KULWAP-(KULIAH WHATSAPP)-Tema- Menulis Sebagai Media Pelepas Stress

///KULWAP-(KULIAH WHATSAPP)-Tema- Menulis Sebagai Media Pelepas Stress

KULWAP-(KULIAH WHATSAPP)-Tema- Menulis Sebagai Media Pelepas Stress

Kuliah Whatsapp adalah program tanya jawab lewat group di aplikasi whatsapp antara anggota YHPI dengan dokter/narasumber ahli lainnya untuk topik-topik terkait Hipertensi Paru yang diadakan secara rutin dan berkala.

Untuk bergabung dalam group whatsapp dan mengikuti kuliah berikutnya, silakan hubungi Admin Pusat YHPI 0811-8986-799

 

PENGUMUMAN KULWAP YHPI

  • Waktu : Rabu, 30 Juni 2021
  • Pukul : 19.30 – 21.00 WIB
  • Narasumber : Mufliha Fahmi, M.Psi., Psikolog
  • Tema : Menulis sebagai media pelepas stress
  • Moderator : Amida

Untuk melihat materi silahkan KLIK DISINI

1. Pertanyaan:

Nama: Mamay maelasari, Usia: 28th, Domisili: Pangandaran.Mesti mulai darimana bila ingin menulis suka bingung peletakan awal mesti huruf apa? Dan keinginan untuk menulis itu sudah lama terpendam karna mengarah kemana sendirinya pun bingung

Jawaban: Halo, Kak Mamay. Terima kasih pertanyaannya yaa.

Menulis itu adalah kebiasaan  dan pembiasaan ya, Kak. Dan  yang namanya pembiasaan, mesti ada waktu memulainya. Jadi, mulai aja dulu. Tulisan kita nggak harus perfect. Bebas tuliskan aja apa yang dipikirkan dan dirasakan. Nggak usah pedulikan bagus atau enggak, atau tata tulisnya. Bahkan, dalam menulis ekspresif hal-hal itu tidak penting. Yang penting adalah proses kita mengekspresikan apa yang kita rasakan. Menulis ekspresif nggak harus lama, Kak. Cukup 10 menit per hari. So, dimulai aja ya, Kak

2. Pertanyaan:

Nama: Ane, Usia: 34 thn, Domisili: Sukabumi. Bagaimana jika kita takut “tulisan rahasianya” terbaca orang lain. Bolehkah setelah kita menulis langsung membuang bukti tulisanya. Atau tetap harus kita simpan karena suatu saat nanti memang harus kita baca kembali. Untuk pengendalian stress nya sendiri lebih efektif dibuang/disimpan. Terimakasih

Jawaban: Halo, Mbak Ane. Terima kasih pertanyaannya. Saya coba jawab ya.

Pada dasarnya, aktivitas menulis ekspresif memang ditujukan untuk diri sendiri, tidak untuk dibaca oleh orang lain. Soal keamanan tulisan, saya kira adalah kehati-hatian masing-masing orang untuk menyimpannya ya.

Tulisan yang telah kita buat memang akan bisa menjadi pembelajaran atau melihat perkembangan diri jika nanti kita melihatnya lagi. Tapi, tidak ada juga larangan untuk memusnahkan tulisan itu, jika kita lebih merasa lega untuk begitu. Jadi, saya kira itu hanya soal pilihan dan konsekuensi. Jika disimpan kita akan punya dokumentasi, sedangkan jika dilenyapkan mungkin kita merasa lebih aman, namun disisi lain kita kehilangan bukti fisik. Jadi, silakan saja membuat pilihan. Demikian, Mbak Ane.

3. Pertanyaan:

Nama: Nunik, Usia: 30 thn, Domisili: Bandung. Manfaat apa saja dari menulis, selain manfaat bagi fisik kita? Terimakasih.

Jawaban:

Terima kasih, Mbak Nunik. Selain aspek fisik, menulis ekspresif juga membantu dalam regulasi emosi, Mbak. Itu artinya menulis ekspresif juga bermanfaat bagi pengelolaan emosi kita. Tapi, mengelola emosi dengan menulis ekspresif ini juga ada prasyaratnya. Menulis ekspresif tidak disarankan saat kejadian traumatis baru saja terjadi. Jadi, kita butuh jeda ketika sudah lebih stabil, baru menuliskannua. Oh ya, menulis ekspresif ada keuntungan fisiknya juga karena didahului oleh keuntungan emosi sebelumnya. Begitu, Mbak Nunik

4. Pertanyaan:

Nama : Ana, Usia : 44 th, Domisili : Jogja. Selamat malam mbak Mufliha. Kadang ketika saya melakukan kesalahan, perasaan dan emosi sedang tidak baik, saya suka membuat coretan2 begitu saja. (seperti tanpa melalui proses berfikir, jadi hanya keluar begitu saja). Namun begitu, setelah semua tertuang dalam tulisan, saya baca, kemudian timbul berbagai pertanyaan, kenapa bisa begini, kenapa semua bisa terjadi, dll. Jadi kadang malah hati dan pikiran saya semakin tidak karuan, seperti marah terhadap diri sendiri, menyesal, dll.

  1. Bagaimana menyikapi hal ini?
  2. Apakah coretan2 yang saya buat itu termasuk menulis ekspresi juga?

Terimakasih atas jawabannya.

Jawaban:

Selama kita mencurahkan apa yang kita pikirkan dan kita rasakan, itu adalah menulis ekspresif. Saya kira, bertanya mengapa begini dan mengapa begitu adalah bagian dari proses menulis ekspresif. Tujuan akhirnya adalah kita mencapai insight dan bisa menjawab mengapa begini dan begitu dengan pemaknaan kita yang baru. Demikian, Mbak Ana.

5. Pertanyaan:

Nama : umi, Usia : 29, Domisili : jogja. Saat ini pandemi juga membuat rasa takut, cemas,khawatir apakah terapi menulis ini juga bisa dilakukan? Bagaimana jika pada saat tidak baik/emosi/tidak stabil, saat itu menulis? Kenapa tidak disarankan?

Jawaban:

Halo, Mbak Umi. Saya coba jawab pertanyaannya ya. Menulis ekspresif tidak disarankan dilakukan pada saat emosi kita sedang tinggi karena menulis ekspresif bisa berefek memunculkan kembali emosi-emosi negatif yang kita rasakan. Jika menuliskannya pada saat itu juga, dikhawatirkan akan mengakibatkan ledakan emosi yang nggak bisa kita tahan.

Tapi dalam konteks pandemi dimana perasaan2 negatif sulit dihindari, saya kira masih oke untuk dituliskan. Yang tidak disarankan adalah ketika kita mengalami hal yang sangat traumatis dan segera menuliskannya, seperti kehilangan orang tua karena Covid-19, misalnya.

Jadi sebenarnya kapan menulis dan kapan tidak itu kita sendiri yang tau. Apakah oke untuk menuliskan ini, apakah kita bisa mengelola emosi yang timbul, atau tidak? Monggo bisa dirasakan masing-masing, Mbak.

6. Pertanyaan:

Nama : Dwi Usia 43thn, Domisili : Depok. Mau sharing, saya kok kalo lagi emosi atau kesel sama orang, bisa loh nulis di kertas sampe berlembar lembar atau nulis di note HP sampe panjang gitu.. tapi kalo lagi kondisi baik² malah ga bisa sama sekali nulis. Terima kasih

Jawaban:

Halo, Mbak Dwi. Saya tanggapi yaa. Jika itu dirasa membantu, go ahead, Mbak. Alasan mengapa saat emosi tinggi tidak disarankan untuk menulis karena dikhawatirkan akan memicu emosi yang lebih besar. Tapi selama terkelola, saya rasa tidak masalah. Demikian, Mbak.

 

“Menulis ekspresif mungkin tidak untuk semua orang. Tapi ini salah satu cara saja untuk membantu kita mengelola emosi. Bagaimana kita tau kita cocok atau tidak dengan menulis ekspresif, ya tentu dengan dicoba.”_ Mufliha Fahmi, M. Psi., Psikolog

By | 2021-07-14T10:17:40+00:00 July 13th, 2021|Kuliah lewat WhatsApp|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
Open chat