Akankah Jalan Nekat Ini Membawa Saya Pada Kesembuhan-Sapto-OPJ

//Akankah Jalan Nekat Ini Membawa Saya Pada Kesembuhan-Sapto-OPJ

Akankah Jalan Nekat Ini Membawa Saya Pada Kesembuhan-Sapto-OPJ

Oleh: Sapto Oktaviana

 

~Akankah Jalan Nekat Ini Membawa Saya Pada Kesembuhan~

 

Assalamu’alaikum dan selamat malam untuk teman-teman PHighters dan juga para pengurus YHPI..

Perkenalkan, saya Sapto Oktaviana, biasa di panggil Ana, domisili Sleman, Jogja. Saya terlahir di kota pensiun Purworejo. Ibu saya cerita, sejak lahir saya sehat, ceria, petumbuhan, aktivitas, dan kepandaian tidak berbeda dengan teman-teman saya waktu itu. Kalaupun saya sakit, ya sakit biasa bapil, flu, tidak pernah yang namanya opname di rumah sakit, bahkan ke dokter pun jarang.

Lulus SMA saya melanjutkan kuliah di Jogja. Seringkali perkuliahan di lakukan di ruang kelas yang ada di lantai atas. Sebenarnya saat itu, saya kadang merasakan ngos-ngosan ketika naik tangga, tapi saya anggap hal yang wajar, karena sesak itu akan hilang ketika saya duduk barang sebentar. Perkuliahan dan hidup saya di rantau saat itu juga berjalan seperti teman-teman yang lain. Saya kuliah tanpa membawa kendaraan pribadi/motor, sehingga saya harus naik angkot ketika kemana-mana, saya juga harus berjalan kaki kesana kemari, bahkan seringkali hingga beberapa kilometer ketika kami serombongan anak kost hendak refreshing/bermain.

Lulus kuliah, saya bekerja, dan saya juga masih harus berjalan kaki dari kost hingga kantor, dan sebaliknya ketika pulang. Dan saat itupun, tak ada kendala medis yang saya rasakan, hidup saya berjalan normal saja seperti orang lain.

Tahun 2007, saya hamil anak pertama saya, di kehamilan ini saya tidak merasakan ataupun terlihat tanda-tanda kalau jantung saya bermasalah/bocor. Tidak ada bengkak kaki, muka, tidak ada sesak, pokoknya kehamilan wajar saja. Saya mengalami kendala ketika hendak melahirkan, kontraksi hanya terjadi di awal2 saja, setelah itu berhenti, padahal ketika di cek oleh dokter, air ketuban saya sudah tinggal sedikit dan sudah melebihi HPL (Hari Perkiraan Lahir) juga, sehingga dokter memutuskan untuk di induksi, namun kontraksipun tak kunjung datang, sehingga dokter memutuskan untuk dilakukan operasi caesar. Lahirlah anak pertama saya, cowok.

Sekitar 4 bulan kemudian, saya hamil anak kedua, namun saya keguguran di usia kandungan sekitar 2 bulan. Sekitar 3 bulan kemudian saya hamil lagi, akhir 2008 lahirlah anak ke 3 kami, cowok, dengan caesar juga.

Di awal 2009, waktu anak saya yang kecil berusia sekitar 3-4 bulan, kami sekeluarga berekreasi ke kali kuning, daerah kaliurang, kami turun ke arah kali, lumayan dalam, pas turun saya tak merasakan kendala apapun, namun ketika hendak pulang dan kami harus naik, saat itu saya benar2 sesak, jantung berdebar, rasanya saya tak sanggup lagi naik, namun pelan2 akhirnya saya bisa sampai di atas, istirahat sebentar, kemudian stabil lagi. Jd saya masih menganggapnya hal biasa, tak ada kontrol dokter, tak ada pemeriksaan apapun. Saya melanjutkan hidup seperti biasa, mengurus rumah, anak-anak dan suami. Namun lama kelamaan, saya sering merasakan sesak dan lemas, saya selalu kontrol ke klinik dekat rumah, disana saya di kasih oksigen beberapa menit, cek ini itu, juga EKG, kemudian dikasih obat-obatan saya lupa obat apa saja.

Suatu saat, anak saya yang besar sakit batuk yang sangat lama, kami memutuskan untuk ke rumah sakit khusus paru-paru, disana anak saya di rontgen, dan saat itu, saya memutuskan untuk sekalian ikut rontgen karena sering sesak, dan hasilnya paru-paru saya bersih, namun jantung kanan saya bengkak, sehingga saya di buatkan rujukan ke spesialis jantung RS Sardjito. Waktu itu, dokter paru-paru menyarankan saya untuk segera mengurus BPJS, dengan alasan kalau jantung itu biaya mahal dan biasanya kontrol dan obat-obatan seumur hidup.

Dan saat itulah saya memulai petualangan saya ke dokter jantung. Pada awalnya saya kontrol di RSA UGM, namun kemudian, akhir 2015, saya mendapat rujukan dari RSA ke RS Sardjito.

Di situlah awal pertemuan saya dengan prof Lucia Krisdinarti. Setelah cek ini itu, termasuk Cath di bulan Maret 2016, terdiagnosalah ASD dan PH, dengan hasil PH tinggi (70), non reaktif oksigen, dan eissenmenger. Dengan hasil cath tersebut, prof Kris tidak menyarankan penutupan ASD, hanya dianjurkan konsumsi obat-obatan PH seumur hidup.

Saat itu PH sedang menjadi bahan penelitian prof Kris, maka pasien PH menjadi pasien yang diutamakan. Anak-anak saya di screening, Alhamdulillah anak saya yang besar sehat, namun yang kecil ternyata ada ASD juga, dan Alhamdulillah dia akhirnya bisa operasi open heart pada januari 2018 lalu.

Karena derajat PH saya yang fluktuatif, setiap kali saya menanyakan tentang apakah perlu cath ulang, prof Kris dan dokter lain selalu menjawab, belum perlu karena dari hasil echo PH masih tinggi. Sehingga, sejak 2016 hingga November 2025 saya hanya melakukan satu kali cath.

Di awal 2024, karena ada masalah yang menurut saya sangat besar membuat semangat hidup saya turun, saya mulai malas minum obat, seringkali beberapa hari tak minum sama sekali, hingga sejak awal 2025 hingga akhir 2025 kondisi saya ngedrop parah, bahkan dalam setahun saya opname 4X.

Saat opname terakhir di tahun 2025 itu, saya bertemu dokter Hendry SpJP, waktu itu beliau adalah dokter penanggungjawab saya. Saat kunjungan, beliau menceriterakan tentang prof Budi Yuli, dan tentang pasien dengan kondisi yang hampir mirip dengan saya yang telah berhasil di ASO oleh prof Budi Yuli. Beliau bilang akan adanya kemungkinan ASD saya juga bisa ditutup seperti pasien tersebut. Saat itu, dokter Hendry tidak memberikan janji yang muluk-muluk, target prof Budi Yuli adalah peningkatan saturasi dan kualitas hidup saya. Dokter Hendry bilang akan mempertemukan saya dengan prof Budi Yuli suatu saat nanti, agar saya bisa berkonsultasi langsung dengan beliau.

Dan entah kenapa, meskipun dari cerita dokter Hendry, saya simpulkan prosedur yang dilakukan prof Budi Yuli termasuk ekstrim, namun saat itu saya sangat bersemangat, dan saya hanya punya satu pikiran, mungkin ini salah satu jalan yang diberikan Allah untuk ikhtiar saya. Karena bagaimanpun kalau saya melakukan jalan ini, paling tidak saya akan punya dua pilihan, berhasil dan kemudian sehat, atau malah pergi. Namun jika saya tidak ambil tawaran ini, saya yakin kondisi saya akan makin drop.

Mulai saat itu, setiap kali kontrol saya selalu memilih dokter Hendry, namun beliau masih belum mau mengenalkan saya dengan prof Budi Yuli dengan banyak pertimbangan, seperti PH saya yang tinggi, eissenmenger, non reaktif oksigen, dll, jadi menurut beliau, saya harus memikirkan matang-matang keputusan ini.

Suatu saat, ketika jadwal kontrol tiba, dokter Hendry absen, lalu kami (saya dan suami) memutuskan untuk langsung bertemu prof Budi Yuli, untuk mencari info dan konsultasi banyak hal. Tak tahunya, saat itu prof Budi Yuli malah bilang, bagaimana kalau opnamenya sekarang saja, lalu besuk tindakan. Kami luar biasa kaget ini mendadak sekali, sehingga untuk mengulur waktu saya bilang, “Apa tidak sebaiknya njenengan pelajari dulu kasus saya prof? Dan saya akan mengkondisikan rumah, kasihan anak-anak saya kalau tiba-tiba begini.” Beliau setuju, mengundur namun cuma 2 hari, dan kami pun setuju.

Pada saat itu prof Budi Yuli bilang bahwa penyebab utama PH saya adalah ASD, sehingga yang terutama harus di lakukan adalah menangani ASDnya dulu, baru di obati PH nya. Karena jika fokus menurunkan PH dengan obat2an, sedangkan ASD masih ada, ya seperti melakukan hal yang cenderung mustahil. Dengan kemantapan hati, 2 hari kemudian, kami mengurus semua prosedur ranap.

Tanggal 10 Desember 2025, saya masuk bangsal, tanggal 11 tindakan ASO, tgl 15 saya diijinkan pulang. Tindakan Cath/ASO di jalankan dengan prosedur yang berbeda dengan ASO biasanya. Karena saat itu kondisi saya memungkinkan untuk ditutup, maka prof Budi Yuli memutuskan menutup lubang ASD saya, tanpa disisakan lubang.

Alhamdulillah setelah penutupan, saturasi meningkat yang tadinya sekitar 65an sekarang 75an keatas. Dari hasil echo, PH juga makin turun walopun sedikit demi sedikit.

Saat bulan puasa kemarin saya sempat ranap lagi karena edema berat. Saya juga merasakan adanya beberapa keluhan yang tidak saya rasakan sebelum penutupan, seperti tensi yang tadinya cenderung normal sekarang rendah, mata berkabut/blur, tiba-tiba pusing seperti vertigo, mata kuning karena kenaikan bilubirin, penurunan BB yang cenderung cepat, asam urat, dll.

Saya tidak tahu pasti apakah semua gejala ini muncul akibat penutupan ASD atau karena saya mengkonsumsi obat-obatan PH secara rutin lagi. Namun menurut prof Budi Yuli, semua gejala yang saya rasakan itu di karenakan tubuh saya yang sedang beradaptasi dengan kondisi baru. Dimana jantung yang selama puluhan tahun mengalami kebocoran, tiba-tiba ditutup, maka aliran darah yang tadinya salah, tiba-tiba harus mengalir seperti yang seharusnya. Dan menurut beliau, adaptasi ini kemungkinan akan membutuhkan waktu yang lumayan lama, tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Namun begitu, saya selalu berdo’a, mudah-mudahan jalan “nekat” saya ini bisa benar-benar membawa saya pada kesembuhan, kesehatan total, bisa hidup lebih lama dan lebih bermanfaat.

Oh ya teman-teman, tindakan nekat saya menutup ASD ini adalah tindakan ekstrim ya, karena saat itu kondisi PH saya tinggi, eissenmenger, non reaktif oksigen, edema, trombus di ventrikel kanan, dll, kondisi yang secara medis sebenarnya tidak disarankan dan di perbolehkan dilakukan penutupan ASD.

Jadi di seluruh dunia, khususnya kedokteran jantung, blm ada yang berani melakukan prosedur seperti yang dilakukan prof Budi Yuli pada pasien dengan kondisi seperti saya, bisa di bilang prosedur ini bertentangan dengan dunia medis. Dan tindakan ini juga blm tentu berhasil pada pasien dengan kondisi yang sama dengan saya, kecuali mungkin jika kondisi pasien jaaauuuuhh lebih baik di banding kondisi saya. Saya yakin teman-teman paham maksud saya..

Demikian cerita saya yang sangat panjang. Mohon maaf jika ada salah kata. Buat teman-teman PHighters, jangan menyerah, tetap semangat menjemput kesembuhan kalian, rutinlah kontrol dan minum obatnya, kalau perlu pakai alarm supaya jadwal minum obat selalu tepat..

Terima kasih karena teman-teman PHighters sudah membaca sampai akhir kisah saya. Semoga ada hikmah yang bisa diambil. Seperti saya yang mencoba untuk second opinion (pendapat kedua) dari dokter lain untuk mencari kemungkinan ada pengobatan lain.

Wassalam

By | 2026-09-24T00:34:43+00:00 September 24th, 2026|Our PH Journey|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
Open chat