Berkenalan dengan Art Therapy untuk Penunjang Kesehatan Mental-KULWAP

///Berkenalan dengan Art Therapy untuk Penunjang Kesehatan Mental-KULWAP

Berkenalan dengan Art Therapy untuk Penunjang Kesehatan Mental-KULWAP

Kuliah Whatsapp adalah program tanya jawab lewat group di aplikasi whatsapp antara anggota YHPI dengan dokter/narasumber ahli lainnya untuk topik-topik terkait Hipertensi Paru yang diadakan secara rutin dan berkala.

Untuk bergabung dalam group whatsapp dan mengikuti kuliah berikutnya, silakan hubungi Admin Pusat YHPI 0811-8986-799

 

PENGUMUMAN KULWAP YHPI

  • Waktu : Senin, 27 Oktober 2025
  • Pukul : 19.00 – 20.00 WIB
  • Narasumber : Khaulah Nabilah, S.Psi., M.A. (Konselor Psikologi Patient Advocate Inspirasien)
  • Tema : Berkenalan dengan Art Therapy untuk Penunjang Kesehatan Mental
  • Moderator : Amida

Untuk melihat materi silahkan KLIK DISINI

Halo semuanya,

Hal pertama yang perlu kita sadari adalah bahwa ketika seseorang berjuang menghadapi sakit, sering kali muncul stigma yang tidak menyenangkan dari lingkungan sekitar. Stigma inilah yang bisa menumbuhkan berbagai emosi negatif — seperti marah, sedih, kesal, atau bahkan rasa bersalah — yang akhirnya memengaruhi kondisi psikologis kita.

Padahal, perasaan-perasaan itu sangat wajar, ya. Namun, pernahkah teman-teman merasakan hal ini: saat mendengarkan lagu, misalnya lagu milik Kunto Aji, entah mengapa hati terasa lebih lega dan tenang? Atau mungkin ketika melakukan kegiatan seni seperti menggambar, mewarnai, atau membuat kerajinan tangan, suasana hati tiba-tiba menjadi lebih baik?

Nah, hal-hal sederhana seperti itu sebenarnya bisa menjadi art therapy atau terapi seni — dan itu yang akan kita bahas bersama hari ini.

Sebelum masuk ke sana, sedikit pengingat dulu:

Sehat mental bukan berarti hidup tanpa masalah, tetapi tentang bagaimana kita tetap berdaya, menyadari kemampuan diri, dan mampu memberi makna serta kontribusi di lingkungan kita.

Dalam kulwap kali ini, saya akan berbagi tentang cara-cara mencurahkan emosi negatif melalui seni, yang bisa dilakukan secara mandiri di rumah. Silakan juga disimak video berikut ini, ya

1. Pertanyaan:

Nama: Hanim, Usia: 48 thn, Domisili: Solo. saya belum paham maksut “Art Therapy” tapi yang saya lakukan selama ini…disamping olga jalan sehat…saya sering melakukan hobi baik menjait,membuat sabun herbal,menyulam,dan saya lakukan dengan senang hati…apakah ini bagian dari Art Therapy tersebut? Dampak yang saya rasakan baik..nyaman kelola emosi baik dan bisa menghasilkan cuan juga…

Jawaban:

Halo Kak Hanim, wah hebat sekali, Kak! 😍 Apa yang Kakak lakukan itu luar biasa dan sebenarnya sudah termasuk bentuk dari art therapy atau terapi seni.

Art therapy sendiri adalah salah satu teknik terapi yang membantu kita mengekspresikan emosi dan perasaan melalui kegiatan seni. Bentuknya tidak harus menggambar atau melukis saja, tapi juga bisa melalui kegiatan seperti yang Kakak lakukan — menjahit, membuat sabun herbal, atau menyulam. Semua itu termasuk ke dalam bentuk seni visual dan keterampilan tangan, yang sangat baik untuk membantu menenangkan pikiran serta menyalurkan energi dan emosi secara positif.

Hal yang paling penting dari terapi seni adalah perasaan yang muncul saat kita melakukannya. Kalau Kakak merasa nyaman, lebih tenang, dan emosi terasa lebih seimbang, berarti kegiatan itu sudah berfungsi sebagai terapi bagi diri Kakak sendiri. Ditambah lagi kalau bisa menghasilkan cuan juga, itu bonus yang menyenangkan ya, Kak

Kalau suatu saat nanti mulai merasa jenuh, itu juga wajar. Kakak bisa coba mengeksplor bentuk seni lain untuk variasi — misalnya merangkai bunga kering, membuat lilin aroma terapi, atau sekadar menggambar bebas untuk melepas penat.

Semoga kegiatan seni Kakak terus membawa rasa tenang, semangat, dan kebahagiaan ya 🌸 Semoga ini bisa membantu ya, Kak

Hanim:

Alhamdulillah….ternyata tanpa saya sadari yang saya lakukan termasuk art healing juga ya kak..

Betul kak Nabil saya merasa nyaman dan diri ini merasa punya nilai lebih klo bisa berkarya …dan otomatis stigma² negatif itu terhapus dengan pencapaian karya kita kak…

Terima kasih kak Nabil atas supportnya ya

Psikolog:

Sip 😁 pertahankan ya Kak dan terus dilakukan untuk mengexplore diri dan apa yang dirasakan. Sekali lagi, terima kasih sudah sharing ya kak

2. Pertanyaan:

Nama: Ratri, Usia: 43 th, Domisili: Jogja. (Post op. ASD PH with ASD creation)

Saya dulu bahkan dari kecil sangat senang dengan seni, saya senang menari, menyanyi, dan mewarnai. Apalagi, saya sebagai guru SD yang juga mengajar seni, saya juga mengajarkannya. Namun semenjak saya drop lalu terdiagnosa ASD PH, saya seperti kehilangan gairah untuk seni. Saya merasa sudah tidak mampu lagi, apalagi untuk menari. Saya sebenarnya ingin menjadikan seni sebagai terapi.

  1. Bagaimana cara saya untuk bisa memotivasi diri agar bisa menjadikan seni sebagai terapi dan apa seni yang cocok untuk saya jadikan sebagai terapi?
  2. Kapan waktu yang tepat untuk melakukan art terapy?

Terimakasih.

Jawaban:

Halo Kak Ratri, terima kasih sudah berbagi ya

Perjalanan Kakak luar biasa setelah melalui proses yang panjang dan penuh perjuangan. Penurunan minat terhadap seni yang Kakak rasakan adalah hal yang sangat wajar, apalagi setelah mengalami kondisi kesehatan yang cukup berat.

Hal baiknya, Kak Ratri masih menyadari adanya keinginan untuk kembali menekuni seni — itu artinya Kakak sudah memiliki niat untuk pulih dan bangkit perlahan. Sekarang kita bisa mulai dari kesiapan fisiknya, ya Kak 🌿

Coba mulai dengan hal-hal sederhana, tanpa perlu langsung membebani tubuh. Misalnya, mendengarkan lagu yang membuat Kakak merasa senang atau lega — lagu yang mungkin terasa seperti “soundtrack kehidupan” Kakak. Menari juga boleh, meski belum bisa seperti dulu. Gerakan ringan sambil duduk atau berbaring pun sudah bisa membantu tubuh melepaskan emosi negatif.

Kalau Kakak punya waktu lebih, bisa juga mencoba menulis bait-bait puisi dengan komposisi sederhana:

– Tuliskan keresahan atau perasaan yang sedang dirasakan.

– Tuliskan kemampuan atau usaha yang Kakak lakukan selama ini.

– Lalu, maknai kembali perasaan yang muncul saat menulis.

 

Kadang, kita lupa memberi jeda untuk diri sendiri karena sibuk dan banyak kekhawatiran. Nah, seni bisa jadi momen pause yang lembut untuk kembali terhubung dengan diri.

Kak Ratri bisa memulainya kapan saja — yang penting, lakukan saat tubuh dan hati terasa siap. Tidak perlu terburu-buru. Cukup luangkan waktu 15–20 menit untuk memberi ruang bagi diri sendiri, menikmati momen tenang, dan kembali mengingat seni di dalam diri. Semoga ini bisa membantu ya, Kak

3. Pertanyaan:

Nama = handayani, Usia = 45 thn, Domisili = solo. Saya jg belum faham ART.yang saya tanyakan terapi ap yang cocok buat penderita asd ph tinggi seperti saya. terima kasih

Jawaban:

Halo Kak Handayani, tidak apa-apa ya Kak

Untuk melakukan art therapy atau terapi seni, tidak harus mengerti seni kok. Bentuk sederhana dari terapi seni sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, saat kita mendengarkan lagu yang sesuai dengan perasaan kita, lalu tanpa sadar ikut bernyanyi dan setelahnya terasa lebih lega — nah, itu sudah termasuk proses art therapy! Karena di situ ada pelepasan emosi yang sebelumnya terpendam.

Sebagai pejuang ASD PH tinggi, Kak Handayani bisa mulai dari bentuk seni yang paling lembut dan aman dilakukan, yaitu seni visual.

Misalnya:

Mewarnai, menggunakan pensil warna, krayon, atau cat air.

Kalau ingin lebih ekspresif, Kakak bisa mencoba melukis dengan jari atau tangan tanpa kuas, supaya lebih terasa terhubung dengan emosi yang sedang muncul. Tidak perlu memikirkan hasilnya akan bagus atau tidak, ya Kak 🌿

Yang penting adalah bagaimana proses mewarnai atau menggambar itu bisa membantu Kakak menyalurkan perasaan, menenangkan pikiran, dan melepaskan emosi negatif yang mungkin selama ini terpendam.

Kakak juga boleh memberi makna pada warna atau bentuk yang muncul di gambar. Misalnya, warna biru mungkin terasa menenangkan, atau warna merah bisa menggambarkan semangat dan keberanian Kakak hari ini.

Ingat, art therapy bukan tentang hasil karya, tapi tentang proses mengenali dan mengekspresikan diri dengan cara yang nyaman dan aman. 🌷 Semoga ini bisa membantu ya, Kak

4. Pertanyaan:

Nama:  Miftahul , Usia: 4thn 7bl, Domisili: Buton tengah Sulawesi tenggara . PDA closure, ASD closure, VSD closure, evaluasi PS, dok anak sayaa kemarin kan habis operasi jantung, anak saya kan sudah di pindahkan dari ICU ke PIW ( pediatric intermediate ward), tapi saya tidak mau menemani karna takut nanti menangis tidak mau lepas dengan saya, sementara masih ada alat yang di pasang takutnya minta gendong, jadi kan pas lewat itu saya sembunyikan dia, di balik pintu, padahal anak saya lihat saya di pantulan kaca, itu kesadarannya ful karena sempat bilang sama perawat katanya itu mama,tapi tidak saya muncul takut nangis, baru anak saya itu ke mana” selalu ikut.

Besok paginya saya di hubungi kalau anak saya sempat kejang 2 menit,mau di ct scan,ke betulan lagi tidur saya hampiri dan susternya izinkan untuk nengok,anak sayaa tidur sambil bilang,mama,mama mama,itu berulang sambil gerak” kan kakinya saya usap” sambil bisik” dia untuk penguat,jadi apakah tindakan ku yang sembunyi tadi bisa bikin dia stres dok, atau bikin mental nya down cuman dari hasil CT scan ada pendarahan di otak

Jawaban:

Halo Kak Mifta, terima kasih banyak sudah bercerita ya, Kak. Semoga kondisi anaknya semakin membaik dan segera pulih, ya.

Dari cerita Kakak, saya sangat memahami kecemasan yang Kakak rasakan sebagai seorang ibu. Saya bisa merasakan bagaimana Kakak tidak ingin membuat anak khawatir melihat rasa sedih yang sedang Kakak alami, dan mungkin belum siap kalau anak tiba-tiba bertanya, “Mama kenapa menangis?”

Rasa bersalah setelah kejadian itu pun sangat wajar, Kak.

Untuk saat ini, yang bisa saya sarankan adalah tetap hadir di sisi anak agar ia merasa nyaman dan aman. Memang benar, anak biasanya akan lebih rewel kalau bersama ibunya — tapi di saat yang sama, ia tahu bahwa dirinya berada di tempat yang aman dan disayangi. Kehadiran Kakak, bahkan dalam bentuk sentuhan atau suara lembut saja, bisa sangat membantu proses pemulihannya.

Yang paling penting, jangan menyalahkan diri sendiri, ya Kak. Apa yang Kakak lakukan saat itu adalah bentuk kasih sayang dan upaya terbaik dalam situasi yang sulit.

Kalau Kakak merasa cemas, tidak apa-apa kok menangis. Menangis bukan tanda lemah, justru tanda bahwa hati sedang berusaha melepaskan beban. Dan bila suatu saat tanpa sengaja menangis di depan anak, juga tidak apa-apa. Kakak bisa katakan dengan lembut, “Mama merasa khawatir, tapi kalau Adek kuat, Mama juga akan kuat.”

Kata-kata sederhana seperti itu bisa menjadi kekuatan, baik untuk anak maupun untuk Kakak sendiri 💗

Semoga ini bisa membantu ya, Kak

 

 

“Semoga teman-teman bisa lebih berani mengekspresikan diri dan menjadikan seni sebagai ruang aman untuk berproses dan berdaya. Ingatlah, seperti kata Ben Franklin, “Hidup bukanlah tentang menemukan diri kita. Hidup adalah tentang menciptakan diri kita sendiri.” Terima kasih sudah mengikuti sesi ini, semoga bermanfaat dan memberi semangat baru untuk terus mengeksplor diri 🌷

Semisal merasa ingin membutuhkan bantuan bisa menghubungi atau mencari ahli terdekat. Bisa dengan konselor psikologi, Psikolog, ataupun psikiater. Bisa menghubungi Inspirasien jika membutuhkan layanan untuk pendampingan. Kita bermakna dan tetap tenang jadi pasien 😁 Terima kasih atas kesempatan hari ini.”_ Khaulah Nabilah, S.Psi., M.A.

 

 

By | 2025-12-12T00:28:50+00:00 December 10th, 2025|Kuliah lewat WhatsApp|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
Open chat