Kuliah Whatsapp adalah program tanya jawab lewat group di aplikasi whatsapp antara anggota YHPI dengan dokter/narasumber ahli lainnya untuk topik-topik terkait Hipertensi Paru yang diadakan secara rutin dan berkala.
Untuk bergabung dalam group whatsapp dan mengikuti kuliah berikutnya, silakan hubungi Admin Pusat YHPI 0811-8986-799
PENGUMUMAN KULWAP YHPI
- Waktu : Kamis, 22 Mei 2025
- Pukul : 19.00 – 20.00 WIB
- Narasumber : Adlina Windya Megahputri, S.Psi., Psikolog
- Tema : Relaksasi Psikologi, Apa Itu? (Part I: Grounding Technique)
- Moderator : Amida
Untuk melihat materi silahkan KLIK DISINI
Grounding merupakan strategi sederhana yang dapat membantu melepaskan diri sejenak dari pikiran, perasaan, rasa sakit, dan sensasi yang kurang nyaman pada diri kita. Contohnya seperti apa?
Apakah teman-teman pernah seperti tersesat di dalam pikiran sendiri? Atau tubuh hadir, tetapi rasanya jiwa dan pikiran sedang mengembara jauh entah ke mana? Di saat-saat seperti itu lah grounding dapat dilakukan untuk membantu kita kembali fokus dan kembali pada kenyataan saat ini.
Grounding dapat dilakukan ketika kita merasa sedang tidak baik-baik saja, kewalahan dengan keadaan yang di luar kendali, menghadapi situasi yang membuat panik atau stres, dan merasa sakit fisik atau sensasi sakit di tubuh yang membuat tidak nyaman.
Grounding dapat dilakukan kapan saja ketika membutuhkan ketenangan. Sebuah hal yang baik apabila grounding dijadikan rutinitas dalam keseharian.
Teknik grounding ada bermacam-macam, bisa memfokuskan pada pernapasan, pikiran, panca indra, dan hal-hal yang dapat menenangkan pikiran maupun tubuh. Contohnya seperti teknik pernapasan 4-7-8, square breathing (kotak pernapasan), afirmasi positif, dan menggunakan panca indra untuk teknik 5-4-3-2-1 dan 3 barang. Di dalam materi saya cenderung memberikan teknik dan cara grounding agar teman-teman dapat memilih sesuai kebutuhan dan mempraktekkan secara langsung.
1. Pertanyaan:
Nama: Iqbal, Umur:14th, Domisili:cikupa. assalamualaikum dok bagai mana cara mengatasi badan yang selalu lemes dan sulit untuk tidur padahal obat selalu di minum dengan teratur terimakasih.
Jawaban:
Waalaikumsalam, kak Iqbal. Pasti rasanya tidak nyaman ya saat tubuh merasa lemas dan sulit tidur, meskipun sudah minum obat secara rutin. Selain obat, ada beberapa hal yang mungkin dapat membantu kita untuk mempertahankan kestabilan tubuh. Salah satunya adalah menjaga pola tidur, untuk usia 14-17 tahun kebutuhan tidur yang sehat adalah 8-10 jam. Bisa dicoba untuk membuat jadwal tidur dan bangun tidur setiap harinya agar tubuh terbiasa memiliki jam biologis yang teratur.
Sebelum tidur, kurangi untuk melakukan aktivitas yang berat, makan berat, minuman berkafein, dan penggunaan gadget. Selain itu, penting juga untuk membuat rutinitas sebelum tidur, seperti membersihkan diri (menggosok gigi, cuci muka) dan membuat lingkungan tidur yang nyaman untuk meningkatkan kualitas tidur. Pastikan tempat tidur bersih dan nyaman, suhu kamar sejuk, suara tenang, dan lampu nyala atau redup disesuaikan dengan kenyamanan diri sendiri.
Jika sudah melakukan hal di atas dan pikiran masih terasa penuh, bisa dicoba grounding pernapasan sambil memejamkan mata. Tidak perlu memaksakan diri untuk harus tidur karena dapat membuat tubuh dan pikiran semakin tidak nyaman. Coba buat tubuh relaks dengan memfokuskan perhatian pada pernapasan yang dalam dan perlahan untuk memberi sinyal pada tubuh bahwa sekarang waktunya untuk tidur.
Jika rasa lemas dan kesulitan tidur terus berlanjut atau semakin mengganggu, mungkin dapat berkonsultasi dengan profesional untuk mengetahui alasan perasaan dan kondisi tubuh yang dialami. Semoga jawabannya membantu ya, kak Iqbal
2. Pertanyaan:
Nama: Nana, Usia: 30, Domisili: Bdg. Dok Grounding paling baik dilakukan berapa banyak dalam sehari? Jika grounding telapak kaki tidak bersentuhan langsung ke tanah karena diperkotaan jarang ada lahan tanah kosong kebanyakan jalan plasteran apa masih bisa di sebut Grounding ? Dan masih mendapatkan manfaat dari grounding tersebut? Lalu kalau kita menyentuh tanaman juga bisa mendapat energi positive juga kah dok?
Jawaban:
Terima kasih kak Nana untuk pertanyaannya. Wah, pertanyaannya sangat menarik. Grounding dapat dilakukan kapanpun ketika diri kita merasa butuh, tidak ada aturan ideal harus berapa banyak dalam sehari. Namun, jika diterapkan dalam rutinitas kegiatan sehari-hari itu sangat baik. Contohnya bisa diterapkan saat bangun tidur sebelum memulai aktivitas, saat akan menghadapi sesuatu hal yang membuat cemas atau stress, atau sebelum tidur. Sering melakukan grounding dapat membuat tubuh dan pikiran terbiasa untuk relaks.
Lalu terkait grounding dengan tanah, adalah salah satu teknik yang biasanya disebut sebagai earthing, yaitu dengan menginjak tanah, rumput, atau berendam di dalam air. Grounding tidak harus selalu melakukan kontak fisik dengan tanah dan sebagainya. Tujuan dari grounding adalah menyadarkan diri bahwa kita ada di sini dan di momen ini. Kita bisa mengoptimalkan grounding dengan menggunakan panca indra yang kita miliki. Contohnya seperti teknik 5-4-3-2-1, ataupun aktivitas yang hanya menggunakan satu indra saja. Saat kita memegang benda, tanaman, dan lainnya dengan penuh kesadaran, merasakan sensasi yang muncul, atau mengatur napas sambil merasakan aliran udara masuk dan keluar, itu juga tetap grounding. Manfaatnya tetap bisa kita rasakan, terutama saat melakukannya dengan penuh perhatian.
Jika ada kesempatan untuk melakukan earthing, perlu diperhatikan untuk mencari media aman yang tidak menyakiti tubuh kita. Contohnya mencari lahan dengan tanah yang halus atau rumput yang tidak terlalu tajam sehingga diri kita merasa nyaman dan bisa lebih fokus untuk merasakan sensasi fisik yang muncul di dalam diri.
Yang penting bukan di mana kita grounding, tetapi bagaimana kita fokus dan benar-benar hadir di dalamnya. Semoga jawabannya membantu ya, kak Nana
3. Pertanyaan:
Nama: iis somantri, Umur:54th, Domisili:sukabumi. assalamualaikum dok bagai mana cara mengatasi perasaan yang kadang2 suka males makan obat.
Jawaban:
Waalaikumsalam. Terima kasih kak Iis untuk pertanyaannya. Perasaan jenuh untuk minum obat sangat manusiawi, apalagi ketika kita harus minum obat rutin setiap hari dan dalam jangka panjang, pasti tidak mudah. Namun, kita juga perlu untuk mengingatkan dan memotivasi diri bahwa obat yang kita konsumsi ini sangat berguna dan dibutuhkan oleh tubuh dan diri kita. Minum obat bukan tandanya diri kita lemah, tetapi justru memperjuangkan diri untuk tetap bisa menjalani hidup dengan kualitas yang baik.
Hal-hal yang bisa dicoba untuk membuat diri kita lebih semangat dan disiplin minum obat:
- Sebelum meminum obat, bisa kasih jeda sebentar untuk tarik napas dan berbicara dengan diri sendiri: “Aku tahu ini tidak mudah, tapi ini caraku bertahan dan sayang sama tubuhku.”
- Membuat jadwal dan alarm untuk minum obat, bisa dicatat dan ditempel di rumah atau memasang pengingat di handphone dengan membuat label pesan penyemangat, contohnya: “Saatnya untuk merawat diriku sendiri ❤️”
- Meminta tolong keluarga atau orang terdekat untuk mengingatkan jadwal minum obat.
Jika hal yang membuat jenuh minum obat adalah karena efek samping obat, coba untuk komunikasikan kepada dokter yang lebih tahu terkait cara mengatasi efek samping obat atau jika perlu penggantian obat.
Perlu diingat, tidak apa-apa untuk merasa lelah, tetapi kakak tetap masih memilih untuk berusaha menjalani pengobatan. Pelan-pelan saja, kakak sudah lama berproses dan berjuang sejauh ini, dan itu sudah luar biasa. Semoga jawabannya membantu ya, kak Iis
4. Pertanyaan:
Nama: ayu, Usia: 33, Domisili:bandung. Dok kenapa ya Setiap panik jantung berdebar hebat. Dan jika ada pikiran ga bisa langsung lepas,Suka sampai mendalam kepikiran nya, hingga saat skrg sakit aja. Hati udah menerima rasa sakit, tapi kenapa pikiran belum bias.
Jawaban:
Halo, kak Ayu, terima kasih sudah bercerita dan bertanya. Pasti nggak mudah ya kak untuk melewati semua proses pengobatan hingga sekarang. Wajar ketika kakak memiliki perasaan atau pikiran yang kurang nyaman, muncul sensasi fisik seperti jantung berdebar, karena pikiran, perasaan, sensasi fisik, dan perilaku kita saling mempengaruhi satu sama lain. Seperti yang kakak bilang, mengelola pikiran cenderung lebih sulit. Rasanya pikiran tetap overthinking, meskipun hati udah merasa menerima.
Grounding bisa kakak lakukan untuk membuat tubuh merasa lebih relaks, tetapi belum tentu pikiran negatif kita hilang seketika. Kita juga perlu belajar untuk mengelola pikiran negatif. Sangat wajar apabila pikiran negatif muncul ketika menghadapi situasi yang kurang menyenangkan. Kita dapat memunculkan pikiran alternatif atau pikiran positif yang membuat diri kita lebih bersemangat dan optimis.
Coba pikirkan hal-hal yang baik dan berikan afirmasi positif pada diri sendiri ketika pikiran kita sedang dipenuhi pikiran negatif. Tentu itu langkah yang tidak mudah, tetapi perlu latihan dan konsisten agar diri terbiasa memunculjan pikiran dan perasaan positif ketika sedang menghadapi masalah. Ketika diri sendiri masih belum bisa merasa tenang, kakak bisa coba cerita dan berkeluh kesah dengan keluarga, teman, atau orang yang dianggap aman dan nyaman.
Kakak sudah bisa belajar untuk menerima itu sudah sangat luar biasa banget. Pelan-pelan ya, tidak apa-apa kalau belum sepenuhnya bisa melepas pikiran. Terkadang yang kita butuhkan bukan hanya terkait bagaimana cara membuat pikiran negatif cepat hilang, tetapi bagaimana cara memahami dan menemani diri sendiri ketika pikiran belum bisa tenang. Semoga jawabannya membantu ya, kak Ayu
5. Pertanyaan:
Nama : Hanim, Usia : 48 thn, Domisili : Solo. Dok apakah melepaskan diri dari “kemelekatan” termasuk bagian dari Grounding juga ??? Bagaimana dgn Ikhlas,memaafkan,dan melepas dok??? Terima kasih dokter
Jawaban:
Halo, terima kasih, kak Hanim untuk pertanyaannya yang sangat dalam ya. Kalau kita bicara tentang ikhlas, memaafkan, atau melepas, semua itu adalah proses yang membutuhkan pemaknaan mendalam dari kita, teruma hati dan pikiran. Semuanya bertujuan untuk melepaskan emosi negatif dari dalam diri dan memunculkan emosi positif sehingga diri kita dapat menjalani kehidupan lebih terasa ringan. Melakukan grounding tidak langsung dapat menuju ke arah sana.
Ketika kita sedang melekat pada sesuatu atau menyimpan pengalaman kurang menyenangkan, grounding dapat dilakukan untuk membuat diri kita relaks. Grounding membawa diri kita kembali ke saat ini, ke momen yang sedang berlangsung. Melalui grounding, mungkin muncul kesadaran kecil yang secara perlahan memunculkan perasaan lebih tenang dan pikiran lebih jernih. Meskipun dengan grounding tidak langsung memunculkan perasaan ikhlas atau memaafkan, grounding bisa menjadi langkah awal untuk membuat diri kita merasa lebih aman tanpa harus terburu-buru menyelesaikan semuanya.
Proses untuk menuju iklhas dan memaafkan merupakan proses yang panjang dan membutuhkan kemauan yang kuat. Dalam prosesnyapun mungkin memunculkan perasaan tidak nyaman. Tidak apa-apa belajar memahami diri pelan-pelan, contohnya dengan mengidentifikasi serta menerima pikiran dan perasaan yang hadir di diri kita dahulu. Semoga jawabannya membantu ya, kak Hanim. Semoga di lain kesempatan bisa membahas tentang pemaafan dan ikhlas yang lebih mendalam ya.
6. Pertanyaan:
Nama : Fika, Umur : 37, Domisili: jogja. Bagaimana cara yang efektif untuk mengafirmasi positif kepada diri sendiri, supaya pikiran² negatif itu bisa hilang? Terima kasih
Jawaban:
Halo, kak Fika. Terima kasih untuk pertanyaannya. Pasti rasanya ingin ya membuat pikiran-pikiran negatif itu hilang dan membuat kita tidak lagi lelah karena overthinking. Sebenarnya muncul pikiran negatif itu adalah hal yang wajar. Tidak apa-apa kok muncul pikiran negatif sesekali, yang penting kita tidak larut dan berpatokan dengan pikiran negatif.
Afirmasi positif adalah salah satu cara untuk mengelola pikiran negatif. Saat kita melakukan afirmasi positif, artinya kita sedang memberikan perhatian dan kasih sayang pada diri kita sendiri.
Afirmasi positif bukan sepenuhnya untuk mengusir pikiran negatif, tetapi mengimbangi dan menghadirkan pikiran yang lebih lembut dan ramah di dalam kepala kita. Afirmasi yang dilakukan tidak perlu ada kata “harus”, contohnya: aku harus kuat, aku harus bisa. Penting untuk kita menyadari dan merangkul kelemahan kita, tandanya kita menghargai dan jujur dengan diri kita sendiri. Contoh afirmasi yang bisa dilakukan:
– “Aku memang belum baik-baik saja, tapi aku sedang berusaha.”
– “Aku mungkin takut, tapi aku tetap punya hak untuk mencoba.”
– “Hari ini berat, tapi aku sudah berusaha, dan itu sudah cukup.”
Kalimat seperti di atas pelan-pelan bisa jadi suara baru di dalam diri. Memang tidak langsung menghilangkan pikiran negatif, tetapi bisa membuat ruang di dalam pikiran dan perasaan menjadi terasa lebih ringan. Kak Fika bisa mulai pelan-pelan untuk lebih welas asih terhadap diri sendiri. Semoga jawabannya membantu ya, kak Fika
7. Pertanyaan:
Nama : Rini, Umur : 44, Domisili: Jogja. Bagaimana kita bisa grounding secara maksimal, ketika ada orang2 terdekat yang justru membuat kita merasa terikat dalam situasi yang kurang kondusif utk bersosialisasi secara luas dan sewajarnya, sehingga berpengaruh pada kondisi yang kurang nyaman dalam keseharian?
Jawaban:
Halo, kak Rini. Terima kasih untuk sharing dan pertanyaannya. Rasanya pasti campur aduk ya, ada lelah dan bingung harus melakukan apa dan bagaimana untuk mengatasinya. Tidak mudah memang saat orang-orang terdekat yang diharapkan dapat memberikan ketenangan, malah membuat hati tidak tenang.
Kadang dalam situasi seperti itu, kita jadi merasa tidak punya ruang untuk diri sendiri, tapi grounding bisa jadi cara kecil untuk tetap menjaga koneksi dengan diri kita, meskipun kondisi sekitar belum ideal. Dalam situasi tertentu, grounding tidak harus terjadi di tempat yang tenang atau lingkungan yang suportif, kadang justru kita melatihnya di tengah keramaian dan rasa tidak nyaman.
Grounding bisa jadi semacam “ruang rahasia” di dalam diri. Ruang yang kita bikin sendiri untuk bernapas, mengakui perasaan, dan mengingat bahwa kita tetap punya kendali atas diri sendiri. Kalau memang tetap merasa kurang nyaman untuk melakukan grounding di tengah-tengah banyak orang, bisa coba untuk melipir ke pojok atau ke ruangan yang tidak terlalu banyak orang.
Mungkin kita tidak bisa langsung mengubah situasi atau orang lain, tapi kita bisa memberi batasan diri yang sehat untuk diri kita sendiri. Kita berhak untuk menetapkan batasan diri selama tidak menyakiti atau merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Saya kirim gambar terkait lingkaran kontrol, ya. Hal-hal yang ada di dalam lingkaran adalah hal yang dapat kita kontrol sepenuhnya, sedangkan yang di luar lingkaran adalah hal yang tidak dapat kita kontrol sepenuhnya.
Ketika orang-orang terdekat tidak terlalu suportif, kita bisa untuk mencari orang-orang yang dapat memahami dan aman untuk berkeluh kesah contohnya seperti bergabung dengan komunitas pasien seperti yang sudah kakak lakukan dan usahakan. Ingat bahwa kakak tidak sendirian dan boleh banget meminta bantuan teman maupun profesional. Semoga jawabannya membantu ya, kak Rini.
8. Pertanyaan:
Nama : Lina, Umur : 35th. Domisili: Tangsel. Dok, saat ini sy sering afirmasi positif, dan biasanya lumayan berhasil. cuma akhir2 ini saya agak stress dengan pekerjaan ditambah berita duka dari teman seperjuangan PH membuat sy tidak bisa fokus untuk afirmasi atau teknik grounding yang lain, akhirnya kepala saya terasa berat cenat cenut, sedih dan jadi berdebar. bagaimana mengembalikan kondisi biar sy tetap tenang dengan situasi yang ada. Terima kasih dok 🙏🏻
Jawaban:
Halo. Terima kasih kak Lina untuk sharing dan pertanyaannya. Pasti sangat berat untuk tetap kuat di tengah tekanan pekerjaan, ditambah mendapat kabar duka dari teman seperjuangan. Kelelahan fisik dan emosional itu sangat menguras energi. Sangat wajar kak Lina merasakan sensasi di fisik seperti kepala terasa berat dan merasa sedih.
Ketika sudah terbiasa melakukan grounding, contohnya teknik afirmasi, lalu ternyata terasa tidak mempan, pasti membuat bingung, ya. Namun, itu bukan karena kakak gagal atau tidak cukup “kuat”. Bisa jadi itu adalah sinyal dari tubuh bahwa saat ini kakak sedang butuh perhatian, istirahat, dan ruang untuk berduka.
Proses duka bukanlah proses yang mudah, bagi saya pun proses melalui kedukaan adalah proses yang sangat sulit untuk dipahami dan dilewati. Tidak apa-apa kalau belum bisa menenangkan diri dengan cepat, kakak dapat menerima dahulu bahwa memang sekarang sedang menjalani kondisi yang tidak mudah.
Jadi tidak apa-apa kalau afirmasi yang dilakukan tidak seefektif biasanya. Ini saatnya kak Lina untuk mencoba mengidentifikasi dan menerima semua perasaan dan pikiran yang muncul. Tidak apa-apa kalau menangis. Menenangkan diri bukan hanya untuk mencari solusi, tetapi juga mengizinkan diri untuk tidak baik-baik saja sejenak. Kemudian, secara perlahan-lahan, mencoba untuk mencari hal atau aktivitas yang membuat diri merasa lebih baik.
Mungkin dapat melakukan hal yang disukai, melakukan hobi, atau bercerita dengan orang yang dipercaya. Jika semuanya sudah dilakukan dan masih belum dapat meringankan perasaan yang tidak nyaman, bisa untuk berkonsultasi dengan profesional. Kak Lina tidak harus buru-buru tenang, beri ruang untuk memproses semuanya dan ingat bahwa kakak tidak sendirian. Semoga jawabannya membantu ya, kak Lina.
9. Pertanyaan:
Nama: Debbie, Usia: 53th, Domisili: Bogor. Dok, saya sejak muda memang selalu terbiasa menulis Diary untuk mencurahkan unek² isi hati saya hingga saat ini kadang masih saya lakukan namun apabila saya lakukan pasti dengan perasaan yang ada dalam hati saya tercurah hingga seringkali menangis yang akhirnya bisa membuat sesak sendiri bahkan bisa sampai drop kesehatan saya. Bagaimana cara untuk menghilangkan rasa yang membuat saya drop iya dok? Apa solusinya dok untuk saya yang sudah berusia lanjut ini.
Jawaban:
Halo, kak Debbie. Terima kasih untuk sharing dan pertanyaannya. Menulis diary sebenarnya adalah hal yang sangat baik, termasuk dalam salah satu cara untuk mengekspresikan emosi yaitu teknik journaling. Ketika kita menuliskan sesuatu, kita kembali mengingat dan membayangkan kejadian atau moment yang terjadi.
Wajar apabila kak Debbie menangis ketika mencurahkan hati dan pikiran ke dalam tulisan. Tidak ada yang salah dengan menangis, karena itu juga salah satu cara mengekspresikan emosi yang sehat. Namun, menangis juga dapat membuat diri kita sesak dan kelelahan untuk sebagian orang.
Mungkin bisa dicoba memberikan batasan waktu menulis. Misalnya, batasi waktu menulis hanya 10-15 menit saja, lalu ditutup dengan kalimat sederhana yang terasa ringan dan menenangkan, contohnya “Hari ini aku sudah berusaha.” Lalu, ketika masih menangis, tidak apa-apa, tetap tenang, coba lakukan grounding sesuai kebutuhan dan kemampuan diri. Mungkin grounding pernapasan bisa dilakukan. Kakak bisa menarik napas perlahan, mengelus dada, fokus pada aliran udara yang masuk dan keluar, dan mengulangi beberapa kali hingga tenang.
Selain menulis diary, mungkin dapat dicoba teknik grounding atau cara mengekspresikan emosi yang lain yang tidak terlalu menguras energi atau membuat tubuh merasa drop. Menggambar, mewarnai, atau membuat kerajinan tangan juga bisa dijadikan sebagai opsi.
Menulis memang dapat membantu menenangkan diri, tetapi tubuh kakak juga perlu diberikan perhatian dan kelembutan. Pelan-pelan saja untuk berproses mencari aktivitas yang cocok dan sesuai untuk diri. Semoga jawabannya membantu ya, kak Debbie
Menjalani pengobatan dan hidup berdampingan dengan kondisi yang tidak selalu nyaman bukanlah hal yang mudah. Kadang ada hari yang terasa ringan, tapi tidak jarang juga hari-hari terasa berat. Kita tidak harus selalu kuat, tetapi bagaimana kita kembali mencoba, meski sempat ingin berhenti. Setiap usaha yang teman-teman lakukan, sekecil apa pun itu, adalah bagian dari perjuangan teman-teman. Perjuangan teman-teman selama ini sudah sangat luar biasa. Jangan lupa untuk berterima kasih dan mengapresiasi diri sendiri.
Tetap semangat dan konsisten menjalani pengobatan ya, teman-teman. Mohon maaf untuk kata-kata yang kurang berkenan atau jawaban yang belum sempurna. Terima kasih sudah memberikan ruang untuk saling berbagi hari ini. Semoga sharing kali ini bisa bermanfaat dan bisa diterapkan secara perlahan dalam kehidupan sehari-hari. Sampai bertemu di kulwap yang lainnya.”_ Adlina Windya Megahputri, S.Psi
