Kuliah WhatsApp 20.09.19 – Tetap Berkarya dalam Keterbatasan

///Kuliah WhatsApp 20.09.19 – Tetap Berkarya dalam Keterbatasan

Kuliah WhatsApp 20.09.19 – Tetap Berkarya dalam Keterbatasan

Kuliah Whatsapp adalah program tanya jawab lewat group di aplikasi Whatsapp antara anggota YHPI dengan dokter/narasumber ahli lainnya untuk topik2 terkait Hipertensi Paru yang diadakan secara rutin dan berkala.

Untuk bergabung dalam group Whatsapp dan mengikuti kuliah berikutnya, silakan hub 085210006799

Untuk membaca materi tanya jawab lainnya yang lebih lengkap, silakan klik LOGIN.

 

KULIAH WHATSAPP (KulWap)

Tetap Berkarya dalam Keterbatasan

Jumat, 20 September 2019 pukul 19.30-21.00 WIB

Narasumber : Vega Annisa Solenta, M.Psi., Psikolog Klinis

Psikolog Pijar Psikologi

Moderator : dr. Novi & Ririe

 

Pembukaan :

Selamat malam senang sekali saya bisa berkesempatan untuk ada di tengah-tengah Anda. Pada saya akan memfasilitasi sesi sharing secara psikologis. Mari sama-sama belajar bersama saya, memahami diri secara psikologis, sehingga Bapak/Ibu dan saya semakin mengerti apa yang dibutuhkan diri untuk meningkatkan kesehatan. Saya menyebut ini sebagai sesi sharing, agar lebih akrab dan santai, sehingga Bapak/Ibu dapat belajar mengungkapkan pikiran dan/atau perasaan yang sedang dialami, baik itu yang bersifat negatif ataupun positif. Saya akan membantu memfasilitasinya. Jika ada hal-hal yang belum mampu saya respon, akan saya catat dan simpan dulu pertanyaannya, dan akan saya respon di kesempatan berikutnya.

 

Pertanyaan & Jawaban Kulwap :

1. Ibu Indri 
Bagaimana tetap berkarya, bila keterbatasannya secara fisik sudah tingkat lanjut/banyak di tempat tidur (bedrest), terima kasih.
Jawaban : 
Mba Vega :
Sebelum menjawab, saya ingin bertanya. Apakah fungsi motoriknya masih dapat berjalan seperti biasa? Seperti tangan
Ibu Indri :
Iya betul, bisa tapi sangat terbatas, banyak pasien hipertensi paru yang misalnya untuk ke toilet sudah kesulitan.
2. Pak Tedja, 70 tahun, Jakarta
Dengan tema tetap berkarya dalam keterbatasan dengan beragam penyakit yang disandang satu di antaranya PH, bagaimana di usia lansia ini masih bisa produktif dan dapat mandiri, apakah kegiatan yang cocok di usia lansia, terimakasih
Jawaban pertanyaan 1 & 2:
Mba Vega :
Jawaban untuk pertanyaan pertama juga dapat coba digunakan untuk pertanyaan kedua.
Saya memahami, bahwa sebagai pasien PH tentu menyimpan beban perasaan dan pikiran yang mungkin tidak bisa dibagi ke banyak orang. Nah disini saya sudah merangkum beberapa aktivitas yang dapat dilakukan untuk meringankan beban perasaan dan pikiran, sekaligus tetap produktif.
Aktivitasnya antara lain : menulis, melukis/menggambar, membuat kerajinan tangan, bernyanyi, berolahraga, dan teater. Untuk beberapa aktivitas monggo disesuaikan dengan kondisi fisiknya.
Beberapa aktivitas tersebut, jika ditekuni dan dilakukan dengan senang hati akan membuka kesempatan bagi Bapak / Ibu untuk berkarya
3. Arum Suci
Saya mau bertanya. Saya baru tau tentang apa itu PH, bagaimana PH dan lain-lain tentang PH, tapi saya tidak asing dengan kata ‘keterbatasan’.
Dengan keterbatasan saya waktu itu, saya sempat sakit hati dengan omongan orang lain yang merendahkan saya karena keterbatasan itu. Lalu saya tunjukan dengan apa yang mereka bilang saya tidak bisa, dan saya tunjukan saya bisa. Tapi, itu mungkin termasuk salah satu yang di dasari dengan dendam.
Apa baik seperti itu?
Jawaban :
Mba Vega :
Memang, mendengarkan respon orang lain tentang keterbatasan diri membuat kita acapkali sakit hati. Perasaan itu termasuk hal yang wajar dan dapat dipahami Mbak. Namanya orang dicubit, pasti rasanya sakit bukan? Tapi saya salut dengan apa yang Mbak lakukan. Bahwa dengan respon negatif orang justru Mbak jadikan sebagai motivasi internal untuk mencapai sesuatu yang tadinya diragukan oleh orang lain. Nah, pencapiaan yang Mbak raih hari ini tidak hanya menjadi bukti untuk orang tersebut, tetapi juga untuk diri Mbak, bahwa Mbak pun mampu, dan hebat
Arum Suci: terimakasih kak jawabannya.
4. Nit, pasien VSD PH.
Saya pasien VSD PH yang mempunyai seorang anak 4 tahun (TK A). Waktu hamil bercita-cita ingin berkarya, punya usaha kerajinan di rumah sambil mengasuh anak. Ternyata PH saya naik setelah melahirkan, sering kelelahan setelah berkegiatan walaupun hanya makan. Tidak bisa seperti ibu lain yang mampu mulitasking. Sampai sekarang cita-cita saya itu sulit terwujud. Yang mau saya tanyakan, bagaimana caranya mengatasi perasaan & pikiran saya supaya tidak menjadi stress atau depresi? Apakah kegiatan usaha tersebut harus ditunda hingga anak saya sudah cukup mandiri? Terima kasih.
Jawaban :
Mba Vega :
Terima kasih sudah berbagi dan mengijinkan kami semua mengetahui sebagian kesulitan Mbak. Saya bisa memahami bagaimana beratnya Mbak menerima kondisi saat ini, yang diluar ekspektasi dan rencana sebelumnya. Memang, proses penerimaan membutuhkan waktu yang tidak sebentara. Namun, saya apresiasi sekali bahwa Mbak tidak pernah mengubur cita-citanya. Mungkin di sela-sela kondisi yang sulit, Mbak rindu sekali dengan produktivitas. Apalagi ketika melihat teman-teman yang lain. Namun, apakah Mbak sudah pernah membuat list priority? Baik untuk jangka waktu pendek ataupun list priority untuk jangka panjang.
Nit: 
Kalau list belum pernah buat, masih mengalir mengikuti kegiatan rutin sehari-hari saja.
Mba Vega :
Baik Bu.. Apakah menemui kesulitan jika coba mulai membuat list? Karena dari list itu, Ibu akan dapat mengetahui dan menentukan mana saja yang dapat dikerjakan saat ini atau nanti dgn tetap melihat kondisi Ibu serta keluarga.
Nit: 
Saya akan coba membuat listnya, tapi biasanya suka kepikiran apalagi kalau melihat produk-produk yang sebenarnya bisa saya buat. Suka gemes, otak jalan terus tapi apadaya fisik kurang mendukung. Takutnya jadi stress. Apakah ini sudah termasuk stress ya?
Mba Vega :
Tidak apa-apa Mbak. Sepertinya besar sekali ya semangat dalam diri Mbak untuk segera berkarya. Ndak apa-apa. Ditampung dulu saja semangatnya. Sembari disiapkan fisiknya pelan-pelan. Karena kadang yang membuat stresor itu makin mengganggu, karena kita terlalu semangat dan menjadi kurang sabar untuk pelan-pelan dan tidak apa-apa jika pelan-pelan.
5. Nurul Hastuti Jakarta 
Sekarang saya sedang merasa ketakutan kalau tidak bisa bekerja lagi atau melakukan banyak hal terutama untuk diri sendiri dan keluarga karena keterbatasan dengan PH. Perasaan seperti itu sangat mengganggu, bagaimana cara mengatasinya Mba? terima kasih.
Jawaban :
Mba Vega :
Terima kasih sudah mau berbagi ketakutannya dengan saya dan kami disini. Tentu Mbak tidaklah sendirian. Dan apa yang Mbak rasakan menjadi hal yang lumrah dari apa yang sedang dialami. Untuk berdamai dengan sakit yang Tuhan berikan, tentu membutuhkan proses ya Mbak. Terkadang saking terganggunya, jadi sulit untuk fokus dan menentukan apa yang harus dilakukan. Nah dalam step ini, saya memahami bahwa mungkin banyak hal yang Mbak pikirkan dan rasakan, seolah menumpuk dan mungkin ruang penyimpanannya sudah hampir penuh. Untuk itu, yuk coba tuangkan beban pikiran dan perasaannya ke sebuah tulisan, jika Mbak lebih nyaman menulis. Biarkan beban-beban itu keluar dari tubuh Mbak, sehingga terasa lebih lega dan ringan. Jika sudah, kondisi “ringan” itu akan sedikit banyak membantu Mbak
Nit: 
Baiklah. Terima kasih banyak Mba Vega
6. Jelita Batam
Saya post operasi vsd asd dan PH, yang sering menjadi pertanyaan suami bagaimana cara menjelaskan ke anak nantinya kalau menanyakan agar secara psikologi dapat menerima dan dapat tetap berkarya. Anak saya berusia 1 tahun 6 bulan.
Jawaban :
Mba Vega :
Masih muda sekali Bu putranya. Hebat sekali perjuangan Bunda, Ayah, dan putranya.. Sudah sejauh ini, pasti putra Bapak/Ibu suatu hari nanti akan merasa begitu berharga ya, melihat bagaimana Bunda dan Ayah begitu luar biasa mempertahankan kesehatan putranya. Ibu dan Bapak seiring berjalannya waktu, maka pertumbuhan anak akan siap untuk menerima penjelasan dari Ayah dan Bunda tentang kondisinya. Disini saya ingin berbagi sedikit yang saya pahami ya Bu. Bahwa ada beberapa tahapan perkembangan psikologis anak yang akan berpengaruh pada bagaimana ia dapat memproses penerimaan terhadap kondisinya. Untuk itu, ada baiknya bagi Bapak dan Ibu untuk juga mencari tahu dan memperhatikan tahapan perkembangan psikologis Ananda, sehingga Bapak dan Ibu dapat menyesuaikan diri jika ingin menjelaskan pada Ananda tentang kondisinya. Beberapa tahapan perkembangan psikologis tersebut dapat Ibu dan Bapak pelajari dari internet dengan keyword: tahapan perkembangan psikologis dari Eric Erikson, atau tahapan perkembangan psikologis dari Piaget.
Jelita Batam : Siap, nanti kita pelajari Mba. terimakasih banyak.
Mba Vega :
Sip, Selamat mencoba Bu. Semangat. Boleh lelah, karena memang melelahkan, sehingga boleh istirahat. Kumpulkan tenaga, keberanian, dan keyakinan, lalu mulai lagi.
7. Cartini Bandung, ASD PH
Saya Tini kondisi ASD PH. Sebelum melahirkan anak yang ke 2 aktivitas saya sebagai pengajar. Setelah dokter memvonis saya ASD PH  aktivitasnya yang biasa dilakukan langsung stop. Awalnya saya sedih dan stress dangan kondisi ini. Karena melihat ibu-ibu yang lain masih bebas beraktivitas. Sekarang juga kadang saya masih belum menerima dengan kondisi sekarang. Yang mau saya tanyakan bagaimana supaya saya bisa ikhlas dan juga beraktivitas seperti biasa dengan kondisi sekarang?
Jawaban :
Mba Vega :
Terima kasih Bu sudah mau berbagi. Ibu tidaklah sendirian. Dengan kesibukan Ibu sebelumnya yang begitu produktif, saya bisa membayangkan betapa shock dan stres nya Ibu dengan banyak perubahan aktivitas yang drastis setelah diagnosis dari dokter. Untuk bertahan hingga hari ini saja, saya yakin Ibu sudah berupaya dengan maksimal. Meski saat ini sulit, tapi Ibu masih begitu hebat sampai hari ini. Memang ikhlas dan penerimaan itu menjadi step yang sulit dan terlihat panjang ya Bu. Apalagi jika ikhlas dan menerima untuk sesuatu hal yang kurang/tidak menyenangkan. Banyak cara untuk membantu diri menerima dan berdamai dengan situasi sulit. Salah satu yang mungkin bisa Ibu coba di rumah adalah menulis. Mari Bu, menuliskan 3 hal positif atau menyenangkan yang Ibu dapatkan setiap harinya. Tuliskan itu pada malam hari sebelum tidur. Jika 3 terlalu sulit, coba tuliskan 1 hal terlebih dahulu. Jika masih terasa sulit, yuk minta bantuan ke anggota keluarga yang lain dengan bertanya. Misalnya bertanya pada anak, “Hari ini kamu seneng tidak Ibu ada di rumah?” atau bertanya pada suami, “Yah, hari ini Ibu bisa tidak merasa sedih, yaaa walaupun cuma 15 menit, heheh, Ibu hebat ya yah?”
Cartini Bandung : 
Terima kasih mba yang baik hati. Alhamdulillah atas saran dari dokter akhirnya saya dipertemukan dengan YHPI yang sama sedang berjuang. Karna tidak sedikit orang-orang banyak yang bilang so manja lah atau apa karna mungkin mereka tidak tahu dan tidak merasakan PH itu apa.
Mba Vega :
Betul Mbak… Alhamdulillah ya sekarang Allah sudah memberi banyak teman yang dapat membersamai proses sulit ini sehingga mungkin sedikit dapat meringankan bebannya. Tetap semangat ya Mbak Tini
8. Asri Agustini, 26 tahun, ASD PH Bandung
Saya ASD PH sejak 2017 lalu. Bekerja lapangan sebagai surveyor dalam bidang finance. Dulu aas seorang pembisnis (trader mini distributor) hanya semenjak kena ASD PH, aas bangkrut dan akhirnya memutuskan untuk kembali bekerja. Sekarang aas punya planing untuk membangun kembali bisnis aas, karena aas sadar penyakit ini bukanlah penghalang untuk tetap berkarya, namun bagaimana caranya agar emosional aas ini terkontrol supaya tidak membahayakan kondisi aas. karena jujur faktor utama PH aas kambuh itu ketika aas banyak pikiran. Jadi bagaimana cara terbaik, step by step yang seperti apa yang harus kami (pengidap PH) lakukan untuk bangkit kembali ?
Jawaban :
Mba Vega :
Wah… hebat sekali motivasi dan rencananya untuk kembali bekerja dan membangun bisnis. Untuk di step ini saja, pasti proses pertimbangannya banyak sekali ya Mbak? Apalagi jika melihat cerita Mbak, bahwa selama ini salah satu pemicu PH kambuh karena banyaknya pikiran. Sebetulnya sangat bisa dipahami. Dan saya mengapresiasi sekali kesadaran Mbak Aas tentang apa saja yang memicu kambuhnya PH. Kesadaran ini sedikit banyak akan membantu Mbak untuk lebih memahami apa yang Mbak butuhkan ketika pikiran sedang penat. Beberapa yang bisa saya rekomendasikan antara lain, menuliskan semua isi pikiran Mbak. Setelah menulis, yuk dilihat lagi, apa dan mana saja yang perlu disaring, dihilangkan, atau dipertahankan. Juga yuk dilihat, apakah penempatannya sudah tepat. Banyak sekali klien yang saya temui, cenderung banyak berpikir, bahkan memproses perasaan di otak (untuk dipikir), bukan dirasakan di hati. Sehingga bisa dibayangkan betapa penuhnya isi otaknya untuk berpikir tentang apa yang perlu dipikir dan apa yang dirasakan. Monggo dicoba dulu Mbak, dan lihat bagaimana respon diri Mbak. Saran ini belum tentu cocok, tapi jika tidak dicoba bagaimana kita tahu hasilnya. Seperti jika kita tidak minum obat, bagaimana kita tahu bahwa obat itu akan membantu/tidak.
Asri Agustini Bandung :
Terimakasih banyak mba, inshaallah step ini akan segera aas lakukan hari ini juga. kalau untuk menulis materi dan teori memang sudah aas lakukan tapi untuk menyaring dan memposisikan nya itu belum aas lakukan. terimakasih banyak mba . ini sangat manfaat . skali lagi terimakasih.
Mba Vega : 
Sama-sama Mbak Aas. Senang sekali berproses dan belajar bersama.. semoga dapat membantu… semangat mbak
9. Chosi, 33 tahun, ASD PH
Saya cosy ASD PH 33 th. Kebetulan saya aktif membuat kerajinan terutama rajutan. Karena kerterbatasan saya, saya mengerjakanya/menerima orderan kadang  mood-mood tan, suka-suka saya, jadi terkesan tidak profesional. Bagaimana saya mengatasi hal tersebut, agar usaha saya bisa konsisten?
Jawaban :
Mba Vega :
Halo Ibu Cosy… Wah nampaknya menyenangkan ya punya keterampilan merajut, karena keterampilan seperti ini bisa membantu kita melepas stres dan rasa jenuh. Mendapatkan orderan pasti mendatangkan kepuasan ya Bu? Tapi gimana jadinya ketika perubahan mood malah mengganggu kinerja? Sebelum memberi jawaban, saya ingin bertanya pada Ibu. Apa saja ya yg selama ini biasa Ibu lakukan jika moodnya sedang turun atau di bawah? Mungkin bisa disimak juga untuk teman-teman yang lain, yang mungkin juga melakukan hal yang sama dengan Ibu.
Chosi: 
Biasanya nonton youtube mbak… drakor/yang lagi lucu-lucu saja di youtube. Kadang malah yang bikin stress saat orderan numpuk tapi mood tidak kunjung oke. Malah dikomplain customer karena kelamaan.
Mba Vega :
Wah caranya Bu Cosy mirip dengan saya, untuk membangkitkan mood. Apakah ibu sudah coba mengkomunikasikan dengan pelanggan tentang kondisi-kondisi yang mungkin Ibu alami saat proses pengerjaan orderan? Oya, disini sekalian saya kenalkan dengan komunikasi asertif (monggo detailnya bisa di googling supaya lebih memahami). Dengan komunikasi asertif, Ibu atau teman-teman yang lain boleh menyampaikan dengan bahasa yang sopan tentang bagaimana kondisi Ibu pada lawan bicara. Misalnya untuk situasi Bu Cosy kepada pelanggan ya : Terima kasih ya Bu sudah ngorder, tapi begini Bu, saya ini sebetulnya sedang menjalani pengobatan untuk PH, nah kadang efek dari “hadiah” ini mbuat mood saya naik turun, tapi saya sebetulnya tetap bisa mengerjakan orderan Ibu, hanya mungkin terkadang akan lewat dari waktu yang dijanjikan jika saya sedang tidak fit, kira-kira apakah ibu keberatan jika menunggu orderannya jadi ?
Chosi : 
Belum mbak… kalau customer yang tau kondisi saya pasti mengerti. Nah yang tidak tau, seperti yang order lewat online kadang kesulitan menerangkanya disitu. Nanti saya coba mbak, terimakasih atas saranya.
10. Pak Tedja 
Dengan keterbatasan yang kita miliki pasti menjadikan hambatan, bagaimana caranya kita membuat orang di sekitar kita untuk mengerti keterbatasan kita, karena secara fisik dan penampilan orang tidak percaya bahwa kita kena PH, terkadang dokter pun ketika kita bilang kena PH hanya bilang ooo entah mengerti atau tidak. Bagaimana menyikapinya mbak?
Jawaban :
Mba Vega :
Seringkali, respon orang lain tampak begitu mengganggu ya Pak. Harus dengan cara apa supaya orang2 ini paham bahwa aku sedang tidak baik2 saja? Terkadang mungkin tanpa sadar kita sudah menghabiskan banyak energi untuk membuktikan bahwa “aku membutuhkan dukungan, bukan respon seadanya”. Padahal, respon orang lain seolah masih sama saja. Lalu apa yang perlu diperbaiki? Yuk Bu, coba cek.. bagaimana cara kita mengkomunikasikan kondisi kita pada orang di sekeliling? Apakah sudah cukup jelas? Ataukah selama ini masih menggunakan kode-kode rahasia dan berharap orang akan memahami tanpa kita menjelaskan terlebih dahulu? Jika sudah menjelaskan, seperti apa dan bagaimana bahasa verbal yang kita gunakan? Monggo yuk, kita sama-sama merefleksi diri. Karena saya sering menemui banyak klien (bahkan terkadang saya sendiri), masih belum cukup mampu berkomunikasi dengan baik pada orang di sekitar.
11. Ibu Indri
Cara mengubah banyak pikiran menjadi dirasakan di hati itu bagaimana ya mba?
Jawaban :
Mba Vega :
Stepnya begini ya Mbak : Mengenal > Memahami > Merubah. Untuk memahami (apapun), mari dimulai dengan mengenal terlebih dulu. Yuk mulai mengenali, apa saja emosi. Emosi itu ada positif (senang, bahagia, semangat, ceria, dan lain-lain) dan negatif (sedih, putus asa, dan lain-lain). Jika sudah mengenali, yuk coba dipahami bagaimana beda perasaan senang, bahagia, sedih, dll. Perubahan perasaan itu juga akan direspon tubuh.
Pernahkah Mbak merasa tubuhnya mendingin (misal di telapak tangan/kaki) jika sedang gugup? Nah yuk dikenali dulu emosinya. Setelah kenal dan paham, baru bisa merubah letak, porsi, dan frekuensi kemunculan emosi itu. Tidak lagi ditaruh semuanya di kepala, tapi di hati untuk dirasakan saja..
Ibu Indri: 
Terima kasih banyak atas pencerahannya mba Vega
12. Nisrina Bandung
Saya nisrina asd ph post aso. Saya mau bertanya bagaimana caranya agar tidak terlihat seperti orang yg sakit, ngos-ngosan tiap sesudah aktivitas, pusing, atau sering kali dada sakit di depan orang lain? Karna jujur saya sangat tidak ingin merepotkan orang lain, apalagi orang tua jika tau saya sedang menahan rasa sakit.
Jawaban :
Mba Vega :
Selamat malam Mbak Nisrina.. baik sekali hatinya, di tengah-tengah sakit masih begitu peduli dan tidak ingin merepotkan orang lain. Mungkin ada situasi-situasi harian yang sering menyebabkan konflik batin ya Mbak, ketika kita sebetulnya butuh bantuan, tapi tidak ingin terus menerus merepotkan orang lain. Tapi saya ingin bertanya, apakah ada cara yang memungkinkan untuk menutupi kondisi diri selamanya? Meski tujuannya baik, tidak ingin merepotkan orang lain. Analogi saya begini… jika saya gemuk, bagaimana saya bisa terus menerus menutupi efek kegemukan ini yang membuat kinerja saya melambat, padahal partner kerja saya selalu membutuhkan kecepatan kinerja saya.. lama-lama apakah saya tidak semakin lelah karena berusaha menutupi kondisi saya? Di sisi lain, orang di sekitar saya juga tidak akan mengerti bahwa saya membutuhkan bantuan.. Untuk itu, mungkin ini menjadi proses Mbak secara personal, untuk mempertimbangkan. Mana yang lebih baik. Karena bagaimanapun, Mbak juga berharga, dan berhak diperlakukan sebaik Mbak memperlakukan orang lain, sehingga yuk ijinkan orang lain membantu Mbak..
Nisrina Bandung : 
Saya menutupi kekurangan saya dengan melakukan aktivitas seperti biasa karna saya dulunya atlet karate dan saya suka balap trail jadi sekarang ini saya mencoba untuk melakuin itu lagi meskipun itu buat saya kecapean dan sesek tapi menurut saya itu cara yang paling tepat agar orang lain tidak melihat saya sakit. Tapi cara ini belum saya coba dengan serius mbak, baru mulai lagi kemarin tapi efek ke sayanya malah drop lagi.
13. Ibu Dyah
Saya dyah pasien PH, kadang-kadang kalau kita menjelaskan ke orang lain dianggap manja, minta dikasihani dengan penyakit ini. Padahal jelas-jelas kita tidak mampu secara fisik dengan tanggung jawab pekerjaan yang diberikan, karena memang rata-rata rekan kerja belum paham tentang PH. Saya sudah pernah menjelaskan ke rekan kerja & atasan tentang sakit saya, jawaban mereka “wong kelihatan sehat gitu kox sakit” dan saya pernah meminta mundur dari salah 1 tugas yang diberikan tapi atasan tidak berkenan saya lepas dari tugas itu… akhirnya saya jadi stres & itu jadi pemicu saya kumat lagi.
Mohon penjelasan mba, harus dengan cara bagaimana menjelaskan ke teman-teman?
Jawaban :
Mba Vega :
Wah, di satu sisi, sepertinya terasa senang ya Mbak bisa dipertahankan oleh atasan dan menandakan bahwa kinerja Mbak memuaskan. Sepertinya untuk membahas bagaimana berkomunikasi asertif, akan kurang ya Mbak waktunya jika dibahas sekarang. Mungkin ini bisa jadi tema untuk kulwhap berikutnya ya? Bagaimana?
Ibu Dyah :  Siap. terima kasih banyak mba.
14. Ibu Dari Dariyanti, ASD PH
Saya yanti penderita ph karna asd. Saya masih aktif bekerja disalah satu rs swasta tetapi saya sering mengalami kendala terutama jika saya sedang diajak berbicara dengan teman atau klien karna suka terdengar seperti orang gugup dan sulit bicara karena terlalu cape. Kadang saya merasa minder dan akhirnya saya lebih banyak diam. Bagaimana cara mengatasi perasaan itu. Terima kasih mba vega.
Jawaban :
Mba Vega :
Selamat malam Mbak Yanti.. terima kasih sudah berbagi… untuk apa yang Mbak alami, step yang perlu dilakukan seperti yang sudah saya sampaikan diatas ya Mbak. Pertama kali, yuk kenali dulu tentang apa yang membuat aku gugup dan minder, sejak kapan aku gugup dan minder berbicara, pada situasi apa aku biasanya akan minder dan gugup, bagaimana atau apa yang aku lakukan ketika gugup dan minder berbicara.
dr Novi : 
Untuk kasus ini berarti harus dikaji dulu penyebabnya ya mba, tetap selalu coba memberitahu sekitar tentang kondisi PH yang ada.
By | 2019-10-14T02:18:07+00:00 September 21st, 2019|Kuliah lewat Telegram|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
WhatsApp chat