Perjuangan Tiada Akhir- Nur Alfiani-OPJ

//Perjuangan Tiada Akhir- Nur Alfiani-OPJ

Perjuangan Tiada Akhir- Nur Alfiani-OPJ

Nur Alfiani – Our PH Journey

Perjuangan Tiada Akhir

Halo, assalamualaikum, selamat malam Kakak-kakak sahabat YHPI semua. Semoga dalam keadaan sehat dan sejahtera selalu. Senang sekali bisa bergabung dalam grup yang luar biasa ini, dan dikelilingi dengan orang-orang hebat pastinya. Saya berterimakasih sekali kepada tim admin YHPI yang sudah berkenan memberi kesempatan kepada saya untuk berbagi cerita bersama kakak-kakak di sini. Jujur, saya anggota baru sebenarnya, tepat setahun ini baru bergabung di grup YHPI luar Jawa.

Baik, sebelumnya perkenalkan nama saya Nur Alfiani, biasa dipanggil Fia atau Alfi juga boleh. Usia baru genap 30 tahun, masih single. Domisili dari Samarinda, Kalimantan Timur. Salam kenal ya kakak-kakak semua!

Yah, percaya atau tidak, mengenal para sahabat YHPI di sini adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi saya. Kenapa? Karena sebelumnya, kehidupan saya benar-benar amburadul. Sangat awam dengan kesehatan, khususnya kesehatan saya sendiri. Dari kecil sudah terpisah dengan orang tua, hanya tinggal bersama nenek. Kata nenek sih, sejak lahir memang sudah ada kelainan, namun kelainan apa tepatnya tidak ada pemeriksaan lebih lanjut. Menjalani hari-hari seperti anak-anak pada umumnya, sekolah dan bermain. Hanya saja, teman sebayaku bahkan orang sekitar sering mengejek, “Fia kok kurus sih, gk pernah makan ya?”

Sebenarnya ada keinginan untuk memeriksakan ke dokter, heran juga kan kenapa sekurus ini. Tapi terhalang kondisi keterbatasan ekonomi, karena nenek bukan orang yang mampu. Jadi, uang yang ada hanya cukup untuk makan sehari-hari. Waktu SMP, tiap hari ke sekolah berjalan kaki bolak-balik dengan jarak 4 km, sanggup. Lanjut hingga SMA bahkan waktu kuliah pun, semua berjalan baik-baik saja. Tidak ada keluhan apapun bahkan sampai dibilang saya itu anak yang paling kuat, karena memang jarang sakit seperti demam begitu gak pernah.

Badannya aja yang kurus, tapi sehat kok, kata mereka. Bayangkan saja, selama 4 tahun kuliah sambil kerja, start dari rumah jam 7 pagi, pulang sampai rumah biasa jam 11 atau 12 malam, dan itu dilakukan hampir setiap hari. Lulus kuliah akhir 2018 langsung ditawari kerja di kampus kesehatan ternama di Samarinda, masuklah sebagai koordinator kerjasama. Selama 2 tahun bolak-balik kesana-kemari turun naik tangga bahkan sering berangkat ke luar daerah sendri karena tuntutan pekerjaan. Ada rasa capek yang luar biasa gak bisa dijelaskan dan sering lemas tiba-tiba. Hingga di tahun 2020 masa pandemi, semua perjalanan dinas dihentikan sampai 2021.

Pertengahan 2021 itu mulailah diadakan vaksin, saat diskrining, pemeriksaan itu aman, tensi normal. Diizinkanlan vaksin 1, 2, dan booster. Pas Agustus setelah vaksin booster itulah, mungkin karena banyak faktor sebelumnya juga, saya mulai merasa semakin ada yang tidak beres. Sering berdebar, keringat dingin, sering demam, lemes, naik tangga ngos-ngosan, mual hingga muntah. Periksalah ke klinik dokter umum, katanya ada masalah dengan jantungnya, harus diperiksakan lebih lanjut ke dokter spesialis jantung. Saya agak syok, bukan karena sakitnya, tapi karena mendengar kata rumah sakit (phobia RS sebenarnya).

Setelah diberi resep, seminggu kemudian ada perubahan gak mual lagi, enakan lah, dan merasa normal seperti biasa. Tapi masih sering lemes, dipaksa kerja seharian, sorenya kaki bengkak, dibawa istirahat semalaman, besoknya kembali normal, begitu seterusnya. Hingga, tepat 18 Oktober 2021 saya ditugaskan pelatihan kerjasama di Bandung. Di hari keberangkatan itu, saya kembali merasa gak karuan, panas dingin, berdebar, kaki mulai bengkak, di dalam pesawat dah mulai ngap. Sampai mendarat turun dari pesawat, gak sanggup jalan lagi, gak sadar, drop hingga pingsan. 

Dilarikan ke RS, setelah sadar. Dokter langsung bilang, ini jantungnya gak beres, harus diperiksakan lebih lanjut. Selama sebulan saya dirawat dengan berbagai pemeriksaan lengkap, dari tes darah, foto ronsen dada, ekg, echo, tes fungsi paru, pemindaian CT scan, V/Q scan, terakhir MRI. Sebulan di kota orang, ongkos habis, karena dari awal niatnya kerja bukan ke RS.

Masih belum paham saya ini kenapa, yang diobati ini apa? Dijelaskanlah, saya didiagnosa Hipertensi Paru (PH), yang diobati ini PH-nya, mengurangi sesak di paru-parunya. Untuk jantungnya sendiri belum bisa dipastikan apakah bisa ditindaklanjuti atau tidak karena masih banyak pertimbangan sebab ada kelainan kompleks yaitu DORV VSD. Jika dilanjutkan, kemungkinan akan dirujuk ke RS harapan kita Jakarta.

Saya syok mendengarnya, dengan posisi saya sendiri, gak tau mau apa, kalaupun lanjut otomatis memakan waktu lebih lama lagi. Nenek pun disana sendiri, gak karuan, telponlah minta pulang, udah berobat disini aja katanya.

Dengan berat hati, akhirnya dokter mengizinkan dengan syarat pengobatan harus tetap dilanjutkan karena dari hasil klinis yang lain dinyatakan normal, dari hasil pemeriksaan PH 47 mmHg dan besar VSD 15 mm. Bisa bertahan selama 30 tahun, gak pernah diobati sama sekali, dokter pun heran, inilah keajaiban Tuhan.

Tepat 17 November kembali ke Samarinda. Dan sampai sekarang, tepat setahun ini saya menjalani perawatan. Mengonsumsi dorner, sildenafil racikan 20 mg, dan furosmide. Masih dalam proses pemulihan dengan obat-obatan dan terkadang memakai oksigen jika benar-benar sesak. Sayangnya, tepat 5 September kemarin, rumah nenek kebakaran hingga semua obat dan oksigen pun ikut terbakar habis tak tersisa. Alhamdulillah, sampai sekarang masih bisa berobat rutin kontrol tiap bulan. Konsekuensinya kini saya resign karena pekerjaannya terlalu berat, kondisi sekarang tidak memungkinkan untuk lanjut.

Akhirnya, banting setir menulis dan membuat karya sebanyak-banyaknya. Urusan rezeki insayaaa Allah ada saja jalannya. Masih mengumpulkan keberanian, jika memang ada jalannya, semoga bisa kembali dikoreksi. Yah, begitulah sekilas cerita dari saya, mohon maaf jika terlalu panjang, terimakasih.

Teruntuk sahabat YHPI di mana pun berada. Kita sudah lama berjuang bersama, jangan sampai perjuangan ini sia-sia. Kita harus semangat dan berakhir sehat, itulah impian kita. Perjuangan ini pasti berakhir manis, aku yakin itu. Kau dan aku sama-sama tahu, meskipun obatnya hanya satu, tetapi semangat hidup terus berjuang tak kenal waktu. Perjuangan tiada akhir, perjuangan belum berakhir, masih banyak cerita yang akan terukir, menjadi catatan perjalanan panjang karena takdir.

Tak perlu risau dengan keadaan, jangan menyerah dalam keterbatasan, tak harus pasrah menerima suratan. Satu pertemuan yang kita namakan Our PH Journey, bertajuk santai menghadapi tantangan, bangkit bersama saling menguatkan. Kita harus menang melawan kronis, meskipun kekuatan raga perlahan terkikis.

Berawal dari OPJ, mengenalkan kisah perjuangan semasa baru. Kesan pertama terdiagnosis, hancur pilu menggetarkan kromosis, akankah sanggup melewati masa kritis. Telah kita rasakan bersama, awal simptom berangsur bahaya, berakibat fatal saat kontrol aktivitas tak terjaga.

Kelelahan menyiksa, sesak napas menderu sukma, tubuh lunglai tak lagi merasakan apa-apa. Para sahabat yang telah berbagi pengalaman bersama seperjuangan melawan PH. Yakinkan diri tak sendiri, merangkul bersama saling menyemangati, melepas kekhawatiran kondisi yang belum diketahui secara pasti.

Apakah operasi bisa menyembuhkan, atau hanya sebatas menyambung napas. Tersengal-sengal mempertahankan, tertatih-tatih menenangkan pikiran, berwelas asih menyatukan kasih sayang. Bukan tak ingin berharap banyak, puing-puing harapan sedikit beranjak, meski tahu akhirnya tak biasa-biasa, masih mencari celah melebihi batas normal tak biasa.

Sejenak berpikir merenungi waktu, saat segalanya tak berjalan sesuai rencana, apa yang dicita-citakan tak bisa dicapai. Dengan terpaksa menahan perasaan sakit dan putus asa, diimbangi rasa sesal kenapa kondisi ini harus ada, tak bisa dipungkiri gumpalan tanya mewakili isi kepala. Sesekali menengok saksama, menceritakan apa yang terjadi dalam kehidupan masing-masing, membentuk koneksi emosi positif menjadi lebih kuat.

Dulu dan sekarang tak lagi sama. Kita yang dulu masih bisa berlari, kini harus terima hanya sanggup berjalan perlahan. Jangan lagi menekan ego diri, sama-sama belajar mengasumsi pikiran dan hati, terima kasih telah bertahan sampai detik ini.

Jangan pernah lelah dengan keadaan, tetap semangat karena kita tak sendirian, masih ada Tuhan pemberi jalan dan pemberi kekuatan.

Salam sehat, salam perjuangan, salam semangat untuk kita semua, khususnya para sahabat pejuang PH yang ada di sini. Kita semua hebat, kita semua kuat!

By | 2022-12-05T06:35:20+00:00 December 5th, 2022|Our PH Journey|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
Open chat