DETEKSI PENYAKIT JANTUNG BAWAAN SEJAK DINI KEPADA MASYARAKAT
Penyakit Jantung Bawaan dapat didefinisikan sebagai kelainan formasi dari jantung dan pembuluh darah yang keluar/menuju jantung. Secara klinis penyakit ini terbagi menjadi penyakit jantung bawaan biru dan tidak biru. Secara epidemiologi, angka kejadian dari penyakit jantung bawaan adalah sebanyak 1% dari seluruh kelahiran atau 8 dari 1000 kelahiran hidup. Dengan angka kelahiran di Indonesia sejumlah 4,8 juta kelahiran (2016) maka diperkirakan setiap tahun terdapat sekitar 40.000 anak yang lahir dengan penyakit jantung bawaan di seluruh pelosok Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Sebagian besar dari penyakit jantung bawaan ini membutuhkan intervensi, baik secara bedah maupun non bedah.
Congenital Heart Disease atau Penyakit Jantung Bawaan ( PJB ) adalah salah satu penyakit kardiovaskular yang paling umum terjadi. Sesuai dengan namanya, penyakit ini dialami oleh penderitanya sejak lahir. Lebih tepatnya, PJB mulai terjadi ketika proses perkembangan janin. Tentu saja, kelainan bawaan seperti ini menjadi salah satu kondisi yang dikhawatirkan oleh orang tua. Sayangnya, sampai saat ini, masih sangat sedikit kasus penyakit jantung bawaan ( PJB ) yang dapat diketahui segera setelah bayi lahir.
Jenis Penyakit Jantung Bawaan
Penyakit Jantung Bawaan dapat digolongkan menjadi 2 yaitu Penyakit Jantung Bawaan Sianotik dan Asianotik.
Penyakit Jantung Bawaan Sianotik adalah warna kebiruan pada kulit, bibir dan kuku akibat kurangnya kadar oksigen dalam darah.
Penyakit Jantung Bawaan Asianotik, ditandai dengan bunyi jantung tidak normal yang ditemukan pada pemeriksaan fisik. Dokter spesialis anak konsultan kardiologi anak seringkali mendapatkan rujukan dari dokter umum maupun dokter spesialis anak untuk memastikan anak yang memiliki bunyi jantung abnormal atau heart murmur.
Adapun jenis – jenis Penyakit Jantung Bawaan lainnya yaitu :
- PAPVD adalah singkatan dari Partial Anomalous Pulmonary Venous Drainage, yang merupakan jenis penyakit jantung bawaan di mana satu atau beberapa vena pulmonal tidak terhubung dengan atrium kiri secara normal. Sebagai gantinya, vena-vena tersebut terhubung ke atrium kanan atau vena cava superior. Ini menyebabkan sebagian darah yang seharusnya kembali ke jantung untuk dioksigenasi di paru-paru malah kembali ke sirkulasi tubuh tanpa oksigenasi yang cukup. Untuk itu pemeriksaan penunjang tambahan diperlukan seperti angiografi, komputer tomografi (CT) scan, atau resonansi magnetik (MRI) jantung.
- Ventricular Septal Defect (VSD) adalah jenis kelainan jantung bawaan di mana terdapat lubang pada septum (dinding) antara dua ventrikel (ruang bawah jantung). Persistent Pulmonary Hypertension (PH), atau hipertensi pulmonal persisten, adalah kondisi di mana tekanan darah di pembuluh darah paru-paru menjadi tinggi. Studi epidemiologi yang mengevaluasi hubungan antara VSD dan PH telah menunjukkan bahwa sekitar 10% hingga 30% pasien dengan VSD mengalami hipertensi pulmonal.
- Atrial Septal Defect (ASD) adalah kelainan jantung bawaan di mana terdapat lubang pada septum atrium, yaitu dinding yang memisahkan atrium kiri dan kanan jantung. Pada kondisi normal, septum ini berfungsi untuk mencegah darah kaya oksigen bercampur dengan darah yang mengandung karbon dioksida. Atrial Septal Defect (ASD) merupakan salah satu cacat jantung bawaan yang cukup umum, tidak hanya di tingkat global tetapi juga di Indonesia. Di Indonesia, prevalensi ASD cukup signifikan. ASD adalah lesi jantung bawaan kedua yang paling umum di antara anak-anak, setelah Ventricle Septal Defect (VSD). Menurut estimasi, insiden Penyakit Jantung Bawaan (PJB) di Indonesia diperkirakan sekitar 32 hingga 40 ribu kasus setiap tahunnya, dengan ASD menyumbang sekitar 17% dari total kasus tersebut.
Gejala Penyakit Jantung Bawaan
Gejala penyakit jantung bawaan dapat dimulai segera setelah bayi lahir atau mungkin baru muncul di kemudian hari yaitu :
- Rasa mengantuk yang berlebihan
- Napas cepat atau kesulitan bernapas
- Kelelahan menjadi sangat lelah atau kehabisan napas saat berolahraga.
- Murmur jantung (bunyi bising jantung yang mungkin mengindikasikan aliran darah tidak normal)
- Sirkulasi darah yang buruk
- Denyut nadi lemah atau detak jantung berdebar kencang
Faktor Risiko Penyakit Jantung Bawaan
Penyebab terjadinya kelainan struktur jantung selama proses pembentukan organ tubuh janin belum diketahui secara pasti. Namun, ada sejumlah kondisi ibu hamil yang dapat meningkatkan risiko bayi mengalami penyakit jantung bawaan, antara lain:
- Memiliki riwayat keluarga yang menderita penyakit jantung bawaan atau penyakit akibat kelainan genetik, seperti Down syndrome
- Menderita diabetes tipe 1 atau diabetes tipe 2 yang tidak terkontrol
- Mengonsumsi alkohol secara berlebihan dan merokok saat hamil
- Mengalami infeksi virus, misalnya rubella, pada trimester pertama kehamilan
- Mengonsumsi obat-obatan tertentu selama hamil, seperti obat anti-kejang dan obat anti-jerawat golongan retinoid, tanpa petunjuk dokter
- Riwayat kematian mendadak di usia muda pada anggota keluarga
Komplikasi Penyakit Jantung Bawaan
PJB bisa memicu berbagai komplikasi jika tidak ditangani dengan baik:
- Irama jantung tidak normal (aritmia).
- Gagal jantung
- Penyakit ginjal.
- Gumpalan darah.
- Hipertensi paru.
- Endokarditis.
- Gangguan fungsi hati
- Gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (ADHD).
Penyakit Jantung Bawaan Dapat Menimbulkan Hipertensi Paru
Hipertensi paru ( Pulmonary Hypertension ) / hipertensi pulmonal adalah suatu kondisi dimana terjadi tekanan darah tinggi di pembuluh darah paru, yang menghubungkan paru ke jantung. Tekanan darah di arteri pulmonal yang normal adalah 8-20 mmHg, pada pasien Hipertensi Paru, tekanan paru >25 mmHg. Hipertensi Pulmonal adalah penyakit kronis yang memerlukan perubahan / penyesuaian gaya hidup dari pasien dan pengobatan sesegera mungkin setelah diagnosa, karena bila tidak diobati, maka bisa menyebabkan gagal jantung kanan dan berakibat fatal.
Pada hipertensi paru, peningkatan tekanan di arteri pulmonalis menyebabkan jantung kanan harus bekerja lebih keras untuk mengantarkan darah agar sampai ke paru. Penyakit ini dapat mengenai bayi hingga dewasa, dengan awitan penyakit umumnya bergantung pada jenis penyakit jantung bawaan yang diderita anak. Beberapa jenis penyakit jantung bawaan, seperti Defek Septum Atrioventrikular (Atrioventrikular Septal Defek) dan jendela Aortopulmonal (Aortopulmonary Window), akan memiliki risiko lebih tinggi untuk menyebabkan hipertensi paru dibandingkan Defek Septum Atrium (Atrial Septal Defek) dan Duktus Arteriosus Persisten (Persistensi Duktus Arteriosus) .
Gejala – gejala hipertensi paru tidak terlalu spesifik dan terkadang sulit dibedakan dengan gejala penyakit paru lainnya. Gejala yang dapat diamati paling awal berupa anak menjadi cepat lelah, bahkan dengan aktivitas fisik yang sebelumnya dapat ia lakukan tanpa banyak keluhan. Bayi biasanya menjadi kesulitan saat menyusu, atau tersendat-sendat saat menyusu diiringi nafas yang terengah – engah, bahkan muncul kebiruan di mulut dan ujung – ujung jari tangan dan kaki. Pada anak yang lebih tua, penurunan kemampuan beraktivitas terlihat dari kondisi anak yang menjadi lebih cepat lelah saat beraktivitas fisik.
Penyebab Penyakit Jantung Bawaan Pada Bayi Serta Dalam Kandungan
Kelainan bawaan ( Birth Defect ) dapat terjadi pada jantung saat masa pembentukan organ, yang biasanya terjadi pada usia kehamilan 8-16 minggu. Sementara penyakit jantung bawaan atau PJB adalah kelainan kongenital pada struktur anatomi jantung dan atau pembuluh darah ( Kardiovaskular ), atau konduksi listrik ( Aritmia ). Pasien dengan ASD dan PH harus berkonsultasi dengan ahli jantung atau ahli kardiologi intervensi untuk mengevaluasi risiko dan kesiapan jantung mereka untuk kehamilan. Tindakan operasi disarankan dilakukan sebelum kehamilan karena akan memperbaiki dan menurunkan PH, sehingga lebih siap untuk kehamilan.
Kehamilan pada pasien dengan Atrial Septal Defect ( ASD ) dan Persistent Pulmonary Hypertension ( PH ) membutuhkan pengelolaan khusus dan pemantauan yang cermat. penggunaan obat-obatan seperti vasodilator atau pengencer darah sesuai dengan rekomendasi ahli jantung dan spesialis kandungan.
Pasien dengan ASD dan PH memiliki risiko bagi ibu menurunkan kondisi jantung karena beban sirkulasi darah yang meningkat. Juga resiko perkembangan janin apabila aliran darah ke rahim juga terganggu. Persalinan pada pasien dengan ASD dan PH berisiko komplikasi terjadi krisis PH yang berbahaya bagi ibu. Persalinan normal mungkin menjadi pilihan, tetapi dalam beberapa kasus, persalinan caesar dapat direkomendasikan untuk mengurangi tekanan pada jantung dan pembuluh darah paru – paru.
Cara Mendeteksi Penyakit Jantung Bawaan Di Fasilitas Kesehatan
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Aji Muhawarman mengatakan fasilitas layanan kesehatan tingkat pertama (FKTP) telah menyediakan skrining Penyakit jantung bawaan (PJB) yang diharapkan masyarakat bisa memaksimalkan fasilitas yang ada agar mendapat pelayanan utama atau rujukan. Pada saat ini terdapat 107 kabupaten/kota yang mampu memberikan layanan cathlab dan 24 provinsi yang mampu melakukan bedah jantung terbuka. Kementerian Kesehatan sedang kebut untuk meningkatkan ketersediaan alat kesehatan dan infrastruktur, memenuhi kebutuhan dokter spesialis dan nakes lainnya serta penguatan sistem rujukan yang dari FKTP ke Rumah Sakit rujukan.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa risiko penyakit jantung bawaan pada bayi meningkat akibat paparan rokok saat kehamilan baik ibu perokok aktif maupun pasif, konsumsi obat-obatan tertentu, infeksi pada kehamilan, diabetes melitus, dan sindrom atau kelainan genetik tertentu, seperti down syndrome. Pembentukan jantung terjadi di masa awal kehamilan dan hampir selesai pada masa 4 minggu setelah pembuahan, yaitu saat ibu sering kali baru menyadari kehamilannya. Untuk itu, penting bagi setiap Ibu untuk menjaga kesehatan dan asupan nutrisi saat mempersiapkan dan selama periode kehamilan. Kementerian Kesehatan mempunyai target pada tahun 2026 semua provinsi memiliki layanan untuk tatalaksana penyakit jantung
Disusun Oleh: Tria Utari
Tim YHPI ❤️ 💜
Link Sumber: