Kuliah Whatsapp adalah program tanya jawab lewat group di aplikasi whatsapp antara anggota YHPI dengan dokter/narasumber ahli lainnya untuk topik-topik terkait Hipertensi Paru yang diadakan secara rutin dan berkala.
Untuk bergabung dalam group whatsapp dan mengikuti kuliah berikutnya, silakan hubungi Admin Pusat YHPI 0811-8986-799
PENGUMUMAN KULWAP YHPI
- Waktu : Kamis, 24 April 2025
- Pukul : 19.00 – 20.00 WIB
- Narasumber : M. Imam Bahri, S.Psi., M.Psi., Psikolog
- Tema : Mengelola Kecemasan dalam Kehidupan Sehari-hari
- Moderator : Amida
Untuk melihat materi silahkan KLIK DISINI
Perasaan cemas tentu hal yang wajar sekali untuk dialami ya teman-teman. Cemas membuat kita mengantisipasi sesuatu. Sebagai bagian dari emosi, cemas membantu kita untuk bertahan hidup. Namun sering kali, cemas yang tidak disadari dan menumpuk justru malah membuat kita jadi kewalahan sehingga berdampak pada kegiatan sehari-hari, pekerjaan, interaksi dengan orang lain, bahkan juga tubuh kita..
Biasanya ketika mengalami cemas, pikiran akan membuat skenario yang macem-macem yang dimaknai sebagai ancaman atau bahaya.. Di momen di sini-kini, tubuh akan merespon dengan denyut jantung yang semakin cepat, nafas pendek-pendek, tegang di bagian tubuh tertentu, berkeringat di bagian telapak tangan atau kaki, sesak di bagian dada..
ini adalah reaksi yang wajar ketika kita mengalami rasa cemas.. tubuh seakan bersiap untuk menghadapi bahaya atau ancaman yang mungkin terjadi. meski reaksi ini wajar, namun kita tetap perlu mengembangkan keterampilan untuk mengelolanya. Karena apabila tidak dikelola maka tubuh bisa mengalami disregulasi. ancaman dipersepsikan ada terus menerus > tubuh selalu waspada > kelelahan
efek jangka panjangnya ketika tidak ditangani bisa menyebabkan asam lambung naik, penyakit gerd, gangguan pencernaan, dan juga berpotensi mempengaruhi kondisi penyakit tertentu
Dalam materi sudah disebutkan ciri-ciri ketika kita mengalami kecemasan.. yuk mari sembari direfleksikan yaa teman-teman. biasanya kalau sedang mengalami cemas, apa yang dialami? kesadaran akan kondisi tubuh-pikiran-perasaan-perilaku ini penting banget untuk kita miliki ya teman-teman, karena ini akan jadi jembatan nantinya untuk mengelolanya lebih lanjut.
tidak jarang saya menemui kasus di mana seseorang tidak aware bahwa kondisi yang dialami adalah akibat rasa cemas yang muncul, namun kemudian dipersepsikan sebagai penyakit fisik tertentu. alhasil semakin cemas karena kondisi cemas yang dialami. karena pada dasarnya, kita tidak bisa menghindari rasa cemas. saat ini muncul lalu dikelola, besoknya atau lusa mungkin bisa datang lagi. nah maka dari itu, penting bagi kita untuk mengelola rasa cemasnya yaa. karena apabila tidak dikelola maka akan berdampak pada diri kita di beberapa aspek.
saya juga mengajak teman-teman untuk aware, reaksi apa yang biasanya dilakukan ketika rasa cemas muncul. Setidaknya terdapat tiga reaksi umum: fight, flight, freeze. pernah kah teman-teman ketika mengalami rasa cemas, lalu pengen menghindar atau menarik diri.. itu adalah reaksi alamiah tubuh untuk melindungi diri dan bertahan hidup. namun lagi-lagi, kita perlu mengembangkan keterampilan untuk mengelola cemasnya lebih lanjut agar tidak terus menerus mentok pada mode survival ini
nah ini adalah rangkuman dari bagaimana cara mengelola rasa cemas yang muncul, saya menggunakan pendekatan acceptance and commitment therapy (ACT), yakni pendekatan dalam psikologi yang memungkinkan kita untuk menjalin relasi yang lebih sehat dengan emosi-emosi kita. penemu dari ACT sendiri juga penyintas kecemasan, sehingga terapi ini sering digunakan untuk membantu seseorang yang mengalami kecemasan yang berlebih
I see.. hal tersebut bisa saja terjadi karena ketika kita cemas, overthinking, tubuh akan berada pada kondisi survival : fight or flight mode, jadinya waspada terus. Hal itu membuat seseorang menjadi sulit tidur. nah bagi teman-teman yang mengalami kesulitan tidur, saya menyarankan untuk berlatih relaksasi nafas atau mindful breathing. Relaksasi nafas atau mindful breathing bisa membantu mentriger sistem parasimpatetik di tubuh sehingga kita bisa lebih mungkin untuk tidur karena sistem simpatetiknya non aktif.
1. Pertanyaan:
Nama: kokoy, 53, Bogor selatan. jika pasien mempunyai trauma masa lalu dan selalu dipendam nya, terus setiap ada masalah yang dialami selama ini, selalu dipendamnya, apakah berpengaruh nanti nya pada penderita hipertensi paru?
Dan bagaimana cara nya agar bisa mengelola emosi nya dalam keseharian agar tetap rileks? Dan bagaimana caranya agar pasien penderita hipertensi paru bisa berterus terang jika ada masalah jangan dipendam, dan tetap semangat untuk sembuh.
Jawaban:
Pertanyaan ini menarik untuk dibahas.. Berkaitan dengan trauma dan emosi, keduanya saling berkaitan satu sama lain. Ketika seseorang mengalami emosi tertentu di masa lalu, utamanya emosi yang cenderung negatif, lalu dipendam terus menerus, maka ini akan berdampak ke tubuh. Emosi dari masa lalu bisa saja traumatik dan tersimpan di bawah sadar. Ketika pada masa kini di sini terpicu maka bisa saja ledakan emosinya bisa menjadi begitu intens. Dalam hal ini, penting untuk :
- Mengembangkan keterampilan dalam mengelola emosi dengan bijak
- Menyadari luka atau trauma psikologis yang dimiliki dan memproses trauma tersebut.
Bagaimana cara mengelola emosi dengan bijak? Bapak/ibu/rekan-rekan bisa mempraktikkan teknik berikut:
- R : Recognize atau sadari emosi yang muncul, apa yang dirasakan di tubuh, bagaimana itu mempengaruhi pikiran dan perilaku saat itu.
- A : Accept atau terima emosi tersebut sebagaimana emosi, tidak kurang dan tidak lebih. Tidak perlu dihindari atau dihilangkan. Cukup beri ruang dan izinkan emosi itu untuk hadir di sini saat ini, sembari tetap terhubung dengan momen di sini kini melalui penyadaran nafas.
- I : Identify atau kenali apa yang memicu emosi tersebut muncul.
- N : Nurture atau rawat emosi tersebut dengan welas asih. Bayangkan seperti Anda sedang memberikan welas asih kepada bayi kecil yang sedang menangis karena merasa tidak nyaman. Beri pelukan hangat kepada diri dan segenap emosi yang muncul karena setiap emosi valid adanya.. dan Non-identifikasi : ingatkan diri bahwa kita lebih besar dari emosi yang kita alami dan kita bukanlah emosi kita.
nah terkait dengan relaksasi nafas atau mindful breathing, berikut saya berikan beberapa sumber yang dapat dipelajari secara mandiri yaa
bisa dicoba nanti sebelum tidur atau besok pagi setelah bangun..
- Relakasi > fokus utamanya membantu tubuh untuk rileks
- Meditasi mindfulness > fokus utamanya untuk melatih kesadaran untuk hadir di sini saat ini, dengan sengaja mengamati, tanpa bereaksi dan menilai. Ketika berlatih, bisa saja efeknya rileks namun bisa juga semakin menyadari keriuhan di dalam diri
2. Pertanyaan:
Nama: Fifit, 31, Boyolali. Suami saya seorang caregiver yang sangaaaat sabar. Terkadang saya merasa kasihan dan takut. Karena beliau tidak pernah marah dan menunjukkan kecemasan akan sesuatu. Usia pernikahan saya baru jalan 3 tahun ini. Bagaimana ciri-ciri seorang pria yang sedang mengalami kecemasan berlebih? Jika hal itu muncul, sebaiknya saya bersikap bagaimana terlebih saya juga pasien PH yang harus dikelola kecemasannya. Terimakasih
Jawaban:
Saya sangat mengapresiasi mbak Fifit dan suami atas kesediaannya untuk saling merawat satu sama lain. Tentu itu adalah kekuatan yang dimiliki oleh mbak Fifit dan suami sebagai pasangan. Terkait dengan ciri-ciri seseorang mengalami kecemasan, bisa dibaca kembali di ppt materi di bagian ciri-ciri kecemasan yah mbak. Nah untuk memastikannya, mbak Fifit boleh untuk mencoba bertanya kepada suami tentang apa yang dirasakannya. Kehadiran kita untuk orang lain dan kesediaan kita untuk mendengar orang lain tanpa penilaian akan membantu orang tersebut merasa aman dan akhirnya dapat merefleksikan diri dan juga perasaan yang dialami.
Terkait bagaimana sebaiknya bersikap, saya sangat mengapresiasi niat mulia mbak Fifit untuk mendukung suami juga. Oleh karenanya, saya mengajak mbak Fifit untuk mari rawat diri sendiri terlebih dahulu sebelum merawat orang lain, karena masing-masing punya tanggung jawab untuk mengelola emosinya. Setelah itu, mbak Fifit dan suami dapat berdiskusi dan menyepakati bagaimana keduanya dapat saling mendukung satu sama lain.
Saya sangat mengapresiasi teman-teman yang sudah menuliskan pertanyaannya di group ini.. tentu itu menarik sekali untuk kita bahas bersama yah. Namun mohon maaf sepertinya waktu tidak memungkinkan untuk kita membahas semua pertanyaan-pertanyaan tersebut. InsyaAllah, pertanyaan-pertanyaannya akan tetap saya jawab, hanya saja mungkin nanti saya susulkan di lain waktu, sesegera mungkin ya.
3. Pertanyaan:
Nama : Fika, 37, Jogja. Bagaimana cara menghadapi ketika kita tinggal serumah dengan orang yang sangat cemasan dan overthinking? Karena selama ini yang saya rasakan ketika tinggal dengan ibu yang sangat cemasan dan overprotektif, membuat saya jadi ikut-ikutan gampang overthinking dan stres. Terimakasih
Jawaban:
Tinggal bersama dengan orang yang cenderung mudah cemas dan overthinking tentu adalah hal yang menantang ya mbak Fika. Apalagi jika orang tersebut adalah orang tua, terkadang kita juga bisa saja mewarisi kecenderungan yang sama sehingga menjadi mudah cemas dan overthinking juga.
Perlu diketahui bahwa bagian diri mbak Fika yang cenderung overthinking bisa saja terbentuk / secara tidak sadar dipelajari dari bagaimana pengasuhan/sikap orang tua mbak Fika terhadap mbak Fika.
Bagian diri tersebut perlu dikelola dengan bijak. Salah satu caranya adalah berlatih untuk tidak terjebak dengan pikiran-pikiran yang sering kali berlebihan memikirkan ini dan itu. Berlatihlah berjarak dengan pikiran dan tidak bereaksi terhadap pikiran-pikiran yang muncul. Cukup sadari dan terima pikiran sebagaimana ada pikiran, bukan realitas yang sebenarnya.
Selain itu, mbak Fika juga dapat belajar untuk mengidentifikasi ulang pikiran tersebut, cermati secara objektif apakah ada bukti nyata dari kekhawatiran yang sering kali muncul setiap overthinking? Mbak Fika dapat berlatih mengidentifikasi pikiran melalui worksheet berikut ini. Terima kasih.
4. Pertanyaan:
Nama: hafni Zahara, 34, Aceh. Saya sering mengalami rasa cemas berlebihan terutama ketika anak berpergian sama orang lain. Langsung seperti ada bisikan itu nanti kecelakaan, hilang dan hal-hal lain, terus ketika saya mendengar ada yang meninggal saya takut sebentar lagi giliran saya. Apa itu gangguan mental? Terimakasih.
Jawaban:
Ketika kecemasan yang dialami berlebih dan mengganggu aktivitas sehari-hari karena pikiran negatif menjadi lebih dominan dan intense dari biasanya, maka penting untuk mewaspadai kecemasan tersebut. Kecemasan yang berlebih dapat mengarah pada gangguan.
Namun demikian, untuk memastikannya, mbak Hafni dapat melakukan pemeriksaan oleh tenaga professional baik itu psikolog/ psikiater. Melalui sesi konseling, psikolog/psikiater akan melakukan asesmen secara komprehensif untuk menilik kondisi mbak Hafni saat ini. Terima kasih
5. Pertanyaan:
Nama: Khotib, 25, Serang. Dok bagaimana cara mengatasi Insecure berlebih dan rasa tidak percaya diri di karenakan merasa memiliki keterbatasan seperti pasien PJB dan PH yang mungkin aktivitas dan kegiatan nya tidak sama seperti yang lain bentuk pisik yang sangat kurus.. Akhirnya munculah rasa menyerah dan kehilangan semangat hidup..
Jawaban:
Insecurity tersebut sangat bisa dipahami, mas Khotib. Sering kali karena merasa insecure, seseorang menjadi kurang percaya dengan dirinya sendiri. Apabila ini dialami secara intense dan frequent maka bisa saja membuat mas Khotib jadi semakin kehilangan semangat. Perasaan itu valid namun demikian saya ingin menyampaikan bahwa terlepas dari penyakit dan kondisi mas Khotib saat ini, mas Khotib tetap manusia yang berharga.
Oleh karenanya, jangan biarkan insecure itu meredupkan cahaya di dalam hatimu ya mas! Saya percaya bahwa setiap orang memiliki keunikan dan kekuatan masing-masing. Maka ajakannya adalah mari fokuskan juga pada kekuatan yang dimiliki, mas Khotib.
Mari refleksikan kembali, sejauh ini bagaimana perjuangan mas Khotib hingga detik ini. Apresiasi diri sendiri dan berikan welas asih kepada diri ya. Mas Khotib layak menjalani kehidupan yang bermakna seperti orang-orang pada umumnya, terlebih dari kondisi dan aktivitasnya saat ini yang mungkin berbeda. Ingatlah bahwa you are more than your body.
6. Pertanyaan:
Nama: Novriyanti, 38, Bogor. Dokter bagaimana cara mengendalikan emosi sedih saat kondisi sedang drop dan mengendalikan emosi (marah) saat lelah dan terkadang muncul rasa cemas berlebihan. Saat ini juga saya sedang konsultasi ke dokter Psikiater karena sering tiba-tiba sedih tanpa sebab.
Jawaban:
Tidak perlu dikendalikan. Izinkan saja perasaan itu mengalir, beri ruang, dan terima seutuhnya sebagai perasaan yang mbak Novri alami. Dibalik sedih yang tanpa sebab mungkin bisa saja terdapat akumulasi perasaan yang sudah menumpuk. Mari coba dengarkan perasaan-perasaan itu dengan seksama.
Berkaitan dengan emosi marah, penting untuk kita mengizinkan diri dan mengakui bahwa perasaan marah itu sedang dialami. Namun demikian, kita tidak perlu mengendalikan perasaannya. Yang perlu kita kendalikan adalah respon atau perilaku kita saat sedang mengalami rasa marah di dalam diri. Bijaklah dalam memberikan respon atau berperilaku agar emosi yang kita rasakan tidak lantas melukai diri atau orang lain.
Rutinkan diri untuk menyapa emosi yang dialami agar tidak menumpuk. Beberapa orang menggunakan journaling atau menulis sebagai cara untuk mengenali dan meluapkan emosi yang dirasakan. Cara lain yang dapat dicoba adalah dengan menggunakan seni seperti menggambar atau melukis, menggunakan tarian atau nyanyian (olah vokal). Terlepas dari caranya, penting untuk membawa kesadaran terlebih dahulu untuk mengenali perasaan yang dirasakan.
7. Pertanyaan:
Nama : Yuli Endang Priatin, 50, Jakarta. Dok sebelum saya terdiagnosa PH kondisi badan saya gemuk dok, setelah terdiagnosa PH kondisi badan saya turun drastis dong dari 54 kg sampe 46 kg , jadi sekarang ini saya malu untuk keluar rumah dengan kondisi badan saya yang sekarang dok, gimana saya mengatasinya ya Dok biar saya percaya diri lagi dan bisa bersosialisasi lagi di luar rumah Dok
Jawaban:
Halo bu Yuli, terimakasih untuk pertanyaannya. Pengalaman bu Yuli kurang lebih mirip seperti pengalaman mas Khotib ya, tentang bagaimana penampilan tubuh yang berubah berpengaruh terhadap kepercayaan diri. Perasaan malu itu tentu valid untuk dirasakan, ibu. Namun demikian, apabila terus menerus dibiarkan maka itu akan menggerogoti kepercayaan diri bu Yuli.
Maka dari itu, penting untuk menerima perasaan malu tersebut, namun jangan biarkan perasaan malu itu mendominasi kehidupan bu Yuli. Bu Yuli dapat merefleksikan lagi secara perlahan tentang kualitas, value, dan kekuatan yang bu Yuli miliki hingga sejauh ini. Apresiasi diri atas segala pencapaian apapun itu yang bu Yuli sudah usahakan, sekecil apapun itu sangat berharga untuk meningkatkan kepercayaan diri bu Yuli kembali.
8. Pertanyaan:
Nama : Nana, 30, Bandung. Dok mau tanya bagaimana menyikapi orang-orang manipulative , dan ga memahami kondisi sakit kita ,mereka selalu merasa benar padahal sebagai pasien ph saya hanya memberi tahu bukan mau menggurui mana yang perlu dilakukan, dan jangan dilakukan ,tapi lingkungan sekitar malah menuduh saya orang yang banyak mau dll .
Sehingga kecemasan sering kambuh dan saya menekan ego saya untuk tidak marah atas tingkah laku mereka karena mengingat kesehatan saya . Manusiawi menghandle emosi pun terkadang buat dada terasa sesak dan kepala sering vertigo. Selain pasang boundaries apa lagi yang harus saya lakukan? Terimakasih .
Jawaban:
Berhadapan dengan orang yang tidak memahami atau tidak mau memahami kondisi sakit yang dialami tentu menjadi tantangan tersendiri ya mbak Nana. Adapun usaha yang dilakukan untuk memberikan edukasi tentang penyakit tentu adalah hal yang baik. Namun memang tidak semua orang dapat menangkap maksud baik itu dengan baik. Dan itu bukan salah mbak Nana. Cukuplah mbak Nana memberikan edukasi tersebut, orang lain menerima atau tidak itu tergantung kesiapan dan kemauan orang lain dalam menerima informasi itu. Terimakasih sudah melakukan hal yang baik ya mbak Nana.
Tentang kekesalannya juga itu perasaan yang valid. Ketika orang lain tidak memahami atau terdengar tidak mau memahami, membuat kita menjadi tidak didengarkan. Penting untuk memberikan ruang bagi rasa kesal itu muncul dan dialami, lalu mendengarkan apa pesan dibalik rasa kesal itu.
Memasang boundaries yang sehat adalah salah satu hal yang bisa diupayakan. Hal yang lain adalah fokuslah dengan apa yang ada di dalam kendali diri, yakni mengelola pikiran, perasaan, respon kita terhadap orang lain.
9. Pertanyaan:
Nama: Sri Widianti, 22, Lubuklinggau. Saya dalam beberapa bulan ini mengalami siklus haid dengan rentan 15-20 hari padahal normalnya 28hari, apakah itu faktor dari saya stres atau gimana? dan bagaimana proses penanganannya
Jawaban:
Terima kasih untuk pertanyaannya mbak Sri. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap siklus haid memang adalah kondisi stres. Oleh karenanya penting bagi mbak Sri untuk mengidentifikasi hal-hal yang membuat mbak Sri lebih stres dari biasanya, kenali apa yang mengganggu di pikiran atau perasaan, adakah permasalahan tertentu yang sedang dihadapi.
Kelola stres tersebut dengan sehat seperti melalui journaling, bercerita kepada orang yang dapat dipercaya, meditasi,
olahraga, atau berkunjung ke psikolog terdekat. Selain faktor stres, penting juga untuk mengamati faktor lain seperti asupan gizi, pola tidur, dan kondisi kesehatan fisik yang juga dapat berpengaruh terhadap siklus haid.
10. Pertanyaan:
Nama: Maia, 38, Papua. Ketika saya banyak berpikir, saya akan merasakan kepala yang sangat berat, pusing, mual, mata saya pun susah melihat, dan bahkan badan pun lemas, semua terjadi beberapa saat lalu kondisi kembali normal lagi. Saya adalah pasien ph dan punya banyak sekali tanggungjawab dan kesibukan baik di rumah dan kantor. Apakah ini karena kelelahan atau stress? Terima kasih
Jawaban:
Kondisi tersebut dapat saja disebabkan oleh stres yang munculnya dari beban di pikiran yang berlebih. Kondisi stres yang berlangsung dalam jangka waktu panjang bisa saja membuat seseorang mengalami kelelahan mental. Hal ini dapat menyebabkan seseorang mengalami gejala seperti yang mbak Maia alami. Penting bagi mbak Maia untuk mengenali stres yang dialami dalam kehidupan sehari-hari.
Memiliki keterampilan dalam mengelola stres juga akan sangat membantu mbak Maia dalam melepaskan ketegangan di tubuh. Jangan lupa melakukan self-care assessment untuk membantu merawat kondisi kesejahteraan mental ya mbak Maia. Berikut terdapat gambaran aktivitas self care yang dapat dilakukan.
Gambar: Aktivitas Self Care
11. Pertanyaan:
Nama: desmita, 43, batam. bagaimana caranya menghilangkan kecemasan yang berlebihan, karena semenjak saya sering keluar masuk RS, kecemasan saya makin tinggi,dipikiran saya hanya selalu takut jika umur saya tak ada lagi anak anak gimana karena anak saya masih kecil kecil.
Jawaban:
Kecemasan akan kondisi kesehatan tentu adalah hal yang wajar untuk dialami dan saya bisa melihat bagaimana bu Desmita juga turut khawatir dengan anak-anak atas kondisi bu Desmita saat ini. Oleh karenanya, untuk mengelola kecemasan yang berlebih ini, bu Desmita dapat melakukan cara berikut:
- Kenali apa yang membuat cemas
- Kenali bagaimana efeknya di tubuh, pikiran, perasaan, dan perilaku
- Bantu diri untuk terhubung kembali ke masa kini-di sini dengan berlatih relaksasi atau mindful breathing
- Izinkan perasaan cemas itu mengalir apa adanya, tanpa perlu dihilangkan
- Beri afirmasi yang menguatkan diri sendiri
12. Pertanyaan:
Nama: nur rohmah, 30, depok. Bagaimana cara nya mengendalikan kecemasan tersebut dok, ovt dan susah tidur sangat mengganggu. Emosi yang tidak bisa di kontrol sebelum cemasnya bisa teratasi
Jawaban:
Jawabannya kurang lebih mirip dengan apa yang saya sampaikan kepada bu Desmita ya mbak Nur.
- Kenali apa yang membuat cemas
- Kenali bagaimana efeknya di tubuh, pikiran, perasaan, dan perilaku
- Bantu diri untuk terhubung kembali ke masa kini-di sini dengan berlatih relaksasi atau mindful breathing.
- Izinkan perasaan cemas itu mengalir apa adanya, tanpa perlu dihilangkan
- Beri afirmasi yang menguatkan diri sendiri
“Sebagai penutup, saya ingin mengingatkan teman-teman, dan tentu diri saya sendiri juga bahwa cemas merupakan hal yang wajar untuk dialami, namun kita perlu waspada manakala kecemasan tersebut menjadi berlebih. Dalam proses merawat emosi cemas di dalam diri kita, jangan lupa untuk tetap berbaik hati dan ber welas asih kepada diri sendiri ya teman-teman.
Mari redakan badai di dalam diri dengan memberikan pelukan yang hangat untuk diri sendiri, sembari terhubung dengan nafas di sini-saat ini. Ingatlah bahwa segenap perasaan yang kita alami adalah seperti ombak di lautan. Kadang ombaknya ringan, kadang sedang, kadang badai petir yang luar biasa. Daripada sibuk menghentikan ombak, mari berlatih untuk belajar berselancar di atasnya.
Dan untuk teman² para pejuang PH, terimakasih banyak sudah berjuang sejauh ini yaa. terimakasih untuk tidak menyerah dan mengupayakan yang terbaik untuk diri sendiri dan orang-orang yang dikasihi..”_M. Imam Bahri, S.Psi., M.Psi., Psikolog
