak saya untuk masuk ke ruang perawatan , Alhamdulillah saya bisa memeluk nya, saya bisa menciumnya, namun kaki dan tubuh ini belum mampu berdiri, namun ini menjadi dorongan terkuat untuk saya bisa segera pulih dan bisa cepat pulang,

Dan setiap pagi saya selalu di ajak berdiri dan coba melangkah selangkah demi selangkah, Alhamdulillah saya bisa melakukan nya, walaupun masih harus di bantu,

Dan dengan kondisi saya yang semakin membaik saya di ijinkan untuk pulang, dengan total 31 hari saya berada di RS waktu itu

Tak Terbayang begitu lama nya, begitu berat nya

Dan besar nya pengorbanan, tenaga serta do’a dari semua orang, keluarga, anak dan terutama suami dan ibu..

 

Setibanya di rumah alhamdulillah saya di sambut antusias oleh keluarga, tetangga serta teman teman saya yang dari pagi menunggu kedatangan saya, bahkan driver grab pun sampai menanyakan, ini ritual atau bentuk syukur Bu,

Saya bingung menjelaskan nya, tapi jelas mereka semua sayang terhadap saya,,

 

Perjalanan menuju kesehatan yang luar biasa ini masih berlanjut, saat saya sudah berada di rumah batuk saya sangat parah, sudah tau kan pasti nya jika bekas operasi belah dada dan kita batuk terus menerus, sakit nya pasti luar biasa, sudah berbagai macam obat saya coba tapi batuk nya malah makin menjadi,

 

Seiring berjalannya waktu

Alhamdulillah semua berangsur membaik, dan tepat 09 juli 2025 kemarin saya sudah setahun paska operasi, dan dokter sudah mulai mengurangi obat obatan yang saya konsumsi, dan hanya tinggal satu jenis obat saja yang saya minum, dan semua semakin membaik

 

Terimakasih Allah,

Terimakasih ibu,

Terimakasih keluarga, Sahabat dan terutama terimakasih suamiku,

 

Ini kisah ku dan aku sangat bersyukur Allah memberi ku keajaiban lagi, yaa keajaiban yang bukan hanya kali ini aku alami ,,

orang-orang bilang aku kuat, padahal Allah yang selalu menguatkan, dan aku selalu mendapat dukungan dan do’a terbaik dari mereka, mereka yang menyayangi ku…

 

By | 2026-02-11T15:05:17+00:00 August 16th, 2025|Our PH Journey|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
Open chat