Resolusi Akhir Tahun: Health Check Up yang Sepenting Itu!-KULWAP

///Resolusi Akhir Tahun: Health Check Up yang Sepenting Itu!-KULWAP

Resolusi Akhir Tahun: Health Check Up yang Sepenting Itu!-KULWAP

Kuliah Whatsapp adalah program tanya jawab lewat group di aplikasi whatsapp antara anggota YHPI dengan dokter/narasumber ahli lainnya untuk topik-topik terkait Hipertensi Paru yang diadakan secara rutin dan berkala.

Untuk bergabung dalam group whatsapp dan mengikuti kuliah berikutnya, silakan hubungi Admin Pusat YHPI 0811-8986-799

 

PENGUMUMAN KULWAP YHPI

  • Waktu : Selasa, 23 Desember 2025
  • Pukul : 19.00 – 20.00 WIB
  • Narasumber : Raguan Hana, S.Psi.,M.Psi. Psikolog (Konselor Psikologi dari Patient Advocate Inspirasien)
  • Tema : Resolusi Akhir Tahun: Health Check Up yang Sepenting Itu!
  • Moderator : Amida

Untuk melihat materi silahkan KLIK DISINI

 

Banyak pasien dengan kondisi kronis merasa cemas setiap kali harus menjalani health check up. Pikiran sering langsung ke kemungkinan terburuk, tubuh ikut tegang, jantung berdebar, sulit tidur, bahkan ada yang ingin menunda pemeriksaan. Padahal reaksi seperti ini adalah respons alami tubuh yang sudah sering berhadapan dengan situasi medis, bukan karena kita lemah atau tidak siap.

Kecemasan biasanya muncul karena pengalaman sebelumnya, kekhawatiran akan perubahan kondisi, atau takut mendengar kabar yang tidak diharapkan. Pikiran lalu terus berputar, membayangkan skenario terburuk, padahal yang sedang kita hadapi sebenarnya adalah proses untuk mengenali kondisi tubuh. Dengan memahami bagaimana pikiran dan tubuh bereaksi, kita bisa mulai belajar menenangkan diri, salah satunya melalui pengaturan napas dan cara berbicara pada diri sendiri agar tidak terus terjebak dalam ketakutan.

Pemeriksaan kesehatan bukan tentang mencari kesalahan tubuh, melainkan bentuk kepedulian pada diri yang sudah berjuang sejauh ini. Hasil pemeriksaan hanyalah informasi yang membantu kita menentukan langkah berikutnya.

Jika rasa cemas terasa sangat berat sampai mengganggu aktivitas atau membuat kita terus menghindari pemeriksaan, itu juga tanda bahwa kita berhak mendapatkan dukungan, termasuk dukungan psikologis.

 

1. Pertanyaan:

Nama: mia purnamasari, Usia: 42, Domisili:bali. Saya menderita  penyakit PR mild n Ves jantung juga Gerd … Setiap waktu seringkali terserang panic attact cemas berlebihan. Jika penyakit saya terasa seperti dada panas dan sesak nafas saya sangat takut mati takut sangat tidak nyaman. Kadang lagi santai tiba tiba sesak nafas dan takut . Membuat aktifitas saya kadang terganggu .Pertanyaan nya bu bagaimana cara mengelola kecemasan berlebihan seperti ini agar bisa rilex dan tidak takut lagi .Sedih banget karena saya ibu yang baru melahirkan dengan kondisi yang cepat cemas dan panik.kasian sama bayi saya .mohon jawaban dan pencerahan nya.

Jawaban:

Ibu Mia, kondisi yang Ibu alami sangat bisa dipahami. Dengan riwayat PR mild, GERD, dan kondisi pasca melahirkan, tubuh dan pikiran menjadi lebih sensitif terhadap sensasi fisik.

Rasa panas di dada atau sesak napas sering kali memicu serangan panik, yang terasa sangat menakutkan tetapi tidak berbahaya dan tidak mematikan. Ini adalah respons alarm tubuh yang terlalu aktif, bukan tanda bahwa Ibu benar-benar dalam bahaya.

Saat kecemasan muncul, fokuskan dulu pada napas: tarik pelan lewat hidung 4 detik, tahan 2 detik, hembuskan lewat mulut 6 detik selama beberapa menit, sambil meyakinkan diri bahwa “ini panik, bukan bahaya, dan akan berlalu.”

Mengelola kecemasan bukan berarti menghilangkannya, tapi belajar tetap tenang meski sensasi tidak nyaman muncul. Perasaan sedih dan takut tidak bisa maksimal sebagai ibu justru menunjukkan bahwa Ibu sangat peduli. Ibu tidak sendiri, dan bila kecemasan sering mengganggu aktivitas, sangat dianjurkan mencari bantuan psikolog atau psikiater karena itu adalah bagian dari merawat diri dan juga bayi Ibu.

 

2. Pertanyaan:

Nama: Endah, Usia: 35th, Domisili: Magelang. saya pasien asd,PH. saya pasien pre operasi open heart,alhamdulillah dijadwalkan sebelum puasa,pertanyaan saya apakah wajar kalau kadang saya merasa tenang (pasrah) kadang berubah jadi takut atas keadaan saya,bagaimana cara mengatasi ketakutan itu, bagaimana juga cara mengatasi lingkungan yang toxic sedangkan itu terjadi dikeluarga sendiri. terimakasih atas penjelasannya dok

 Jawaban:

Ibu Endah, apa yang Ibu rasakan sangat wajar. Menjelang operasi besar seperti open heart, perasaan bisa naik-turun: kadang pasrah dan tenang, lalu tiba-tiba takut. Itu bukan tanda iman kurang atau mental lemah, tapi respons alami manusia saat menghadapi kondisi yang serius dan penuh ketidakpastian. Bahkan orang yang terlihat kuat pun mengalami hal yang sama.

Untuk mengatasi ketakutan, yang penting bukan menolaknya, tapi mengizinkan rasa takut itu ada tanpa membiarkannya menguasai. Saat takut muncul, tarik napas perlahan, sadari bahwa saat ini Ibu sedang aman, dan katakan pada diri sendiri: “Aku sedang takut, tapi aku sedang ditangani dan tidak sendirian.”

Fokuskan pikiran pada hal yang bisa dikendalikan: mengikuti arahan dokter, menjaga tubuh, dan menyiapkan diri sebaik mungkin. Bukan pada kemungkinan terburuk yang belum tentu terjadi.

Terkait lingkungan yang toxic, apalagi jika itu dari keluarga sendiri, Ibu berhak menjaga jarak emosional meski tidak selalu bisa menjauh secara fisik. Tidak semua komentar perlu ditanggapi, dan tidak semua orang perlu tahu detail kondisi Ibu. Pilih satu atau dua orang yang benar-benar suportif. Melindungi ketenangan batin bukan egois, tapi bagian dari proses pemulihan.

Ibu Endah, rasa takut dan pasrah bisa berjalan berdampingan. Pasrah bukan berarti tidak takut, tapi tetap melangkah meski takut. Ibu sedang melakukan hal yang sangat berani. Semoga prosesnya dilancarkan, dan Ibu diberi kekuatan, ketenangan, serta orang-orang yang tepat untuk mendampingi

 

3. Pertanyaan:

Nama: Artika, Usia: 31, Domisili: Jogja. Bagaimana cara mengurangi atau mengelola rasa takut dan cemas menghadapi diagnosis dan perjalanan pengobatan karena kadang rasanya capek berobat tapi sadar juga kalau pengobatan penyakit kronis itu perjalanan panjang apalagi baru punya bayi.

Jawaban:

Mbak Artika, apa yang mbak rasakan sangat manusiawi. Menghadapi diagnosis penyakit kronis sambil menjalani pengobatan jangka panjang, ditambah baru punya bayi, adalah kondisi yang sangat melelahkan secara fisik dan emosional. Wajar jika muncul rasa takut, cemas, bahkan capek dan ingin berhenti, meski di sisi lain Mbak tahu pengobatan ini penting.

Yang perlu diingat, Mbak tidak harus kuat setiap saat. Mengelola kecemasan bukan berarti selalu semangat, tapi belajar berjalan pelan-pelan di perjalanan yang panjang ini. Saat rasa takut muncul, coba kembalikan fokus ke hari ini, bukan ke seluruh masa depan pengobatan. Katakan pada diri sendiri: “Aku hanya perlu menjalani hari ini, bukan semuanya sekaligus.” Memberi batas pada pikiran tentang masa depan sangat membantu menurunkan kecemasan.

Capek berobat juga bukan tanda menyerah, tapi tanda tubuh dan hati butuh istirahat. Izinkan diri merasa lelah tanpa menyalahkan diri. Mintalah dukungan, baik dari pasangan, keluarga, atau tenaga profesional, karena Mbak tidak harus menanggung semuanya sendiri.

Merawat kesehatan mental Mbak adalah bagian dari merawat bayi Mbak juga. Pelan-pelan ya, Mbak. Bertahan hari ini saja sudah sangat berarti.

 

4. Pertanyaan:

Nama: Ririn, Usia: 35, Domisili: Jepara . Saya ASD+PH. Dok, saya 3 bln kemarin habis opname 2x karena jantung berdebar dan saturasi turun akibat obat flu.. untuk sekarang kondisi sudah stabil tapi rasa trauma itu masih ada dok saya jadi takut jika ditinggal dirumah sendirian, saya takut jika diajak bepergian ke tempat wisata, saya takut kalau kejadian itu terulang lagi. Saya sudah mencoba berdamai dengan diri sendiri tapi rasa trauma itu tetap ad, untuk memulai olahraga jalan kaki setiap pagi juga kadang masih terfikir bagaimana kalau tiba-tiba jantung berdebar dan saturasi turun lagi. Bagaimana menghilangkan rasa trauma itu dok agar bisa menjalani hidup dengan semangat lg seperti dulu? Terima kasih

Jawaban:

Ibu Ririn, apa yang Ibu alami sangat wajar dan bisa dipahami. Setelah dua kali opname dengan kondisi yang menakutkan, wajar jika tubuh dan pikiran menyimpan jejak trauma. Rasa takut ditinggal sendirian, takut bepergian, atau khawatir saat mulai berolahraga bukan karena Ibu lemah atau belum bisa “ikhlas”, tetapi karena sistem saraf Ibu masih berada dalam mode waspada, seolah ingin mencegah kejadian buruk terulang lagi.

Trauma tidak bisa dihilangkan dengan memaksa diri “tidak takut”, karena semakin dilawan justru sering makin kuat. Yang perlu dilakukan adalah meyakinkan tubuh pelan-pelan bahwa sekarang Ibu aman. Mulailah dari langkah kecil: tetap beraktivitas tapi dengan durasi pendek, misalnya jalan kaki sangat singkat di dekat rumah, sambil mengatur napas. Jika jantung berdebar muncul, ingatkan bahwa sensasi itu belum tentu berbahaya dan akan turun jika Ibu tidak langsung panik.

Rasa trauma bisa berkurang bukan karena dilupakan, tapi karena pengalaman aman yang diulang-ulang. Setiap kali Ibu berhasil melewati satu aktivitas tanpa kejadian buruk, tubuh akan perlahan belajar bahwa dunia tidak selalu berbahaya. Jika rasa takut masih sangat mengikat dan membatasi hidup Ibu, sangat disarankan mencari bantuan psikolog agar trauma ini bisa diproses dengan aman dan terarah.

 

5. Pertanyaan:

Nama:  Danamarina, Usia: 31th, Domisili: Yogyakarta. Saya di diagnosa ASD-PH pada 2015 Juni akhir. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.. Dokter, saya sering mengalami panic attack dan rasa takut berlebihan terhadap rumah sakit dan tenaga medis di rumah sakit. Terkadang saya juga takut terhadap jarum suntik. Saya juga ada pengalaman trauma masa kecil karena menyaksikan sendiri keluarga terdekat di rawat dan menghembuskan napas terakhir mereka di rumah sakit. Sampai saya terkadang tidak kontrol berbulan-bulan karena masih memiliki trauma itu.

Pertanyaan saya adalah :

  1. Sikap apa yang harus saya ambil ketika trauma itu muncul di saat saya sedang di rumah sakit saat kontrol rutin tiba?
  2. Bagaimana cara untuk menghilangkan panic attack dan rasa takut saya?
  3. Bagaimana caranya agar saya kembali punya kesadaran bahwa check up rutin itu sangat penting?
  4. Apakah hal tersebut dapat mempengaruhi penyakit ASD-PH saya?
  5. Apa yang sebaiknya saya lakukan terhadap hal tersebut jika hal tersebut tiba-tiba muncul?

Terimakasih atas waktu dan kesempatannya.. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Jawaban:

Apa yang Mbak alami sangat bisa dipahami, karena Mbak bukan hanya hidup dengan ASD-PH, tetapi juga membawa pengalaman trauma medis sejak masa kecil. Otak dan tubuh Mbak belajar mengaitkan rumah sakit dengan kehilangan dan ancaman, sehingga setiap kontrol rutin bisa memicu panik meski secara rasional Mbak tahu itu penting.

  1. Saat trauma muncul di rumah sakit, yang terpenting adalah menenangkan tubuh terlebih dahulu, bukan melawan rasa takutnya. Fokuskan pada napas pelan (tarik 4 detik, tahan 2 detik, hembuskan 6 detik), rasakan kaki menapak lantai, dan ucapkan dalam hati: “Aku sedang di masa kini, aku aman, ini berbeda dengan masa lalu.” Mengingatkan tubuh bahwa situasi sekarang tidak sama dengan pengalaman lama sangat membantu meredakan respons trauma.
  2. Panic attack dan rasa takut tidak bisa dihilangkan dengan dipaksa, tapi bisa dikelola dan diperkecil. Serangan panik memang terasa menakutkan, tetapi tidak berbahaya dan akan turun dengan sendirinya jika tidak direspon dengan kepanikan tambahan. Latihan regulasi napas, grounding, dan (bila memungkinkan) terapi trauma bersama psikolog sangat efektif untuk memutus hubungan antara rumah sakit dan rasa ancaman.
  3. Agar kesadaran tentang pentingnya check up kembali kuat, cobalah mengubah maknanya: kontrol rutin bukan ancaman, melainkan bentuk perlindungan diri, cari juga hal menyenangkan saat kontrol misalnya jajanan kantin yang enak atau bertemu sesama survivor. Setiap kali kontrol, Mbak sebenarnya sedang memberi kesempatan tubuh untuk dirawat lebih baik, bukan mendekatkannya pada bahaya. Datang kontrol dengan pendamping dan memberi jeda istirahat setelahnya juga bisa membantu.
  4. Kecemasan dan panik *kemungkinan* tidak menyebabkan ASD-PH, tetapi bisa memperberat kondisi secara tidak langsung karena meningkatkan beban fisik dan membuat Mbak menghindari kontrol atau pengobatan. Karena itu, mengelola kesehatan mental adalah bagian penting dari menjaga kondisi jantung dan paru Mbak.
  5. Jika ketakutan muncul tiba-tiba, jangan langsung menyalahkan diri. Tetaplah di tempat, atur napas, dan biarkan gelombang panik turun. Semakin sering Mbak berhasil melewati momen ini tanpa kabur, tubuh akan belajar bahwa rumah sakit tidak selalu berarti kehilangan.

Mbak Danamarina, keberanian Mbak bukan diukur dari tidak takut, tetapi dari tetap hadir dan merawat diri meski membawa rasa takut itu. Dengan dukungan yang tepat, trauma bisa diproses, dan hubungan Mbak dengan pengobatan bisa menjadi lebih aman dan manusiawi.

 

6. Pertanyaan:

Nama: Jayanti, Usia: 39, Domisili: Boyolali. Assalamu’alaikum dok.. Saya hampir tiap malam kebangun kadang reflek/tiba² setelah nya tidak bisa tidur lagi. Kadang rasa was was,terus banyak pikiran juga. bagaimana cara agar bisa tenang dan rileks menghadapi berbagai masalah? Sudah beberapa kali kejadian, kalau dijalan ada orang asing memberhentikan terus cuma numpang tanya… saya sudah ketakutan dan kabur. Dan bagaimana caranya menghilangkan trauma dan ketakutan berlebihan? Terimakasih banyak Dok

Jawaban:

Dari cerita Ibu, terlihat bahwa tubuh dan pikiran Ibu sedang berada dalam kondisi sangat waspada. Sering terbangun tiba-tiba di malam hari, sulit tidur lagi, rasa was-was, pikiran yang terus berjalan, sampai refleks takut berlebihan saat bertemu orang asing adalah tanda bahwa sistem saraf Ibu sedang kelelahan dan berada di mode “siaga” terus-menerus. Ini bukan karena Ibu lemah, tetapi karena tubuh sedang merasa dunia tidak sepenuhnya aman.

Agar bisa lebih tenang dan rileks, langkah awalnya bukan memaksa diri “jangan takut”, melainkan menenangkan tubuh terlebih dahulu. Saat terbangun malam atau rasa cemas muncul, atur napas perlahan (tarik 4 detik, tahan 2 detik, hembuskan 6 detik), lalu sadari lingkungan sekitar dengan menyebutkan hal-hal nyata yang Ibu lihat dan rasakan. Ini membantu otak kembali ke kondisi saat ini.

Rasa takut mendadak di jalan juga sering kali bukan karena situasinya berbahaya, tapi karena trauma dan kecemasan membuat otak cepat menyimpulkan ancaman. Ketakutan seperti ini bisa dikelola dengan belajar membedakan antara “bahaya nyata” dan “alarm berlebihan dari pikiran”.

Trauma dan ketakutan tidak bisa hilang seketika, tetapi bisa melemah pelan-pelan jika tubuh sering diberi pengalaman aman. Jangan menyalahkan diri ketika takut muncul; katakan dalam hati bahwa ini reaksi tubuh yang sedang belajar tenang kembali.

Jika gangguan tidur, rasa was-was, dan ketakutan sudah sering muncul dan mengganggu aktivitas, sangat dianjurkan mencari bantuan psikolog agar akar kecemasannya bisa diproses dengan aman.

 

7. Pertanyaan:

Nama : zaenab, Usia : 29 thn, Domisili : polewali. Saya seorang ibu dari anak pjb kompleks dan juga seorang istri yang mana suami saya sudah hampir 2 thn ini terkena penyakit anxiety panic attack dimana suami saya belum bisa melakukan kegiatan secara normal,

  1. Dok. Bagaimna cara saya menyikapi suami ketika panik attack kambuh ?
  2. Suami saya ketika berjalan lama atau duduk yang lama, suka pusing dan badan terasa lemah bagaimana cara supaya ini tidak terus”an berlanjut dok?
  3. Sudah seminggu ini ketika mau tertidur saya merasa otak saya tidak bisa beristirahat, sampai saya bisa terbawa mimpi hingga bangun berulang, apakah saya sudah termasuk dalam kecemasan/stres? Bagaimana cara memperbaikinya?

Jawaban:

Dari yang Ibu sampaikan, terlihat bahwa Ibu memikul beban yang sangat besar: mendampingi anak dengan kebutuhan khusus, menjadi istri dari pasangan dengan anxiety–panic attack, dan tetap menjalani peran sehari-hari. Sangat wajar jika tubuh dan pikiran Ibu ikut lelah.

  1. Saat suami mengalami panic attack, yang paling membantu adalah *tetap tenang dan hadir*. Jangan panik atau menasihati panjang. Ajak suami fokus ke napas pelan (tarik 4 detik, tahan 2 detik, hembuskan 6 detik), dan ucapkan kalimat sederhana seperti *“Aku di sini, ini cuma panik, nanti turun.”* Hindari mengatakan “jangan takut” atau “sudah biasa”, karena itu sering membuat penderita merasa tidak dipahami. Kehadiran yang tenang jauh lebih menenangkan daripada solusi cepat.
  2. Pusing dan badan lemah saat berjalan atau duduk lama sering berkaitan dengan kecemasan, ketegangan otot, dan kelelahan sistem saraf. Pastikan suami tidak memaksakan diri, istirahat bertahap, cukup minum, dan mulai aktivitas secara perlahan. Yang penting adalah *konsistensi kecil*, bukan memaksa kuat. Bila keluhan sering muncul, tetap perlu dikontrol ke dokter agar fisik dan psikis sama-sama tertangani.
  3. Tanda yang Ibu alami (otak sulit beristirahat, mimpi berulang, mudah terbangun) adalah gejala kecemasan dan kelelahan emosional. Ibu terlalu lama “siaga” untuk semua orang, sampai tubuh tidak sempat turun. Untuk memperbaikinya, coba buat rutinitas menenangkan sebelum tidur (tanpa HP, napas pelan, doa, meditasi, relaksasi), dan izinkan diri untuk beristirahat tanpa merasa bersalah. Jika keluhan tidur ini berlanjut, sangat dianjurkan Ibu juga berkonsultasi dengan psikolog. Merawat kesehatan mental Ibu bukan egois, justru penting agar Ibu tetap bisa mendampingi keluarga dengan lebih kuat.

 

8. Pertanyaan:

Nama : Tyas, Usia : 33thn, Domisili : Sragen. Selamat malam kak,Ijin bertanya… Saya pasien Asd + Ph, saya mengalami kecemasan berlebihan. Saya bekerja dilingkungan yang toxic, Atasan saya memberikan beban pekerjaan yang sangat bertentangan dengan kondisi saya. Setiap saya menyampaikan keluhan & ketidak sanggupan saya,saya slalu dihakimi mereka slalu menganggap kondisi saya mampu melakukan pekerjaan tersebut. Sampai” kondisi itu membuat saya sulit tidur setiap malam & saya selalu dihantui rasa seperti saya ini tidak berguna.

Setelah kejadian itu saya memutuskan untuk cuti sejenak karna kondisi saya sedang drop. Sampai saat ini kalo saya berniat ingin masuk kerja lagi setiap malam slalu tidak bisa tidur dan itu terjadi berhari” setiap malam. Bagaimana cara nya kak agar bisa menghilangkn rasa kecemasan itu? Terima kasih

Jawaban:

Dari yang Mbak sampaikan, jelas sekali Mbak tidak sedang lemah, tapi sedang berada di lingkungan yang tidak aman secara psikologis sementara tubuh Mbak juga sedang berjuang dengan ASD + PH. Tekanan kerja, penghakiman, dan tuntutan yang tidak sesuai kondisi kesehatan memang sangat bisa memicu kecemasan berat, gangguan tidur, bahkan perasaan tidak berguna dan itu bukan gambaran diri Mbak yang sebenarnya.

Kecemasan yang muncul setiap kali Mbak berniat kembali bekerja bukan karena Mbak “manja” atau mengada-ada, tapi karena tubuh Mbak mengingat ancaman yang pernah terjadi. Sistem saraf Mbak masih berada di mode siaga. Rasa cemas ini tidak bisa dihilangkan dengan dipaksa, tapi perlu ditenangkan pelan-pelan. Coba fokuskan pada hal yang bisa dikendalikan: atur napas sebelum tidur (tarik 4 detik, tahan 2 detik, hembuskan 6 detik), batasi memikirkan pekerjaan di malam hari, dan katakan pada diri sendiri bahwa saat ini Mbak sedang aman.

Yang juga sangat penting: Mbak berhak menjaga kesehatan, termasuk memasang batas. Jika memungkinkan, diskusikan kembali kondisi kesehatan Mbak secara tertulis (misalnya surat dokter) atau pertimbangkan opsi kerja yang lebih ramah kondisi, bahkan alternatif pekerjaan lain jika lingkungan benar-benar merusak kesehatan.

Tidak semua tempat kerja layak diperjuangkan dengan mengorbankan tubuh dan jiwa. Jika kecemasan dan sulit tidur ini terus berlanjut, sangat disarankan Mbak berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Bantuan profesional bukan tanda gagal, tapi langkah cerdas untuk bertahan. Mbak bukan tidak berguna tapi sedang terluka. Dan luka itu bisa dipulihkan.

 

“Sebagai penutup, saya ingin mengajak kita semua mengingat satu hal penting: rasa takut, cemas, dan lelah yang kita alami bukan tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa tubuh dan jiwa kita sedang berusaha bertahan. Merawat diri, baik secara fisik maupun mental, adalah kebutuhan, bukan kemewahan.

Termasuk di dalamnya adalah health check up. Pemeriksaan kesehatan bukan untuk menakut-nakuti kita, tetapi untuk mengenal kondisi tubuh, mencegah masalah lebih besar, dan memberi kita kendali atas langkah yang bisa diambil. Wajar jika ada rasa takut saat harus memeriksakan diri, namun memilih tetap hadir dan peduli adalah bentuk keberanian dan kasih pada diri sendiri.

Kita tidak harus selalu kuat, tidak harus selalu tenang, dan tidak harus menjalani semuanya sendirian. Melangkahlah pelan, dengarkan tubuh, rawat pikiran, dan jangan ragu meminta bantuan. Karena menjaga kesehatan, termasuk berani melakukan health check up, adalah salah satu cara kita bertahan, berharap, dan melanjutkan hidup dengan lebih bermakna.

Izinkan diri melangkah pelan, merawat tubuh dan pikiran dengan lebih lembut, serta meminta bantuan saat dibutuhkan. Menjaga kesehatan fisik dan mental bukan berarti menyerah, tetapi bentuk tanggung jawab dan cinta pada diri sendiri.

Semoga kita semua diberi ruang untuk pulih, kekuatan untuk melanjutkan, dan keyakinan bahwa kita tetap berharga, apa pun kondisi yang sedang kita hadapi.”_Raguan Hana, S.Psi.,M.Psi. Psikolog

By | 2026-02-03T10:00:23+00:00 February 3rd, 2026|Kuliah lewat WhatsApp|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
Open chat