Penyakit Kronis Fisik dan Mental Yang Saling Berkaitan-KULWAP

///Penyakit Kronis Fisik dan Mental Yang Saling Berkaitan-KULWAP

Penyakit Kronis Fisik dan Mental Yang Saling Berkaitan-KULWAP

Kuliah Whatsapp adalah program tanya jawab lewat group di aplikasi whatsapp antara anggota YHPI dengan dokter/narasumber ahli lainnya untuk topik-topik terkait Hipertensi Paru yang diadakan secara rutin dan berkala.

Untuk bergabung dalam group whatsapp dan mengikuti kuliah berikutnya, silakan hubungi Admin Pusat YHPI 0811-8986-799

 

PENGUMUMAN KULWAP YHPI

  • Waktu : Kamis, 23 Januari 2025
  • Pukul : 19.00 – 20.00 WIB
  • Narasumber : Khaulah Nabilah,S.Psi., M.A. (Patient Advocate Psikologi dari Inspirasien)
  • Tema : Penyakit Kronis Fisik dan Mental Yang Saling Berkaitan
  • Moderator : Amida

Untuk melihat materi silahkan KLIK DISINI

 

Halo teman-teman Sahabat Hipertensi Paru. Sedikit kilas balik dari video materi ya, kondisi fisik ternyata sangat berkaitan dengan kondisi mental kita. Khususnya pada pejuang penyakit kronis kondisi-kondisi tertentu seperti nyeri pada anggota tubuh dan tidak mampunya untuk melakukan aktivitas membuat kita mengalami kondisi psikologis yang tidak nyaman dan mengganggu jika tidak tertangani dengan baik. Diharapkan adanya pendekatan holistik tidak hanya medis namun juga psikologis untuk meningkatkan kesejahteraan pejuang penyakit kronis khususnya teman-teman sahabat hipertensi paru.

1. Pertanyaan:

Selamat pagi Dok, perkenalkan saya Ruth, 26 tahun, domisili Solo. Saya ingin bertanya Dok, sebenarnya saya sudah menerima penyakit saya, namun terkadang orang lain di sekitar saya masih menganggap saya baik baik-saja dan sehat, padahal saya sering sekali pingsan, sesek, dan merasa capek padahal aktivitas normal.. Tidak hanya itu, masalah-masalah hidup saya yang lain, seringkali juga menyita pikiran saya sehingga memperburuk keadaan saya..

Oleh karena itu saya tertekan Dok, saya sudah berobat ke psikiatri.. Namun, orang lain masih menganggap saya layaknya orang biasa yang sehat.. Bukan saya ingin dianggap sakit, namun seringkali saya dipaksa untuk menuruti maunya mereka seperti membantu mengantar dan menemaninya kemanapun, padahal saya sendiri tidak bisa menuruti keinginan diri saya sendiri.

Yang ingin saya tanyakan, gimana sikap yang seharusnya saya ambil untuk menghadapi orang-orang seperti itu ya Dok? Saya juga tidak menuntut belas kasih, saya hanya ingin mereka mengerti keadaan saya yang seperti ini. Demikian Dok, terimakasih banyak sebelumnya Dok..

Jawaban:

Halo Kak Ruth, terimakasih sebelumnya ya sudah menceritakan hal yang Kak Ruth rasakan. Banyaknya tuntutan yang Kak Ruth rasakan tentunya sangat memengaruhi kondisi fisik dan perasaan ya kak ya. Saya paham sekali itu sangatlah tidak nyaman. Langkah yang kakak ambil untuk berkonsultasi ke psikiater merupakan salah satu hal yang sudah baik. Sebagai pejuang penyakit kronis, kondisi yang dialami Kak Ruth ini termasuk invisible illness atau penyakit yang “tidak nampak” sehingga menyebabkan orang sekitar menganggap bahwa kak Ruth masih berdaya.

Tentu jelas akan membuat Kak Ruth tidak nyaman ya. Rekomendasi yang bisa saya berikan kepadaKkak Ruth adalah untuk mengutarakan kembali dan memberi batasan atas hal-hal yang mungkin saat ini belum bisa kak Ruth lakukan dikarenakan kondisi fisiknya sedang tidak fit. Cara untuk mengutarakannya mungkin, bisa dengan diskusi hati ke hati dengan orang terdekat. Jika semisal agak sulit untuk dijelaskan, mungkin bisa bersama ahli seperti dokter yang menangani, psikiater, atau dengan psikolog.

Tujuannya untuk adanya pembicaraan yang netral sehingga semua pihak terinformasikan dengan kondisi dari kak Ruth. Alangkah baiknya juga, kak Ruth melakukan konseling dengan psikolog untuk dapat menyampaikan keluhan yang dirasakan sebelum lanjut dengan konseling bersama dengan keluarga. Jika belum memungkinkan untuk hal tersebut, kita bisa fokuskan pada kondisi kak Ruth terlebih dahulu.

Dengan mengatur dari sisi mba Ruth apa yang bisa saat ini tubuhku lakukan. Semisal seperti membantu mengantar, jika kondisi setidak mungkin untuk naik motor, apa mungkin untuk menggunakan layanan ojek online ataupun mungkin ada orang lain yang bisa membantu mengantarkan bersama dengan Kak Ruth. Tentu kondisi tersebut diharapkan tidak terjadi terus menerus, hanya di saat kondisi Kak Ruth sedang tidak fit sehingga bisa disesuaikan. Ataupun kak Ruth bisa menyampaikan kurang lebih seperti ini: “Aku punya kondisi kesehatan kronis yang membuatku terlihat baik-baik saja secara fisik, tapi sebenarnya tubuhku membutuhkan batasan tertentu agar tidak memburuk. Aku harap kamu bisa memahaminya.” Masukkan ini bisa disesuaikan dengan kondisi kak Ruth ya. Semoga membantu.

2. Pertanyaan:

Nama: Ririn, Usia: 34, Domisili: Jepara. Bagaimana cara menjelaskan ke teman2 di lingkungan kerja kalau saya sebenarnya sakit. Saya seringkali menolak ajakan teman untuk wisata ke luar kota terutama daerah pegunungan karena alasan kesehatan tetapi menurut mereka saya sehat. Seringkali dipaksa menuruti kemauan mereka selayaknya orang yang sehat dan normal. Padahal yang saya rasakan seringkali merasa sesak, pusing, mudah lapar dan kadang lemas. Terima kasih

Jawaban:

Halo Kak Ririn, terimakasih atas pertanyaannya ya kak. Sama seperti yang dialami oleh kak Ruth, Kak Ririn mengalaminya didalam lingkup kerja ya. Tentu hal tersebut tidak nyaman juga ya padahal pasti ada keinginan dari Kak Ririn untuk dapat bisa membaur ya.

Kondisi Kak Ririn juga termasuk dalam invisible illness, tetap bisa bekerja kok, tapi akan ada kondisi-kondisi tertentu yang dari Kak Ririn terbatas. Baiknya, dari posisi kak Ririn tetap memproritaskan kesehatan dari Kak Ririn, dengan menegaskan dengan memberi batasan dengan ungkapan yang empati, seperti: “Aku tahu kamu menginginkan yang terbaik dariku, tapi sayangnya ada beberapa aktivitas yang tidak bisa kulakukan karena bisa memperburuk kesehatanku.” atau berikan perumpamaan seperti “kondisi ku seperti battrey yang kondisinya bisa drop sewaktu-waktu, jadi ada kalanya aku fit dan ada kalanya aku butuh waktu untuk berproses, jadi izin untuk menyampaikan kondisiku ya”

Mungkin juga bisa diberikan informasi-informasi tentang kondisi  Dengan mengutarakan hal tersebut, diharapkan orang sekitar bisa lebih memahami dan melakukan penyesuaian untuk kondisi Kak Ririn ya. Disesuaikan dengan cara penyampaian dari Kak Ririn ya. Saya yakin Kak Ririn bisa dengan baik untuk menyampaikan hal tersebut

3. Pertanyaan:

Nama : Fifit, Usia : 30 tahun, Domisili : Boyolali. Bagaimana caranya manajemen pikiran / emosi saat merasa terburu2? Saya punya baby 11 bulan, terkadang saya ajak ke tempat kerja saya (Sekolah SMK) karena suatu hal. Saat pekerjaan riweuh, baby jg ada momen agak tantrum / tidak nyaman. Jadi pikiran semrawut yang menyebabkan tubuh saya lemas, pusing dan terkadang sesak nafas 🙏 Rekan kerja sebenarnya fine2 aja akan kondisi tersebut. mohon masukannya. Terimakasih

Jawaban:

Halo Kak Fifit, sebelumnya terimakasih ya kak sudah berbagi. Saya mau apresiasi kakak terlebih dahulu karena menjadi ibu hebat dan menjadi ibu yang bekerja. Bukan hal yang mudah untuk membagi peran seperti itu ya kak ya.

Hal yang mungkin dapat dilakukan untuk mengatur rasa terburu-buru yaitu dengan Istirahat Microbreaks di Tengah Kesibukan, jadi ambil jeda 1-2 menit untuk berdiri, minum air, atau sekadar menarik napas di luar ruangan jika memungkinkan. Ini membantu tubuh kak Fifit untuk pulih sejenak.

Tarik nafasnya bisa dengan metode 3-3-3 yaitu 3 detik tarik nafas, 3 detik tahan, 3 detik lepaskan. Sampai dirasa kondisi badan nyaman, bisa mulai kembali untuk mengatur apa yang harus dilakukan ataupun untuk menenangkan bayi kak Fifit. Semoga bisa membantu ya.

4. Pertanyaan:

Nama: Tyas, Usia: 32 th, Domisili:Sragen. Selamat pagi dok. Bagaimana dok menyikapi sikap orang lain yang slalu menganggap kita sebagai pasien kronis agar qt tidak overthinking terhadap perlakuan mereka terhadap saya? Saya bekerja diantara orang” yang sehat tetapi saya diharuskan agar bisa seperti mereka orang yang normal kondisinya.

Untuk menjelaskan rasanya sudah lelah sekali dibilangnya saya ini terlalu lebay terhadap kondisi saya. Saya sering memendam perasaan sedih itu sendiri sampai dirumah pun saya jadi lebih sering memilih menyendiri dikamar dan tidak ingin berinteraksi dengan orang lain. Kondisi seperti ini,sehatkah untuk kondisi mental saya dok? Terima kasih,mohon pencerahannya dok

Jawaban:

Halo kak Tyas, Terimakasih sudah berbagi ya. Yang dialami oleh kak Tyas. Perlakuan yang dimaksud ini adalah perlakuan untuk tetap normal seperti kondisi mereka ya kak? Sedangkan kondisi dari Kak tyas harus dilakukan penyesuaian dengan kondisinya dan sudah berulang kali menjelaskan namun belum pada kondisi dipahami. Saya paham sekali hal tersebut dapat menyebabkan kelelahan dan memunculkan perasaan sedih dan ingin menyendiri ataupun tidak berinteraksi.

Hal yang bisa rekomendasikan untuk kakak adalah melakukan jurnal emosi untuk mengetahui pola emosi yang dirasakan sehingga bisa kak tyas atasi secara bertahap. Hal yang sangat wajar sekali jika Kak Tyas merasa sedih, kecewa, atau bahkan kesepian dalam kondisi seperti ini. Merasa lelah karena terus menerus menjelaskan juga adalah hal yang sangat manusiawi.

Fokus pada apa yang Kakak butuhkan untuk menjaga kesehatan. Mengingat bahwa tidak semua orang bisa memahami kondisi ini sepenuhnya, tapi yang paling penting adalah Kakak memahami diri sendiri.Jika dirasa masih kurang nyaman, bisa konsultasi dengan ahli seperti dengan psikolog ataupun konselor ya kak.

5. Pertanyaan:

Nama : Novi, Usia : 29, Domisili : sukabumi. Dokter saya mengalami sakit jantung ini ,  dokter jantung bilang pemicunya salah satunya adalah menyimpan rasa sedih terlalu lama dan amarah yang saya tidak bisa ungkapkan kala itu , saya sadar ada perubahan dalam diri saya termasuk tidak bisa lagi  komunikasi dengan orang lain selain ibu saya , saya jadi orang yang sangat sensitif dan peka terhadap orang lain , saya juga tidak bisa berada dalam tempat ramai , sensasi yang saya rasakan adalah sesak napas berat bahkan muntah apabila dalam keadaan panik , jadi cukup sulit untuk saya berada diluar rumah karna berkali” saya harus meyakinkan diri saya aman berada diluar termasuk membawa oksigen dan obat”an bahkan tisu dan keresek kecil ( maaf untuk tempat saya muntah ) sulit sekali dok karena saya juga punya penyakit ini , karena dipikiran saya kalau saya keluar pasti akan sesak napas , dokter adakah tips menghadapi untuk meredakan panik saat ditempat umum.

Jawaban:

Halo kak Novi, termakasih ya kak telah berbagi cerita dan kondisi kakak dengan sangat terbuka. Saya paham yang kakak alami tidaklah mudah dan merasa terbebani dengan kondisi sedih dan terlalu banyak memendam rasa tidak nyaman tersebut ya. Hal yang mungkin bisa saya rekomendasikan ke kakak untuk mengatasi kondisi panik yang dirasakan bisa dengan kenali terlebih dahulu emosi dan gejala panik yang kakak alami.

Jika gejala panik muncul, coba untuk mencari ruang atau tempat aman, kemudian duduk dan mengatur nafas sambil berkata pada diri sendiri seperti “apa yang kurasakan akan berlalu, aku tenang, aku nyaman, aku aman”. Latihan nafasnya juga sams seperti kak Fifit ya kak Novi, dengan menggunakan metode 3-3-3, yaitu 3 detik tarik nafas, 3 detik tahan, 3 detik lepaskan. Sampai dirasa kondisi badan nyaman.

Semisal untuk mencegah kepanikan tersebut ditempat umum, pastikan sudah melakukan persiapan diri sebelum keluar rumah ya kak, mungkin bisa dengan menyusun rutinitas atau membuat catatan check-list khusus hal apa saja yang harus dibawa ketika bepergian.

Jika dirasa sangat membutuhkan tenaga ahli dikarenakan kondisi panik semakin menganggu kegiatan sehari hari, dianjurkan untuk segera bertemu dengan psikolog ataupun psikiater ya. Semoga cukup bisa membantu menjelaskan untuk kondisi kakak ya.

6. Pertanyaan:

Nama: Seli, Usia: 23 tahun, Domisili: Tangerang. Bagaimana cara untuk mengelola stres dengan baik karena sebagai penderita PH pastinya banyak memikirkan kesehatan dan terkadang juga memikirkan masalah di tempat kerja serta beberapa orang sekitar yang menganggap penyakit saya sepele. Akhir-akhir ini juga saya seringkali mengalami penurunan mood padahal keseharian saya saat ini bisa dikatakan sedang baik-baik saja tapi seperti tidak memiliki excited saat melakukan sesuatu. apa itu juga karena pengaruh dari hal-hal yang sering saya pikirkan di atas?

Jawaban:

Halo kak seli, terimakasih ya kak telah berbagi tentang apa yang telah dirasakan. Saya paham sekali yang dirasakan oleh Kak Seli. Kakak tidak sendiri dan teman-teman disini juga ada yang merasakan hal yang sama perihal kondisi invisible illness yang kakak alami. Banyak hal yang dapat mempengaruhi mood dari kak seli ya, hal tersebut bisa karena kondisi dikarenakan tekanan kerja ataupun kondisi pribadi dari kak seli juga. Bisa saja kakak sedang mengalami kondisi burnout ketika bekerja dan dengan ditambah kondisi fisik yang menurun sehingga menurunkan rasa nyaman dan terus menganggu pikiran.

Hal yang perlu kakak sadari adalah, apapun rasa tidak nyaman yang kakak rasakan merupakan hal yang valid dan kekhawatiran yang muncul dikarenakan kakak ingin menjaga kondisi tubuh kakak dengan baik. Sehingga jika terdapat anggapan yang kurang menyenangkan kakak bisa sampaikan dan memberikan batasan dalam merespon atau menerima kondisi kerjanya, seperti: “Saya tahu niat Anda baik, tapi hanya saya yang tahu bagaimana kondisi tubuh saya dan apa yang terbaik untuk saya dan saya akan mencoba membantu jalannya pekerjaan kita sesuai dengan kondisi tubuh saya”

Dikarenakan kakak merasa adanya penurunan mood sehingga kurang excited melakukan sesuatu, bisa jadi dikarenakan keseharian yang berulang sehingga tubuh merasa “bosan”, bisa melakukan penyesuaian lagi dengan hal yang dulu jarang dilakukan kembali sekarang. Semisal seperti membaca, menulis, mengambar atapun kegiatan seperti merawat tanaman, meditasi, atau mungkin memasak. Kegiatannya bisa sesuatu yang baru atau yang lama sudah tidak dilakukan kembali. Mengikuti kelas untuk update skill juga di perbolehkan sekali untuk bisa mengelola kondisi. Semoga bisa membantu ya kak.

7. Pertanyaan:

Nama :Kokoy, Usia:57 tahun, Domisili:Bogor. Bagaimana cara mengatasi orang rumah yang toxis apakah itu berpengaruh terhadap kesehattan mental ,dan juga suami cuek akan istri apa itu bisa menyebabkan banyak fikiran dan mengganggu kesehattan dan pemulihan yang penderita hipertensi paru?

Jawaban:

Halo Bu Kokoy, terimakasih banyak ya bu telah bercerita dan menyampaikan perasaan yang ibu rasakan saat ini. Apa yang dirasakan dan dialami ibu merupakan hal yang sangat tidak nyaman ya dan pastinya sangat mempengaruhi kondisi fisik dan mental ibu.

Kondisi rumah yang tidak nyaman tentu sangat mungkin berpengaruh dengan kondisi kesehatan yang ibu alami sehingga membuat cepat lelah dan merasa kurang dihargai. Jika sangat memungkinkan untuk membuat batasan seperti berkomunikasi secara terbuka dengan tegas tentang kondisi ibu seperti, “saya dalam fokus untuk menjaga kesehatan saya, jika belum bisa membantu atau berkomentar baiknya baiknya diam atau tidak sampai kepada saya sehingga saya dapat mengatur kondisi fisik dan stres saya”

Tentunya semua kondisi tidak harus dilawan ya bu, terkadang kita butuh untuk mengabaikan demi menjaga energi dan bisa terfokus pada diri kita sendiri. Caranya, mungkin ibu bisa mulai dengan membuat waktu untuk aktivitas baru yang dapat menenangkan seperti membaca, memasak, menjahit, atau berdoa.

Menyayangi diri sendiri jauh lebih penting untuk bisa membantu ibu dalam menjaga kesehatan. Jika dirasanya kondisi tersebut makin menganggu, alangkah baiknya ibu bertemu dengan professional seperti psikolog ataupun konselor yang dapat membantu ibu untuk menemukan cara untuk mengelola stres dan emosi. Bertemu dengan profesional bukan merupakan tanda kelemahan ya bu, justru sebagai kekuatan ibu untuk tetap menjaga diri sendiri. Semoga jawaban saya cukup membantu ya bu. Peluk jauh untuk Bu Kokoy

8. Pertanyaan:

Nama: ELseria simanullang, Usia: 38, Domisili: Medan. Bagaimana mengatasi diri supaya tidak mudah down, juga bagaimana tips menjaga mental yang sehat.

Jawaban:

Halo kak Elseria, Terimakasih ya kak sudah memberikan pertanyaan yang bagus. Bagaimana sih caranya untuk bisa mengatur kondisi emosi dan menjaga kesehatan mental kita? Sebenarnya ada beberapa banyak cara yang nanti bisa di kombinasi sesuai dengan kenyamanan diri kita ya.

Pertama mungkin bisa dimulai dengan kenali dan ubah pikiran negatif yang sering muncul. Jika dulu suka berpikir seperti “aduh aku gagal lagi, pasti semua salahnya aku” sadari pikiran tersebut dan lalu kita coba ubah sudut pandangnya, “oh iya ya ternyata memang tidak mudah. Setidaknya aku sudah mencoba dan memberikan yang terbaik. Jika ada kesempatan aku akan mencoba cara lain lagi deh”

Lalu bisa kita fokus pada hal yang kita bisa kendalikan saja. Jangan berandai untuk mengubah sesuatu diluar kendali kita atau hal yang sudah berlalu. Fokuskan pada tindakan yang bisa kita kembangkan atau kita lakukan untuk selanjutnya. Seperti misal lupa untuk minum obat, berarti butuh untuk membuat catatan dan alarm reminder untuk waktu konsumsinya.

Jika merasa ada kondisi emosi yang muncul dan sulit dikendalikan. Tenangkan diri dengan mengatur pernapasan, membuat jurnal emosi, dan menangislah. Tidak ada yang salah ketika kita menangis dan menangis itu bentuk bahwa kita masih menjadi manusia yang mau berusaha, hanya saja butuh waktu sejenak untuk berdiam diri dan mengatur diri sampai kita siap lagi untuk berproses dalam kehidupan.

Ingat, menikmati ruang sendiri dan melibatkan diri dalam hal-hal positif dapat membuat kita semua belajar dan merasa bermakna. Semoga dapat menjawab ya kak.

Semua dari kita sedang berusaha dengan kondisi kita masing-masing, dengan saling berbagi dan tetap mau berusaha untuk berkembang dan membaik merupakan proses yang tidak mudah namun sangat mungkin untuk bisa kita raih. Dengan semua teman-teman di Hipertensi Paru yang berproses, tentu menjaga kesehatan mental merupakan hal yang penting untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan. Terimakasih banyak kepada teman-teman yang sudah bertanya, pertanyaan kalian sangat memberi insight dan ilmu untuk saya dan tentu kepada teman-teman lainnya.

 

“Jangan ragu untuk mencari dukungan dari orang-orang terdekat atau profesional ketika kita merasa membutuhkan bantuan. Kita tidak harus menjalani semuanya sendirian. Dengan penerimaan diri, manajemen emosi yang baik, dan dukungan yang tepat, Kita bisa melewati berbagai tantangan dengan lebih kuat dan tenang. Selalu ingat, kita berharga, dan setiap langkah kecil menuju kesehatan yang lebih baik adalah ketenangan yang kita semua inginkan. Semangat terus dan tetap tenang jadi pasien”._Khaulah Nabilah,S.Psi., M.A.

By | 2025-02-08T10:53:13+00:00 February 8th, 2025|Kuliah lewat WhatsApp|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
Open chat