Kuliah Whatsapp adalah program tanya jawab lewat group di aplikasi whatsapp antara anggota YHPI dengan dokter/narasumber ahli lainnya untuk topik-topik terkait Hipertensi Paru yang diadakan secara rutin dan berkala.
Untuk bergabung dalam group whatsapp dan mengikuti kuliah berikutnya, silakan hubungi Admin Pusat YHPI 0811-8986-799
PENGUMUMAN KULWAP YHPI
- Waktu : Kamis, 19 Februari 2026
- Pukul : 10.00 – 11.00 WIB
- Narasumber : Raguan Hana, S.Psi.,M.Psi., Psikolog
- Tema : Berdamai dengan Lelah: Mengelola Kelelahan Kronis pada Pejuang Hipertensi Paru secara Emosional
- Moderator : Amida
Untuk melihat materi silakan KLIK DISINI
Pada pasien hipertensi paru, burnout tidak hanya berkaitan dengan kelelahan fisik, tetapi juga menyentuh aspek emosional, mental, sosial, dan makna hidup. Burnout dapat muncul karena tubuh harus berjuang terus-menerus dengan energi yang terbatas, sementara tuntutan hidup, pengobatan, dan penyesuaian sehari-hari tetap berjalan.
Bentuk burnout yang dialami bisa beragam, mulai dari kelelahan fisik yang tidak membaik meski sudah beristirahat, emosi yang terasa terkuras dan mudah naik turun, kejenuhan terhadap rutinitas pengobatan jangka panjang, hingga perasaan kehilangan peran, identitas, dan kemandirian yang dulu dimiliki.
Selain itu, banyak pasien juga mengalami kelelahan sosial karena harus terus menjelaskan kondisinya, merasa tidak dipahami, atau tertekan untuk selalu terlihat kuat dan positif.
Pada tingkat yang lebih dalam, burnout dapat berkembang menjadi kelelahan eksistensial, di mana hidup terasa hanya tentang bertahan, masa depan terasa berat, dan makna hidup dipertanyakan.
Penting untuk dipahami bahwa burn out bukanlah tanda kelemahan, kurang iman, atau kurang berusaha, melainkan respons yang wajar ketika beban fisik dan psikologis berlangsung lama dan melebihi sumber daya yang dimiliki.
Dengan memahami jenis-jenis burnout ini, pasien dan pendamping diharapkan dapat lebih peka terhadap tanda-tanda kelelahan, saling memvalidasi, memberi ruang untuk beristirahat tanpa rasa bersalah, serta tidak ragu mencari dukungan emosional dan profesional agar perjalanan hidup dengan hipertensi paru tidak dijalani sendirian.
1. Pertanyaan:
Nama: Puji Rahayu, Usia: 44, Domisili: Tegal. Selamat pagi mba Hana. Sy mau tanya, bagaimana caranya mengatasi keputusasaan saat menghadapi tubuh yang sakit akibat masuk angin akibatnya nafas sesek banget. Merasa tidak bisa apa2. Kadang kepikiran takut kenapa2 meninggalkan anak2 yang masih kecil. Bagaimana yah mba agar bisa mengatasi kondisi tubuh yang rentan dengan cuaca seperti ini.
Jawaban:
Selamat pagi Ibu Puji. Apa yang Ibu rasakan sangat manusiawi. Saat tubuh sakit dan napas sesak, wajar jika muncul rasa putus asa dan takut, apalagi memikirkan anak-anak. Itu bukan tanda lemah, tapi tanda kasih dan tanggung jawab sebagai ibu.
Saat sesak, coba fokus ke saat ini, bukan ke kemungkinan terburuk. Katakan dalam hati: “Tubuhku sedang lemah, tapi aku sedang berusaha dan ini cukup.”
Tenangkan tubuh dulu dengan napas perlahan (tarik lewat hidung, hembuskan lebih panjang lewat mulut), sambil meletakkan tangan di dada dan mengingatkan diri bahwa saat ini Ibu sedang berjuang dan aman. Di hari-hari rentan seperti ini, bertahan, minum obat, mengatur napas, dan tetap hadir sudah merupakan usaha besar.
Jika rasa takut dan putus asa sering muncul dan terasa berat, itu tanda Ibu butuh dukungan, bukan tanda kegagalan. Ibu tidak sendirian, dan mencari bantuan adalah bentuk kekuatan.
2. Pertanyaan:
Assalamu’alaikum dokter, Nama: Jayanti , Usia: 40th, Domisili: Boyolali. Saya tipe pemikir dok. Bagaimana mengatasi ucapan negatif dari seseorang supaya tidak kepikiran akhirnya jadi berbagai penyakit muncul (pusing,maag dll)?. Dan kadang kualitas tidur sy kurang baik..otak berasa tidak bs istirahat walau sebentar sj
Jawaban:
Wa’alaikumussalam Ibu Jayanti. Terima kasih sudah bertanya. Menjadi tipe pemikir memang membuat pikiran sulit “berhenti”, apalagi kalau mendapat ucapan negatif dari orang lain. Keluhan seperti pusing, maag, dan tidur tidak nyenyak sering muncul karena pikiran terus siaga, bukan karena Ibu lemah.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba:
- Pisahkan ucapan orang dan nilai diri
Saat ucapan negatif muncul di kepala, katakan dalam hati: “Ini pendapat orang, bukan fakta tentang diriku.” Tidak semua yang orang ucapkan perlu Ibu simpan.
- Hentikan lingkaran pikiran dengan tubuh
Pikiran sulit tenang kalau tubuh tegang. Saat mulai kepikiran, tarik napas pelan, hembuskan lebih panjang, rasakan kaki atau punggung menyentuh kursi/tempat tidur. Ini membantu otak “turun” dari mode waspada.
- Buat waktu khusus untuk berpikir
Karena Ibu tipe pemikir, jangan dilawan. Tapi batasi. Misalnya: “Aku boleh mikir jam sekian, setelah itu aku istirahat.” Otak lebih mudah tenang kalau diberi batas.
- Untuk tidur
Sebelum tidur, tulis atau ucapkan satu kalimat penutup hari, misalnya: “Hari ini cukup, sisanya besok.” Tidak harus langsung tidur, yang penting memberi izin otak berhenti dulu.
Kalau keluhan fisik dan sulit tidur makin sering atau mengganggu aktivitas, itu tanda tubuh Ibu butuh bantuan lebih lanjut, dan tidak apa-apa mencari dukungan profesional.
3. Pertanyaan:
Nama : Dwi yana, Usia : 47th, Domisili : Depok. Saya sering Merasa lelah, seringkali bukan hanya di badan, tapi juga di hati dan pikiran. Kadang saya harus membatalkan rencana, menahan kecewa, atau berpura-pura kuat agar tidak membuat orang lain khawatir.
Bagaimana cara mengelola kelelahan kronis secara emosional? Bagaimana cara menerima keterbatasan tanpa merasa menyerah? Dan bagaimana tetap merasa berharga meski ritme hidup saya berbeda? Terima kasih
Jawaban:
Terima kasih Ibu Dwi Yana sudah menyampaikan dengan sangat jujur. Apa yang Ibu rasakan, lelah di badan, hati, dan pikiran, adalah pengalaman yang sangat nyata pada orang yang hidup dengan kondisi kronis. Dan kebutuhan untuk berpura-pura kuat sering kali justru membuat lelah itu semakin dalam.
- Mengelola kelelahan kronis secara emosional
Langkah pertama bukan melawan lelah, tapi mengakui lelah tanpa menghakimi diri. Saat tubuh atau emosi meminta berhenti, coba ubah kalimat dari “aku harus kuat” menjadi “aku sedang merawat diri.” Membatalkan rencana bukan kegagalan, tapi bentuk penyesuaian. Energi Ibu berharga dan terbatas, jadi wajar jika perlu dipilih dengan hati-hati.
- Menerima keterbatasan tanpa merasa menyerah
Menerima bukan berarti pasrah. Menerima artinya mengganti standar lama dengan standar yang lebih manusiawi. Ibu tetap berjuang, hanya dengan ritme yang berbeda. Menyerah adalah berhenti peduli, sedangkan menerima justru berarti tetap peduli pada hidup dan kesehatan diri sendiri.
- Tetap merasa berharga meski ritme hidup berbeda
Nilai diri Ibu tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang bisa dilakukan, tapi oleh siapa Ibu sebagai manusia. Kehadiran, ketulusan, perhatian, dan cara Ibu bertahan memiliki makna, meski tidak selalu terlihat. Ritme yang melambat tidak mengurangi nilai, hanya mengubah cara Ibu hadir dalam hidup.
Ibu Dwi, merasa lelah bukan tanda lemah. Itu tanda Ibu sudah berjuang lama. Ibu tetap berharga, tetap bermakna, bahkan di hari-hari ketika satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah bertahan.
4. Pertanyaan:
Nama: novriyanti , Usia: 39, Domisili: bogor. selamat pagi dok…
Sekilas flashback dulu ya dok. Saat ini saya masih konsultasi dengan dokter jiwa karena tidak bisa tidur dan emosi yang up n down, kadang suka sedih tiba2 kalo lagi drop dan ga mampu buat memberikan perhatian kepada anak2 yang masih kecil. Khusus nya pada anak pertama sy yang sekarang beranjak remaja…,saya seperti memaksa dia untuk bertanggungjawab dengan diri nya dan tugas rumah yang sudah kita bagi, dikala anak saya tidak bisa menyelesaikan tugas itu saya marah kesal dan menangis,maka naik lah emosi yang buat sesak sakit kepala dan lemes badan.
- Bagaimana cara sy mengatur emosi dan bisa lebih lembut lagi sebagai ibu.
- Dulu saya di bagian kurikulum sklh saat 2020 melahirkan sempet ga sadar setelah melahirkan, setelah itu cuti habis saya masuk lagi dan memutuskan mundur dr struktural sklh karena kondisi, saat ini saya tidak di ikut sertakan dlm hal apa pun mungkin melihat kondisi sy,Bagaimana mengatasi pikiran negatif terhadap pandangan orang karena kondisi sy saat ini?
Jawaban:
Selamat pagi Ibu Novriyanti. Apa yang Ibu alami berat, dan penting saya sampaikan dulu bahwa Ibu bukan ibu yang buruk, Ibu adalah ibu yang sedang lelah dan berjuang dengan kondisi yang nyata.
- Mengatur emosi dan menjadi lebih lembut sebagai ibu
Saat emosi naik sampai sesak, sakit kepala, dan badan lemas, itu tanda emosi sudah melewati batas toleransi tubuh, bukan karena Ibu kurang sabar. Di momen seperti itu, jangan lanjuntukan konflik. Lebih aman berhenti sejenak. Katakan (pada diri sendiri atau anak): “Ibu lagi tidak sanggup, kita lanjut nanti.”
Kelembutan tidak selalu berarti sabar terus, tapi tahu kapan harus berhenti agar tidak saling melukai. Ibu juga boleh meminta maaf pada anak setelah emosi reda, itu tidak menjatuhkan wibawa, justru mengajarkan regulasi emosi.
- Tentang marah, menangis, dan rasa bersalah ke anak
Anak remaja tetap anak, dan Ibu juga manusia. Saat Ibu memaksa karena lelah dan takut, itu bukan karena tidak sayang, tapi karena kapasitas Ibu sedang turun. Fokuslah pada cukup baik, bukan sempurna. Anak tidak butuh ibu yang selalu kuat, tapi ibu yang nyata dan mau belajar.
- Mengatasi pikiran negatif tentang pandangan orang (soal pekerjaan)
Yang Ibu alami bukan kemunduran, tapi penyesuaian demi bertahan hidup. Pikiran seperti “orang pasti menilai aku” sering muncul saat harga diri sedang rapuh. Coba ganti pertanyaan di kepala dari “apa kata orang?” menjadi “apa yang paling aman untuk kesehatanku saat ini?”
Tidak dilibatkan sekarang bukan berarti Ibu tidak berharga, tapi karena kondisi Ibu sedang diprioritaskan. Nilai diri Ibu tidak hilang hanya karena peran berubah.
Ibu Novriyanti, fakta bahwa Ibu masih berobat, masih bertanya, masih memikirkan anak-anak, itu tanda Ibu bertanggung jawab dan peduli. Mohon tetap lanjuntukan pendampingan dengan dokter jiwa, dan jangan memikul semua sendirian. Ibu sedang dalam proses pulih, bukan gagal. Pelan-pelan ya, Ibu. Bertahan saja hari ini sudah cukup.
5. Pertanyaan:
Nama: Lidya, Usia: 35, Domisili: Jakarta. Case Gagal Jantung dan IPAH yang saya derita kerap dianggap salah oleh lingkungan sekitar. Bayangan orang-orang adalah penderita IPAH dan Gagal Jantung harusnya lemas pucat atau maaf ga mungkin gemuk.
Hingga pada akhirnya, saya sebagai budak korporat ini mendapat kendala di pekerjaan. Seperti kontrol bulanan harus tetap kerja karena dianggap ke dokter biasa (padahal saya sudah ceritakan bagaimana kunjungan dokter dan antrian pasien BPJS itu). Aturan kalau mau sick leave harus minta surat dokter meski hanya 1 hari izin sakit. Bahkan setelah saya RHC, beberapa staf berkata “koq masih sakit-sakit terus (sejujurnya tanpa perasaan empati sama sekali). Dan belum lagi, masalah jantung koq malah ke paru (begitu sebaliknya) juga ditanggapi mereka dengan “orang jantung/paru bukannya harusnya kurus ya”. Sekalinya saya kumpul dengan kawan atau tamasya bersama keluarga mereka bilang “tuh bisa sehat”.
Alhamdulillah mereka menganggap saya sehat dan tidak ada kendala, padahal saya pun berusaha keras untuk membuat semua balance.
Dalam kondisi ini, keluarga alhamdulillah mendukung saya. Tapi bagaimana cara saya menghadapi orang kantor (sebagian besar waktu saya habiskan bersama mereka) dan kadang kalau sudah overwhelmed saya lebih memilih menarik diri dan memendam sendiri. Meski saya tahu kadang “kewarasan” saya habis dan makin OVT. Kadang implikasi nya lebih kepada kesabaran saya di rumah dalam mengelola emosi ini. (Maaf jika pertanyaan ini terlalu panjang dan lebih ke curahan hati. Mohon bantuannya)
Jawaban:
Ibu Lidya, ini bukan pertanyaan yang kepanjangan, ini pengalaman hidup yang berat, dan wajar sekali jika melelahkan secara mental dan emosional.
Saya ingin mulai dengan satu hal penting: yang salah bukan kondisi Ibu, tapi miskonsepsi orang-orang di sekitar. Penyakit seperti IPAH dan gagal jantung tidak selalu terlihat dari luar. Banyak orang dengan penyakit serius tetap tampak “normal”, bisa bekerja, bisa tersenyum, bahkan bisa bepergian, dan itu tidak menghapus kenyataan bahwa tubuh Ibu sedang bekerja jauh lebih keras dari orang sehat.
– Tentang lingkungan kantor:
Komentar seperti “kok masih sakit-sakitan”, “bukannya harusnya kurus”, atau “tuh bisa sehat” adalah bentuk ketidaktahuan + minim empati, bukan cerminan kondisi Ibu yang sebenarnya. Sayangnya, kita tidak selalu bisa mengubah cara pikir orang, tapi kita bisa melindungi diri dari dampaknya.
Beberapa hal yang bisa Ibu pertimbangkan:
- Pilih mana yang perlu dijelaskan, mana yang perlu dibatasi
Ibu tidak berkewajiban terus-menerus mengedukasi semua orang. Pilih satu-dua orang kunci (atasan/HR) untuk penjelasan yang lebih formal dan seperlunya. Untuk komentar lain, Ibu boleh tidak menanggapi secara emosional. Diam atau jawaban singkat juga bentuk batasan sehat.
- Validasi diri sebelum menunggu validasi orang lain
Kalimat seperti “mereka menganggap saya sehat” sering menyakitkan karena terdengar seperti penghapusan perjuangan. Coba latih kalimat: “Aku tahu apa yang aku jalani, dan itu cukup.” Pengetahuan Ibu tentang tubuh sendiri lebih valid daripada asumsi orang.
- Menarik diri itu sinyal, bukan kegagalan
Saat Ibu memilih menarik diri karena overwhelmed, itu tanda kapasitas mental sudah penuh. Masalahnya bukan menarik dirinya, tapi memendam terlalu lama. Cari satu ruang aman (keluarga, teman tepercaya, atau profesional) untuk menumpahkan emosi agar tidak tumpah ke rumah dalam bentuk amarah atau kelelahan.
- Soal pekerjaan dan ‘budak korporat’
Ibu sudah berusaha keras menjaga keseimbangan antara kerja dan kesehatan. Itu bukan manja, itu bertahan hidup. Jika memungkinkan, diskusi formal dengan HR/atasan tentang kondisi kronis (tanpa harus detail medis) bisa membantu memberi batas yang lebih jelas. Hak atas kesehatan bukan kelemahan profesional.
- Untuk overthinking dan kelelahan mental
Saat pikiran mulai berputar (OVT), tarik kembali ke pertanyaan sederhana: “Apa yang bisa aku kendalikan hari ini?” Biasanya jawabannya kecil: istirahat, membatasi interaksi, atau menunda respons.
Ibu Lidya, fakta bahwa Ibu tetap bekerja, mengelola keluarga, dan berusaha “balance” di tengah penyakit kronis menunjukkan daya juang yang luar biasa, meski sering tidak terlihat dan tidak dihargai. Tidak apa-apa kalau lelah, tidak apa-apa kalau butuh menarik diri, dan tidak apa-apa kalau sesekali batas kesabaran habis. Ibu manusia, bukan mesin.
6. Pertanyaan:
Nama: Intan Pandini, Usia: 25 th, Domisili: Cianjur. Assalamu’alaikum dokter, izin bertanya.
Dok setelah saya di diagnosa ASD PH saya benar2 down, saya terkadang sering tiba2 menangis sendiri bahkan tiba2 bisa langsung tertawa sendiri , karena saya merasa lelah amat sangat lelah dok .. Jujur support saya berjuang melawan penyakit ini hanya dari suami saya saja dok, terkadang saya langsung berfikir saya mau menyerah saja dok saya merasa mental saya benar2 sedang tidak baik2 saja..
Semenjak saya di diagnosa mmh saya selalu menganggap saya hanya sakit bohongan dan tidak percaya saya punya penyakit sekronis ini dok, ketika saya drop beliau selalu menyalahkan saya , dengan berkata “kenapa harus masuk UGD di rawat habis2in biaya saja, di situ yang buat saya stres dan bener2 merasa hidup saya ini tidak berharga lagi dan tidak di anggap …
Bagaimana dok untuk melawan rasa menyerah karena yang support saya hanya suami saja ? Terima kasih
Jawaban:
Wa’alaikumussalam Mbak Intan .Terima kasih sudah berbagi. Apa yang mbak rasakan sangat wajar setelah didiagnosis ASD dengan PH di usia muda. Menangis tiba-tiba, emosi naik turun, merasa lelah dan ingin menyerah bukan tanda lemah, tapi tanda mental sedang kelelahan berat.
Merasa seperti “sakit bohongan” itu adalah mekanisme penyangkalan, bukan kesalahan mbak. Dan ketika orang terdekat justru menyalahkan atau meremehkan sakit mbak, wajar jika mbak merasa tidak berharga. Tapi penting diingat: sakit mbak nyata, masuk UGD bukan berlebihan, dan hidup mbak sangat berharga.
Tentang support yang hanya dari suami, satu orang yang benar-benar percaya dan mendukung sudah sangat berarti. Untuk sekarang, pegang orang yang aman itu, dan tidak apa-apa membatasi diri dari yang melukai. Saat rasa menyerah datang, jangan memaksa kuat, tapi katakan pada diri sendiri: “Aku sangat lelah dan butuh ditolong.”
Perubahan emosi yang berat seperti ini adalah tanda bahwa mbak layak dan perlu mendapat bantuan profesional, bukan karena lemah, tapi karena bebannya terlalu besar. Tolong jangan hadapi ini sendirian ya. Mbak tidak sendirian dan hidup mbak bernilai.
“Sebagai penutup, saya ingin mengingatkan bahwa lelah yang teman2 rasakan, baik di tubuh, pikiran, maupun hati, bukan tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa teman2 sudah berjuang sangat lama. Hidup dengan kondisi kronis menuntut kekuatan yang sering tidak terlihat oleh orang lain.
Teman2 tidak harus selalu kuat, tidak harus selalu tersenyum, dan tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Memberi diri izin untuk lelah, beristirahat, dan meminta bantuan adalah bagian dari bertahan. Setiap langkah kecil yang teman2 ambil hari ini sudah cukup berarti. Teman2 berharga, teman2 tidak sendirian, dan perjalanan ini layak dijalani dengan lebih banyak kasih pada diri sendiri.”_Raguan Hana, S.Psi.,M.Psi., Psikolog