Kuliah Whatsapp adalah program tanya jawab lewat group di aplikasi whatsapp antara anggota YHPI dengan dokter/narasumber ahli lainnya untuk topik-topik terkait Hipertensi Paru yang diadakan secara rutin dan berkala.
Untuk bergabung dalam group whatsapp dan mengikuti kuliah berikutnya, silakan hubungi Admin Pusat YHPI 0811-8986-799
PENGUMUMAN KULWAP YHPI
-
- Waktu : Sabtu, 25 Januari 2025
- Pukul : 19.00 – 20.00 WIB
- Narasumber : dr. Dian Herlusiatri Rahayu, Sp.JP
- Tema : Menjalani Hidup dengan Hipertensi Paru
- Moderator : Amida
Hipertensi pulmonal atau PH adalah peningkatan tekanan pembuluh darah arteri paru atau kapiler paru yang juga berakibat terhadap peningkatan tekanan sisi kanan jantung.
PH didiagnosis jika terdapat peningkatan tekanan rerata arteri paru (mPAP) > 20 mmHg yang diukur saat istirahat dengan tindakan kateterisasi jantung paru kanan. PH diakibatkan oleh berbagai macam kondisi sehingga terdapat lima golongan PH berdasarkan penyebab agar mendapat tatalaksana yang tepat.
Obat-obatan yang dapat menurunkan tekanan arteri paru merupakan terapi utama yang diberikan pada pasien dengan PH, namun tidak semua pasien PH mungkin membutuhkan terapi yang sama. Selain itu, pengencer darah terkadang juga dibutuhkan pada beberapa kasus. Obat diuretik yang dapat mengeluarkan cairan dengan buang air kecil yang banyak sering diberikan pada pasien PH yang mengalami sesak dan bengkak akibat gagal jantung sisi kanan.
Terapi obat-obatan jantung lainnya akan disesuaikan dengan kondisi serta tipe PH pada masing-masing kasus. Oksigen dapat diberikan sesuai kebutuhan, namun belum ada data terkait penggunaan terapi oksigen jangka panjang. Dan yang paling penting, kepatuhan minum obat serta support dari keluarga dan orang terdekat merupakan kunci keberhasilan terapi PH. Tetap semangat para pejuang PH!
1. Pertanyaan:
Nama : Vonny, Usia : 28 tahun, Domisili :Makassar, Diagnosa: post operasi ASD closure+ PH. Ijin dok saya post operasi ASD closure +PH. Bagaimana saya cara menjalani hidup dengan hipertensi paru Dapatkah saya menghentikan atau mengurangi pengobatan di masa mendatang dok. Terima kasih dok.
Jawaban:
Untuk pertanyaan dari mba Vonny:
- Memang harus obat rutin sesuai dengan anjuran dokter
- Kontrol rutin perlu untuk memantau perkembangan, dan dalam kurun waktu tertentu akan ada pemeriksaan evaluasi berkala (seperti test rehab jalan ataupun diatas treadmill serta echo) untuk memastikan kondisi pasca operasi.
- Obat dikurangi atau tidaknya itu nanti bergantung kondisi. Ada kemungkinan dikurangi namun memang tidak dapat dipastikan karna itu balik lagi ke personal pasien itu (dalam artian kondisi klinis, kondisi dari penyakit awalnya dan tindakan yang dilakukan)
- Kalau boleh tanya, operasinya itu closure nya dengan device atau dengan metode operasi? Jika dengan metode operasi apakah dengan menyisakan ASD sedikit atau tutup total?
Vonny:
Ijin dok,operasi dok. Menyisakan ASD 20%. Kata dokter nda menutup sempurna dok .. msh ada sedikit bocornya.
Dr. Dian:
Ok, terkait menyisakan ASD kecil seperti itu memang harus obat rutin, dosis naik turunnya tergantung kondisi dari PH itu sendiri yang bisa dikonfirmasi dengan echo ataupun dengan RHC (sadap jantung), hanya saja memang sebagian besar kasus akan dosis tetap. Namun saya juga tidak sedikit mendapati pasien diturunkan dosisnya namun memang dengan ada data evaluasi tersebut. Karena jika terjadi PH yang sudah lama memang jaringan dan kondisi dalam paru itu sendiri sudah terjadi perubahan adaptasi dari normalnya. Sehingga mau tidak mau dipertahankan dengan obat-obatan tadi. Namun mba Vonny tetap latihan fisik ringan (hingga sedang jika kuat dan tidak memaksakan diri) supaya paham sejauh mana badannya bisa diajak aktivitas 🙂
dengan operasi atau dengan non operasi (device)?
Vonny:
Ijin dok belah dada dok … Ijin dok. apakah saya perlu minta surat keterangan bahwa saya terdiagnosa post operasi ASD closure+pH untuk pegangan latsarmil dok
Dr. Dian:
Ok, berarti mmg kemungkinan disisakan supaya tidak terjadi pemberatan PH. Kenapa demikian? seperti yang saya katakan tadi, jika terjadi PH sudah terjadi perubahan adaptasi dan jika ditutup total malah berbahaya untuk kondisi mba Vonny. Ya perlu. Minta untuk surat keringanan dan pernyataan dari dokter SpJP nya ya
2. Pertanyaan:
Nama: Febby, Usia: 29, Domisili: depok, Diagnosa: PH primer. Dengan kondisi saya yang memiliki Hipertensi paru ini, memungkinkan tidak ya dok untuk bekerja? Yang jadi pertimbangan saya adalah jarak tempuh dari rumah ke kantor yang bisa 3-4 jam pulang pergi, di kantor pun ketemunya tangga lagi sampai lantai 5 (tidak ada lift).
Jawaban:
- Untuk bekerja bisa, namun tetap disesuaikan dengan kemampuan dan obat harus rutin dikonsumsi
- Kontrol rutin disarankan, karna memang jika diperlukan nanti ada tes rehab (berupa jalan) juga untuk melihat perkembangan dari PH nya.
- Disarankan pagi hari jalan santai semampunya untuk melihat batas kemampuan dari paru-paru dan jantungnya serta untuk melatih badan agak ttp mampu sesuai kondisi tubuhnya.
- Kalaupun tidak ada lift dan harus naik tangga, harus diakali : misalnya jalannya lebih pelan dan nanti di anak tangga ke berapa berhenti. Namun jika itu tetap menyulitkan disarankan dicari untuk meminta kebijakan (jika diperbolehkan) untuk mendapat di kantor yang lt 1. Namun jika tidak bisa, berarti harus optimal dari obat-obatan dan juga latihan jalan tadi. Itu naik apa ya perjalanan dari rumah ke kantornya?
Febby:
Motor dok kadang busway juga
Dr. Dian:
Jauh banget 🙁 gak ada tempat singgah semacam kosan ya? selalu engap kah kalau sampai kantor?
Febby:
Enggak ada dok. Iya dok, kaki sering bengkak waktu itu. Sama jalan bentar lgsg sesak bgt. Skrg lagi di kasih waktu untuk fokus berobat dari kantor
Dr. Dian:
Oke. Sebenernya gpp. Cuma td balik lagi, sesuai kemampuan. Karena PH primer ini memang obat2an yang berperan sejauh ini untuk optimal aktivitas. Ini dirutinkan dulu dan didiskusikan dengan dokter jantungnya mba Febby. Sudah RHC ya. Oke, dari situ nanti diskusi lagi dengan dr jantungnya ya. karna kalo PH primer memang obat2 yang harus rutin disertai larian fisik ringan seperti jalan santai. hasil kateterisasi itu yang menentukan dari obat-obatan dan latihan fisik untuk nanti dijadikan patokan untuk dapat beraktivitas sejauh mana
Febby:
Baik dokter nanti akan saya diskusikan ke dokter jantungnya, terima kasih banyak atas waktunya dokter
Dr. Dian:
okay. sehat selalu mba Febby semoga bisa bekerja dengan optimal (sesuai dengan kemampuan mba). Bismillah
3. Pertanyaan:
Nama: Delima, Usia: 33, Domisili: Cirebon, Diagnosa: ASD+PH. Dok apakah diagnosa PH ini akan menjadi penyakit seumur hidup? Atau seumur hidup akan tetap minum obat? Apakah masih bisa tetap bekerja? Saya bekerja setengah hari.
Jawaban:
- Iya akan menjadi penyakit seumur hidup dan akan minum obat juga. Namun terkait obat akan naik dosis atau turun bahkan bisa saja tidak minum tergantung dari ASD nya juga dilakukan tindakan atau tidak.
- Jadi PH nya sendiri itu adalah salah satu komplikasi yang terjadi dari ASD, seberapa jauh dari PH nya berarti harus ada pemeriksaan khusus yakni RHC (kateterisasi jantung kanan) dan mungkin juga ada pemeriksaan paru dengan metode V/Q scan. Dari pemeriksaan RHC ini terutamanya, nanti akan terlihat apakah ASD ini akan bisa langsung tutup dengan device (alat khusus dengan metode non bedah) ataupun dengan metode bedah, atau perlu pengobatan dulu untuk PH nya yang kemudian akan dilakukan evaluasi 6-12 bulan kemudian untuk menentukan akan ditutup atau tidak untuk ASDnya. Jika ditutup pun total atau akan menyisakan ASD karena terkait PH nya, karna itu akan berpengaruh terhadap obat PH akan dilanjutkan atau tidaknya.
- Bekerja bisa, selama minum obat rutin dan kontrol rutin, serta latihan fisik ringan untuk melihat kemampuan seberapa jauh tubuh untuk melakukan kegiatannya
Mba Delima sudah ditutup belum ya ASD nya? Jika belum ditutup, berarti harus tahu akan direncanakan untuk penutupan atau konservatif (tanpa penutupan). karena hal tersebut akan menentukan ke depannya untuk merencanakan aktivitas yang akan dilakukan sejauh mana dari hasil pengobatan yang rutin dilakukan
4. Pertanyaan:
Nama: Nurhayati, Usia: 35, Domisili: cengkareng, Diagnosa: VSD+PH. ijin bertanya dok, bagaimana caranya agar saya tetap kuat,dan ga pesimis dalam menjalani hidup dikarenakan sampai saat ini blm bisa di tindak untuk penutupan dok dan hanya terapi obat saya suka overthinking dok apalagi ngeliat anak² saya yang masih kecil,apakah saya bisa melihat mereka,bersama mereka sampe mereka bisa berdiri di kaki mereka sendiri
Jawaban:
- Berikan sugesti positif terhadap diri sendiri. Afirmasi positif juga untuk kondisi tubuh mba Nur meskipun dengan ada PH
- Support dari pasangan serta keluarga dan lingkungan sekitar itu perlu. Pengertian dan bantuan (maksudnya tidak semua kerjaan rumah dikerjakan oleh mba Nur sendiri) itu sangat akan membantu mba. InshaAllah mba tetap akan bisa mendampingi anak-anaknya.
- Obat-obat harus rutin, kontrol sesuai dengan waktunya dan serta mungkin diakali ya, misal waktu capek, anak-anaknya dipegang oleh suaminya atau mungkin diarahkan supaya tidak banyak membuat mba Nur beraktivitas berlebihan.
- Bertemu orang2 yang sesama PH pun bisa jadi motivasi untuk tetap bisa berjuang. Ikut grup YHPI kan? Hehe
- Terkait tindakan penutupan yang blm bisa dilakukan dari dokter jantungnya bilangnya msh harus evaluasi karena optimalisasi obat2an dulu? Karena kuncinya harus sabar juga mba untuk kasus PH ini.
Beberapa kasus ada yang baru bisa ditutup 6bln sd 12bln kemudian, yang sampai 2th pengobatan saya pun masih nemu, cuman memang tidak bisa dipastikan ya hasil dari pengobatan, kembali lagi respon nya berbeda dari setiap pasien
5. Pertanyaan:
Nama: Diyyah chairani, Usia : 30 tahun, Domisili : Payakumbuh, Diagnosa : PDA+PH. Saya belum penutupan dok. Saya ada rasa takut untuk penutupan dengan alat, bagaimana saya akan menjalani hidup kedepan setelah kateterisasi, apakah saya bisa beraktifitas seperti kondisi saya saat ini?. Alhamdulillah saat ini saya bisa beraktifitas seperti biasa. Terimakasih dok.
Jawaban:
- kalau memang kateterisasi dengan penutupan langsung dengan alat biasanya cepat untuk pemulihannya, bahkan pengalaman saya sewaktu sekolah merawat pasien-pasien yang dilakukan tindakan ini, pasca tindakan langsung terasa enak dan lega.
- biasanya pasca tindakan jika memang ada obat PH ada yang dilanjut ada yang tidak
- nanti dipastikan saja pasca tindakan hasil nya gmna, karna jika menyisakan PH nya pun ttp bs aktivitas (malah bisa lebih enteng rasanya) meskipun dengan obat2an. Minum obat tidak mba Diyyah untuk PH nya?
Diyyah:
Minum dok, saya minum sildenafil dok
Dr. Dian:
Oke. Gapapa, nanti terlihat biasanya pasca penutupan itu PH nya turun atau tidak untuk kasus mba yang PDA ini. Nanti pasca penutupan biasanya akan ada tes rehab jantungnya Serta evaluasi echo pasca tindakan penutupan, semoga lancar ya mba.
6. Pertanyaan:
Nama: Kartika, Usia: 31 tahun, Domisili: Pekalongan, Diagnosa: ASD. Apakah setelah operasi Hipertensi Paru dapat hilang?dan bisa berhenti konsumsi obat?
Jawaban:
- Ini tergantung hasil katerisasi jantung dan hasil penemuan selama tindakan operasi (karena tetap akan dinilai saat operasi juga kondisi secara fisik dalamnya seperti apa)
- Sebagian kasus ada yang membaik sampai dengan lepas obat (bukan hilang total ya hehe), sebagian kasus ada yang tetap ada. Jadi memang ada kasus yang bener2 sampai berhenti obat.
Kartika:
Berarti nanti kalo sudah operasi masih harus kateter jantung lagi ya dok, apakah ada kiat” Supaya bisa berhenti obat bu setelah operasi penutupan.
Dr. Dian:
bisa iya bisa tidak mba. Kateter jantung yang saya maksud tadi hasil awal kateter jantungnya dulu yang dijadikan patokan untuk operasi tadi. karna tidak semuanya akan dikateterisasi jantung pasca operasinya. kadang dengan echo saja cukup. 1 lagi, terkait obat berhenti atau tidaknya, biasanya hasil echo evaluasinya pasca operasi
7. Pertanyaan:
Nama Harini , Usia 34, Domisili Tuban. dok apakah setelah tindakan ASD closure saya bisa sembuh dari PH. Bagaimana saya menjaga supaya PH tidak naik sebelum tindakan? Jika asam lambung naik apakah bisa menyebabkan detak jantung tidak beraturan. Pemeriksaan apa saya yang harus di lakukan sebelum tindakan ASD closure?
Jawaban:
- ASD closure nya dengan apa ya? device/alat (metode non operasi) atau dengan operasi? kemudian ada rencana disisakan engga? karna seperti ini berpengaruh terhadap PH nya. Dan pasca penutupan bisa aja lepas obat (jadi membaik sekali) dan ada yang tidak lepas obat.
- PH tidak naik itu kuncinya ada obat yang rutin dan juga aktivitas yang disesuaikan dengan kondisi fisik. karna aktivitas yang berlebihan di luar kemampuan dari fisik pasien dengan PH akan memicu kenaikan tekanan paru karena kebutuhan oksigen meningkat (gampangnya bikin stres parunya krn diajak kerja keras). sehingga harus dihindari stres dari segi fisik dan pikiran serta obat gak boleh bolong
- Asam lambung jelas bikin detak jantung naik ataupun tidak teratur karna kompensasi dari jantung itu sendiri mengatasi rasa tidak nyaman ataupun sakit krn asam lambung yang meningkat
- Tindakan sebelum closure biasanya tahapannya : TTE (echo dada/usg jantung via dada) kemudian TEE (echo via mulut) lalu kateterisasi jantung (untuk penyadapan dari jantung dan paru – melihat kadar oksigen serta tekanan dimasing-masing ruangan)
Kalaupun metode penutupan dengan operasi, maka akan dilakukan beberapa screening seperti bagian gigi-mulut harus bersih dulu dari risiko yang menyebabkan infeksi.
Harini:
Device closure dengan alat. Saya belum jelas dok apakah di tutup semua apa tidak. Kemarin hasil kateterisasi ph di angka 30. Berati seminggu ini saya sering detak jantungnya berdebar karena asam lambung ya dok.
Dr. Dian:
oh nggih mba, biasanya nanti waktu mau tutup akan dievaluasi ulang, semoga dengan angka sekian masih bisa tutup total meskipun pasca tindakan ada kemungkinan msh dibantu dengan obat PH dengan dosis yang lebih rendah (biasanya)
kalau ada asam lambung biasanya seperti ini. diatasi aja, hindari stres banget mba. kalo orang jawa bilangnya jangan spaneng ngaruhnya kemana-mana. *jadi lingkaran setan kalau nanti dipikir banget mba, jadi tetap sumeleh tapi ya diatasi juga asam lambungnya
8. Pertanyaan:
Nama: Santi, Usia: 36th, Domisili: Bandung, Diagnosa:ASD&PH. Dok ijin mau bertanya ..saya sudah 1th lebih proses menuju operasi karena memang kata dokter yang nangani saya kataya kemungkinan besar harus operasi bedah. Saya udah kateterisasi dok cuma masih tinggi PH nya jadi harus Kateterisasi ulang nah selama ini saya obat ga teratur dok trus belakangan ni saya sering batuk mendadak tapi nanti hilang sendiri itu gimana ya dok ….trus minum obat revatio yang benar aturannya gimana apa boleh kalo misal minumnya bebas waktu yang penting 3X sehari mohon pencerahan nya dok.
Jawaban:
- Obat tidak teraturnya karena batuk atau karena memang murni tidak rutin (lupa atau kadang males hayooo…)? Karena nanti penyikapannya berbeda. Kalau karena batuk, berarti harus diskusi ulang dengan dokter jantungnya, karena efek samping obat yang membikin batuk kadang membuat pasien kurang nyaman dengan pengobatannya dan berujung pasien takut/males konsumsi rutin. Tapi kalau karena murni tidak rutin dengan alasan malas atau lupa, sekiranya harus ada trik dari mba Santi dalam menyikapi hal tersebut. Misal kalau gampang lupa > kemudian dibuat alarm di hp, dsb. Kemudian kalau batuk sering muncul dan hilang diluar karna obat tidak rutin bahkan muncul karena tidak minum obat, hati-hati kemungkinan karena PH nya ada peningkatan. Sehingga mau gak mau penyesuaian dosis obat atau pengaturan jenis yang dikonsumsi jadi jalan keluarnya.
- Terkait revatio (dan sebenarnya juga berlaku pada obat yang lain juga) aturan 3x sehari itu lebih tepatnya setiap 8 jam sekali dalam 1 hari. Kenapa demikian? Karena kadar obat didalam darah akan mulai berkurang dan hilang setelah 8jam padahal tubuh butuh kadar obat tersebut untuk mengatasi PH nya. Sehingga, dalam konsumsi obatnya diharapkan bisa kurang lebih mendekati waktu minum jika memang ada keterlambatan/ lebih awal (misal harusnya jam 14.00 jatah minum obatnya, boleh lebih awal jadi jam 13.00 atau terlambat pk 15.00; diharapkan tidak lebih dari itu). JIka lupa ya segera diminum saja, untuk waktu konsumsi jam setelahnya berarti agak dimundurkan. Kalau sampai lupa dan mendekati waktu jam konsumsi berikutnya (misal yang siang lupa, ingatnya sudah mendekati jam yang malam) langsung diminum pada saat itu juga dan tidak perlu mendobel dosis (karna nanti mesti ada efeknya kalau mendobel tanpa sepengetahuan atau instruksi dokternya). Diharapkan jangan sampai keseringan lupa ya 🙂 karena akan pengaruh ke progresivitas dari PH nya itu sendiri
9. Pertanyaan:
Nama : Ulfania, Usia : 27thn, Domisili : Ponorogo. Yang sakit anak saya usia 4tahun dok, sakit VSD dan PH berat. Ketika cath bulan November hasil nya ph nya 43mmHg. Di tekanan paru tersebut apa resiko ketika anak harus melakukan operasi jantung untuk menutup vsd nya dok? Batas tekanan paru masih bisa dioperasi atau tidak itu di tekanan paru berapa dok?
Jawaban:
Pertimbangan penutupan VSD (ataupun kelainan jantung lainnya) yang disertai PH itu tidak hanya bergantung pada besarnya tekanan dari PH itu sendiri. Respon terhadap pemberian suplai oksigen, ada tidaknya perubahan bentuk struktur dari jantung, juga menjadi pertimbangan untuk penutupan. Tidak sekedar penutupan atau tidaknya, namun metode yang dipakai serta apakah perlu sampai disisakan bolongan (jadi ada operasi yang akan dibuat lubang buatan pada sekat atrium supaya mengurangi resiko peningkatan PH pasca operasi).
Jadi tekanan PH 43mmHg apakah berisiko jika dilakukan tindakan penutupan VSD nya atau tidak itu balik lagi bergantung berbagai faktor. Ada yang bahkan harus malah ditutup mskpn nanti pasca tindakan tetap minum obat untuk mengurangi tekanan PH juga bs. Jadi bisa dibilang tidak ada batasan yang exact/pasti untuk penutupan terkait banyak pertimbangan dan juga kondisi dari jantung (tidak hanya parunya saja) juga menjadi pertimbangan.
10. Pertanyaan:
Nama: Mita, Usia: 29, Domisili: Sidoarjo, Diagnosa: ASD+ PH. dok ijin tanya saya selalu overthinking dengan penyakit saya karena umur saya sudah 29 thn dan belum bisa punya anak, kemarin abis kateterisasi Karena PH Masi tinggi jadi belom bisa penutupan dan di kasi dokter jangka satu tahun untuk meningkatkan saturasi oksigen dan penurunan PH saya juga sudah menjaga asupan diet gula dan garam tapi PH masi turun sedikit, gimana ya dok caranya agar saturasi oksigen naik dan PH juga cepat turun nya? Saya overthinking gak bisa punya anak lagi ada rasa ketakutan di sini. Terima kasih dok
Jawaban:
- Untuk penurunan tekanan PH bebeda setiap orang karena masing-masing pasien memiliki progresivitas dari PH yang berbeda (semua bergantung dari penyebab dan penanganan rutin/obat nya juga – intinya multifaktorial). Memang harus sabar kuncinya terkait turun tidaknya dari tekanan PH itu sendiri. Jadi memang akan dilakukan evaluasi berkala jika mmg dalam 1 th itu blm ada penurunan signifikan dari PH nya.
- Overthinking setiap pasien yang ada keinginan memiliki keturunan namun masih terhambat terkait penyakitnya itu pasti ada. Namun bagaimana mba Mita lebih sumeleh atau lebih ikhlas itu kunci supaya semua lancar. Karna (maaf) stres berlebihan juga bisa mempengaruhi, meskipun secara tidak langsung terhadap PH nya. Saran saya fokus dengan pengobatan PH nya (meskipun harus naik turun menghadapinya) serta mencari kegiatan yang sekiranya membuat mba Mita bisa bisa mengalihkan overthinkingnya. Serta jangan lupa doa mba, karena doa itu inshaAllah yang membantu mba dalam kemudahan terkait menghadapi penyakitnya supaya ketika nanti mba akan diberikan keturunan kondisi mba sudah lebih siap bukan hanya fisik namun mental juga, karna kita tidak akan pernah tahu Allah akan memberikan keturunan itu kapan.
11. Pertanyaan:
Nama : Yuli, Usia : 51 thn, Domisili: kel. Makasar kec. Makasar jakarta timur, Diagnosa : Asma dan PH. Saya mau bertanya Dok apakah pasien PH itu berat badan nya bisa turun ya Dok dan tekanan darah nya selalu rendah Dok, saya juga mau bertanya lagi saya kan punya sakit batu empedu kemarin ini batu empedu saya bermasalah harus di operasi tapi dokter anastesi nya belum acc yang saya mau tanyakan Dok apakah pasien PH bisa gak menjalankan operasi batu empedu Terima kasih dokter…
Jawaban:
- Kalau PH dengan tekanan darah rendah bisa (apalagi dengan obat-obatan rutin), namun jika tidak ada keluhan terkait tekanan darah rendah (misal pusing sampai mau pingsan) itu tidak ada masalah. Terkait BB turun, apakah drastis atau tidak? Kemudian bagaimana pola makan serta aktivitas yang dihadapi, karna bisa saja itu berpengaruh pada BB turun. Jika BB turun sangat drastis dalam waktu singkat, ada baiknya dikontrolkan ulang ke dokter jantungnya supaya siapa tau ada pemeriksaan lain untuk menyingkirkan adanya penyakit lainnya yang dapat mempengaruhi BB.
- Terkait operasi batu empedu bisa dilakukan namun dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter jantung nya (yang menangani mba Yuli) juga. Karena ada nanti perlakuan khusus untuk pasien dengan PH yang akan dilakukan operasi non jantung.
12. Pertanyaan:
Nama: yulita, Usia: 26 tahun, Domisili: kediri, Diagnosa: vsd. Dok ijin mau bertanya saya minum obatnya setiap hari tapi kenapa ya kadang batuk nya datang secara tiba” , trus apakah itu efek dari jantung nya atau PH nya terlalu tinggi atau bagaimana? Kira” Obat yang cocok buat nyembuhin batuknya apa ya? Terimakasih dok
Jawaban:
- Batuk nya bisa karena PH nya juga, bisa karna kondisi tersendiri. Jika seperti itu harus dilaporkan saat kontrol ke dokter jantungnya siapa tahu akan ada penyesuaian dari dosis obat PH nya.
- Untuk obat batuk biasanya jika terlalu batuk sekali kadang digunakan kodein, namun obat golongan ini memang harus dengan resep dokter. Alternatif lainnya adalah N-asetilsistein 200mg diminum bisa setiap 8 jam.
13. Pertanyaan:
Nama : Greta, Usia : 40 th, Domisili: Bandung, diagnosa: post closure ASD+ PH. Saya sudah melakukan post closure ASD yang menyebabkan PH apakah setelah ditutup tekanannya dapat naik lagi tidak? Saya merasa masih suka sulit bernafas padahal saturasinya bagus apa itu pengaruh karena masih ada PH nya? Terimakasih Dok
Jawaban:
- Kemungkinan tekanan naik pasca penutupan ASD itu masih tetap ada. Semua bergantung dari kondisi PH sebelum ditutup dan metode juga yang digunakan, serta apakah ada/tidak obat PH yang dikonsumsi pasca penutupan ASD.
- Sulit bernafasnya apakah sama dengan pasca sebelum ditutup ASD atau malah lebih berat. Jika demikian, memang sebaiknya dilakukan penilaian ulang terhadap PH nya. Bisa menggunakan echo juga kateterisasi ulang, hal ini bergantung dengan kondisi mba Greta juga. Nanti diskusi lagi dengan dokter jantung yang menangani karna ada penilaian ulang terkait kondisi mba yang masih ada keluhan pasca penutupan ASD
14. Pertanyaan:
Nama: Hafni, Usia:34, Asal :aceh. Diagnosa :PH primer Pertanyaan: dok izin bertanya apa dengan penyakit ph tanpa penyebab apa bisa normal kembali PH nya, dan apa ada pengaruh PH dengan siklus haid terganggu saya udah 2 th ini selama minum obat PH siklus haid saya terganggu
Jawaban:
- PH primer dengan tanpa penyebab itu biasanya hanya bisa terkontrol. Maksud dari terkontrol ini adalah bisa baik tekanannya tapi dengan konsumsi obat rutin dengan patokannya pasien dapat beraktivitas dengan batasan tertentu namun minimal keluhan atau bahkan tanpa keluhan.
- Pengaruh bisa saja ke siklus haid. Kalau terganggu nanti diskusi dengan dokter jantungnya yang menangani dan supaya bisa dirujuk ke SpOG dengan harapan dibantu jalan keluar supaya bisa haid kembali meskipun masih dengan rutin konsumsi obat PH.
Saran dan Tips :
- Obat dan kontrol rutin itu jelas harus
- Kalaupun ada yang ngeganjel dari support system di lingkungan sekitar supaya membantu tidak membuat stres pikiran. karna stres pikiran itu juga banyak membuat orang jadi makin tidak baik kondisi penyakitnya (dalam hal ini PH ya). Jadi lingkaran setan nanti, seperti tadi saya bilang, kalau stres pikiran itu nantinya bs naikin hormon2 di otak yang efeknya bisa memicu kerja jantung makin berat yang jika punya PH bisa memperberat kondisi PH ini. Bs bersifat sementara naiknya tp klo terus2an otomatis akan terjadi perubahan yang ke arah tidak baik juga
- Latihan fisik ringan itu dianjurkan, namun didiskusikan dulu dengan dokter jantungnya jg ya (karna yang ada data dan perkembangan dari kondisi fisik pasien ini kan dokter jantung yang sering ditemui)
- Sabar dan selow meskipun dengan PH 🙂_dr. Dian Herlusiatri Rahayu, Sp.JP