KULWAP-(KULIAH WHATSAPP)-Tema- Menjadi Pribadi Resilien Di Situasi Penuh Tekanan

///KULWAP-(KULIAH WHATSAPP)-Tema- Menjadi Pribadi Resilien Di Situasi Penuh Tekanan

KULWAP-(KULIAH WHATSAPP)-Tema- Menjadi Pribadi Resilien Di Situasi Penuh Tekanan

Kuliah Whatsapp adalah program tanya jawab lewat group di aplikasi whatsapp antara anggota YHPI dengan dokter/narasumber ahli lainnya untuk topik-topik terkait Hipertensi Paru yang diadakan secara rutin dan berkala.

Untuk bergabung dalam group whatsapp dan mengikuti kuliah berikutnya, silakan hubungi Admin Pusat YHPI 0811-8986-799

 

PENGUMUMAN KULWAP YHPI

  • Waktu : Senin, 6 September 2021
  • Pukul : 19.30 – 21.00 WIB
  • Narasumber : Silviani, M.Psi., Psikolog dari Pijar Psikologi
  • Tema : Menjadi Pribadi Resilien Di Situasi Penuh Tekanan
  • Moderator : Amida

 

Untuk melihat materi silahkan KLIK DISINI

1. Pertanyaan:

Nama : Eva Yuliantini, Usia :29 thn, Domisili : Bandung.

Asalamualaikum, dok saya mau bertanya. Bagaimana cara menghindari emosi yang sangat meluap,dan selalu berfikir putus asa, jadi selalu berfikir bahwa hidup itu tidak berarti. terimakasih dok

Jawaban:

Dihadapkan dengan situasi yang kurang menyenangkan memang terkadang membuat kita cenderung emosional bahkan memikirkan hal-hal negatif. Lelah ya ketika harus dihadapkan dengan situasi itu terus menerus.. Hal pertama yang perlu dilakukan ketika emosi meluap yakni mengendalikan reaksi yang muncul. Tenangkan diri dan minimalisir reaksi agar tidak memunculkan pikiran-pikiran negatif. Kembangkan pemikiran positif dan optimis. Jangan terlalu terjebak dalam sisi negatif dari masalah yang sedang dihadapi. Coba tengok sisi positifnya, sebagai bentuk penyemangat diri untuk bertindak lebih baik lagi.

2. Pertanyaan:

Nama: untari (43 th), Domisili: Surabaya, Diagnosa: PH Primer. Selamat siang, ijin bertanya gimana cara menjadi pribadi Reselien yang konsisten/stabil….sedangkan masalah manusia kan ada up dan down…, atau kata lainya kita kan labil… Terimakasih

Jawaban:

Iya betul, manusia ada up dan downnya bu Untari, tapi menjadi pribadi resilien bukan berarti kita tidak akan mengalami down. Menjadi resilien artinya mampu untuk bangkit kembali. Sama seperti bola bekel, mungkin dia jatuh terlalu dalam namun tetap akan memantul. Dengan menjadi resilien sejauh apapun kita terjatuh kita tetap akan bisa bangkit. Memiliki pikiran optimis dan yakin pada diri menjadi kunci dari pribadi yang resilien, dan hal ini perlu di kembangkan. Nah untuk tips menjadi pribadi resilien ada di materi ya bu..

3. Pertanyaan:

Nama : Isla (35thn), Domisili : Sidoarjo, Diagnosa : ASD Closure. Saya ingin bisa regulasi emosi, menjadi pribadi yang tenang dan terkendali meskipun pada kondisi yang menekan. Tapi yang terjadi, setiap ada masalah saya selalu dalam kondisi tidak tenang, tidak konsen, kayak tertekan. Padahal situasi pandemi gini, pekerjaan sangat sulit dan bikin stres. Mohon sarannya

Jawaban:

Wajar ketika emosi kita bergejolak saat dihadapkan pada kondisi yang menekan, biasanya kita akan menjadi tidak tenang, tidak konsentrasi melakukan aktivitas, dan memikirkan hal-hal negatif. Pada dasarnya kita tidak bisa mengontrol situasi yang menekan diluar diri kita seperti situasi pandemi saat ini. Yang bisa kita lakukan adalah mengontrol pikiran dan emosi kita. Coba tenangkan diri dengan menarik napas dalam lalu keluarkan secara perlahan. Lakukan teknik pernapasan ini selama beberapa menit, lalu rasakan sensasi nyaman yang berbeda dari sebelumnya agar dapat mencari solusi dan keluar dari kondisi menekan. Bangun support sayastem yang kuat dan tetap terhubung dengan orang lain. Kalau butuh bantuan tidak perlu sungkan untuk minta bantuan.

4. Pertanyaan:

Nama Dhian (46 th), Domisili : Depok, Diagnosa : ASD, PH, Eissenmenger. Apakah pribadi resilien ini berlaku terhadap semua jenis tekanan, misalnya A dia cepat bangkit ketika menghadapi tekanan di kantornya tapi dia kesulitan jika menghadapi tekanan dari keluarganya.  Terimakasih

Jawaban:

Orang yang resilien akan memiliki daya juang dan kegigihan dalam menghadapi masalah, apapun masalahnya. Hanya saja, terkadang berbeda cara dan waktu yang diperlukan untuk bangkit. Resiliensi sendiri terbentuk dari pengalaman dan faktor protektif diri seseorang (tujuan hidup, support lingkungan) sehingga setiap orang akan berbeda.

5. Pertanyaan:

Nama: Rissa, Usia: 29 th, Domisili: Bandung, Diagnosa : pH primer. Bagaimana cara seseorang untuk Mengontrol emosi juga rasa percaya diri nya dalam bergaul meskipun dalam keadaan fisik yang berubah karena penyakit kronis? Terima kasih

Jawaban:

Inti dari emosi terdalam kita adalah sebuah pikiran dan keyakinan. Contohnya, seseorang merasa sedih ketika berpikir dan yakin telah kehilangan sesuatu, tidak percaya diri ketika berpikir dan meyakini bahwa diri ini tidak berguna atau melakukan kesalahan. Pahami bahwa situasi dan hal-hal diluar diri tidak dapat diubah atau kontrol, namun kita bisa mengontrol dan mengubah pikiran yang tadinya mengarah pada kesedihan atau pikiran negatif menjadi mengarah pada kegembiraan atau pikiran yang lebih positif sehingga dapat lebih percaya diri. Penyakit kronis yang dialami, memang membuat perubahan di beberapa aspek, Mungkin saat ini masih berusaha untuk beradaptasi dengan perubahan itu, yang terkadang tidak nyaman dan penuh gejolak emosi. Maka tenangkan diri dan berusaha menerima keadaan saat ini.

6. Pertanyaan:

Nama : Arni Rismayanti, Usia    : 38 th, Domisili : Tangerang. Ijin bertanya mba Via. Bagaimana menghilangkan kecemasan yang berlebih saat seseorang mengalami trauma karena sebelumnya pernah sakit?. Terimakasih

Jawaban:

Merasakan sakit sebelumnya mungkin sangat tidak nyaman ya.. Hal ini juga yang mungkin membuat mba Arni merasa cemas, khawatir dan takut jika mengalami sakit kembali, tidak ingin merasakan lelah dan tidak nyaman. Sebenarnya perlu dikenali dulu, kecemasan yang dirasakan ini terjadi dalam situasi apa? kalau dikondisi/situasi tertentu, maka sebisa mungkin coba untuk menghindari situasi tersebut. Namun terkadang, kecemasan juga muncul diberbagai waktu karena pikiran yang tidak bisa dikendalikan. Maka cobalah untuk mengendalikan si pikiran ini. Mba Arni saat ini sudah lebih baik dari sebelumnya, ternyata meski sulit terbukti bisa menghadapinya. Nah terkadang ketika cemas, sulit untuk kita mengendalikan pikiran, maka coba untuk mengendalikan dulu reaksi yang muncul dari kecemasan yang muncul tersebut. Mungkin degdegan, pusing dan reaksi lainnya, ini distabilkan dulu dengan tarik nafas.. atau berhitung mundur dari 10-1 agar pikirannya terfokus pada hitungan dan bukan pada pikiran kecemasannya.

7. Pertanyaan:

Nama : irfan, Usia : 35 tahun, Pasien : ASD PH. Kegiatan apa yang kira2 bisa meningkatkan resiliensi kita lebih maksimal mba?

Jawaban:

Kegiatan yang bisa meningkatkan resiliensi adalah dengan melakukan hal-hal positif, membuat diri kita nyaman dan penuh semangat untuk menjalani hidup. Seperti beberapa tips yang saya tulis di materi, yakni melakukan self-compassion (berbaik hati/welas asih ke diri sendiri) serta menetapkan tujuan hidup, sehingga meskipun kita dihadapkan pada situasi yang menekan, kita tetap akan semangat dan berusaha keluar dari situasi yang menekan tersebut.

8. Pertanyaan:

Nama:emma, Usia:36thn, Domisili:bandung . Ijin bertanya mba Silviani apakah ada terapi resiliensi untuk ibu hamil karna kebanyakan ibu hamil itu kecemasan nya bisa berlebihan..

Jawaban:

Mungkin maksudnya terapi untuk meningkatkan resiliensi ya mba Emma. Nah salah satu tips meningkatkan resiliensi yang saya tuliskan dimateri adalah dengan membangun support sayastem. Dengan adanya support sayastem yang baik akan membantu mengurangi kecemasan dan menghadapi tekanan. Biasanya ada terapi support sayastem untuk ibu hamil yang dapat meningkatkan resiliensi dan fokus untuk mengurangi kecemasan tersebut.

 

“Alhamdulillah semua pertanyaan sudah terjawab ya.. semoga membantu teman-teman disini untuk tetap semangat menghadapi situasi penuh tekanan yang mungkin sedang dialami saat ini ya. Resiliensi itu suatu kemampuan dan ini bisa dilatih/dikembangkan. Menjadi resilien bukan berarti terbebas dari stress, tapi berusaha untuk bangkit dan tidak malah semakin terpuruk dengan situasi tekanan tersebut. “- Silviani, M.Psi., Psikolog

By | 2021-10-12T07:36:28+00:00 October 12th, 2021|Kuliah lewat WhatsApp|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
Open chat