Dokter Kembali Menyarankan Terminasi-Kikin-OPJ

//Dokter Kembali Menyarankan Terminasi-Kikin-OPJ

Dokter Kembali Menyarankan Terminasi-Kikin-OPJ

Oleh: Kikin

~ Dokter Kembali Menyarankan Terminasi~

 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Perkenalkan, nama saya Siti Sakinah Mawadah, biasa dipanggil Kikin Sakinah, usia 36 tahun, berasal dari Jakarta. Pada kesempatan ini saya ingin sedikit berbagi perjalanan saya sebagai pejuang VSD (Ventricular Septal Defect) dan Pulmonary Hypertension (PH).

Sejak kelas 3 SD, saya sering sakit dan hampir setiap minggu berobat ke dokter. Karena kondisi saya yang tidak kunjung membaik, orang tua saya meminta penjelasan lebih lanjut mengenai kondisi kesehatan saya. Saat itu dokter menyampaikan bahwa ada kebocoran pada jantung saya dan harus segera ditangani. Dokter memberikan dua pilihan rujukan, yaitu ke RSCM atau RS Jantung Harapan Kita. Ibu saya akhirnya memilih RSCM.

Di RSCM saya langsung mendapatkan pemeriksaan lanjutan. Setelah berbagai pemeriksaan dilakukan, diketahui bahwa saya mengalami kebocoran jantung jenis VSD. Saya kemudian menjalani kateterisasi jantung. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa saya memerlukan operasi jantung terbuka.

Namun, karena keterbatasan biaya, orang tua saya belum mampu membiayai operasi tersebut. Dokter saat itu menyarankan untuk mengajukan bantuan kepada Presiden Soeharto. Semua persyaratan sudah dipersiapkan, tetapi qadarullah pada tahun 1998 terjadi demonstrasi besar yang menyebabkan pergantian pemerintahan. Karena situasi saat itu tidak kondusif dan ibu saya khawatir, pengobatan saya akhirnya terhenti.

Setelah itu saya menjalani kehidupan seperti biasa. Memasuki tahun 2012, saya mulai merasakan ada yang tidak beres dengan kondisi tubuh saya. Setiap menjelang menstruasi, dada saya terasa sangat sakit. Saya memeriksakan diri ke dokter jantung, dan dokter menyarankan agar saya segera menjalani operasi serta kembali berobat ke RSCM karena riwayat saya ada di sana. Namun saat itu saya mengabaikan saran tersebut.

Puncaknya terjadi pada tahun 2016 setelah saya menikah. Saya mengalami batuk berkepanjangan, mual, badan terasa panas dingin, dan kondisi saya tidak kunjung membaik. Banyak orang mengira saya hamil, tetapi hasil tes kehamilan selalu negatif. Akhirnya saya memberanikan diri memeriksakan diri ke poli jantung dan langsung dirujuk ke RS Jantung Harapan Kita.

Di sana saya bertemu dengan dr. Yovie. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter menjelaskan bahwa saya masih memiliki kebocoran jantung VSD dan harus menjalani pengobatan selama enam bulan sebelum dilakukan kateterisasi ulang. Selama masa pengobatan, saya rutin kontrol setiap bulan.

Namun, pada bulan kelima pengobatan saya diketahui hamil. Saat itu saya belum memahami bahwa kondisi saya tidak memungkinkan untuk hamil. Dokter menyarankan agar kehamilan segera diterminasi karena berisiko membahayakan nyawa saya. Awalnya saya tidak memahami alasannya, hingga salah satu dokter menjelaskan bahwa saya mengalami Pulmonary Hypertension (PH).

Akhirnya saya menjalani terminasi kehamilan pertama di RSAB saat usia kandungan sekitar satu bulan, dan alhamdulillah prosedur berjalan dengan baik. Setelah itu dokter kandungan menyarankan saya menggunakan KB spiral (IUD).

Namun qadarullah, enam bulan setelah terminasi pertama saya kembali hamil. Karena takut harus menjalani terminasi lagi, saya sengaja tidak kontrol ke dokter jantung maupun dokter kandungan dan hanya memeriksakan diri ke bidan. Berkat dukungan dan dorongan suami, saya akhirnya memberanikan diri untuk kembali kontrol ke dokter saat usia kandungan sudah memasuki empat bulan.

Saat mengetahui kondisi tersebut, dokter sangat terkejut dan kembali menyarankan terminasi kehamilan demi keselamatan saya. Saya pun menjalani terminasi kedua di RSAB. Pada terminasi kedua ini terjadi perdarahan hebat yang menyebabkan saya koma dan harus dirawat di ICU. Alhamdulillah, setelah 10 hari menjalani perawatan, kondisi saya membaik dan saya diperbolehkan pulang.

Setelah kejadian tersebut, saya memutuskan menggunakan KB IUD agar tidak mengalami kehamilan kembali.

Sampai saat ini saya sudah menjalani empat kali kateterisasi jantung di RS Jantung Harapan Kita. Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi non-reaktif terhadap oksigen, sehingga untuk saat ini saya belum dapat menjalani operasi koreksi VSD.

Alhamdulillah, dengan pengobatan dan pemantauan rutin, kondisi saya saat ini relatif stabil.

Obat-obatan yang saya konsumsi saat ini:

  • Sildenafil
  • Furosemide
  • Bisoprolol
  • Digoxin
  • Candesartan

Demikian sedikit perjalanan saya sebagai pejuang VSD dan Pulmonary Hypertension. Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan perlindungan oleh Allah SWT.

Mohon maaf apabila ada kekurangan dalam penyampaian saya.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

 

By | 2026-07-16T15:48:51+00:00 July 16th, 2026|Our PH Journey|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
Open chat