Kuliah WhatsApp 17.10.18 – Manajemen Stress

///Kuliah WhatsApp 17.10.18 – Manajemen Stress

Kuliah WhatsApp 17.10.18 – Manajemen Stress

Kuliah Whatsapp adalah program tanya jawab lewat group di aplikasi Telegram antara anggota YHPI dengan dokter/narasumber ahli lainnya untuk topik2 terkait Hipertennsi Paru yang diadakan secara rutin dan berkala.

Untuk bergabung dalam group Telegram dan mengikuti kuliah berikutnya, silakan hub 085210006799

Untuk membaca materi tanya jawab lainnya yang lebih lengkap, silakan klik LOGIN.

 

KULIAH TELEGRAM

Manajemen Stress

Rabu, 17 Oktober 2018 pk 19.00-21.00 WIB

Narasumber: Indah Sulistyorini, M.Psi.

Psikolog Klinik Ruang Tumbuh

 

Moderator: Arni & Eva

 

MATERI KULWAP

  • Kehidupan masyarakat saat ini sangat kompleks. Berbagai tuntutan kehidupan yang kita hadapi saat ini seringkali melampaui sumber daya yang kita miliki. Akibatnya kita mengalami tekanan dan ketegangan yang menyebabkan kita berada dalam situasi yang disebut dengan stress.
  • Stress seringkali dipersepsi sebagai situasi yang tidak menyenangkan meski di sisi lain tanpa disadari adanya stress mendorong untuk berbuat lebih sehingga bisa mengeluarkan semua potensi secara optimal. Namun demikian bila tekanan yang dialami tidak seimbang dengan kemampuan yang kita miliki tentunya akan menimbulkan dampak baik secara fisik maupun psikologis karena keduanya saling berkaitan satu sama lain.
  • Secara psikologis, stress membawa perubahan pada diri seseorang baik secara kognitif, afektif maupun psikomotor. Disamping itu stress juga memberikan dampak pada kesehatan fisik.
  • Beberapa penyakit tertentu disinyalir dipicu oleh stress seperti penyakit yang terkait dengan tekanan darah atau gangguan fisik lainnya.
  • Namun demikian, kita pahami bahwa kita tidak dapat menghindari stress yang sudah menjadi bagian dari kenyataan hidup sehari-hari. Yang mungkin dilakukan adalah mengelola emosi negatif yang ditimbulkan oleh stress sehingga meminimalkan dampaknya secara fisik maupun psikologis.
  • Langkah pengelolaan stress ini merupakan bagian dari coping stress, yaitu proses yang dilakukan untuk mengurangi perbedaan antara tekanan yang dihadapi dan kemampuan serta sumber daya yang kita miliki.
  • Secara umum coping stress terdiri dari (1) pengelolaan stress yang fokus pada pengelolaan emosi dan (2) pengelolaan stress yang berfokus pada mengatasi masalah yang akan dibahas lebih lanjut.
No. Pertanyaan dan Jawaban
1 Pertanyaan dari Dini Dwi Rahayu:
Selamat malam Bu Indah, saya Dini dari Bogor ingin bertanya. Bagaimana cara kita memanage pikiran agar tidak gampang stress dan berapa lama batas wajar stress itu kita alami? Apa efek terburuk bagi kesehatan kita jika mengalami stress? Terima kasih.
Jawab:
Mengelola stress atau mengatasi stress dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu emotional focused dan problem focused.
Emotional focused bertujuan untuk mengendalikan respon emosional akibat situasi yang menyebabkan stress. Misalnya dengan mendapatkan dukungan sosial dari keluarga atau orang2 terdekat, melakukan aktivitas yang menyenangkan, melakukan hobby, seperti memasak, jalan-jalan. Emotional focused biasanya digunakan untuk menghadapi situasi yang sulit untuk diubah dengan cara mengubah cara pandang /perspektif/mindset/ point of views terhadap situasi. Misal menghadapi jalan yang macet seringkali membuat kita kesal. Namun misalnya saat jalanan macet mungkin jadi kesempatan untuk mendengarkan musik sambil relaksasi di radio, atau misalnya berbicang dengan pasangan di kendaraan, atau misalnya menyiapkan buku dan kita memiliki kesempatan untuk membaca, atau mendengarkan siraman ruhani sesuai dengan kepercayaannya masing-masing.
Jadi poin nya kita selalu siap melihat masalah dengan cara pandang yang baru, bagaimana kita menilai atau merespon masalah dari sisi yang positif, dari kesempitan menjadi kesempatan
Satu pendekatan lagi bersifat problem focused, dalam arti setiap adanya tekanan yang kita rasakan, maka kita melihatnya sebagai kesempatan untuk bertumbuh ketimbang menjadi masalah. Contoh misalnya tiba-tiba asisten rumah tangga pulang kampung tiba-tiba, tidak ada yang membantu di rumah, padahal pekerjaan banyak, anak2 perlu dibantu. Maka ini adalah kesempatan untuk tenang sejenak dan memikirkan langkah-langkah bagaimana melibatkan pasangan, anak-anak untuk membantu diri mereka menjadi lebih mandiri. Ini contoh saja.
Untuk berapa lamanya batasan stres yang dirasakan wajar adalah setiap orang berbeda- beda. Banyak faktor yang mempengaruhi, sejauh mana tingkat tekanan yang dialami apakah kita masih mampu mencari jalan keluar, atau sama sekali tidak, atau apakah ada dukungan sosial, dan sejauh mana mempengaruhi kondisi fisik dan psikologis. Batasannya adalah terdapat perubahan. Bisa berupa perilaku, cara berpikir, tindakan dan pastinya dampak secara fisik yang perlu dicermati membahayakan diri sendiri. Yang penting adalah pertama kita menyadari dahulu kita mengalami stres, mengakui dan menerimanya, lalu memikirkan bagaimana memberikan respon terbaik sesuai batas kemampuan kita. Jangan ragu dan segan bila butuh bantuan dan dukungan dari orang sekitar termasuk profesional kesehatan fisik maupun mental. Begitu Anda menyadari nya maka Anda sudah mulai melakukan upaya pemulihan.
Masalahnya tidak semua orang menyadari atau mengakui bahwa ia mengalami stres, karena bisa jadi menunjukkan kelemahan, padahal mengalami stres itu wajar. Menyadarinya membuat kita mengetahui apa yang bisa kita lakukan untuk mengambil langkah- langkah untuk mengatasinya.
Dampak terburuk dari stres bermacam-macam, yang pasti terdapat perubahan dalam cara berpikir, misalnya menjadi cemas, dan tidak bisa berkonsentrasi, lalu emosi menjadi mudah tersinggung, atau suasana hati yang tidak menentu, mudah marah atau sedih, atau tidak bisa merasakan apapun (numb), secara perilaku bisa juga menjadi tidak bersemangat. Secara fisik pastinya terdapat sejumlah gangguan fisik yang biasanya identik dengan stres seperti asam lambung meningkat, tekanan darah meningkat, imunitas tubuh menurun, mudah sakit, migrain, alergi kambuh dll
2 Pertanyaan dari Heri Supriyanti:
Assalamualaikum Bu Indah. Saya Yanti, 38 th, ASD (sudah operasi ASD closure) tahun 2011 + PH. Mau tanya bagaimana cara memanage stress agar tidak menimbulkan penyakit yang kita derita?
Jawab:
Untuk mbak Indriani dan Heri Supriyanti, pertanyaan mengenai mengelola stres tadi sudah dijelaskan sekalian ya, terkait dengan emotional focused dan problem focused. Intinya sekali lagi emotional focused lebih kepada bagaimana mengelola emosi yang muncul. Masalah mungkin benar- benar diluar jangkauan kita, sehingga yang kita kelola emosi, bagaimana kita mengubah cara pandang terhadap masalah sehingga membuat perasaan kita menjadi lebih tenang. Karena munculnya emosi tertentu biasanya diawali oleh persepsi atau cara pandang terhadap masalah. Ketika kita melihat sisi yang lebih positif, maka emosi yang kita rasakan akan berubah. Berpikir lebih positif dalam situasi yang menekan membuat kita merasa lebih tenang.
Contoh, misalnya ketika batere hape tiba-tiba habis, tidak bawa charger, tidak ada power bank, mungkin bikin kita stres. Padahal saat itu mungkin kita butuh istirahat sejenak, menenangkan diri dari berbagai info yang terus masuk dan memenuhi kepala kita. Ambil waktu tenang sejenak sehingga kita bisa lebih jernih dalam menghadapi masalah atau memikirkan kembali respon-respon yang terbaik nantinya ketimbang misalnya bersikap reaktif terhadap sejumlah masalah yang sedang dihadapi.
Hal lain yang bisa dilakukan untuk mengelola stres adalah:
1.  Mempelajari keterampilan baru . Misalnya kita belajar relaksasi. Atau misalnya kita menemukan hobi baru untuk membantu meredakan ketegangan. Contoh melukis, berkebun, menulis cerita, membuat blog, memasak, dll
2. Meningkatkan dukungan sosial yang dimiliki. Berupaya tetap menjalin silaturrahmi dengan teman-teman, menjalin hubungan baik dengan orang-orang terdekat, sehingga ketika kita membutuhkan dukungan, mereka dengan senang hati atau bersedia memberikan bantuan yang diperlukan karena selama ini hubungan kita baik
3. Mundur sejenak untuk maju kembali. Kalau ingat anak panah yang akan melesat, sebelumnya kita lihat anak panah tersebut ditarik mundur. Jadi kita pun sesekali mundur sejenak dari aktivitas ataupun mengambil waktu untuk berdiam diri tidak apa-apa. Memberi waktu untuk berkontemplasi, merenungkan kembali dan memberi waku pada diri sendiri menjadi lebih tenang, merupakan langkah yang baik ketika kita merasa tekanan yang dialami berada di luar kemampuan dan sumber daya yang kita miliki. Jangan merasa kalah ataupun gagal. Karena kita yang tahu batas kemampuan kita sendiri
4. Berolah raga secara rutin dan pola diet yang sesuai akan membuat tubuh kita terasa segar dan sehat. Kondisi tubuh yang sehat dapat mendorong kita menjadi lebih positif dan tenang dalam menghadapi segala situasi sehari-hari yang penuh tekanan
5. Menyesuaikan sikap. Bersikap lebih fleksibel dalam menghadapi situasi yang membutuhkan penyesuaian akan memudahkan dalam menghadapi situasi yang menekan. Misalnya menghadapi konflik dengan orang lain, maka kita berupaya mencari jalan untuk menemukan titik tengah dari dua perbedaan atau menemukan inovasi baru dalam melakukan pendekatan terhadap masalah. Mencoba cara lain yang sama-sama bisa diterima kedua belah pihak, maka akan meningkatkan kreativitas. Kita menjadi bertumbuh ketimbang stagnan
6. Melakukan pengelolaan waktu yang baik, menentukan prioritas, berani mengatakan tidak untuk seuatu yang tidak mampu kita kerjakan dalam waktu yang sangat singkat, menunjukkan sikap yang lebih asertif, saya ok anda ok, jadi tidak mengalah atau pun menjadi agresif. Mencoba untuk memperhatikan kebutuhan diri sendiri dengan tetap menghormati kebutuhan orang lain
7.  Mengelola napas dengan pernapasan diafragma. Teknik ini disebut pula dengan pernapasan perut karena kita berupaya untuk bernapas dengan perut, dibandingkan dengan menggunakan dada yang seringkali kita gunakan
3 Pertanyaan dari Indriani Ginoto:
Malam mbak Indah, salam kenal. Ingin tanya langkah-langkah mengelola emosi biar sabar dan tidak gampang sensi/irritated.
Jawab:
(sudah terjawab di nomor 2)
4 Pertanyaan dari Sigit Guntoro:
Malam mbak Idah, saya Sigit. Jujur, saya ini orangnya sangat pendendam sekali sama orang yang telah menyakiti saya. Kalau belum saya balas, rasanya kok tidak hilang-hilang rasa emosi ini. Dan ini jujur sangat berpengaruh kepada sakit saya. Dada berdebar, nafas menjadi sesak. Saya sadar hal itu sangat merugikan untuk diri saya. Mohon arahannya agar saya ini bisa menjadi manusia yang lebih legowo. Terima kasih.
Jawab:
Jadi, bila emosi menjadi sangat intens mas, kita butuh tenang sejenak. Kasih waktu pada diri sendiri untuk menyadari apa yang membuat kita dendam.
Sigit:
Jika air susu dibalas dengan air tuba. Jika kebaikan saya dibalas dengan kejahatan ke diri saya. Hal itulah yang paling saya tidak bisa terima. Jujur saya ini paling suka tertawa, bercanda.
Jawab:
Ya, di satu sisi memang menyakitkan pastinya. Saya turut prihatin. Namun, di sisi lain, di sinilah keikhlasan kita diuji. Selain itu kita juga jadi mendapat informasi supaya tidak dimanfaatkan lebih lanjut. Always a blessing in disguise, selalu ada kebaikan dibalik kesusahan atau kesulitan yang kita alami. Tergantung kita mau melihatnya dari sudut pandang yang mana. Ketika kita terbiasa melatih otot berpikir positif maka kita juga jadi tidak mudah terkena stress.
Stress juga muncul seringkali karena kita hidup di masa lalu dan masa depan. Sementara, sebenarnya kita sedang hidup di masa kini, saat ini, detik ini. Nah salah satu latihannya adalah terapi mindfulness. Jadi kita mencoba menikmati setiap detik yang berlalu dari hadapan kita tanpa melakukan penilaian, penghakiman apa itu positif atau negatif. Kita observasi pikiran-pikiran yang muncul kemudian menikmati saja ia berlalu. Contohnya kalau kita sedang duduk di pinggir jalan lalu menyaksikan mobil lalu lalang, kita melihat, ada yang warna merah hitam abu-abu dll. Kita nikmati saja ia berlalu tanpa bilang mobil ini jelek, itu bagus, ini keren, itu parah. Ketika kita menikmati setiap moment yang berlalu tanpa penghakiman dari diri sendiri maka kita lebih tenang. Pikiran, masalah akan selalu muncul. Namun, bagaimana kita tenang menyikapi masalah dan menikmati yang ada saat ini, membantu kita untuk mengelola emosi-emosi negatif yang muncul.
Bila tidak ada penghargaan dari orang lain tersebut maka yakinlah ada Yang Maha Melihat hal baik yang sudah anda kerjakan. Kebaikan Anda sudah tercatat dalam amalan baik dan yakinlah setiap kebaikan yang Anda lakukan tidak sia-sia. Keyakinan kita akan keberadaan Sang Maha Mengatur segalanya juga sangat membantu, apapun keyakinannya ya….
5 Pertanyaan dari Amalia Irawati:
Malam mbak Indah, saya Amel mau tanya apakah stress yang berlebihan yang menimbulkan depresi bisa jadi penyakit turunan?
Jawab:
Maksudnya diturunkan dari ortu ya? Bisa jadi secara temperamen memang ada hal-hal yang diturunkan. Namun bila hal tersebut tidak didukung atau dikuatkan oleh lingkungan saat kita dibesarkan maka tidak terbentuk.
Maksudnya begini, ada yang genetiknya sensitif dan dalam keseharian kita dibesarkan oleh orang tua yang juga sensitif dalam menyikapi masalah maka secara tidak sadar ada proses belajar yang kita rekam karena sehari-hari kita berhadapan dengan mereka saat kecil hingga dewasa/mandiri. Nah, akhirnya yang terbentuk ini menjadi karakter karena kita melakukan hal yang sama. Selalu ada nature (bawaan) dan nurture (bagaimana kita diasuh).
6 Pertanyaan dari Firdaus Akmal:
Malam mbak Indah. Kenapa ya stress itu datang tiba-tiba? Kadang tanpa penyebab bawaannya stress aja. Terima kasih.
Jawab:
Ya, karena itu tadi…cara kita berespon terhadap situasi atau sumber stress yang membuat kita terbiasa melihat masalah sebagai trouble ketimbang melihat sisi positifnya. Hal ini memang perlu latihan karena merupakan keterampilan. Misalnya orang yang terbiasa mengangkat beban 2 kg mungkin tidak biasa mengangkat beban 4 kg. Atlet angkat berat itu pastinya butuh latihan untuk bisa mengangkat sampai kepada beban maksimal yang bisa dia angkat. Bukan tiba-tiba 40 kg misalnya.
7 Pertanyaan dari Rini Widiarti:
Malam bu Indah. Bagaimana saya bisa membedakan antara kecemasan/stress yang normal terjadi dengan anxiety disorder? Membedakan dan mengatasinya seperti apa?
Jawab:
Stres yang normal tentunya tidak mengganggu fungsi sehari-hari. Dalam keadaan stress kita masih melakukan kegiatan keseharian secara normal. Bisa makan, bisa tidur, bisa mengasuh anak, meski ada tekanan tekanan yang dimana kita bisa memikirkan strategi untuk mengatasinya atau melakukan sesuatu yang menenangkan. Intinya tidak ada perubahan yang berarti. Nah kecemasan sudah menjadi disorder ketika sudah terjadi perubahan yang signifikan mengganggu fungsi keseharian. Misal tidak bisa makan, insomnia lalu berat badan menurun drastis, atau sebaliknya menjadi obesitas karena makan melulu. Atau tidak bisa melakukan apapun (freezing, blocking), tidak bisa berpikir lalu menghindar dari interaksi normal dengan orang lain, anak tidak terurus, pekerjaan terganggu, hubungan dengan orang lain buruk, dll. Jika hal tersebut terjadi terus-menerus dalam batas waktu tertentu misal beberapa bulan berturut-turut maka sudah masuk ke dalam kategori disorder.
8 Pertanyaan dari Tri Rahayu:
Malam mbak Indah. Bagaimana cara mengelola stress agar tidak timbul emosi?
Jawab:
Yang ini sudah dibahas juga di bagian emotional focused. Intinya, mencoba untuk belajar memelihara jeda dalam menyikapi sesuatu masalah yang muncul agar otak berespon terbaik bukan bereaksi sesaat.
Kuncinya memberi kesempatan pada diri sendiri untuk melihat setiap masalah yang muncul agar otak berespon terbaik bukan bereaksi sesaat. Kuncinya memberi kesempatan pada diri sendiri untuk melihat setiap masalah yang muncul dari sisi yang lebih positif, mencoba mencari jalan keluar yang lebih konstruktif, melihat masalah sebagai kesempatan untuk bertumbuh (growth) ketimbang stagnan. Juga melatih menyerahkan setiap masalah pada Tuhan. Sehingga kita bisa berkata “hai masalah, aku punya Dia yang lebih besar dari kamu wahai masalah.” Dan meyakini bahwa setiap masalah yang muncul berada dalam batas kemampuan kita. Kecuali peristiwa-peristiwa yang memang sangat traumatik, lain lagi pembahasannya, misalnya menghadapi bencana, harus dibahas secara khusus.
9 Pertanyaan dari Dewi Retno Sari:
Assalamualaikum. Saya Dewi dari Surabaya, 26 th, ASD PH mau bertanya. Saat stress tiba-tiba datang, apakah hal pertama yang bisa kita lakukan?
Jawab:
(sudah terjawab)
10 Pertanyaan dari Tedja Purnama:
Assalamualaikum mbak. Yang membuat saya stress saat ini pada umumnya bukan karena penyakitnya tapi peraturan BPJS yang aturannya berubah-ubah yang menyebabkan kita-kita ini mengalami proses panjang tidak bisa ke RSCM atau Harapan Kita lagi dengan cara menjegal prosedur rujukan dan pengebirian obat tidak busa untuk 1 bulan, di rumah sakit obat bisa 1 bulan, di RS tipe B hanya 1 minggu (3 minggu sisanya diambil di apotek yang intinya bisa ada bisa tidak). Bagaimana mengatasi hal ini, perjuangan YHPI untuk obat sildenafil sudah gol, sekarang terhambat oleh prosedur.
Jawab:
Ya, ini pastinya membuat bete banget ya Pak. Nah, disini pentingnya dukungan sosial karena pastinya Bapak tidak sendirian menghadapi hal ini. Mungkin berjejaring dengan dokter-dokter yang kompeten juga diperlukan bersama-sama dengan komunitas melakukan sesuatu bila ada yang membutuhkan bantuan atau mengalami situasi emergensi. Apa yang bisa dilakukan bila prosedur menyulitkan untuk mendaptkan pertolongan segera, misalnya. Ini memang sesuatu yang harus dipikirkan bersama tentang sistem atau melibatkan dokter dalam komunitas ini terutama dalam situasi tertentu.
11 Pertanyaan dari Beti Lestari:
Selamat malam mbak Indah, saya Bety ASD PH. Begini mbak, saya kan mudah sekali terkena stress tetapi juga gampang mengatasinya. Tetapi kalau sedikit-sedikit stress apakah dapat mengganggu kesehatan juga ya? Terima kasih.
Jawab:
(kurang lebih sudah terjawab)
12 Pertanyaan dari Asti Fujihartanti:
Selamat siang mbak Indah, yang sudah saya lakukan ketika tahu terkena PH:
1.     berdamai dengan penyakit
2.     tidak menyalahkan Tuhan, diri sendiri atau orang lain
3.     mencoba berpikir positif tetapi kadang orang lain suka memanfaatkan kebaikan kita, pura-pura iba padahal nikung terus kadang saya sampai tidak bisa tidur padahal sudah ‘dimerem-meremin’, sudah doa dzikir dll, akhirnya pada pagi harinya saya lemas karena kurang tidur.
Jawab:
Yang sudah dilakukan sudah cukup baik.
Nah tentang orang yang suka memanfaatkan ini memang sesuatu ya..bikin bete, jengkel, merasa ditipu atau kurang dihargai. Namun disisi lain kita menyadari paling tidak kehadiran kita di dunia ini memang bermanfaat paling tidak. Atau keberadaan kita bermakna bagi orang lain. Karena orang yang terbaik adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Tentang apakah kita jadi dirugikan atau tidak akhirnya, kita bisa ubah niat untuk menjadikan apa yang kita lakukan sebagai sedekah jariyah dalam arti kalau apa yang kita lakukan memang bermanfaat selama orang tersebut merasakan manfaatnya, maka pahala kita terus mengalir tiada henti.
Sedikit tambahan, bahwa memang seringkali kita butuh menyalahkan sesuatu. Apakah itu Tuhan atau orang lain. Itu adalah wajar meski belum tentu benar karena sesungguhya sebagai orang dewasa kita selalu punya pilihan sadar dalam menyikapi sesuatu. Bagaimana kita berespon tentunya kita yang pilih. Nah, uniknya memang antara tubuh dan psikologis (body and mind) itu sangat terkait. Hal ini terjadi di bagian otak yang mengatur emosi yang disebut dengan sistem limbik di mana terdapat amigdala yang berfungsi untuk bereaksi terhadap stimulus emosi. Misalnya, ada ancaman…maka amigdala akan mengirim respon dan mengeluarkan hormon-hormon tertentu yang berpengaruh pada aliran darah. Ketika kita terbiasa berjeda atau tenang sebentar, atau sabar, maka informasi yang masuk akan diolah lebih lanjut di area otak pre frontal, cortex, atau otak depan dengan melibatkan semua pengalaman masa lalu dan nilai-nilai keyakinan yang kita miliki. Maka bila disebut sadar sebagai penolong sesungguhnya bisa dibuktikan secara ilmiah. Biasanya hormon-hormon ini mempengaruhi kerja tubuh tertentu termasuk kerja jantung. Nah, kuncinya jantung adalah mengolah napas yang keluar dan masuk. Ketika kita terbiasa melatih napas maka ketika mengalami serangan panik kita akan terbiasa untuk mengatur irama jantung agar lebih terkendali.
Latihannya sederhana saja, misal pernapasan 478 yaitu 4 hitungan untuk menarik napas, 7 hitungan untuk menahan napas, dalam 8 hitungan kita keluarkan sampai dihembuskan dengan menggunakan suara selepas-lepasnya.
Meditasi juga merupakan salah satu cara untuk menenangkan diri. Mencoba untuk menikmati setiap momen yang kita alami. Hembusan angin yang menyentuh kulit kita, menikmati setiap suara yang terdengar, mengamati setiap rasa yang muncul, mengamati isi pikiran tanpa judgement. Hidup di saat ini, di sini, right here, right now, tanpa menghakimi. Yang sudah berlalu tidak dapat kembali, yang akan datang belum terjadi maka nikmatilah setiap waktu yang berlalu.
Jangan sampai kita tidak menikmati setiap sendok makanan yang kita rasakan di lidah kita, mencium wanginya sabun yang kita gunakan saat mandi atau menikmati aroma teh yang kita minum misalnya karena kita sibuk dengan emosi-emosi negatif yang kita pelihara.
Biarkan ada penyakit atau diagnosa apapun yang kita sandang, namun kualitas hdup kita, bagaimana kita menjalani keseharian itu adalah sepenuhnya pilihan sadar. Apakah kita mau terjebak dalam labirin pikiran negatif tak berujung atau kita keluar dari lingkaran tersebut untuk menenangkan waktu yang dianugerahkan pada kita. Kita menikmati adanya dukungan dari orang-orang tercinta, teman-teman yang memberi dukungan, orang-orang yang berbagi rasa yang sama, dan meningkatkan kualitas hubungan agar menjadi manfaat buat kesehatan kita.
By | 2019-08-06T09:59:11+00:00 October 19th, 2018|Kuliah lewat Telegram|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
WhatsApp chat