Kehamilan pada Pasien Hipertensi Paru-KULWAP

///Kehamilan pada Pasien Hipertensi Paru-KULWAP

Kehamilan pada Pasien Hipertensi Paru-KULWAP

Kuliah Whatsapp adalah program tanya jawab lewat group di aplikasi whatsapp antara anggota YHPI dengan dokter/narasumber ahli lainnya untuk topik-topik terkait Hipertensi Paru yang diadakan secara rutin dan berkala.

Untuk bergabung dalam group whatsapp dan mengikuti kuliah berikutnya, silakan hubungi Admin Pusat YHPI 0811-8986-799

 

PENGUMUMAN KULWAP YHPI

  • Waktu : Sabtu, 11 Oktober 2025
  • Pukul : 19.00 – 20.00 WIB
  • Narasumber : dr. Triwedya Indra Dewi, Sp.JP., KIC
  • Tema : Kehamilan pada Pasien Hipertensi Paru
  • Moderator : Amida

 

Kehamilan umumnya tidak disarankan untuk individu dengan hipertensi paru (PH) karena dapat meningkatkan risiko kematian ibu dan janin. Wanita dengan PH yang hamil harus segera menerima perawatan khusus yang dilakukan multidisiplin di RS dengan dokter ahli PH.

Tatalaksana kehamilan pada PH ditujukan untuk mengoptimalkan terapi yang ada, menghindari obat-obatan tertentu, dan membuat rencana persalinan yang cermat.

Kehamilan menyebabkan beberapa kondisi seperti peningkatan volume darah dan curah jantung, meningkatkan beban pada ventrikel kanan dan memperburuk gejala PH

  • Kematian ibu:  Risiko kematian untuk individu hamil dengan PH tinggi, meskipun perawatan modern memiliki hasil yang lebih baik.
  • Komplikasi janin:  Risiko gagal jantung kanan lebih tinggi dan dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur dan dampak lainnya pada janin.
  • Tatalaksana jika kehamilan terjadi : Semua individu dengan PH harus berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan dan spesialis untuk konseling keluarga berencana dan kontrasepsi yang komprehensif untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.
  • Perawatan multidisiplin : Jika kehamilan terjadi, tim ahli jantung, ahli paru, dan dokter kandungan sangat penting untuk mengelola perawatan kompleks yang diperlukan.
  • Penyesuaian pengobatan : Beberapa obat yang digunakan untuk mengobati PH, seperti antagonis reseptor endotelin, harus dihentikan, sementara yang lain, seperti prostacyclin, dapat digunakan.
  • Perencanaan persalinan :  Waktu dan mode persalinan (kelahiran alami vs. caesar) dikelola dengan hati-hati untuk meminimalkan risiko dan dipantau ketat di ruang intensif
  • Pemantauan ketat :  Pemantauan intensif diperlukan, terutama selama persalinan dan beberapa minggu pertama pascapersalinan

 

 1. Pertanyaan:

Nama: Adilla, Usia : 25 Th, Domisili : Bandung, Diagnosa : ph vsd. Dok izin bercerita sedikit, belum lama ini saya sempat hamil dan melahirkan, ketika hamil belum mengetahui ternyata saya memiliki kebocoran jantung, diawal kehamilan setiap bulan dicek rutin dan pemeriksaan laboratorium juga hasilnya bagus dan tidak ada keluhan hanya saja pada saat kontrol dicek saturasi selalu mentok di 89, lalu saat di trimester 3 tepat nya di usia kandungan 34 minggu baru terasa sesak, kaki mulai bengkak, dan dada sering terasa panas sehingga sering sekali saya muntah.

Lalu pada saat itu saya kontrol rutin ke rs bandung kiwari, ternyata saya terindikasi preeklamsia, dan langsung disarankan untuk rawat inap yang akhirnya setelah pemriksaan lebih lanjut akhirnya dirujuk ke RSHS, singkat cerita setelah tindakan di RSHS bayi saya lahir dan dinyatakan sehat sementara saya masih di gicu, setelah mendapatkan perawatan kondisi saya semakin hari semakin membaik tetapi berbanding terbalik dengan bayi saya yang qadarullah  11 hari setelah lahir tepatnya di hari raya idul fitri kemarin anak pertama saya meninggal  di ruangan nicu karena tiap harinya terjadi perburukan, seperti lupa nafas, keluar cairan hitam dari mulut dan ada indikasi kebocoran jantung juga.

Saya mau izin bertanya dok, dengan kondisi saya seperti ini apakah memungkinkan untuk hamil kembali? dan apabila memungkinkan untuk hamil lagi apakah ada kemungkinan akan terjadi seperti kehamilan sebelumnya? lalu apakah penyebab preeklamsia itu karena kebocoran jantung saya?  terimakasih dok

Jawaban:

untuk ibu adilla dengan VSD dan PH ya dan saturasi 89. maka kondisi ibu memang tentu bisa mempengaruhi bayi salah satunya adalah kehamilan prematur dan berat badan lahir rendah.

sebaiknya memang dikonsultasikan dahulu dengan dokter jantung ahli PH atau penyakit jantung bawaan apakah VSD nya bisa ditutup dan dilakukan penilaian PH nya sesudah ditutup. Proses kehamilan pada pasien dengan kelainan bawaan yang tidak ditutup dapat memiliki risiko masalah jantung yang sangat tinggi (>50%). sehingga pertimbangan kehamilan perlu didiskusikan. Kelainannya harus diperbaiki dulu sebelum ibu merencanakan kehamilan

skrining untuk janin saat ini juga dapat dilakukan oleh dokter obgyn fetomaternal agar dapat diantisipasi lebih awal saat kehaliran. Preeklamsia sendiri tidak disebabkan karena kebocoran jantung ibu

2. Pertanyaan:

Nama: Tifani, Usia: 31 Th, Domisili: Tegal, Diagnosa: Ebstein, asd & ph.

Ijin bertanya ya dok

  1. Apakah janin dalam kandungan sudah bisa terdeteksi adanya kelaian jantung ?
  2. Apakah ibu dengan kelainan jantung mempengaruhi bb janin dalam kandungan & hpl nya ?

Jawaban:

ibu Tifani, ya janin dalam kandungan sudah dapat dideteksi kelainan jantung sejak usia 18-22 minggu

Risiko BBLR pada anak dapat meningkat pada pasien dengan kadar saturasi yang rendah (<90%) disertai dengan kebiruan pada ibu saat hamil, kondisi gagal jantung saat hamil, obat-obatan, kelainan katup pada ibu, dll

BBLR= Berat badan lahir rendahtermasuk risiko kelahiran premature. skrining ini dilakukan oleh dr jantung dengan keahlian PJB dan dr obgyn fetomaternal biasanya

3. Pertanyaan:

Nama: Lina, Usia: 35th, Domisili: Tangsel, Diagnosa: post ASD Closure PFO creation 0.4mm. Dok saya sudah ditutup jantung bocornya bulan juli kemarin, ph masih di angka 22. Apakah saya masih boleh hamil dok? Karena anak pertama saya meninggal. Jadi sampai saat ini belum ada anak lg karena terdeteksi jantung bocor. Saat kontrol kemarin dokter jantung bilang boleh hamil saat sudah lepas obat smuanya. Sedangkan usia makin bertambah. Belum tahu kapan akan bisa lepas obat. Mohon pencerahannya dok. Saya ingin hamil tapi khawatir kondisi drop seperti kehamilan pertama saya yang preklamsia.

Jawaban:

Ibu Lina post ASD closure dengan pfo creation ya.. jadi kelihatannya saat ditutup ASD nya PH nya sudah cukup tinggi tapi masih bisa ditutup dengan celah yang ditinggalkan. Biasanya memang harapannya tekanan paru akan menurun sesudah dilakukan penutupan. Beberapa obat ph dapat diberikan dengan cukup aman saat kehamilan seperti sildenafil.

Ibu boleh diskusikan kembali dengan dokter ibu apakah dengan PH 22 ibu sudah dapat hamil kembali, mengingat tentu yang mengetahui kondisi ibu adalah dokter yang menangani ibu. Tentu preeklamsia menjadi kehati-hatian karena menjadi penyulit kehamilan, boleh dikonsultasikan juga dengan ahli fetomaternal mengenai pemantauan saat kehamila lebih awal, kadang dapat diberikan aspirin untuk perbaikan kualitasi plasenta

4. Pertanyaan:

Nama: Isnaini, Usia: 27 thn, Domisili: Pasuruan, Diagnosa: PH Primer. Apakah kehamilan dapat menjadi salah satu penyebab PH itu sendiri dok. Mengingat PH saya baru didiagnosa setelah melahirkan. Lalu jika pasien PH belum boleh melakukan program hamil, apa KB yang paling baik untuk pasien PH dok, implan atau IUD?

Jawaban:

PH primer tidak disebabkan oleh kehamilan, banyak faktor penyebabnya, kehamilan tergantung pada derajat PH, derajat ringan dapat hamil dengan pemantauan. KB untuk pasien PH dipertimbangkan yang tidak mengantung estrogen, bisa IUD/implant. Pasien PH memiliki risiko penggumpalan darah lebih tinggi sehingga dihindari KB mengandung hormon estrogen

5. Pertanyaan:

Nama : Sani, Usia : 26tahun, Domisili : Garut, Diagnosa : post ASD PH PFO creation. dok, saya sudah operasi Juli 2024 ,dan saya sekarang sedang hamil 34minggu,persalinan apa yang resiko nya paling kecil apakah normal atau sc? soalnya kemarin kata dokter jantung boleh normal ataupun sc, kalo kata dokter obgyn juga sama boleh normal atau sc karena tidak ada indikasi untuk sc. Terimakasih dok.

Jawaban:

Apabila ibu tidak ada gejala berkaitan dengan ASD nya seperti sesak/penurunan saturasi maka ibu dapat melahirkan secara normal. rekomendasi panduan melahirkan secara normal dengan obat nyeri saat persalinan (epidural). Indikasi SC biasanya apabila ada indikasi dari obsgyn. kelebihan persalinan pervaginam adalah risiko perdarahan yang kecil

6. Pertanyaan:

Nama: Singgih, usia : 40, domisili: pacitan, diagnosa: pos ASD post operasi . dok saya itu selalu mengawatirkan anak saya, saya takut kl asd menurun ke anak saya apakah asd itu selalu identik dengan penyakit keturunan, sebaiknya apakah anak saya harus segera skrining anak saya, yang saya takutkan itu kalo hasilnya positif.

Jawaban:

Penyebab Penyakit jantung bawaan (PJB) bersifat multifaktorial, dan salah satunya disebabkan karena faktor genetik dan lingkungan.  Variasi genetik berkontribusi pada perkiraan 40% kasus PJB, faktor lingkungan berkontribusi pada perkiraan 5%, dan 55% sisanya dari kasus PJB tidak diketahui penyebabnya.

30% anak-anak dengan kelainan kromosom (Dengan Sindroma tertentu) akan menderita PJB tetapi sebagian besar individu dengan PJB tidak memiliki cacat genetic.

Apabila ada kekhawatiran ibu adanya masalah ASD juga pada anak sebaiknya dikonsultasikan dengan dr anak (lebih baik lagi dokter jantung anak) agar dapat diskrining lebih awal dan dilakukan tatalaksana segera (atau pada beberapa kasus ada yang dapat ditunggu dulu tanpa harus dilakukan intervensi apa-apa kedepannya karena bisa menutup sendiri). Ibu boleh khawatir tapi kita juga harus pertimbangkan masa depan anak kita..yang terbaik untuk mereka ya..

7. Pertanyaan:

Nama: delima, Usia: 34, Domisili:Cirebon, Diagnosa:ASD+PH. dok, saya sudah kateterisasi penutupan pada September lalu, apakah boleh saya untuk hamil lagi? Saya sudah punya anak 1 dan pada saat kehamilan pertama saya belum tau kalau saya ada kelainan jantung dan PH. Selama hamil juga tidak ada keluhan yang berlebih.

Saya lahiran secara SC dan anak saya lahir BBLR dengan bb 1,9.indikasi pertama kata dokter prematur tapi setelah lahir dokter bilang anak saya cukup umur tapi BB nya rendah.

Kira2 kalau saya hamil lagi apakah masih bisa dok? Dan apakah kemungkinan anak ke dua juga akan lahir BBLR?

Jawaban:

Kehamilan setelah penutupan dengan alat umumnya dapat ditoleransi dengan baik, tetapi tetap membutuhkan diskusi dengan dokter ahli karena tetap ada potensi risiko, terutama apabila terdapat hipertensi paru yang mendasarinya. Kehamilan itu sendiri membebani jantung, dan keberadaan alat  harus dipantau untuk komplikasi apa pun seperti infeksi, alat yang migrasi, atau aritmia.

Risiko BBLR pada anak dapat meningkat pada pasien dengan kadar saturasi yang rendah (<90%) disertai dengan kebiruan pada ibu saat hamil, kondisi gagal jantung saat hamil, obat-obatan, kelainan katup pada ibu, dll

Untuk perencanaan kehamilan sebaiknya didiskusikan kembali dengan dokter jantung ibu, salah satunya risiko masih adanya PH berat atau tidak dan akan dinilai stratifikasi risiko kelainan ibu.

Insayaa Allah apabila sudah ditutup akan dapat mentoleransi kehamila tetapi tetap diskusikan dengan dokter ibu sebelum hamil.

8. Pertanyaan:

Nama: Ririn, Usia: 34 tahun, Domisili: Jepara, Diagnosa: ASD + PH. sebelum terdiagnosa ASD+PH saya hamil dan melahirkan normal. Setelah itu memutuskan untuk suntik KB selama 3 tahun. Selama suntik KB karena tidak menstruasi gejala mulai muncul awalnya batuk pilek tiada henti akhirnya timbul sesak nafas. Setelah berhenti suntik KB akhirnya drop dan dicek di RS didiagnosa ASD+PH.

  1. Apakah ASD+PH itu muncul akibat suntik KB atau bawaan lahir dok?, mengingat kondisi saya sebelumnya baik-baik saja dan bisa lahiran normal.
  2. Dengan melihat tumbuh kembangnya yang sangat bagus dan anaknya juga tinggi+gemuk. Apakah ada kemungkinan anak saya juga mengidap penyakit jantung?

Jawaban:

ibu Ririn, ASD tidak disebabkan karena suntik KB. ASD merupakan salah satu PJB yang banyak ditemukan, dan kadang-kadang terdeteksi tidak disengaja saat diperiksa ke dokter/ saat medical cek up/ baru timbul gejala saat kehamilan. PH akan terjadi karena aliran darah yang berlebihan secara terus menerus (sejak lahir) hingga terdiagnosis sehingga terjadi perubahan struktur pembuluh darah paru-paru.

Untuk anak ibu belum tentu memiliki ASD juga, karena ASD tidak pasti diturunkan, tetapi memang lebih baik untuk diperiksakan, karena kadang ASD tidak ada gejala.

9. Pertanyaan:

Nama : Dinah, Usia : 30, Domisili : Jakarta, Diagnosa : Asd bawaan lahir + ph. maaf dok sebelumnya saya mempunyai 3 anak, dan pass kehamilan ke1 dan ke 2 bb saya normal dan naik terus, pass anak ke 3 bb saya menurun dan anak ke 3 saya BBLR tapi cukup bulan dan saya melahirkan ke 3 nya dengan normal dok, pass anak ke 3 saya, saya baru tau terdiagnosa penyakit ini apakah anak 1 sampai ke 3 bisa terkena penyakit seperti ibu nya? Maksudnya keturunan? Dan saya 1tahun kb IUD tapi saya merasa sakit di daerah pinggul saya dan saya tidk mens sampai sekarang apakah pengaruh dengan saya pake kb Iud? Dan sekrang saya lepas kb nya karna menurut saya badan saya suka meriang ternyata pas saya lepas badan saya fit dok..

Jawaban:

Kehamilan merubah fisiologis normal ibu, terjadi terutama saat usia kehamilan masuk trimester kedua (>14 minggu kehamilan) terjadi peningkatan volume darah secara bermakna hingga 50%, penurunan tekanan pembuluh darah, peningkatan laju nadi yang akan menyebabkan keluhan pada ibu hamil. Kondisi ini mencapai puncaknya pada saat proses persalinan, dan akan kembali normal lagi sampai 6 minggu pasca melahirkan.

Kondisi ibu mungkin di saat kehamilan anak 1 dan 2 jantung mungkin belum terlalu banyak perubahan strukturnya sehingga masih dapat mentoleransi kehamilan dengan baik, tetapi seiring dengan kondisi ASD yang belum diperbaiki dan perubahan struktur paru maka peningkatan hipertensi paru juga semakin bertambah dan kemudian menimbulkan gejala saat kehamilan ketiga.

Pilihan KB dapat dipilih berdasarkan kelainan bawaan yang diderita terutama risiko mengalami gumpalan darah. Utamanya dipilih yang patensinya tinggi seperti KB steril baik pada suami/ibu, KB hormonal dengan kandungan progesterone (dapat berupa impan/iud/pil). Untuk risiko anak sudah dijelaskan dari pertanyaan sebelumnya. Terimakasih

10. Pertanyaan:

Nama : Dipta, Usia : 30 tahun, Domisili : Jakarta, Diagnosa : ASD + PH.  Apakah betul, orang yang punya ASD dan sudah mempunyai PH yang cukup tinggi, ketika akan dilakukan tindakan kateterisasi atau operasi bedah jantung terbuka untuk penutupan, penutupannya itu tidak full seal? Dalam artian maksud saya itu, tetap akan dibuatkan celah kurang dari 5mm?

Kalau iya seperti itu, kira2 mengapa tidak ditutup completely saja, karena goalnya sebenarnya bagi penderita ASD itu, untuk meminum obat2 penurun pH dulu, agar ketika sudah mencapai parameter yang sesuai standar untuk tindakan lebih lanjut, bisa ditutup, dan bisa lepas dari minum obat rutin penurun PH. Karena saya melihat, banyak anggota digrup ini, sudah dilakukan tindakan penutupan ASDnya tapi entah kenapa masih rutin minum obat PHnya.

Terimakasih dok, mohon pencerahannya.

Jawaban:

Pada pasien ASD dengan PH yang masih dapat ditutup tergantung dari kondisi tekanan paru-paru saat dilakukan kateterisasi. Pada yang PH nya cukup tinggi maka kadang akan disisakan celah kecil (fenestrated) dengan maksud agar jantung kanan tidak menjadi tiba-tiba bengkak saat ditutup. Biasanya dokter kemudian akan menilai kembali tekanan paru dengan penyadapan jantung kanan

Apabila dapat turun mendekati normal, maka sisa bolongan yang kecil dapat ditutup dengan alat/ dapat dibiarkan saja karena memang ukurannya kecil dan tidak akan menyebabkan terjadinya PH yang lebih berat. Biasanya masih minum obat-obat PH karena penurunan tekanan paru tidak bisa segera (mengingat proses terjadinya karena perubahan struktur pembuluh paru-paru) jadi butuh waktu untuk bisa kembali turun.

11. Pertanyaan:

Nama: Angel, Usia: 24 th, Domisili: Semarang, Diagnosa: ASD PH post closure. Dok,saya sudah closure open heart bulan desember tahun lalu dan sudah stop obat jantung. Anak saya baru 1 dok,rencana mau punya anak 1 lagi, riwayat seperti saya apakah masih di perkenankan hamil lagi ya dok? Terimakasih

Jawaban:

Pada pasien yang sudah ditutup ASD nya dan tidak ada residual maka risiko kehamilan menjadi lebih rendah. Beberapa pertimbangan berkaitan dengan kehamilan Adalah apakah adanya residual PH sesudah ditutup, apakah ada obat2an yang diminum.

Sekali lagi diskusikan dengan dokter ibu, harapannya memang pada mereka yang sudah diperbaiki kelainan jantungnya maka lebih aman untuk menjalani proses kehamilan dibandingkan mereka yang belum diperbaiki kelainannya. Tetapi untuk keamanan sebaiknya tetap diskusikan dengan dokter jantung ibu agar kehamilan ibu dapat dijalani dengan tenang tanpa kekhawatiran terjadi masalah saat hamil dan melahirkan.

12. Pertanyaan:

Nama: Sri widianti, Usia: 22 tahun, Domisili: lubuklinggau, Diagnosa: PH PDA

Pertanyaan:

  1. apakah bener dok pasien yang mengalami penyakit jantung bawaan lahir PDA seperti saya tidak diperbolehkan hamil/ tidak bisa hamil?
  2. apakah saya harus melalukan operasi dulu untuk diperbolehkan hamil?

Jawaban:

pada pasien yang masih memiliki defek jantung maka sebaiknya diperbaiki dulu kelainannya, mengingat adanya perubahan hemodinamik yang terjadi saat ibu hamil terutama saat masuk trimester kedua hingga persalinan. Kondisi ini dapat mempengaruhi tidak hanya untuk ibu, tetapi juga janin yang dikandung seperti risiko abortus, risiko berat badan kecil, kelahiran premature.

PDA dapat dilakukan penutupan dengan alat/ secara bedah tergantung dari ukuran dan tentu saja tekanan paru/PH. Sayatan oprasi pada PDA kecil tidak seperti oprasi jantung lainnya. Diskusikan dengan dokter jantung ibu, dan sebaiknya segera ditutup karena PDA biasanya cepat membuat peningkatan tekanan paru sebelum terlambat.

Sri Widianti:

Bagaimana jika tidak bisa operasi dok? apakah tetap boleh hamil?

Jawaban:

indikasi oprasi biasanya apabila tekanan paru rendah atau jika tinggi dia masih membaik sesudah ditest oksigen.

apabila tetap tinggi atau aliran darah sudah dari kanan ke kiri maka biasanya dokter akan memberikan obat penurun tekanan paru seperti sildenafil dan akan dievaluasi kembali. Sebaiknya tetap diskusikan dengan dokter apakan masih bisa ditutup atau tidak. kehamilan tidak disarankan pada eisenmenger atau PH yang berat karena risiko kematian ibu sangat tinggi

13. Pertanyaan:

Nama : yulia, Usia : 27 tahun, Domisili : tasikmalaya, Diagnosa : ASD + PH. saya udah menikah berjalan 2,5 tahun saya,saya berobat lagi setelah menikah ke RSHS setelah dokter menyarankan segala macam di cek dan dinyatakan ASD PH ,kurang lebih selama 2 tahun cek bandung tasik pakai motor, baru kemrin juli di Kateterisasi jantung PH nya 6 dan di suruh berobat 1 tahun. Aku kira bakal selesai dan bisa di tutup dan sembuh ternyata harus panjang lagi.

Dok banyak tekanan atau bahan bincang tentang kehamilan dari keluarga dan tetangga. Saya setelah menikah langsung kb IUD. Setelah semuanya ketahuan gak bisa di tutup harus berobat lagi aku berpikir sama suami untuk buka iud dan kalau alloh kasih kehamilan aku akan nerima dan di lanjutkan kepingin banget punya anak suami aku yang pingin banget punya anak,aku juga pingin punya anak tapi ketika kerasa badan saya sesak meras saya tidak sanggup untuk hamil.

Aku bingung dengan mental ku antara pingin di bablasin biarin gimana nanti atau aku mikirin badan aku yang gak sanggup hamil. Antara aku sanggup dan gak sanggup . mereka di luaran tidak tau gimana aku kondisi aku,dan sekarang aku sudah bilang pada suami aku jika mau anak aku ijinin untuk nikah lagi ,aku ngorbanin pernikahan aku sendiri aku sadar dengan kekurangan ku.

Sekarang saya udah cape harus bulak balik bandung pakai motor,pingin di usahain di jhc tasik bisa di kateter lagi dan penutupan tapi sulit jln nya. Apa keputusan untuk hamil dalam keadaan ph tinggi apa itu benar? Karena saya bingung dengan suami dan perbincangan keluarga dan masyarakat soal anak

Jawaban:

Ibu Yulia saya kebetulan kenal dengan dr jantung ibu di RSHS dan saya sudah melihat data hasil kateterisasi ibu. Sesudah saya berdiskusi saya lihat tekanan paru ibu sangat tinggi (>20) dan tidak reaktif saat diberikan oksigen. Artinya sudah terjadi perubahan aliran darah di dalam jantung ibu dari jantung kiri ke kanan (normal) menjadi kanan ke kiri (akibat peningkatan tekanan paru-paru).

Penutupan biasanya tidak direkomendasikan saat ini karena justru akan membahayakan ibu karena dapat menyebabkan krisis PH sesudah ditutup sehingga disarankan untuk diberikan obat dahulu dan akan dievaluasi lagi 1 tahun dengan harapan PH akan turun.

Tentu saja proses kehamilan dengan kondisi ibu sangat tidak disarankan (kontra indikasi) mengingat risiko untuk ibu dan janin mengalami masalah jantung tinggi sekali >50%. Ibu boleh diskusikan dengan dokter jantung ibu berkaitan dengan keinginan hamil ibu. Tetap sayangi diri ibu karena itu yang utama dan tentu Bersama suami harus banyak berdiskusi dari hati ke hati untuk mendapatkan keputusan yang terbaik.

 

“Selalu kenali masalah yang ada pada diri kita (PH, Penyakit Jantung Bawaan), apa yang bisa kita lakukan untuk mempersiapkan kehamilan dengan kondisi tersebut. Bukan gimana nanti tetapi tentu kesehatan diri kita lah yang utama, sehingga semuanya harus dipersiapkan dengan matang dan benar agar semua berakhir bahagia. karena saya sering ketemu yang sad ending mba..semoga tidak terjadi pada teman-teman di sini.”_ dr. Triwedya Indra Dewi, Sp.JP., KIC

 

 

By | 2025-12-12T00:48:57+00:00 December 10th, 2025|Kuliah lewat WhatsApp|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
Open chat