KULWAP (KULIAH WHATSAPP)-Tema-Growth Mindset vs Fixed Mindset

///KULWAP (KULIAH WHATSAPP)-Tema-Growth Mindset vs Fixed Mindset

KULWAP (KULIAH WHATSAPP)-Tema-Growth Mindset vs Fixed Mindset

Kuliah Whatsapp adalah program tanya jawab lewat group di aplikasi whatsapp antara anggota YHPI dengan dokter/narasumber ahli lainnya untuk topik-topik terkait Hipertensi Paru yang diadakan secara rutin dan berkala.

Untuk bergabung dalam group whatsapp dan mengikuti kuliah berikutnya, silakan hubungi Admin Pusat YHPI 0811-8986-799

 

PENGUMUMAN KULWAP YHPI

  • Waktu : Rabu, 22 Juni 2022
  • Pukul : 19.00 – 21.00 WIB
  • Narasumber : Rt. Annissa Apsyari, M.Psi., Psikolog
  • Tema : Growth Mindset vs Fixed Mindset
  • Moderator : Amida

Untuk melihat materi silahkan KLIK DISINI

Akhir-akhir ini rasanya sering sekali mendengar kata growth mindset dan fixed mindset. Sebenernya apa sih mindset itu? Mindset itu adalah pola pikir, ada di dalam diri kita, yaitu persepsi diri yang kita yakini mengenai diri kita sendiri. Nah ada nih yang namanya fixed mindset, dari katanya saja udah fixed, yang bisa kita artikan tetap/menetap. Pola pikir ini meyakini bahwa apapun yang ada, baik itu bakat maupun intelegensi atau kemampuan yang kita miliki adalah given, bersifat bawaan. Kalo kita jenius, yaudah kita memang jenius, orang itu pintar, yaudah itu bawaan lahirnya gitu. Orang-orang dengan fixed mindet akan berpikir tentang itu.

Beda ceritanya dengan growth mindset dimana pola pikir ini mempercayai bahwa kemampuan dasar itu dapat dikembangkan, dengan kata lain apa yang given (terberi sejak lahir) seperti bakat atau intelegensi itu hanyalah modal awal, bisa berkembang seiring dengan waktu asalkan kita memiliki usaha dan mempercayai proses yang kita jalani, tidak berfokus kepada hasil, melainkan berfokus kepada apa yang sedang kita jalani karena percaya bahwa di setiap proses ada pelajaran yang bisa kita pelajari, dan terbuka terhadap masukan/kritikan untuk pengembangan diri dengan lebih baik.

Walaupun memang pada dasarnya kita gak bisa sih growth mindset terus, namanya manusia ya, pasti ada saja saatnya kita terbawa oleh fixed mindset, it’s ok mba/mas semuanya karena semua orang memiliki campuran pola pikir antara yang growth maupun yang fixed, yang penting disini adalah bagaimana kita berusaha dan berproses untuk mencoba growth mindset.

Kenapa sih itu penting? karena kesuksesan yang diraih oleh diri kita tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan dan bakat, tetapi juga oleh pola pikir kita. Seperti yang sudah saya tuliskan bahwa mengembangkan growth mindset dapat berkontribusi pada kehidupan yang lebih bermakna karena rentang pengalaman yang dicakup oleh kehidupan seperti itu akan jauh lebih luas.

1. Pertanyaan:

Nama: Khatarina, Usia: 35, Domisili: Tangsel. Selamat siang dok. Saya sekarang masih aktif bekerja di kantor, walaupun akhir-akhir ini semakin terganggu dengan keterbatasan saya dengan autoimun dan Hipertensi Paru, ingin rasanya berhenti dan istirahat fokus dengan pemulihan kesehatan, tapi fixed mindset saya yang dulu masih sama, karena dulu saya sangat aktif bekerja, pokoknya ga bisa diem,mandiri, ingin nya semua dihandle sendiri. Jadi semua mindset saya waktu masih sehat, masih terbawa sampai sekarang, padahal kenyataannya saya sudah kurang mampu dan butuh bantuan. Sekarang sedang mengusahakan growth mindset, saya sedang berencana pindah kerja dan menetap keluar kota yang lebih ramah dengan kesehatan saya. Tapi kok rasanya masih ragu untuk menerima realita kalo saya harus pindah untuk kesehatan yang lebih baik. Mohon bantuan dokter untuk mengatasi keraguan itu, dan menetapkan growth mindset. Terima kasih dok.

Jawaban:

Hallo mba Khatarina, Selamat malam, pertanyaannya menarik sekali. Saya paham sekali, pasti ada perasaan mba menghadapi perbedaan yang jelas-jelas sangat berbeda dengan keadaan yang dahulu, wajar rasanya ketika kita dihadapkan pada suatu perubahan yang cukup besar dalam hidup, akan terjadi beberapa penyesuaian dengan diri kita. Mungkin dulu yang aktif, sekarang perlu mengurangi kegiatan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi tubuh, dari yang serba mandiri, sekarang perlu beberapa bantuan dari orang lain, it’s okay karena pada dasarnya manusia ini akan berjalan dan bertumbuh serta memiliki prosesnya masing-masing untuk menjadi lebih baik.

Saya turut senang mba Khatarina memiliki planning untuk pindah kerja ke luar kota yang lebih ramah dengan kesehatan mba sendiri, suatu langkah baik untuk memahami dan mencintai diri sendiri. Mengakui dan menerima ketidaksempurnaan adalah satu langkah yang baik untuk mengembangkan growth mindset. Ingat bahwa kita perlu untuk menghadapi tantangan dengan keberanian dan sesekali mencoba untuk mengambil risiko adalah satu langkah yang baik. Jika saat ini mba masih memiliki keraguan, mungkin mba Khatarina boleh mencoba untuk melakukan pemetaan, dengan cara apa? mba boleh mencoba untuk menuliskan seluruh keraguan yang ada dirasakan maupun dipikirkan mba Khatarina. Tentunya kekhawatiran tersebut perlu untuk mba tuliskan di kertas/notes. Lalu setelah dirasa semua dituliskan, mba boleh baca lagi, sekiranya mungkin ada yang (mungkin) kekhawatiran itu dirasa tidak perlu (yaitu dirasa sudah ada atau terpikirkan solusinya), mba boleh coret hingga tersisa mungkin beberapa kekhawatiran yang ada. Jika ada yang tersisa, maka kekhawatiran ini yang saat ini perlu untuk dicarikan solusi konkretnya. Bagaimana mencoba untuk memetakan solusinya? mba boleh memulai dari menuliskan daftar source apa yang mba miliki dan yang realistis bisa mba lakukan. Dengan mengetahui solusi, kita sudah ‘menakar’ konsekuensi yang sekiranya akan kita capai, diharapkan ini dapat membantu untuk menguatkan mba atas keraguan tersebut.

Mba Khatarina juga boleh untuk menuliskan menuliskan list apa positif dan negatifnya jika mba pindah kerja dan pindah kota, dari sini saya harap bisa memperkuat keputusan mba dan mengurangi keragu-raguan atas keputusan yang akan mba pilih. Mungkin ini yang dapat saya sampaikan, semoga dapat menjawab pertanyaannya mba.

2. Pertanyaan:

Nama: Astri, Usia: 23 th, Domisili: Yogyakarta. Selamat Siang, Saya Astri alumni asd PH. Mau tanya, bagaimana cara untuk tidak terlalu berekspektasi tinggi? Takutnya dengan ekspektasi yang tinggi akan kecewa dengan hasilnya. Tetapi di sisi lain kan tidak boleh negatif thinking ya. Lalu untuk mengantisipasi seperti itu bagaimana ya? Dan apa boleh kita itu cuek dan bodo amat? Terima kasih.

Jawaban:

Selamat malam mba Astri, terima kasih atas pertanyaannya, saya izin mencoba untuk jawab pertanyaannya ya mba. Saya paham sekali, ketika ada ekspektasi tinggi dan ternyata hasilnya berbeda dengan harapan, tidak jarang membuat kita merasa kecewa.

Mungkin saya akan sedikit keluar konteks terlebih dahulu dari mindset ini ya mba, kalau kita berbicara self (diri), di psikologi ada istilah ideal self, yaitu diri yang ideal yang kita inginkan atau harapkan, ada yang namanya real self, yaitu diri kita saat ini atau keadaan kita saat ini rilnya seperti apa.

Jika kita berbicara real self dan ideal self, diantara real self (diri kita saat ini) dan ideal self (apa yang kita harapkan) ada yang namanya gap, kalau gap ini terlalu besar/tinggi, biasanya akan membuat orang menjadi tidak nyaman, hal ini yang terjadi ketika kita berekspektasi tinggi, dengan gap yang besar/jauh, maka real self dan ideal self ini tidak akan match. Lalu bagaimana caranya untuk membuat kita menjadi nyaman? tentunya memperkecil jarak gap ini. Bagaimana caranya? Caranya ada dua.

Yang pertama: kita menurunkan ideal self,yaitu menurunkan harapan kita, realistis dengan keadaan saat ini, dengan menyesuaikan real self kita. Namun ingatlah bahwa harapan/ekspektasi itu tak jarang menjadi penggerak kita dalam melakukan sesuatu untuk menjadi versi diri kita yang lebih baik lagi.

Maka yang kedua caranya adalah menaikkan real self, ibaratnya kita naik kelas, meningkatkan skill/kemampuan yang kita miliki untuk mencapai ideal self yang kita inginkan. Caranya bagaimana? menyesuaikan sekiranya skill atau langkah konkret apa yang bisa kita lakukan untuk meraih harapan-harapan kita itu.

Betul sekali sebaiknya negatif thinking dihindari, cara mengantisipasinya adalah mencoba melihat dari sisi/sudut pandang yang lain, bisa dimulai dari sekiranya insight apa yang kita dapatkan dari kejadian itu? Atau apa yang kita pelajari dari hal tersebut? (jika sedang menghadapi kegagalan), setidaknya hal ini bisa menjadi modal untuk kita evaluasi dan bisa kita perbaiki sehingga kita  tidak dapat terhindarkan dari kekecewaan yang serupa di kemudian hari. Mungkin itu yang bisa saya sampaikan mba

3. Pertanyaan:

Nama: Tarilatun nk, Usia: 29 thn, Domilisi: Brebes. Apa sih growth mindset vs fixed mindset itu yang lebih jelasnya? dan apa ini ngaruh sama masalah kesehatan, dan bagaimana cara mengatasi kurang percaya diri pada diri sendiri agar bisa lebih menerima kenyataan,dan butuh proses brapa lama untuk adaptasi dengan keadaan seperti ini?

Jawaban:

Hallo mba Tarilatun, senang sekali berkesempatan untuk menjawab pertanyaannya. Seperti yang sudah saya sampaikan, ini adalah bagaimana pola pikir kita dalam memandang sesuatu, apakah kita memiliki pola pikir menetap yang berpikir bahwa bakat/sesuatu yang kita miliki adalah bawaan/diberikan sejak lahir dan gak bisa dikembangkan lagi. Sedangkan growth mindset adalah pola pikir yang membuat kita berpikir bahwa apapun bisa kita kembangkan, yang terpenting adalah proses yang kita hadapi karena dari proses yang dijalani, kita percaya bahwa kita akan mendapatkan hal-hal baik atau peluang-peluang kesempatan untuk membuat kita menjadi lebih bertumbuh, lebih baik lagi.

Lalu pertanyaan berikutnya, apakah ini mempengaruhi masalah kesehatan? Hal yang perlu diingat adalah bahwa pola pikir kita ini akan memengaruhi segala tindakan yang kita ambil, tentunya hal ini akan memengaruhi kita dalam setiap kesempatan dan keputusan yang kita ambil. dengan kata lain, secara tidak langsung akan memengaruhi fisik dan psikis kita.

Bagaimana caranya mengatasi kurang percaya diri agar bisa lebih menerima kenyataan? Hal ini tentunya perlu diawali dari bagaimana kita menerima diri apa adanya, bersikap se-genuine mungkin, nyaman dengan diri kita.

Mungkin dalam berbicara cukup mudah dan mungkin akan dirasa berat sekali untuk dicoba, namun dengan mulai berproses untuk menuju lebih baik, tidak ada salahnya bagi diri kita untuk melakukannya.

Kalau bicara tentang adaptasi, setiap orang memilki waktu dan prosesnya masing-masing, saran saya, fokuslah kepada usaha untuk mulai memahami diri, menerima apa yang dirasakan dan apa yang dialami saat ini mba, dengan penerimaan diri yang apa adanya, kita bisa lebih nyaman dengan diri sendiri dan tentunya akan mengetahui apa yang bisa kita tingkatkan/kita kembangkan dari diri kita untuk menjadi lebih baik lagi. Semoga dapat menjawab pertanyaannya ya mba.

4. Pertanyaan:

Nama: Dilla, Usia: 28 tahun, Domisi; Jakarta barat. Saya seorang perawat palliatif yang berbasis homecare.

Setiap kondisi pasien diakhir hidupnya sering kali terlihat sangat menderita. Sehingga saya sebagai perawat bertujuan meringankan gejala sakitnya akhir hayat. Namun bila tujuan tersebut tidak tercapai kadang membuat hati saya sedih yang mendalam dan sempat tidak semangat. Padahal masih banyak pasien yang harus ditangani juga. Bagaimana cara menanggapi kegagalan? Pertanyaan kedua:Kapan seseorang dinyatakan butuh obat-obatan psikotropika?

Jawaban:

Hallo mba Dilla, terima kasih atas pertanyaannya. Saya salut sekali dengan mba Dilla yang menjadi perawat paliatif saat ini, pasti tidak mudah ya mba, apalagi berbasis homecare yang tentunya intens bertemu dengan pasien. Terima kasih sudah berusaha untuk meringankan gejala sakitnya para pasien. Saya paham sekali dengan rasa kecewa dari mba Dilla ketika tujuan tersebut tidak tercapai. Namun ingatlah kembali bahwa mba Dilla sudah berusaha semaksimal mungkin dan melakukan hal yang terbaik untuk pasien mba, saya sangat berterima kasih akan hal itu, saya salut sekali.

Untuk mengatasi hal ini, ada baiknya mba sharing dengan orang lain ya mba, biasanya social support di tahap ini cukup membantu mba. Untuk menanggapi kegagalan, seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, mungkin mulailah melihat kegagalan itu dari sisi/sudut pandang lain ya mba, mulai dari insight apa yang bisa didapatkan dari kegagalan tersebut dan apa yang bisa dipelajari sehingga membuat diri kita pada akhirnya lebih baik lagi dan kita bisa meningkatkan kemampuan diri kita.

Lalu pertanyaan berikutnya, kapan seseorang dinyatakan butuh psikotropika? Tentunya hal ini perlu ada konsultasi dan pembicaraan dengan dokter, biasanya psikiater dan perlu dikonsultasikan ya mba hehe. Mungkin itu yang bisa saya sampaikan, semoga dapat membantu.

5. Pertanyaan:

Nama : Fia, Usia : 30 tahun, Domisili : Samarinda. Selamat malam dok, ijin bertanya,  Kalo cuma org lain mah gak peduli ya, tapi kalo ortu sendiri yang model begini, kumaha ieu teh, lieuer. Jadi anak selalu ngerasa gk ada gunanya. Apalagi sering dibilang “ini berobat terus tapi gak ada hasilnya, sembuh kagak ngabisin duit iya…

Mohon saran sebaiknya mengambil sikap seperti apa ya dok cara menghadapi keadaan seperti ini terlebih itu adalah orang terdekat, dan bagaimana cara mengatasi agar saya tetap merasa baik, meskipun sebenarnya memang tidak baik-baik saja.. Terimakasih penjelasannya.

Jawaban:

Hallo mba Fia, selamat malam. Terima kasih atas kesempatannya untuk menjawab pertanyaan mba Fia. Menanggapi pertanyaan mba Fia, saya paham sekali mba bagaimana rasanya menghadapi orang-orang yang selalu melihat hasil daripada prosesnya, sedih rasanya ya mba padahal kita yang berproses, kita yang tau betul bagaimana kita menghadapi hal tersebut, tetapi orang-orang judging kepada kita karena hasilnya dirasa tidak sesuai dengan yang orang lain harapkan.

Apalagi sering sekali dibilang “ini berobat terus tapi gak ada hasilnya, sembuh kagak ngabisin duit iya”. Lalu hal tersebut terucap dari orang terdekat, rasanya seperti tidak didukung ya mba. Yang perlu mba ingat, mba boleh fokuskan kepada apa yang sekarang mba jalani, kepada proses yang sedang dilalui, it’s ok kalau misalkan kita belum seperti apa yang kita inginkan, apa yang orang lain harapkan, gak apa-apa banget karena semuanya punya prosesnya masing. Jika dirasa sudah merasa tidak baik2 saja, itu gak apa2 banget mba, mba bisa sharing, bisa bercerita layaknya kita mengungkapkan apa yang dirasakan atau dipikirkan oleh kita. Namun ketika kita mengungkapkannya, perlu disadari juga bahwa kita perlu siap sepenuhnya dengan konsekuensi yang sekiranya akan kita terima.

Disini mba bisa mengungkapkan mulai dari situasi apa yang dirasa membuat mba tidak baik-baik saja, tindakan apa yang mungkin dirasa tidak nyaman bagi mba, dan mengungkapkan akibat dari tindakan itu apa, baik yang mba rasakan maupun apa yang mba alami hehe. Mungkin ini yang bisa saya sampaikan mba.

6. Pertanyaan:

Nama: Nuning, Usia: 40, Domisili: Malang. Dokter… bagaimana cara mengakui dan menerima ketidaksempurnaan? karena dengan kondisi saya yang sudah usia 40th dan divonis VSD PH itu seperti tidak percaya, karena selama ini saya merasa baik-baik saja. Setelah divonis sakit itu sekarang jadi was-was jangan-jangan pas aktivitas tiba-tib sakit, kambuh dll. Kalo sudah begitu jadi down Dok, hilang semua selera untuk aktivitas, malas dll.. dan sekarang saya ada dimasa lelah, jenuh dan bosan dengan sakit ini… saya harus bagaimana dok agar bisa beraktifitas normal, berpikiran normal?

Jawaban:

Selamat malam ibu Nuning, terima kasih atas pertanyaannya, saya izin menjawab ya bu. Memang rasanya tidak mudah untuk mengakui dan menerima ketidaksempurnaan yang kita miliki. Namun bagaimanapun juga hal ini perlu sekali untuk kita lakukan agar kita merasa nyaman dengan diri kita sendiri dan dapat menjalaninya dengan baik. Memang benar, hidup dengan penyakit kronis terkadang membuat hidup seakan roller coaster sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi. It’s okay banget jika dirasakan seperti itu. Yang terpenting kita mengetahui sepenuhnya apa yang kita rasakan dan bagaimana kondisi diri kita saat ini. Berdamai dengan diri dan mengenal diri sendiri lebih dalam adalah salah satu langkah yang perlu dilakukan bu.

Mengapa pengenalan diri ini sangat penting? Memang tidak mudah untuk mengakui dan menerima diri apa adanya. Namun dengan menerima diri apa adanya, kita dapat mengenal diri kita supaya kita dapat mengetahui apa yang sedang kita rasakan dan apa yang dapat kita lakukan.

Mungkin bu Nuning ingat dengan materi yang sebelumnya disampaikan oleh teman saya, mas Bagus tentang tahapan-tahapan mengenal penyakit kronis, bu Nuning dapat mencoba untuk merasa-rasa sudah sampai di tahap mana bu Nuning berada agar paham tindakan apa yang dapat dilakukan bu. Dengan mengetahui sudah sampai pada tahapan mana, hal ini dapat membantu ibu Nuning bisa lebih menerima diri bu Nuning apa adanya.

Untuk bagaimana bu Nuning beraktivitas normal, mungkin ada hal yang perlu disesuaikan dan yang penting disini mungkin bukan normalnya ya bu, saya rasa perlu mengubah menjadi bagaimana bu Nuning dapat beraktivitas dengan nyaman sesuai kondisi yang sedang dirasakan bu. Semoga dapat menjawab dan membantu ya bu Nuning. Saya juga paham sekali bahwa tidaklah mudah untuk hidup dengan penyakit kronis, pasti seperti roller coaster. Namun yang perlu diingat disini, bagaimana kita bisa nyaman dengan proses yang sedang kita jalankan.

7. Pertanyaan:

Nama : fifin, Usia : 24th, Domisili : majalengka. Dok izin bertanya, saya sebelum di diagnosa asd ph saya bekerja dengan normal. Semenjak di diagnosa saya resign dok dari tempat kerja saya, sekarang saya ingin memulai seperti dulu bisa bekerja tapi suka minder dok dengan kondisi saya sekarang, minder dengan test kesehatan (mcu). Bagaimana dok cara nya agar rasa insecure teratasi? lalu dok semenjak di diagnosa juga saya ngerasa ruang lingkup saya itu dibatasi. Mau kemana-mana saja sekarang mikir dua kali, lebih ke perasaan dok dan efek nya berat badan saya turun.

Jawaban:

Selamat malam mba Fifin, terima kasih atas pertanyaannya mba, saya coba menjawab ya mba. Tidak mudah memang ya mba ketika dihadapkan pada diagnosis dokter yang menyatakan bahwa mba mengidap PH dan perlu menyesuaikan diri dengan kehidupan yang baru, dunia seakan runtuh ya mba.

Yang perlu disadari saat ini, sama seperti yang sudah saya sampaikan, sudah ditahap mana sebenarnya mba saat ini dalam menghadapi penyakit ini. Pasti rasanya ada hal-hal yang perlu disesuaikan dengan kondisi saat ini. Yang dapat dilakukan adalah bagaimana mba merasa nyaman dengan diri mba dan mampu sampai pada tahapan penerimaan diri mba apa adanya, tanpa menilai/judging kepada diri mba sendiri. Dengan mengenal diri sendiri, mengetahui apa kelebihan dan kekurangan saat ini, serta menerimanya, hal ini tentunya akan menjadi suatu langkah besar dalam diri mba untuk mencapai suatu penerimaan diri mba yang lebih baik lagi.

Saya paham sekali pasti muncul ketakutan-ketakutan dan kekhawatiran-kekhawatiran yang ada di dalam diri mba dan perasaan-perasaan tersebut memengaruhi aspek kehidupan mba. Hal tersebut pasti ada, ingatlah bahwa rasa khawatir adalah respon dari diri kita ketika kita dihadapkan pada situasi yang dirasa bahaya bagi kita, hal tersebut wajar sekali kita hadapi. Yang perlu diingat disini adalah bagaimana kita merespon dan menghadapi rasa khawatir tersebut, jangan sampai hal ini menjadi destruktif dan malah merugikan diri sendiri. Kita bisa mulai memetakan dengan apa yang kita rasakan, mengakui apa yang kita rasakan dan kita alami saat itu, dan berpikir sekiranya apa yang mampu aku lakukan untuk menghadapi ini sebagai langkah konkret untuk mengatasi segala kekhawatiran yang kita miliki. Sehingga ketika kita sudah mengetahui bagaimana cara menanggulanginya, rasa khawatir ini otomatis akan berangsur-angsur menurun. Mungkin itu yang bisa saya sampaikan

8. Pertanyaan:

Nama khabibah, Usia 42, Asal Surabaya. Apakah dalam perjalanan growth mindset ada salah satu aturan yang disepakati di langgar, lalu kita memberi sangsi semisal (tidak diperbolehkan pergi ke acara yang sudah direncanakan beberapa bulan yang lalu) Apakah bisa meninggalkan trauma?

Jawaban:

Hallo bu Khabibah, izin menjawab pertanyaannya ya bu. Untuk growth mindset ini, tidak ada aturan baku untuk melakukannya. Yang terpenting disini adalah bagaimana kita memandang berbagai hal yang kita hadapi dengan terbuka, mau belajar dari proses yang ada, mampu menerima risiko dan kegagalan, terbuka pada masukan /kritikan sebagai ajang untuk membuat diri kita lebih baik lagi. Semoga dapat menjawab ya bu.

 

“Untuk bapak, ibu, mba, mas, akang, teteh semuanya para pejuang PH disini, seperti yang sudah saya tuliskan, mengembangkan growth mindset dapat berkontribusi pada kehidupan yang lebih bermakna karena rentang pengalaman yang dicakup oleh kehidupan seperti itu akan jauh lebih luas” Nikmati proses yang sedang dilalui dan jangan berhenti untuk belajar karena dengan menikmati proses, saya yakin banyak sekali pengalaman yang akan didapatkan guna membuat diri kita lebih berkembang dan lebih baik lagi. Semangat semuanya.” _Rt. Annissa Apsayaari, M.Psi., Psikolog

 

By | 2022-07-11T06:33:40+00:00 July 11th, 2022|Kuliah lewat WhatsApp|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
Open chat