Membangun Support System yang Sehat: Tips Memilih Lingkaran Pertemanan yang Mendukung Pemulihan-KULWAP

///Membangun Support System yang Sehat: Tips Memilih Lingkaran Pertemanan yang Mendukung Pemulihan-KULWAP

Membangun Support System yang Sehat: Tips Memilih Lingkaran Pertemanan yang Mendukung Pemulihan-KULWAP

Kuliah Whatsapp adalah program tanya jawab lewat group di aplikasi whatsapp antara anggota YHPI dengan dokter/narasumber ahli lainnya untuk topik-topik terkait Hipertensi Paru yang diadakan secara rutin dan berkala.

Untuk bergabung dalam group whatsapp dan mengikuti kuliah berikutnya, silakan hubungi Admin Pusat YHPI 0811-8986-799

 

PENGUMUMAN KULWAP YHPI

  • Waktu : Jum’at, 21 Agustus 2026
  • Pukul : 19.00 – 20.00 WIB
  • Narasumber : Tri Aji Wicaksono, S.Psi., Psikolog (Konselor Psikologi dari Patient Advocate Inspirasien)
  • Tema : Membangun Support System yang Sehat: Tips Memilih Lingkaran Pertemanan yang Mendukung Pemulihan
  • Moderator : Amida

Untuk melihat materi silahkan KLIK DISINI

 

Perkenalkan semua, saya Tri. Semoga kita semua dalam keadaan baik & senantiasa dikaruniai kedamaian hati yaa. Senang sekali bisa diberi kesempatan untuk bertemu di kegiatan Kulwap hari inii. Alhamdulillah, saya juga menangkap antusiasme dari bapak/ibu/rekan-rekan sekalian lewat pertanyaan-pertanyaan yang telah diberikan.

Masih dalam suasana peringatan kemerdekaan RI ke-81, mari saling jaga dan saling dukung satu sama lain dalam semangat persatuan. Semoga kita bisa sama-sama berusaha menjadi masyarakat yang positif dan saling memberikan rasa aman. Karena di situasi saat ini, sekecil apapun semangat positif atau dukungan yang kita berikan, hal tersebut bisa jadi sangat bermakna bagi semua pihak. Begitupun untuk diri kita ya. Semoga kita semua senantiasa dikelilingi orang baik entah dari orang terdekat atau yang baru kenal. Senantiasa dikelilingi lingkungan suportif yang menjadi sumber jalan pertolongan ketika kita membutuhkan.

Dari pertanyaan-pertanyaan yang telah diberikan, sedikit banyak memberikan gambaran ya ternyata orang-orang di sekitar kita cukup memberikan dampak pada dinamika pikiran & perasaan kita. Apa lagi jika kita sedang memiliki kondisi khusus yang memang membutuhkan pertolongan atau pendampingan lebih dari orang lain. Oleh karena itu, sepertinya memang kita perlu agak memilah dan memilih lingkungan seperti apa nih yang paling mendukung proses pemulihan kita. Bisa dimulai dari menyadari keberadaan support system di sekitar kita, memahami pentingnya support system tersebut, mengecek apakah lingkungan sekitar kita ini sudah baik atau belum untuk pemulihan, serta mengusahakan support system yang ideal untuk kebutuhan kita. Mungkin selama ini kita sering kali menganggap bahwa support system itu datang begitu saja secara natural. Padahal, kita bisa mengambil peran dalam mewujudkan support system yang ideal tersebut, karena sesungguhnya yang paling tahu kebutuhan kita adalah kita sendiri.

Dalam proses mewujudkan support system yang positif, tentunya akan ada dinamika yang terjadi yaa. Mungkin ada hal-hal yang tidak sesuai rencana dan sebagainya. Mungkin beberapa situasi akan mengharuskan kita untuk tidak selalu kuat dan tidak harus selalu tersenyum. Prosesnya mungkin tidak semudah yang dibayangkan. Namun percayalah, kita manusia dengan segala kekurangannya senantiasa diberikan tantangan tidak lebih besar dari kapasitas kita. Semoga kita makin yakin dan selalu diberikan kekuatan ya bapak, ibu, dan rekan-rekan.

1. Pertanyaan:

Nama  : Lidya, Usia: 36 tahun, Domisili: Jakarta. Saya baru 3 bulan resigned dari tempat kerja yang tidak dapat menerima kondisi saya. Sebenarnya kondisi cukup stabil namun memang tidak bisa terlalu dipaksakan. Resignation tersebut tentunya sudah dipertimbangkan matang2.Hasil TEE menyatakan saya tidak bisa dioperasi dan harus perawatan konservatif.

Alhamdulillah, saya memiliki buddy system yang baik dalam inner circle saya. Pernah saya dilarikan ke UGD krna pulse rendah dan hampir pingsan. Menurut dokter UGD hal itu spasme dan saat saya menyampaikan hal itu ke dokter gagal jantung, beliau tidak berkomen hanya bilang jangan stres dan capek.

Namun, saat bulan lalu kontrol, Dokter yang merawat saya bilang kalau saya itu sehat dan dia kaget pas saya bilang saya sudah resigned. Beliau seakan menolak keputusan saya dan merasa hal tersebut sebenarnya tidak perlu dilakukan mengingat situasi “in this economy”.

Tadinya saya sudah bulat krna memang ada dokter jantung yang lain (untuk 2nd opinion) juga sudah menyarankan saya istirahat lebih banyak dan mengurangi stres. Namun di sisi lain dokter lain menyatakan saya sehat (alhamdulillah jika memang tergolong sehat, saya jadikan itu semangat)

Namun, saya jadi beberapa kali meragukan keputusan resign dan mempertanyakan kembali apakah gejala2 fisik itu benar ada atau saya yamg kerap OVT.

Bagaimana saya menghadapi dokter tersebut? Dan mengelola mindset serta emosional saya ketika merasa gejala saya terasa diabaikan. Mengingat saya kontrol rutin bpjs dengann beliau tiap bulannya. Dan bagi saya dokter juga merupakan support system dari sisi pengetahuan medis. Terima kasih

Jawaban:

Selamat malam, Kak Lidya. Terima kasih banyak karena sudah menceritakan situasi yang saat ini sedang dialami yaa. Saya sedikit banyak bisa menangkap perasaan seperti bingung dan bimbang dari pesan kakak. Hal yang kakak rasakan ini tentunya sangat manusiawi dan bisa dipahami. Terkadang kita memang dihadapkan pada situasi dimana kita mempertanyakan kembali keputusan yang telah kita buat, bahkan setelah keputusan tersebut sudah lewat beberapa waktu.

Keputusan kita sebelumnya tentunya sudah kita pertimbangkan dengan matang sesuai dengan kondisi kita saat itu. Tapi kita ternyata jadi ragu nih saat melihat keputusan kita di masa lalu dengan sudut pandang kondisi kita sekarang. Maka boleh dicek kembali nih, jangan-jangan kondisi kita saat ini ternyata memang berbeda dengan kondisi kita sebelumnya? Jika berbeda, maka akan sangat wajar pikiran yang Kakak ceritakan ini muncul. Dan hal ini bukan sebuah kegagalan atau hal buruk ya, Kak. Ini adalah sebuah pengalaman netral yang menunjukkan perkembangan kondisi kesehatan kakak. Seperti yang Kakak sampaikan, bahkan alhamdulillah jika kondisi saat ini tergolong baik. Meskipun saya juga memahami bahwa kondisi kesehatan terkait jantung semacam ini bukanlah hal yang mudah dilihat dari luar dan terkadang kondisinya bisa naik turun dari waktu ke waktu. Namun, hal tersebut tetap bisa kita jadikan sebuah semangat ya.

Lalu, perasaan ragunya ini masih ada nih Mas Tri. Belum terkelola. Maka pertanyaan selanjutnya adalah apakah keputusan kita sebelumnya bisa dianulir (diubah) atau tidak? Jika sepertinya tidak, maka hal pertama yang bisa kita lakukan adalah mengembalikan fokus kita ke situasi kini atau saat ini (present moment). Karena masa lalu, dengan segala sifatnya, ternyata jadi sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan lagi. Oleh karena itu, kita bisa fokus pada situasi saat ini sembari merencanakan langkah selanjutnya. Dan sepertinya, sedikit banyak hal ini sudah Kakak lakukan yaa.

Lalu, bagaimana dengan pertemuan dokter? Sebelum saya jawab, saya izin mengapresiasi pemahaman Kakak bahwa dokter merupakan salah satu support system di bidang medis. Saya sangat sepakat. Oleh karena itu, tidak apa-apa loh kalau kita coba menyampaikan perasaan kita kepada dokter tersebut. Kita bisa sampaikan, misal “dok, di pertemuan sebelumnya waktu dokter kaget saya resign dan bilang sebenarnya itu tidak perlu, saya merasa agak sedih loh. Karena saya merasa sudah saya ambil keputusan yang salah dan gejala saya seperti diabaikan.”. Kemudian bisa dilanjutkan ke pertanyaan lanjutan seperti “Kalau saat ini, menurut dokter kondisi saya bagaimana?”. Keterbukaan dan interaksi semacam ini bisa meningkatkan koneksi kita dengan dokter sebagai support system kita di bidang medis. Harapannya kita bisa saling memahami perasaan dan pola pikir satu sama lain. Jadi untuk ke depannya hubungan kita dengan dokter makin kolaboratif.

Bagaimana, Kak Lidya? Apakah hal tersebut memungkinkan untuk dicoba? Semoga tidak memberatkan yaa. Damai selaluu

Lidya:

Tentang resignation saya rasa cukup mantap karena saya juga masih bisa melihat hal baik dimana saya jadi memiliki waktu lebih bersama keluarga. Saya pun masih mencari remote work supaya bisa sedikit banyak menutup ‘in this economy’.

Utk dokter akan saya coba Mas. Namun, tanpa mengurangi profesionalisme dokter dan waktu kunjungan, jujur agak sulit mengutarakan hal itu. Layanan konsultasi benar2 sangat singkat. Tapi saya akan lebih terbuka dengan statement dokter tsb dan saya anggap sebagai suatu afirmasi baik untuk saya sehat. Skli lagi makasih Mas

2. Pertanyaan:

Nama: Dwiyana, Usia: 48 thn, Domisili: Depok. Selamat siang, izin bertanya. Sebagai PHighter, bagaimana cara membangun support system yang sehat tanpa merasa menjadi beban bagi keluarga atau teman ? Karena terkadang kita ingin meminta bantuan atau bercerita, tetapi takut merepotkan atau membuat orang lain terbebani. Terima kasih

Jawaban:

Selamat malam, Ibu Dwiyana. Terima kasih karena telah menyampaikan perasaannya dengan jujur nggih. Saya sedikit banyak dapat memahami apa yang ibu rasakan. Terkadang kita sebagai manusia memang ingin merasa kokoh di kaki kita sendiri, bahkan saat kita sebenarnya butuh bantuan atau penguatan. Kita biasanya tidak ingin menjadi beban bagi orang lain. Perasaan tersebut terkadang membuat kita merasa takut, tidak enak, atau tidak nyaman. Padahal sebagai manusia biasa, kita tidak harus menanggung semua beban kita sendirian loh.

Jika dilihat dari sudut pandang lain, pikiran tersebut sebenarnya juga menunjukkan gambaran bagaimana Ibu peduli dengan orang-orang di sekitar. Hal tersebut sesungguhnya hal yang baik nggih. Namun, ibu juga bisa nih mulai meningkatkan perhatian ibu terhadap kebutuhan ibu sendiri.

Saat ini, ibu cukup mampu menyadari perasaan dan pikiran yang muncul ketika dihadapkan dengan situasi ingin meminta bantuan kepada orang lain, yaitu merasa takut merepotkan dan menjadi beban. Kesadaran terhadap perasaan tersebut merupakan modal awal yang baik untuk menentukan langkah kita selanjutnya.

Pada situasi semacam ini, kita bisa memaknai perasaan takut yang muncul sebagai sebuah sinyal, salah satunya adalah sinyal tanda kasih ibu kepada orang-orang sekitar. Namun pikiran bahwa kita akan membebani atau merepotkan orang lain, itu adalah sebuah persepsi atau pikiran kita sendiri. Dan terkadang, itu belum menjadi sebuah fakta sampai kita mengonfirmasinya ke orang lain tersebut.

Jadi, bisa nih, ketika kita membutuhkan bantuan atau ingin bercerita, bisa ditanyakan saja kepada keluarga atau teman yang ingin kita tuju. Apakah mereka berkenan atau tidak? Sedang luang atau tidak? Dan sebagainya.

Selanjutnya, kita kembalikan ke mereka. Kita yakini, bahwa mereka adalah orang yang merdeka dan bisa menyampaikan dengan baik ketika mereka memang belum bisa membantu. Kita juga menyadari bahwa terkadang mereka tidak sedia setiap waktu karena kesibukan atau semacamnya. Namun, bukan berarti mereka tidak peduli kepada kita. Jangan-jangan mereka peduli tetapi tidak memahami kebutuhan kita karena kita tidak menyampaikan.

Kurang lebih seperti itu nggih, Bu Dwiyana. Semoga sedikit banyak bisa memberikan jawaban

3. Pertanyaan:

Nama:  Nana, Usia:  30, Domisili: Sumedang, Pertanyaan: Malam dok,   apakah perlu penderita PH tinggal sendirian karena keadaan rumah yang kurang kondusif ? Saat tinggal sendirian apa saja yang perlu di maintenance? Supaya jiwa, raga dan mental aman? Mohon penjabarannya.  Karena banyak saran kalau bisa ada pendamping tapi jika bertahan dirumah pun tidak menjadikan penunjang kondisi kesehatan membaik. Makasih banyak utk penjelasannya Mas Tri.

Jawaban:

Selamat malam, Kak Nana. Terima kasih karena sudah menyampaikan kondisinya saat ini yaa. Perasaan bimbang terkadang muncul ketika kita dihadapkan pada pilihan yang terasa sulit. Terkadang, duduk perkaranya juga berasal dari orang-orang terdekat bahkan rumah. Sehingga merasa sulit di situasi seperti ini adalah respon yang sangat wajar dan manusiawi ya, Kak. Apalagi ini berkaitan dengan sebagian aspek yang penting dari hidup kita, seperti kesehatan.

Terkait pertanyaan Kak Nana, sebenarnya jawabannya bisa sangat tergantung ya. Perlu kita cari tahu kelebihan dan kekurangan dari masing-masing keputusan. Tentunya dengan mempertimbangkan mana yang secara keseluruhan mendukung kestabilan kondisi kesehatan dan sesuai dengan kebutuhan Kakak saat ini. Selain itu, perlu kita cari tahu juga pilihan mana yang benar-benar lebih mudah untuk direalisasikan.

Jika kita lihat kembali, ada beberapa hal yang sebenarnya perlu kita gali lebih dalam lagi. Contohnya: kondisi tinggal sendiri yang di bayangan Kakak seperti apa, kemudian kondisi rumah yang kurang kondusif ini dalam aspek apa saja, lalu apakah alternatif lain yang mungkin bisa mengakomodasi kebutuhan Kakak saat ini, dan lain sebagainya.

Satu sisi saya memahami bahwa situasi saat ini mungkin membuat kita kewalahan secara mental. Namun, untuk membuat sebuah keputusan yang besar maka kita perlu pelan-pelan memetakan situasinya terlebih dahulu.

Jika hal tersebut terasa sulit untuk dilakukan sendiri. Saya sangat merekomendasikan untuk Kak Nana mengonsultasikannya terlebih dahulu dengan orang terdekat yang dipercaya. Atau mungkin mengambil layanan profesional yang lebih komprehensif seperti psikolog dan dokter yaa. Semoga bisa penjabaran ini sedikit banyak dapat membantu ya, Kak.

4. Pertanyaan:

Nama : Defi , Usia    : 31 Tahun , Domisili : Depok . Bagaimana cara mengatasi emosional diri sendiri, yang disebabkan oleh orang dekat (orang tua)? terkadang saya memilih memendam tanpa menceritakan apa yang mengganjal dalam hati. sehingga membuat saya selalu berfikir dan menyebabkan saya sesak dan dada terasa berat.

Orang tua support untuk kesembuhan saya tetapi disisi lain mereka juga yang membuat saya menahan emosi sehingga mental saya  terganggu atas perbuatan yang tidak saya senangi. Terimakasih

Jawaban:

Selamat malam, Kak Defi. Sebelumnya terima kasih karena telah menyampaikan perasaannya dengan jujur yaa. Saya sedikit banyak menangkap perasaan seperti capek dan tertekan dari pesan Kakak. Situasi yang dialami saat ini mungkin memang tidak sederhana ya, Kak. Sehingga wajar sekali kalau terasa membingungkan. Apalagi jika hal tersebut kita rasakan karena

Kebiasaan memendam perasaan ini biasanya muncul karena ada pikiran atau kekhawatiran yang muncul. Boleh sekali, kita mulai untuk menyadari perasaan-perasaan yang muncul tanpa menghakimi alih-alih buru-buru untuk memendamnya. Ketika kita merasakan suatu emosi, bisa tuh kita sadari dulu. Kemudian emosi tersebut kita namai. Dengan menamai emosi, kita melatih diri untuk sadar dan memeluk emosi tersebut. Emosi merupakan sebuah sinyal dari tubuh dan memang wajar untuk diekspresikan. Emosi yang dipendam biasanya tidak membuat emosi tersebut hilang. Oleh karena itu, kita perlu mencari cara alternatif untuk mengekspresikan emosi kita supaya tidak berpindah bentuk menjadi keluhan fisik seperti sesak dan dada terasa berat.

Saat emosi negatif muncul, kita bisa  coba mengelola napas terlebih dahulu. Bisa dengan metode 4-4-4-4 (box breathing). 4 hitungan tarik napas, 4 hitungan tahan napas, 4 hitungan hembuskan, 4 hitungan pause sebelum kita menarik napas kembali. Tujuannya adalah untuk meringankan sensasi fisiknya terlebih dahulu.

Selanjutnya, bisa nih kita mengekspresikan emosi dengan cara jurnaling atau metode lain yang dirasa nyaman. Jurnaling di sini dapat seperti menuliskan apapun perasaan yang kita pikirkan tanpa menghakimi kemudian ditutup dengan mengambil sebuah makna dari kejadian yang terjadi dari pengalaman tersebut. Dari sini, harapannya sedikit banyak ekspresi kita dapat mengalir.

Kemudian untuk hubungan dengan orang tua, jika tidak memberatkan, bisa pelan-pelan kita sampaikan dengan jujur terkait perasaan kita terhadap mereka. Semakin banyak komunikasi yang dalam, harapannya juga semakin besar kesempatan orang tua kita memahami kita yaa. Semoga hal tersebut tidak memberatkan untuk dicoba. Semoga menjawab ya, Kak Defi

5. Pertanyaan:

Nama : Sekar, Usia : 33th, Domisili : Purwodadi. Bagaimana menyikapi cara pandang orang lain ttg penyakit kita ? Saya pengennya cukup saya dan keluarga saja yang tau ttg penyakit yang saya derita, tapi tidak dengan orang tua saya, orang tua saya selalu menjelaskan bla bla bla setiap ditanya penyakit saya. Jadi saya suka dipandang lemah sama lingkungan sekitar saya.

Sebenernya orang tua selalu support untuk kesembuhan saya tapi disisi lain mereka juga yang bikin mental saya selalu drop dan stress… Terimakasih

Jawaban:

Selamat malam, Kak Sekar. Terima kasih karena telah menceritakan situasinya saat ini.

Saya izin mengawalinya dengan satu hal. Kita bersama-sama bisa meyakini bahwa anggapan lemah dari lingkungan ini sama sekali tidak mendefinisikan diri kita ya. Selain itu, memang masih terdapat miskonsepsi nih terkait kondisi-kondisi kesehatan di lingkungan masyarakat kita. Hal tersebut merupakan tanggung jawab kita semua untuk saling mengedukasi dengan cara yang baik dan sesuai.

Orang tua yang menceritakan kondisi Kakak kepada orang lain, kita mungkin belum bisa sepenuhnya memastikan tujuan sebenarnya apa. Namun, terkadang itu bisa jadi cara mereka untuk mengedukasi orang lain. Sayangnya, orang tua kita terkadang lupa dengan aspek privasi kita yang juga perlu dihargai. Jika tidak memberatkan, kita bisa mengedukasi orang tua kita tentang hal-hal yang membuat kita nyaman. Karena ketika hal semacam ini tidak dikomunikasikan, bisa jadi ada dua pihak yang sebenarnya saling peduli tetapi pada akhirnya tetap membuat pihak lainnya tidak nyaman.

Bisa nih coba disampaikan seperti ini “Bu/Pak, aku tahu Ibu/Bapak menjelaskan itu karena peduli bahkan mungkin hanya bercerita saja, tapi aku jadi merasa tidak nyaman kalau orang lain tahu detail soal penyakitku. Boleh kah kalau ke depannya cukup dijawab secukupnya saja kalau ada yang tanya?” Semoga tidak memberatkan untuk dicoba ya, Kak. Semoga bisa sedikit membantu, Kak Sekar🙏😊

6. Pertanyaan:

Nama: Indra, Usia: 56, Domisili: Jember. Saya mantan perokok, yang sdh berhenti sejak 22 tahun yang lalu. Alhamdulillah, di rumah juga bebas asap rokok. Masalah nya, di lingkungan saya baik di sekitar rumah maupun lingkungan pertemanan,  mayoritas perokok. Misalnya pada acara kumpulan rukun kematian, yang mayoritas bapak2x perokok. Dengann kondisi kesehatan jantung saya, hal ini membuat saya tidak nyaman dan tidak aman. Tapi saya tidak bisa berhenti utk berinteraksi dengann orang lain. Mohon solusi terbaik nya, tanpa membuat orang lain tersinggung / merendahkan saya. Terima kasih

Jawaban:

Selamat malam, Pak Indra. Terima kasih sudah menceritakan kondisi dan situasinya saat ini nggih. Saya sangat mengapresiasi konsistensi yang sudah dijaga selama 22 tahun ini, itu bukan usaha yang kecil yaa. Dan hal tersebut bisa sedikit menjelaskan, bahwa wajar sekali kalau sekarang muncul rasa tidak nyaman  ketika berada di lingkungan yang mayoritas perokok.

Di sini sepertinya, ada dua kebutuhan yang sepertinya ingin dijaga bersamaan ya. Pertama, menjaga kesehatan diri sendiri. Kedua, tetap menjaga hubungan baik dengan lingkungan sekitar. Ini adalah hal yang sangat mungkin bisa dicapai, karena keduanya sebenarnya tidak saling meniadakan. Kita mungkin hanya perlu cara penyampaian yang tepat.

Namun sebelum itu kita bisa mengusahakan diri kita terlebih dahulu yaa. Misal dengan menggunakan masker, menjaga jarak dengan asap, atau berkomunikasi di tempat yang lebih terbuka. Lalu sedikit demi sedikit bisa mulai diedukasi terkait kondisi Bapak. Mengedukasi orang lain ini merupakan peran yang sangat penting nggih sebagai salah bentuk tanggung jawab kita dalam menjaga diri kita sendiri. Bisa dimulai dari obrolan atau permintaan kecil, seperti izin untuk menghindari asap rokok ketika menghadiri kegiatan kumpulan.

Semoga bisa dicoba pelan-pelan nggih. Semoga juga semakin muncul kesadaran di lingkungan sekitar terhadap dampak dari asap rokok ini. Damai selalu nggih, Pak Indra

7. Pertanyaan:

Nama: Bu Slamet Usia: 41th, Domisili: Boyolali. Dulu suport system saya adalah ibu saya, tempat paling nyaman untuk bercerita dan berkeluh kesah tentang apapun termasuk cerita tentang penyakit saya, beliau sangat peduli dan mendukung penuh untuk kesembuhan saya, tapi qodarulloh belum lama ini beliau dipanggil duluan ke sisi Allah SWT secara mendadak, dan itu benar-benar membuat saya kehilangan sandaran hidup, dan sekarang saya hanya bisa memendam semuanya sendiri tanpa berani bercerita karena saya takut kalau saya cerita sama keluarga atau kerabat nanti malah jadi beban dan merepotkan, pertanyaan saya, bagaimana cara kita mengatasi saat2 kita lagi down, apakah perlu cerita ke orang lain atau cukup kita simpan sendiri saja?  Terimakasih

Jawaban:

Selamat malam, Bu Slamet. Terima kasih banyak sudah bersedia menceritakan hal ini kepada kami nggih. Saya pribadi turut berduka atas kepergian Ibunda, dan saya bisa membayangkan betapa besarnya kehilangan yang dirasakan. Apalagi, beliau adalah sosok yang selama ini menjadi tempat paling nyaman untuk bersandar. Sehingga perasaan bimbang Bu Slamet saat ini merupakan hal yang sangat manusiawi.

Saya izin merefleksikan bahwa kehilangan sosok support system utama itu mungkin bukan hanya kehilangan “orang untuk bercerita” nggih. Saya yakin lebih dari itu, dan mungkin rasanya belum ada yang bisa menggantikan posisi tersebut. Namun, itu bukan berarti Bu Slamet harus menanggung semuanya sendirian nggih.

Terkait pertanyaan Bu Slamet, apakah perlu cerita ke orang lain atau cukup disimpan sendiri? Izin saya sampaikan bahwa memendam terus-menerus itu justru membuat beban semakin menumpuk, apalagi di tengah proses berduka (grief) yang sedang dijalani bersamaan dengan kondisi kesehatan yang perlu dijaga. Keduanya ini sama-sama butuh ruang untuk diproses dan sepertinya bukan untuk dipendam nggih.

Kemudian terkait ketakutan menjadi beban atau merepotkan orang lain, ini juga sesuatu yang sering dirasakan banyak orang saat berada dalam posisi serupa, dan biasanya itu adalah persepsi kita sendiri, bukan sebuah fakta sampai kita konfirmasi ke orang tersebut. Jadi sedikit demi sedikit boleh ya untuk terbuka kepada orang-orang terdekat kita. Tidak harus langsung menceritakan semuanya sekaligus, bisa dimulai dari hal-hal kecil dulu.

Semoga Bu Slamet berkenan mencoba pelan-pelan nggih

8. Pertanyaan:

Nama: Fauziah, Usia: 25 Tahun, Domisili: Bogor. Bagaimana cara menghadapi perubahan dalam hubungan pertemanan selama proses pemulihan? Terkadang kondisi kesehatan membuat kita tidak bisa lagi mengikuti aktivitas seperti sebelumnya dan akhirnya cenderung menjauh dari lingkungan. Bagaimana cara menjaga hubungan tetap sehat tanpa harus memaksakan diri? Terima kasih 🙏🏻

Jawaban:

Selamat malam, Kak Fauziah. Terima kasih sudah menyampaikan kondisinya saat ini yaa. Saya sedikit banya bisa menangkap perasaan seperti bingung dari pesan Kakak.

Terkadang terdapat perbedaan yang cukup nyata antara “diri sebelum sakit” dan “diri saat proses pemulihan”, terutama dari sisi kemampuan mengikuti aktivitas bersama teman-teman. Sehingga mungkin muncul perasaan-perasaan yang sebelumnya tidak dirasakan, seperti tidak enak atau khawatir merepotkan.

Nah, boleh dicoba dicek kembali sebenarnya menjauh ini pilihan yang benar-benar diinginkan, atau lebih ke arah menghindari rasa tidak nyaman saat harus menjelaskan kondisi ke teman-teman? Kalau ternyata yang kedua, maka menjaga hubungan tetap sehat bisa menjadi pilihan yang bisa diusahakan meskipun tetap disesuaikan dengan kondisi kita saat ini yaa. Kita bisa tetap mengambil peran dalam hubungan saat ini bagaimanapun kondisi kita.

Beberapa hal yang mungkin bisa dicoba antara lain:

Pertama, sampaikan kondisi Kakak ke teman-teman terdekat, bisa secukupnya saja, tidak perlu detail cukup poin pentingnya saja, misalnya “aku lagi dalam proses pemulihan, jadi belum bisa ikut aktivitas yang terlalu berat dulu, tapi aku tetap pengen tetap terhubung sama kalian”. Ini membantu teman-teman untuk memahami situasi Kakak saat ini.

Kedua, bentuk keterhubungan bisa disesuaikan dengan kapasitas yang ada saat ini. Misal mencari alternatif cara terhubung dengan teman-teman. Kalau misal belum bisa ikut aktivitas fisik yang berat, mungkin bisa tetap terhubung lewat obrolan ringan, misal melaui video call atau sekadar hadir di momen-momen yang tidak terlalu menuntut energi besar.

Ketiga, kita bisa membangun keyakinan bahwa teman-teman kita akan bisa menyesuaikan, dan menjaga hubungan meskipun bentuknya berubah. Di sisi lain, kita juga perlu menyadari bahwa di kondisi apapun orang dalam hidup kita ternyata bisa datang dan pergi. Kurang lebih seperti itu ya, kak. Semoga dapat Kakak coba yaa

9. Pertanyaan:

Nama: Bu Ratri, Usia: 43 tahun, Domisili: Kalimantan Tengah. Dulu saya adalah orang yang sangat aktif. Aktif dalam pekerjaan (mengajar), maupun aktif berorganisasi di luar. Mobilitas saya juga lumayan tinggi, karena saya sering berkegiatan ke sana kemari. Desember 2024 saya drop, dan akhirnya terdiagnosa ASD PH. Alhamdulillah, Agustus 2025 saya sudah operasi penutupan. Kondisi sekarang berangsur membaik, namun belum bisa kembali seperti dulu. Sejak drop saya cuti kerja 1 tahun di tahun 2025 itu karena saya berobat di Jogja. Desember 2026 saya kembali bekerja, namun masih terbatas aktivitasnya hingga sekarang. Hal ini sering membuat saya insecure, kadang merasa diri tidak berguna. Keluarga dan teman-teman sangat mendukung pemulihan saya. Hubungannya dengan menerima situasi, apa sebaiknya yang saya lakukan?

Jawaban:

Selamat malam, Bu Ratri. Terima kasih banyak karena sudah menceritakan situasi yang sedang dialami saat ini nggih. Saya izin mengapresiasi dulu, perjuangan dari Desember 2024 hingga bisa menjalani operasi dan kini berangsur membaik. Itu bukan proses yang singkat maupun mudah ya tentunya. Begitu juga untuk seluruh bapak, ibu, dan rekan-rekan yang hadir pada malam hari ini dan mungkin sedang berproses seperti Bu Ratri nggih✨

Saya sedikit banyak dapat menangkap ada perasaan seperti terasa ada kesenjangan begitu nggih. Selain itu, juga muncul perasaan insecure. Sebenarnya ini adalah hal yang sangat manusiawi nggih untuk dirasakan. Terlebih melihat adanya perbedaan peran-peran aktif kita jika dibandingkan dengan kondisi sebelumnya.

Terkait penerimaan, kita bisa mulai menyadari bahwa menerima di sini bukan berarti berhenti berharap untuk membaik dan bukan juga berarti harus merasa baik-baik saja dengan segala keterbatasan yang ada sekarang. Menerima di sini lebih ke arah mengakui bahwa kondisi saat ini memang berbeda dengan sebelumnya. Selain itu, sedikit demi sedikit kita mengurangi intensitas kita dalam membandingkan kondisi kita di masa lalu. Harapannya, kita bisa melepaskan persepsi tentang kondisi kita di masa lalu sebagai tolok ukur kondisi kita saat ini. Kita bisa kembali ke masa kini serta memfokuskan pada hal-hal yang bisa kita usahakan sekarang.

Selanjutnya, mungkin bisa kita mulai dari mendefinisikan ulang makna “berguna” atau “berharga” itu sendiri. Selama ini mungkin definisi tersebut sangat lekat dengan produktivitas dan mobilitas tinggi. Padahal, berharga atau berguna seseorang sebenarnya belum tentu sepenuhnya bergantung pada seberapa banyak aktivitas yang bisa dilakukan, melainkan juga dari hal-hal lain, seperti bagaimana Bu Ratri tetap bertahan dan berjuang melewati prosesnya saat ini.

Selain itu, karena keluarga dan teman-teman sudah sangat mendukung, mungkin bisa dicoba untuk lebih terbuka kepada mereka soal perasaan insecure ini juga nggih, Bu. Terkadang, mendengar validasi langsung dari orang terdekat bisa membantu meredakan pikiran-pikiran negatif tentang diri sendiri.

Proses pemulihan mungkin memang tidak selalu linear nggih, kadang maju, kadang terasa jalan di tempat, dan seterusnya. Yang penting, arahnya tetap ke arah membaik nggih, serta sesuai dengan kapasitas kita saat ini. Semoga bisa sedikit banyak menjawab nggih, Bu Ratri.

10. Pertanyaan:

Nama : Juli, Usia : 35 Tahun, Domisili : manado. Bagaimana kita menghadapi keadaan saat kita mulai panik / cemas ketakutan yang selalu datang secara tiba2? Apakah perlu untuk konsultasi le ahlinya? Apa ada yang bisa dilakukan untuk menghilangkan rasa takut dan panik itu?

Jawaban:

Selamat malam, Kak Juli. Terima kasih karena sudah menyampaikan kondisinya saat ini yaa. Saya sedikit banyak bisa menangkap perasaan tidak nyaman dan bingung karena rasa panik dan cemas yang mungkin datang secara tiba-tiba.

Rasa cemas atau panik yang muncul tiba-tiba semacam ini sangat wajar dialami. Biasanya juga terjadi pada seseorang yang sedang menjalani proses terkait kondisi kesehatan tertentu.

Ketika sensasi cemas muncul kita bisa melakukan olah napas sebagai pertolongan pertama. Bisa dengan metode yang sebelumnya saya sampaikan, yaitu, metode 4-4-4-4 (box breathing). 4 hitungan tarik napas, 4 hitungan tahan napas, 4 hitungan hembuskan, 4 hitungan pause sebelum kita menarik napas kembali. Harapannya, dengan kita mengelola napas, kita bisa menurunkan intensitas dan sensasi fisik yang dirasakan ya. Bisa dilakukan secara berulang dan berkala.

Untuk pertanyaan soal apakah perlu konsultasi ke ahlinya. Jika Kakak merasa rasa panik dan cemas ini sudah cukup sering muncul dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Maka bisa ya kak untuk dicoba mengambil layanan konseling. Bisa di layanan kesehatan atau biro-biro seperti Inspirasien atau tempat lain yang dirasa nyaman nggih. Konseling ke psikolog ini dapat membantu mengidentifikasi apakah ini termasuk gejala kecemasan yang butuh penanganan lebih lanjut serta membantu Kakak untuk menyusun strategi yang lebih sesuai dengan kondisi Kakak saat ini. Sama hal nya dengan kesehatan fisik ya, Kak. Semakin awal ditangani, biasanya semakin ringan juga prosesnya.

Semoga dapat menjadi pertimbangan yaa. Semoga membantu, Kak Juli.

 

“Mewujudkan support system yang baik merupakan salah satu bentuk dari usaha kita. Usaha untuk mengoptimalkan proses pemulihan kita. Oleh karena itu, silakan ambil peran tersebut nggih. Mulai kenali support system yang ada di dekat kita. Mulai dari keluarga, teman-teman terdekat, bahkan komunitas-komunitas seperti YHPI ini. Semakin kita mengenal mereka, akan semakin baik juga pemahaman kita bahwa “aku ternyata tidak menjalani semua ini sendirian”. Materi yang saya sampaikan mungkin hanya salah satu cara. Masih ada banyak lagi cara di luar sana. Silakan temukan cara yang paling nyaman dan sesuai kebutuhan Bapak/Ibu. Semoga kita senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, dan kedamaian hati. Saya juga mohon maaf untuk segala salah saya selama kegiatan KulWap ini berlangsung. Terima kasih banyak nggih.”_Tri Aji Wicaksono, S.Psi., Psikolog

 

By | 2026-09-24T01:40:48+00:00 September 24th, 2026|Kuliah lewat WhatsApp|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
Open chat