Manajemen Stres untuk Caregiver dan Pasien: Menjaga Kewarasan Bersama-KULWAP

///Manajemen Stres untuk Caregiver dan Pasien: Menjaga Kewarasan Bersama-KULWAP

Manajemen Stres untuk Caregiver dan Pasien: Menjaga Kewarasan Bersama-KULWAP

Kuliah Whatsapp adalah program tanya jawab lewat group di aplikasi whatsapp antara anggota YHPI dengan dokter/narasumber ahli lainnya untuk topik-topik terkait Hipertensi Paru yang diadakan secara rutin dan berkala.

Untuk bergabung dalam group whatsapp dan mengikuti kuliah berikutnya, silakan hubungi Admin Pusat YHPI 0811-8986-799

 

PENGUMUMAN KULWAP YHPI

  • Waktu : Jum’at, 19 Juni 2026
  • Pukul : 19.00 – 20.00 WIB
  • Narasumber : Clarisa Cahyanti Putri, S.Psi., Psikolog (Konselor Psikologi dari Patient Advocate Inspirasien)
  • Tema : Manajemen Stres untuk Caregiver dan Pasien: Menjaga Kewarasan Bersama
  • Moderator : Amida

Untuk melihat materi silahkan KLIK DISINI

Sebelum kita masuk ke materi, saya tadi mengajak teman-teman menonton sebuah video singkat berdurasi sekitar dua menit. Video ini menggambarkan bagaimana keseharian seorang caregiver yang mungkin tampak biasa dari luar, tetapi sebenarnya dipenuhi dengan tanggung jawab, pengorbanan, dan berbagai tantangan yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain.

Melalui video ini, saya ingin mengajak untuk melihat bahwa menjadi caregiver bukan hanya tentang membantu memenuhi kebutuhan fisik pasien, tetapi juga tentang menghadapi beban emosional, kelelahan, dan perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Harapannya, setelah menonton video ini, kita dapat lebih memahami mengapa kesehatan mental caregiver maupun pasien perlu mendapat perhatian yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Ketika seseorang sedang sakit, perhatian kita sering kali tertuju pada proses pengobatan dan kondisi pasien. Namun, ada satu hal yang sering terlupakan, yaitu kesehatan mental, baik pada pasien maupun orang yang merawatnya.

Menjadi caregiver bukanlah peran yang mudah. Di sisi lain, menjadi pasien juga membawa tantangan emosional yang tidak kalah besar. Keduanya sama-sama dapat mengalami stres, kelelahan, bahkan merasa sendirian dalam menghadapi situasi yang ada.

Pada materi yang sudah dikirimkan pagi tadi, kita bisa belajar bersama memahami apa itu stres, mengapa caregiver dan pasien rentan mengalaminya, mengenali tanda-tanda ketika stres mulai muncul, serta memahami dampaknya apabila tidak dikelola dengan baik. Selain itu, di dalam materi ini juga terdapat beberapa tips sederhana yang dapat diterapkan sehari-hari untuk menjaga kesehatan mental, mengelola stres dengan lebih sehat, serta mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mencari bantuan.

Harapannya, setelah mengikuti sesi ini, Bapak dan Ibu tidak hanya mampu merawat orang lain dengan lebih baik, tetapi juga dapat lebih peka terhadap kondisi diri sendiri. Karena caregiver yang sehat akan mampu memberikan perawatan yang lebih optimal, dan pasien yang merasa didukung juga akan lebih kuat dalam menjalani proses pemulihan.

 

1. Pertanyaan:

Nama: Nur, Usia: 36, Domisili: Tegal. Dok izin bertanya. Bagaimana cara mengelola stress yang berkepanjangan aku ibu rumah tangga yang harus kerja serta ngurus ke tiga anak sendirian. Apa lagi anak yang pertama udah beranjak remaja serta punya todler yang lagi aktif” Nya sering bikin rusuh rumah Kdang kurang istrht jg bikin kepala selalu pusing serta dada sering nyeri serta sering  marah” Terus bawaanya. Gimana cara ngatasinnya dok. Mkasih dok

Jawaban:

Halo Ibu Nur, terima kasih sudah berkenan berbagi cerita yaa. Dari yang Ibu ceritakan, mengurus tiga anak, bekerja, kurang istirahat, ditambah menghadapi anak remaja dan balita yang sedang aktif tentu membutuhkan energi yang sangat besar. Kondisi seperti ini dapat membuat tubuh dan pikiran kelelahan sehingga muncul keluhan seperti mudah marah, pusing, dada terasa nyeri, dan merasa stres berkepanjangan.

Beberapa hal yang bisa Ibu coba lakukan antara lain:

  1. Berikan waktu jeda singkat untuk diri sendiri. Tidak perlu lama, 10–15 menit untuk duduk tenang, minum teh hangat, atau melakukan pernapasan perlahan (pelan pelan dirasakan setiap hembusan napas yang masuk keluar) dapat membantu tubuh lebih rileks.
  2. Kurangi tuntutan untuk selalu sempurna. Saat beban sedang banyak, fokuslah pada hal-hal yang paling penting terlebih dahulu. Tidak semua pekerjaan rumah harus selesai dalam satu waktu.
  3. Libatkan anggota keluarga yang bisa membantu. Jika memungkinkan, minta bantuan pasangan, keluarga, atau anak yang lebih besar untuk berbagi tugas sederhana di rumah.
  4. Jaga kebutuhan dasar tubuh. Usahakan tetap makan teratur, minum cukup air, dan mencuri waktu istirahat ketika ada kesempatan.
  5. Kelola emosi dengan mengenali tanda-tandanya. Ketika mulai merasa kesal atau marah, coba berhenti sejenak, tarik napas perlahan 3–5 kali, lalu berikan waktu sebelum merespons situasi yang memicu emosi. Jangan sampai emosi yang menguasai padahal yang punya kendali atas emosi harusnya kita.

Saya juga ingin memberi perhatian pada keluhan dada yang sering nyeri dan kepala yang sering pusing. Keluhan tersebut memang bisa muncul saat seseorang mengalami stres berkepanjangan, tetapi juga perlu diperiksakan ke dokter untuk memastikan tidak ada kondisi fisik lain yang mendasarinya ya jika masih terus dirasakan.

2. Pertanyaan:

Nama : Dwiyana, Usia : 48 thn, Domisili : Depok.  Assalamualaikum.. izin bertanya. Saat sesak dan debar² datang tiba² atau saturasi menurun, saya sering panik (cemas) dan takut kondisi PH memburuk. Padahal kepanikan itu justru membuat sesak makin terasa.. Bagaimana cara mengelola kecemasan dan kepanikan pada kondisi seperti ini? Terima kasih

Jawaban:

Waalaikumsalam Ibu Dwiyana, terima kasih ya sudah bertanya. Apa yang Ibu rasakan sangat wajar. Ketika muncul sesak, jantung berdebar, atau saturasi menurun, tubuh secara otomatis dapat menganggap situasi tersebut sebagai ancaman sehingga memicu kecemasan atau kepanikan. Sayangnya, saat panik muncul, napas menjadi lebih cepat dan tegang sehingga sensasi sesak sering terasa semakin berat.

Beberapa hal yang dapat Ibu coba ketika gejala muncul:

  1. Fokus pada pernapasan perlahan. Cobalah menarik napas perlahan melalui hidung, lalu mengembuskannya lebih panjang melalui mulut. Tujuannya bukan menghilangkan sesak secara instan, tetapi membantu tubuh keluar dari mode panik. Terus ulangi sampai terasa lebih tenang.
  2. Bedakan antara gejala dan pikiran yang muncul. Misalnya saat muncul pikiran, “Kondisi saya memburuk,” coba ingatkan diri, “Saat ini saya sedang merasakan sesak dan kecemasan. Saya akan mengikuti langkah penanganan yang sudah dianjurkan dokter dan memantau kondisi saya”
  3. Gunakan teknik _grounding_. Arahkan perhatian pada hal-hal di sekitar yang dapat dilihat, didengar, atau dirasakan. Teknik ini membantu mengalihkan fokus dari pikiran yang berputar pada kemungkinan terburuk.
  4. Siapkan rencana tindakan saat gejala muncul. Misalnya: cek saturasi, atur posisi tubuh yang nyaman, lakukan teknik pernapasan, dan ikuti instruksi dokter. Memiliki langkah yang jelas sering kali membantu mengurangi rasa panik.
  5. Terbuka terkait ketakutan yang dirasakan pada orang terdekat. Dengan terbuka bercerita akan membuat lebih lega. Apalagi kita akan mendapatkan dukungan dari orang tedekat. Dukungan sosial dapat membantu kita untuk lebih baik secara emosional.

3. Pertanyaan:

Nama: zulia, Usia: 23th, Domisili: Jombang

Pertanyaan:

  1. Bagaimana cara membedakan overthinking karena cemas dan overthinking karena kekurangan oksigen yang disebabkan oleh PH ya dok?
  2. Dok, saya 23 tahun didiagnosa PH + ASD. Jujur ada fase saya legowo, tapi sering juga denial & marah karena ngerasa masa depan saya ‘dirampas’. Gimana cara sehat buat ngadepin rasa nggak terima ini tanpa denial berkepanjangan?

Terimakasih

Jawaban:

Halo Kak Zulia, terima kasih yaa sudah berbagi.

  1. Bagaimana membedakan overthinking karena cemas dan karena kondisi fisik (misalnya kekurangan oksigen akibat PH)? Keduanya memang bisa terasa mirip karena sama-sama dapat memengaruhi konsentrasi dan pikiran.

Overthinking karena kecemasan biasanya ditandai dengan:

    • Pikiran berulang tentang kemungkinan terburuk. Jadi, ada pikiran yang melatarbelakangi.
    • Sulit menghentikan kekhawatiran meskipun belum ada bukti bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi.
    • Muncul rasa takut, gelisah, atau waswas berlebihan.
    • Pikiran sering melompat ke masa depan (“Bagaimana kalau nanti…?”).

Gangguan konsentrasi akibat kondisi fisik atau kekurangan oksigen lebih sering ditandai dengan:

    • Sulit fokus atau merasa “brain fog” (pikiran terasa berkabut).
    • Mudah lupa atau sulit mengikuti pembicaraan.
    • Merasa lelah secara fisik bersamaan dengan penurunan fokus.
    • Keluhan muncul atau memburuk saat kondisi tubuh sedang tidak stabil, misalnya ketika sesak meningkat atau saturasi menurun.

Namun, penting dipahami bahwa pada PH keduanya juga bisa terjadi bersamaan. Karena itu, jika Kakak merasa konsentrasi menurun secara signifikan atau berbeda dari biasanya, sebaiknya tetap dikonsultasikan kepada dokter yang menangani PH agar kondisi fisiknya dapat dievaluasi.

  1. Bagaimana menghadapi rasa tidak terima, marah, dan denial karena merasa masa depan “dirampas”?

Kak, yang Kakak rasakan adalah respons yang sangat manusiawi. Ketika seseorang menerima diagnosis penyakit, sering kali muncul proses berduka atas kehidupan yang dibayangkan sebelumnya. Rasa sedih, marah, kecewa, bahkan penolakan bukan berarti Kakak lemah atau tidak bersyukur.

Izinkan diri merasakan emosi tersebut. Kadang kita berusaha terlalu cepat “ikhlas” sehingga emosi yang belum selesai justru terus muncul. Mengakui bahwa “saya sedih”, “saya marah”, atau “saya kecewa” sering kali lebih membantu daripada memaksa diri untuk segera menerima semuanya.

Bedakan kehilangan impian dengan kehilangan masa depan. Mungkin ada beberapa rencana yang perlu berubah, tetapi bukan berarti seluruh masa depan Kakak hilang. Sering kali yang berubah adalah bentuk jalannya, bukan seluruh harapannya.

Fokuslah pada hal yang masih bisa dikendalikan hari ini. Penyakit memang bukan pilihan Kakak, tetapi cara merawat diri, mengikuti pengobatan, menjaga relasi, belajar, berkarya, dan menemukan makna hidup tetap berada dalam ruang yang bisa Kakak pengaruhi / upayakan.

Penerimaan bukan berarti menyukai kondisi yang ada, melainkan mengakui kenyataan sambil tetap menjalani hidup sesuai nilai dan tujuan yang penting bagi diri sendiri. Yang paling penting, Kak Zulia tidak harus memilih antara “denial” atau “pasrah”. Ada ruang di tengah-tengahnya, yaitu mengakui bahwa kondisi ini berat dan tidak adil, sambil tetap melangkah sedikit demi sedikit menjalani hidup yang bermakna.

Saya justru melihat bahwa kalimat kadang legowo, kadang denial dan marah menunjukkan bahwa Kakak sedang berproses. Penerimaan jarang berjalan lurus; sering kali maju beberapa langkah, lalu mundur lagi, dan itu merupakan bagian yang wajar dari perjalanan. Semoga Kakak selalu diberikan kekuatan dan dukungan dalam menjalani proses ini yaa

4. Pertanyaan:

Nama: Santi, Usia: 32, Domisili: Gresik. Assalamualaikum dokter izin bertanya. Bagaimana cara mengelola stress yang sedang saya alami, ketika saya bru tau  diagnosa dokter ada PJB n PH, sedangkan kcemasan sayaa terkait masa depan ank2 saya yang masih kecil2..kemudian proses penyembuhan yang mnrut sayaa sangat lama dan penuh resiko..sampai saya sering mengalami ovt brlebih hingga bepengaruh ke pola makan dan sering sekali mengalami insomnia. Terimkasih dokter. Wassalamualaikum wr wb

Jawaban:

Waalaikumsalam Ibu Santi, terima kasih ya sudah berkenan berbagi cerita. Menerima diagnosis PJB dan PH bukanlah hal yang mudah, terlebih ketika Ibu juga memikirkan anak-anak yang masih kecil. Wajar jika muncul rasa takut, cemas, sedih, marah, atau banyak pertanyaan tentang masa depan. Kondisi yang Ibu alami saat ini menunjukkan bahwa Ibu sedang menghadapi perubahan besar dalam hidup, sehingga pikiran terus bekerja mencoba mencari kepastian di tengah situasi yang belum pasti.

  1. Saat overthinking muncul, coba fokus pada hal yang bisa dikendalikan hari ini. Misalnya mengikuti pengobatan, menjaga pola istirahat, memenuhi kebutuhan nutrisi, dan menghadiri kontrol sesuai jadwal. Kekhawatiran tentang masa depan sering kali membuat pikiran melompat jauh ke depan, padahal tubuh dan pikiran kita hanya bisa bekerja pada langkah yang ada saat ini.
  2. Luangkan waktu khusus untuk menyalurkan kecemasan. Ibu dapat menuliskan semua ketakutan dan kekhawatiran yang muncul di buku catatan. Setelah ditulis, coba kelompokkan mana yang bisa dilakukan tindakan saat ini dan mana yang belum bisa dikendalikan. Cara ini membantu pikiran tidak terus-menerus berputar di kepala.
  3. Jaga kebutuhan dasar tubuh. Stres berkepanjangan dapat memengaruhi nafsu makan dan kualitas tidur. Usahakan makan dalam porsi kecil tetapi teratur, serta membuat rutinitas sebelum tidur seperti mengurangi penggunaan gawai, mendengarkan murottal atau musik yang menenangkan, berdoa, atau melakukan latihan pernapasan ringan.
  4. Berikan ruang untuk menerima emosi yang muncul. Tidak apa-apa jika ada hari di mana Ibu merasa kuat dan ada hari di mana Ibu merasa takut. Penerimaan bukan berarti menyerah, melainkan mengakui bahwa kondisi ini ada dan tetap berusaha menjalani hidup sebaik mungkin.
  5. Jangan menghadapi semuanya sendirian. Ceritakan perasaan Ibu kepada pasangan, keluarga, sahabat, atau komunitas sesama penyintas. Dukungan sosial sering kali membantu mengurangi beban yang terasa sangat berat ketika dipikul sendiri. Agar Ibu juga tidak merasa sendiri dalam menjalani setiap prosesnya.

Ibu, dari cerita yang disampaikan, saya melihat bahwa yang paling Ibu khawatirkan adalah masa depan anak-anak. Kekhawatiran itu muncul karena besarnya rasa sayang dan tanggung jawab Ibu kepada mereka. Namun perlu diingat bahwa saat ini, salah satu bentuk kasih sayang terbaik yang dapat Ibu berikan kepada anak-anak adalah dengan menjaga kesehatan dan merawat diri sebaik mungkin. Dengan begitu, Ibu memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk tetap hadir dan mendampingi mereka dalam perjalanan tumbuh kembangnya.

5. Pertanyaan:

Nama : Marlina, Usia : 39 thn, Domisili : jaksel. Gimana caranya mengenali tanda2 gejala tubuh karena panik/cemas sama karena PH ny sedang terasa.dan apa bedanya ketika kita sedang merasa PHny sedang menurun ataukah ini tanda jantung sedang tidak baik2 saja? Terimakasih

Jawaban:

Halo Ibu Marlina, terima kasih atas pertanyaannya.

Saat cemas atau panik, biasanya muncul:

  • Jantung berdebar lebih cepat.
  • Napas terasa pendek atau seperti kurang puas saat bernapas.
  • Tubuh gemetar, berkeringat, atau terasa tegang.
  • Pikiran dipenuhi kekhawatiran dan ketakutan akan kemungkinan terburuk.
  • Gejala sering muncul atau memburuk ketika sedang memikirkan kondisi kesehatan, lalu berangsur membaik ketika tubuh dan pikiran mulai tenang.

Saat gejala PH sedang meningkat atau kondisi fisik menurun, biasanya keluhan lebih berkaitan dengan aktivitas fisik, misalnya:

  • Sesak yang muncul saat melakukan aktivitas yang sebelumnya masih mampu dilakukan.
  • Mudah lelah atau stamina menurun dibanding biasanya.
  • Pusing, hampir pingsan, atau pingsan saat beraktivitas.
  • Saturasi oksigen menurun dari kondisi yang biasanya.
  • Keluhan tidak selalu membaik hanya dengan menenangkan diri karena ada faktor fisik yang mendasarinya.

Namun, perlu diingat bahwa cemas dan PH dapat saling memengaruhi. Misalnya, sesak karena PH dapat memicu kepanikan, lalu kepanikan membuat sesak terasa lebih berat. Akibatnya, gejala fisik dan emosional menjadi seperti lingkaran yang saling memperkuat.

Salah satu cara yang dapat Ibu coba adalah membuat catatan gejala harian. Tuliskan kapan gejala muncul, apa yang sedang dilakukan saat itu, bagaimana saturasi, serta apa yang Ibu rasakan dan pikirkan. Seiring waktu, pola tertentu sering kali mulai terlihat sehingga lebih mudah membedakan apakah keluhan lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi fisik, kecemasan, atau kombinasi keduanya

6. Pertanyaan:

Nama:usfuriyah, Usia:37th, Domisili:kudus. Dok izin bertanya jujur saya akhir2 iki merasakan overthinking krn jdwl OP yang sdh dekat bingung takut semua ada bingung antara mau maju OP tapi takut gagal. Takut mau mundur OP tapi takut juga nnti ada gejala dan PH bisa naik. Terus terang perasaan ini membuat saya sangat tdk nyaman dok. Bagaimana cara mengelola stres /overthingking yang saya rasakan ya dok??Trmksh sblmnya.

Jawaban:

Halo Ibu Usfuriyah, terima kasih sudah percaya untuk berbagi dan bertanya. Apa yang Ibu rasakan menjelang operasi adalah hal yang sangat wajar. Banyak orang yang akan menjalani tindakan medis mengalami ketakutan, kebingungan, dan berbagai kemungkinan yang terus berputar di pikiran.

Di satu sisi Ibu ingin menjalani operasi agar kondisi kesehatan dapat ditangani, tetapi di sisi lain ada rasa takut terhadap risiko dan hasilnya. Kondisi ini sering membuat pikiran terjebak dalam berbagai skenario yang belum tentu terjadi.

  1. Cobalah membedakan antara fakta dan ketakutan. Saat overthinking muncul, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah ini informasi yang sudah dijelaskan dokter, atau ini kemungkinan yang sedang saya bayangkan?” Sering kali kecemasan membuat kita lebih fokus pada kemungkinan terburuk dibandingkan informasi yang sebenarnya.
  2. Fokus pada keputusan yang sudah dipertimbangkan bersama tim medis. Jika operasi direkomendasikan setelah melalui pemeriksaan dan pertimbangan dokter, berarti keputusan tersebut diambil dengan memperhitungkan manfaat dan risikonya. Mengingat hal ini dapat membantu mengurangi beban karena Ibu tidak menghadapi situasi ini sendirian.
  3. Batasi waktu untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi. Ketika pikiran mulai berputar, arahkan kembali perhatian pada aktivitas yang sedang dilakukan saat ini atau hal-hal yang perlu dipersiapkan menjelang operasi.
  4. Kelola kecemasan melalui relaksasi sederhana. Misalnya menarik napas perlahan, berdoa, berdzikir, mendengarkan bacaan yang menenangkan, atau berbicara dengan orang yang dipercaya. Tujuannya bukan menghilangkan rasa takut sepenuhnya, tetapi membantu tubuh tidak terus-menerus berada dalam kondisi tegang.
  5. Izinkan diri untuk merasa takut. Keberanian bukan berarti tidak takut, tetapi tetap melangkah meskipun ada rasa takut. Tidak apa-apa jika Ibu merasa khawatir menjelang operasi, karena itu menunjukkan bahwa tindakan ini memang penting bagi Ibu.

Dari cerita Ibu, saya menangkap bahwa yang paling membuat tidak nyaman adalah ketidakpastian. Takut jika operasi gagal, tetapi juga takut jika tidak dilakukan justru kondisi kesehatan memburuk. Ketika menghadapi situasi yang tidak pasti, sering kali yang paling membantu adalah memusatkan perhatian pada langkah yang bisa dilakukan hari ini, bukan mencoba mengendalikan semua kemungkinan yang akan datang. Karena apa yang akan terjadi di masa depan atau besok itu bukan hal yang bisa kita kendalikan sepenuhnya. Semoga proses operasi berjalan lancar dan Ibu diberikan ketenangan serta kekuatan dalam menjalani proses ini ya.

7. Pertanyaan:

Nama: Bu Slamet, Usia: 40 th, Domisili: Boyolali. Kehilangan seorang ibu belum lama ini adalah pukulan terberat bagi saya, kepergian ibu yang mendadak disaat saya masih membutuhkan ibu karena beliau adalah suport sayastem terbaik saya selama ini dalam menghadapi penyakit saya ini, sudah mencoba ikhlas tapi kesedihan masih terasa sampe sekarang, ini membuat saya cemas dan khawatir bagaimana saya menjalani kehidupan dan penyakit saya ini sementara dukungan dari orang yang paling saya sayangi sudah tidak ada,

Pertanyaan saya dok, bagaimana caranya biar bisa berdamai dengan diri sendiri dan kecemasan dalam menjalani masa depan nanti karena kehilangan orang yang kita sayangi?

Jawaban:

Halo Ibu Slamet, terima kasih ya sudah berkenan berbagi cerita. Kehilangan seorang ibu, terlebih sosok yang selama ini menjadi tempat bersandar, sumber kekuatan, dan pendukung utama dalam menghadapi penyakit, memang dapat meninggalkan duka yang sangat besar. Apalagi jika kepergian tersebut terjadi secara mendadak. Wajar jika sampai saat ini Ibu masih merasakan kesedihan, kehilangan, bahkan kecemasan tentang bagaimana menjalani hidup ke depan tanpa kehadiran beliau.

  1. Pertama, izinkan diri Ibu untuk berduka. Banyak orang berpikir bahwa “ikhlas” berarti tidak boleh sedih lagi. Padahal, seseorang bisa menerima kepergian orang yang dicintai dan tetap merasakan rindu serta kesedihan. Kesedihan bukan tanda bahwa Ibu belum ikhlas, melainkan tanda bahwa hubungan dan kasih sayang Ibu kepada almarhumah sangat berarti.
  2. Berdamai dengan kehilangan bukan berarti melupakan. Sering kali yang berubah bukanlah rasa cinta kepada orang yang telah pergi, melainkan cara kita membawa cinta tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kenangan, nilai-nilai, nasihat, dan kasih sayang yang pernah diberikan ibu tetap dapat menjadi sumber kekuatan meskipun beliau sudah tidak hadir secara fisik.
  3. Saat kecemasan tentang masa depan muncul, coba fokus pada satu langkah yang dapat dilakukan hari ini. Pikiran yang sedang berduka sering kali melompat jauh ke masa depan dan membayangkan berbagai kemungkinan yang menakutkan. Padahal, menghadapi satu hari pada satu waktu biasanya terasa lebih ringan dibandingkan memikul seluruh masa depan sekaligus.
  4. Ingat bahwa dukungan tidak selalu hilang sepenuhnya. Memang tidak ada yang dapat menggantikan sosok ibu. Namun, perlahan-lahan Ibu dapat mulai melihat siapa saja orang di sekitar yang masih bisa menjadi tempat berbagi, baik keluarga, pasangan, sahabat, komunitas, maupun tenaga profesional. Dukungan mungkin berubah bentuk, tetapi Ibu tidak harus menjalani semuanya sendirian.
  5. Bangun dialog yang lebih positif dengan diri sendiri. Ketika muncul pikiran seperti, “Bagaimana saya bisa menjalani ini tanpa ibu?”, coba ubah menjadi, “Ini memang berat, tetapi saya akan menjalaninya selangkah demi selangkah dengan bekal yang selama ini ibu ajarkan.”

Dan satu hal yang perlu Ibu ketahui, tidak ada batas waktu yang pasti untuk berduka. Jika kehilangan itu terjadi belum lama ini, sangat wajar apabila rasa sedih masih datang dalam gelombang-gelombang tertentu. Terima rasa yang hadir sambil terus merawat kesehatan diri sendiri dapar menjadi langkah awal yang bisa dilakukan.

Semoga Tuban memberikan ketenangan hati, menguatkan langkah Ibu dalam menjalani pengobatan dan kehidupan sehari-hari, serta menempatkan almarhumah ibu di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin

Saat perasaan sedih mulai terasa sesak, Ibu juga bisa mencoba relaksasi sederhana ya. Tarik napas perlahan, lalu hembuskan pelan-pelan, ulangi sampai tubuh terasa lebih tenang.

 

 

“Terima kasih teman-teman atas pertanyaan dan cerita yang telah dibagikan hari ini. Semoga jawaban yang saya sampaikan dapat memberikan sedikit gambaran dan membantu dalam menghadapi situasi yang sedang dijalani ya. Sebelum saya akhiri, saya ingin mengingatkan bahwa kesehatan fisik dan kesehatan mental sama-sama penting untuk dijaga.

Tidak apa-apa jika ada hari-hari yang terasa berat. Jalani satu langkah pada satu waktu dan fokus pada hal-hal yang masih dapat dikendalikan. Mungkin ada hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan, tetapi masih ada banyak hal yang bisa kita upayakan. Dan selama masih ada harapan, sekecil apa pun, selalu ada alasan untuk terus melangkah.

Tetaplah saling menguatkan satu sama lain yaa. Dengan dukungan dari sesama anggota YHPI pasti akan bermakna dan bermanfaat dalam menjalani setiap proses yang sedang dijalani. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk berbagi di grup YHPI. Semoga seluruh anggota selalu diberikan kesehatan dan kelancaran.”_ Clarisa Cahyanti Putri, S.Psi., Psikolog

 

By | 2026-07-16T16:50:50+00:00 July 16th, 2026|Kuliah lewat WhatsApp|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
Open chat