Ketangguhan Ibu di Tengah Perjuangan Hidup Bersama Hipertensi Paru

//Ketangguhan Ibu di Tengah Perjuangan Hidup Bersama Hipertensi Paru

Ketangguhan Ibu di Tengah Perjuangan Hidup Bersama Hipertensi Paru

Hari Ibu bukan saja peringatan untuk mengucapkan terima kasih atas jasa ibu yang begitu istimewa bagi seluruh masyarakat Indonesia, tetapi juga untuk meningkatkan bonding antara anak dan ibu.

Diskriminasi, kekerasan, dan kurangnya akses terhadap pendidikan dan kesehatan yang dialami di zaman dulu telah melahirkan perempuan-perempuan hebat yang terus konsisten berjuang demi kesetaraan hak dan kewajibannya.

Peringatan Hari Ibu bertujuan mendorong semua pemangku kepentingan dan masyarakat luas untuk memberikan perhatian serta pengakuan akan pentingnya eksistensi perempuan dalam berbagai bidang pembangunan.

Perempuan Berdaya, Indonesia Maju

Tema Hari Ibu ke-96 yaitu “Perempuan Berdaya, Indonesia Maju” pada tahun ini jatuh pada hari Minggu, 22 Desember 2024. Perempuan-perempuan Indonesia yang nantinya akan menjadi ibu, harus berdaya, sehat, bahagia, dan mandiri, untuk keberlangsungan generasi penerus bangsa untuk Indonesia yang maju.

Tidak semua perempuan memiliki fisik yang sempurna, sebagian diantaranya merupakan pasien berpenyakit kronis. Meski demikian, mereka tetaplah seorang perempuan hebat yang tetap berjuang menjalankan kewajibannya sebagai seorang ibu. Sebagian lagi ada seorang ibu yang harus berjuang mati-matian sebagai caregiver demi menjaga kestabilan anaknya yang terdiagnosa penyakit kronis.

Ada banyak ibu hebat yang memberikan inspirasi melalui perjalanan hidup mereka, di antaranya adalah Ibu Dewi Komalasari seorang perempuan yang telah bertahun-tahun berjuang berdamai dengan penyakit kronis hipertensi paru. Selain itu, ada pula kisah seorang ibu yang luar biasa, Ibu Siany yang merupakan caregiver penuh kasih bagi Indriani Ginoto, seorang pasien lupus dan hipertensi paru.

Hipertensi paru adalah kondisi serius di mana tekanan darah di pembuluh paru-paru meningkat, menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Hal ini membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke paru-paru, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya.

Dewi Komalasari awalnya adalah seorang ibu rumah tangga yang aktif. Sebelum didiagnosis hipertensi paru, kehidupannya berjalan seperti biasa. Ia terbiasa mengurus pekerjaan rumah tangga sendiri, rutin jogging setiap pagi, dan mengantar jemput anak perempuannya ke sekolah. Namun, semuanya berubah ketika ia mulai merasakan gejala-gejala penyakit tersebut. Hidupnya perlahan menjadi penuh tantangan: ia harus sering keluar-masuk rumah sakit dan menjalani pengobatan yang intens.

Cobaan terbesar datang ketika Dewi harus kehilangan kedua tulang panggulnya akibat pembekuan darah, komplikasi yang diakibatkan oleh penyakitnya. Kini, ia menggunakan tulang panggul buatan berbahan platinum untuk menopang tubuhnya.

Meski sempat merasa putus asa, Dewi mendapatkan kekuatan dari anak perempuannya yang kala itu masih duduk di bangku SMP. Dukungan keluarganya, terutama anak dan suaminya, menjadi pendorong utama baginya untuk terus berjuang. Ia bertekad untuk tidak menyerah dan menjalani pengobatan demi keluarganya yang sangat ia cintai.

Hasil dari keteguhan hatinya perlahan mulai terlihat. Anak perempuannya kini telah lulus sebagai seorang dokter dan bahkan memberinya seorang cucu laki-laki yang menjadi kebanggaannya. Meskipun kondisinya sering naik turun dan kini diperumit oleh kehadiran penyakit autoimun, Dewi tetap memilih untuk menjalani hidup dengan penuh syukur.

Sebagai seorang ibu, Dewi terus menunjukkan kekuatan luar biasa meski tubuhnya sering diserang rasa sakit. Senyumnya selalu hadir untuk memberikan kehangatan dan kebahagiaan bagi keluarganya. Ia adalah bukti nyata bahwa cinta dan semangat dapat membantu seseorang bertahan di tengah kesulitan hidup.

Dewi Komalasari adalah inspirasi bagi banyak orang. Perjuangannya melawan hipertensi paru dan autoimun, serta perannya sebagai seorang ibu, menggambarkan betapa besarnya pengorbanan dan kekuatan seorang perempuan dalam menghadapi tantangan hidup.

Berbeda lagi kisah yang dialami Ibu Siany, seorang ibu caregiver yang putrinya yang bernama Indriani Ginoto mengalami penyakit hipertensi paru. Hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan, dan bagi Indri sang anak, perempuan berusia 43 tahun, tantangan yang ia hadapi terasa seperti badai panjang tanpa akhir.

Sejak usia 13 tahun, ia harus berjuang melawan lupus, disusul hipertensi paru tiga tahun kemudian. Namun, di tengah cobaan berat yang terus menguji ketabahannya, ada satu sosok yang selalu menjadi cahaya terang di tengah gelapnya perjalanan: ibunya.

Bagi Indri, ibunya bukan sekadar caregiver. Ia adalah pelindung, penghibur, sekaligus sahabat terbaik. Dalam momen-momen sulit, seperti ketika tangis pecah di tengah malam tanpa alasan, ibunya selalu hadir. Duduk di tepi ranjang, menggenggam tangannya, mendengarkan tanpa menghakimi, lalu membacakan doa dengan suara lembut.

“Ibu selalu sabar, bahkan ketika emosiku naik turun akibat rasa sakit dan lelah. Ia memahami bahwa amarahku bukanlah diriku, melainkan akibat dari penyakit yang menguras tenaga dan emosiku. Ia memilih untuk diam hingga aku tenang, dan seringkali memelukku erat tanpa berkata apa-apa,” kenang Indri.

Perjuangan melawan penyakit kronis selama puluhan tahun bukan hanya menguras fisik dan mental pasien, tetapi juga pendampingnya. Ibunya rela meninggalkan pekerjaannya demi memastikan Indri mendapat perawatan terbaik. Ia mengorbankan waktu bersama teman-temannya, bahkan keinginannya untuk bepergian, demi selalu berada di sisi putrinya.

“Saya pernah merasa rapuh hingga tak mampu bangun dari tempat tidur karena sesak napas dan nyeri yang tak tertahankan. Tapi kehadiran ibu dengan senyuman dan perhatian membuat saya merasa tidak sendirian,” cerita Indri.

Kehidupan ibunya seakan sepenuhnya didedikasikan untuk memastikan Indri bisa bertahan. Dari membantu aktivitas sehari-hari hingga menemani keluar masuk rumah sakit, semua ia lakukan tanpa keluhan, hanya dengan cinta dan senyuman yang penuh ketulusan.

Di Hari Ibu, Indri ingin mengungkapkan rasa terima kasihnya yang mendalam. “Cinta seorang ibu adalah bahan bakar yang memungkinkan manusia biasa melakukan hal-hal luar biasa,” katanya.

Ia bersyukur memiliki ibu yang tidak hanya menjadi pendamping, tetapi juga sumber kekuatan terbesar dalam hidupnya. “Mama, terima kasih telah mencintaiku tanpa syarat. Engkau adalah alasan terbesar aku bertahan. Aku berdoa agar Tuhan memberimu kesehatan dan kebahagiaan di masa tua.”

Indri mengakhiri dengan harapan sederhana: “Selamat Hari Ibu, Mama. Engkau adalah nyala api yang terus membakar harapan dan menjadi cahaya di tengah badai hidupku.”

Kisah inspiratif ibu Dewi Komalasari dan ibu Siany diatas menggambarkan bahwa seorang ibu adalah sumber kekuatan yang tak tergantikan, bahkan di tengah perjuangan melawan hipertensi paru dan tantangan hidup lainnya. Keteguhan hati, cinta tanpa syarat, serta semangat yang tak pernah padam menjadi bukti nyata bahwa peran ibu melampaui batas-batas fisik dan mental.

Hari Ibu menjadi momen refleksi untuk menghormati perjuangan luar biasa mereka, sekaligus mengingatkan kita semua untuk memberikan dukungan, perhatian, dan cinta kepada para ibu, yang merupakan pilar utama bagi masa depan generasi bangsa.

Oleh: Islamiyah

Sumber :
https://kesbang.jogjakota.go.id/detail/index/30898
https://www.rri.co.id/denpasar/daerah/1171356/sejarah-dan-tema-hari-ibu-2024
Thoyib, Isla, dkk.2023. Satu Napas. Jakarta : One Peach Media.
By | 2024-12-18T04:35:00+00:00 December 17th, 2024|Artikel|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
Open chat