Kuliah Whatsapp adalah program tanya jawab lewat group di aplikasi whatsapp antara anggota YHPI dengan dokter/narasumber ahli lainnya untuk topik-topik terkait Hipertensi Paru yang diadakan secara rutin dan berkala.
Untuk bergabung dalam group whatsapp dan mengikuti kuliah berikutnya, silakan hubungi Admin Pusat YHPI 0811-8986-799
PENGUMUMAN KULWAP YHPI
- Waktu : Rabu, 22 April 2026
- Pukul : 19.00 – 20.00 WIB
- Narasumber : Adlina Windya Megahputri, S.Psi (Konselor Psikologi dari Patient Advocate Inspirasien)
- Tema : Self-Compassion: Belajar Mencintai Diri Sendiri Saat Tubuh Terasa Tak Kompromi
- Moderator : Amida
Untuk melihat materi silahkan KLIK DISINI
Teman-teman, hidup dengan penyakit kronis bukan hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga secara emosional. Tanpa disadari, biasanya kita jadi lebih keras pada diri sendiri, dengan menyalahkan, membandingkan, atau merasa tidak cukup dengan diri sendiri.
Dengan self-compassion, kita mencoba memperlakukan diri sendiri dengan lebih lembut. Di tengah kondisi yang tidak selalu bisa kita kontrol, hal yang paling kita butuhkan adalah menjadi lebih baik kepada diri sendiri.
1. Pertanyaan:
Nama: Nur, ASD PH, 36 th, Tegal.
Dok izin bertanya. Bagaimana cara agar kita tak mengeluh dengan keadaan yang kita alami. Di saat semua orang hanya bisa menyalahkan. Rasanya capek dok. Tidak ada yang menyemangati sedangkan anak” masih kecil. Orang” nggak percaya kalau aku sakit dan orang” sekitar cuma menganggap aku sakit biasa yang bisa sembuh hanya minum obat. Bagaimana cara aku bisa mencintai diriku sendiri sedangkan tak ada yang memberi semangat untukku dok. Makasih maaf
Jawaban:
Halo, kak Nur. Sangat wajar kakak merasa lelah dan bingung ketika saat ini kakak menjalani kondisi yang tidak mudah, tetapi di saat yang sama tidak mendapatkan dukungan, bahkan disalahkan. Siapapun di posisi itu dapat merasa lelah secara fisik dan emosional. Di tengah semuanya, kakak tetap berusaha bertahan dan memikirkan anak-anak kakak.
Berkeluh kesah ketika kita sedang tidak baik-baik saja adalah hal yang wajar. Kakak bisa mencoba meluapkan dengan menulis, berdoa, dan bercerita kepada orang yang dapat dipercaya. Pilih cara yang paling dirasa nyaman untuk kakak.
Terkait dukungan dari orang lain, kakak bisa mulai coba menjelaskan kondisi kakak dan meminta dukungan dari keluarga maupun orang-orang terdekat terlebih dahulu. Tujuannya adalah mengurangi beban emosional, mencari solusi, dan memperkuat hubungan melalui komunikasi yang terbuka. Jika ternyata responsnya tidak sesuai ekspektasi tidak apa-apa, yang terpenting kakak sudah berusaha untuk menyampaikannya.
Selain itu, untuk menguatkan diri sendiri, kakak bisa berlatih melakukan afirmasi positif setiap hari. Setiap individu pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Yang terpenting, kita berusaha melakukan yang terbaik untuk diri kita sendiri.
Dicoba secara pelan-pelan ya, kak. Yang penting, kakak selalu tetap ada dan selalu percaya dengan diri kakak sendiri. Semangat menjalani hari-hari dan pengobatan, kak Nur
2. Pertanyaan:
Nama: Riska, 30 Th, Tulungagung. Izin bertanya dok kenapa kadang merasa tidak nyaman dan suka ada rasa was-was dan lelah padahal tidak sedang aktifitas. Kalau di ceritakan kepada keluarga di anggap manja padahal saya hanya ingin bercerita agar saya semangat . Sebenarnya saya juga sudah berdamai dengan keadaan saya walau kadang suka berfikir jadi beban .. Terimakasih dok
Jawaban:
Halo, kak Riska. Perasaan tidak nyaman yang kakak rasakan sangat wajar, meskipun kakak mengatakan sudah berdamai dengan keadaan. Ditambah respons keluarga yang kurang sesuai dengan harapan dapat membuat terasa makin berat.
Kakak sudah baik sekali bisa sampai pada tahap berdamai dengan kondisi saat ini, aware dengan perasaan yang dirasakan (was-was, lelah, tidak nyaman), dan berusaha untuk bercerita, bukan memendam.
Ketika kakak sedang merasa tidak nyaman, kakak bisa mengidentifikasi sinyal tubuh dan perasaan yang muncul. Apakah tubuh sedang tidak fit? Apakah saat ini sedang cemas?
- Kalau tubuh yang tidak nyaman, kakak boleh istirahat tanpa rasa bersalah.
- Kalau perasaan cemas dan was-was, kakak bisa mencoba menenangkan diri dengan relaksasi napas atau grounding.
Kalau kakak merasa lebih lega setelah bercerita, tetapi keluarga belum bisa memahami, kakak bisa mencoba bercerita kepada teman, komunitas pasien, dan tenaga profesional. Penting untuk memilih orang yang dapat mengerti, dipercaya, dan aman untuk kakak.
Semangat menjalani hari-hari dan pengobatan, kak Riska
3. Pertanyaan:
Nama: ibu Slamet (ASD PH), 41th, Boyolali. Izin dok, saya sudah hampir 8 tahun berjuang dengan PJB, kadang sudah merasa di titik lelah capek pengen nyerah, merasa perjuangan ini tidak ada ujungnya, pertanyaan saya: bagaimana cara meyakinkan kepada diri sendiri bahwa semua ini pasti akan ada akhirnya… Terimakasih🙏
Jawaban:
Halo, ibu Slamet. 8 tahun bukan waktu yang singkat ya bu, wajar apabila ibu merasa lelah karena sudah bertahun-tahun menjalani pengobatan yang panjang. Dari usaha selama ini, itu sudah menunjukkan bahwa ibu sangat hebat dan memiliki daya tahan yang baik.
Pada kondisi pasien dengan penyakit kronis, pasti ada hari di mana tubuh sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Kita perlu memahami dan belajar menerima keadaan tersebut. Bisa jadi pada akhirnya tidak berarti sakitnya hilang sepenuhnya, tetapi akhirnya ibu dapat merasakan kondisi tubuh yang stabil, merasa tenang, dan mampu menjalani hidup berdampingan dengan kondisi tersebut.
Saat muncul pikiran terkait “perjuangan ini tidak ada ujungnya”, secara perlahan, bisa dicoba memunculkan pikiran yang lebih menenangkan, seperti :
“Aku sudah melewati banyak hari sulit sebelumnya.”
“Kalau aku bisa sampai sejauh ini, berarti aku punya kekuatan untuk satu langkah lagi.”
“Aku belum tahu ujungnya seperti apa, tetapi hari ini dan ke depannya aku masih mau melanjuntukan.”
Mungkin saat ini ibu belum sepenuhnya yakin bahwa semua ini akan “berakhir” seperti yang ibu harapkan, tetapi ibu sudah membuktikan bahwa selama ini ibu mampu melewati hari-hari yang mungkin dulu ibu pikir tidak akan bisa ibu lewati. Perjuangan ibu selama ini tidak ada yang sia-sia. Semangat menjalani hari-hari dan pengobatan ya, bu ☺️
4. Pertanyaan:
Nama: Pupu, 29 thn, Jogja. Dok, saya merasa bahwa semua pekerjaan rumah dan mengurus anak” harus saya selesaikan sendiri, ditambah saya juga masih bekerja dengan tingkat stress yang tinggi, saya merasa tidak enak hati kalau minta bantuan orang lain apalagi dalam hal pengasuhan anak. Di pikiran saya semua bisa saya handle sendiri. Akibatnya saya sering merasa kelelahan dan stress sampai menangis sehingga membuat sesak nafas, saya jadi sering throwback saat” dulu disaat tubuh saya masih kuat, saya bisa handle semua sendiri. Karena saya dari dulu sudah mandiri, jadi sungkan untuk minta tolong orang lain, padahal tubuh saya sudah tidak seperti dulu
Mohon pencerahannya dok
Jawaban:
Halo, kak Puput. Wajar sekali kalau kakak merasa lelah dan stres ketika memiliki banyak kegiatan dan banyak peran di dalam kehidupan kakak, terutama sebagai ibu yang bekerja ditambah menghadapi kondisi kesehatan.
Mungkin kakak sudah terbiasa untuk mandiri dan mengerjakan semuanya sendiri. Sekarang keadaan sudah berubah, tetapi kakak masih memiliki standar dan pandangan seperti diri kakak yang dulu. Hal tersebut membuat diri kakak kewalahan dengan ekspektasi dan standar yang kakak tanamkan.
Pekerjaan rumah dan mengurus anak adalah hal yang menjadi tanggung jawab bersama, bukan hal yang harus kakak tangani sendirian. Meminta tolong bukan hal yang memalukan dan tidak menandakan bahwa kita lemah. Pandangan bahwa kakak tidak enak ketika meminta bantuan bisa dicoba diganti dengan pandangan bahwa orang lain punya kesempatan untuk peduli dan membantu. Memberi orang lain ruang untuk membantu juga merupakan bentuk hubungan yang sehat. Kakak bisa membayangkan pengalaman kakak saat membantu orang terdekat yang menunjukkan kakak peduli. Hal tersebut juga bisa dirasakan orang terdekat kakak ketika membantu kakak.
Ketika kakak membutuhkan bantuan, jangan ragu untuk meminta tolong. Meminta tolong bukan berarti lemah, tetapi cara agar kakak tetap bisa bertahan menjalani kehidupan.
Semangat menjalani hari-hari dan pengobatan, kak Puput
5. Pertanyaan:
Nama: lilik, 31 th, kudus. saya serumah sama bapak mertua, tapi mertua saya itu toksik kak. suka jelek”in saya, nyindir”, saya tidak nyaman. apa kalau saya menerapkan batasan dan menjaga jarak itu saya sudah menerapkan cinta terhadap diri sendiri?
Jawaban:
Halo, kak Lilik. Pasti terasa berat dan tidak nyaman ketika berada di rumah yang seharusnya jadi tempat aman, tetapi mendapatkan kata-kata yang menyakitkan.
Mungkin di satu sisi kakak ingin menjaga hubungan dengan mertua, tetapi di sisi lain kakak juga butuh melindungi diri sendiri. Pada situasi ini, menerapkan batasan dan menjaga jarak termasuk salah satu bentuk mencintai diri sendiri, kak. Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah membuat batasan yang baik. Bisa dimulai dari batasan kecil seperti :
- Mengurangi intensitas interaksi yang tidak perlu
- Tidak menanggapi setiap sindiran dan perkataan menyakitkan
- Pergi atau menjauhkan diri saat situasi mulai tidak nyaman
Kakak juga bisa bercerita kepada pasangan untuk mendapatkan dukungan dan bekerja sama menjaga batasan bersama yang nyaman untuk keduanya.
Tanamkan juga kepada diri sendiri bahwa perkataan dan perilaku orang lain adalah hal yang tidak bisa sepenuhnya kita kontrol. Ingat bahwa pandangan dan omongan mereka, bukan kebenaran tentang diri kakak sepenuhnya.
Pasti tidak mudah untuk menjalani kondisi saat ini. Namun, kakak bisa mencoba untuk menguatkan diri dan menetapkan batasan yang sehat secara bertahap.
Semangat menjalani hari-hari dan pengobatan, kak Lilik
6. Pertanyaan:
Nama: Ririn, 35 th, Jepara. apakah pola pikir mempengaruhi kondisi fisik tubuh?, bagaimana caranya agar hati selalu merasa bahagia?
Jawaban:
Halo, kak Ririn. Terima kasih untuk pertanyaanya. Saya juga sertakan gambar ya agar lebih mudah untuk memahaminya. Situasi, pikiran, perasaan, kondisi fisik, dan perilaku itu saling terhubung dan memengaruhi satu sama lain. Kalau salah satu tidak nyaman, yang lain juga bisa ikut terdampak. Contohnya :
- Situasi: Harus kontrol rutin dan tubuh sering terasa lelah
- Pikiran: “Tubuhku sangat lemah, aku pasti akan selalu lemah seperti ini”
- Perasaan: Cemas, sedih
- Kondisi fisik: Tubuh makin terasa berat, nyeri terasa lebih intens
- Perilaku: Menghindari aktivitas, kurang bergerak, atau dan tidak rajin minum obat
Ketika kita bisa melakukan regulasi emosi dan pikiran, bisa lebih membantu:
Pikiran alternatif: “Memang kondisiku tidak mudah, tetapi aku masih bisa melakukan hal-hal kecil untuk merawat diriku”
Perasaan: Lebih tenang
Kondisi fisik: Tubuh terasa sedikit lebih ringan
Perilaku: Tetap minum obat, istirahat cukup, dan melakukan aktivitas ringan
Dan terkait bagaimana kita bisa selalu merasa bahagia. Fokusnya bukan bagaimana selalu bahagia, tetapi bagaimana kita bisa merasa cukup dan merasa tenang ketika mengalami situasi yang berat. Dengan self-compassion, kita bisa tetap menemukan momen hangat di tengah hari yang berat dan tetap merasa punya makna, meskipun tidak selalu bahagia. Kebahagiaan malah terkadang bisa hadir dari aktivitas sederhana yang kita tidak sadari selama ini.
Semangat menjalani hari-hari dan pengobatan, kak Ririn
7. Pertanyaan:
Nama: nofiasari ( HT jantung PH), Usia:31, Domisili : Kalimantan Tengah
ijin bertanya, kenapa yah dok saya sering merasa cemas 😭 ,merasa takut , kambuh lagi, saya merasa trauma dok , soalnya saya baru keluar rumah sakit , kadang merasa lelah , walaupun kerjaan ringan 🥺 takut dengan orang banyak dok , solusinya apa yah dok
Jawaban:
Halo, kak Nofiasari. Rasa cemas, takut kambuh, bahkan takut berada di keramaian setelah keluar dari rumah sakit itu wajar sekali. Mungkin saat ini tubuh dan pikiran kakak masih dalam mode siaga sehingga cenderung berusaha menjaga diri dari kemungkinan terburuk. Ketika kakak dalam kondisi waspada yang berlebih, tubuh dan pikiran menjadi lebih cepat lelah.
Kakak bisa mencoba untuk mengenali pikiran dan perasaan yang muncul. Kemudian, kakak dapat membantu tubuh menjadi relaks dengan melakukan relaksasi pernapasan dan grounding. Kenali pikiran-pikiran negatif yang kakak miliki, bisa jadi pikiran negatif tersebut belum tentu benar. Kakak bisa belajar memunculkan pikiran alternatif atau positif yang lebih menenangkan sehingga kakak dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih santai, tetapi tetap terkontrol.
Kakak baru saja melewati fase pengobatan yang tidak mudah dan sekarang kakak bisa mencoba belajar menciptakan rasa aman untuk tubuh dan diri kakak sendiri.
Semangat menjalani hari-hari dan pengobatan, kak Nofiasari
8. Pertanyaan:
Nama: Azkia, Usia: 21, Domisili: Cianjur. gimana cara ngisi tangki cinta diri sendiri, dalam keadaan saya memiliki penyakit, aku orangnya insecuran dok jadi susah buat agar care kediri sendiri, terimakasih
Jawaban:
Halo, kak Azkia. Banyak juga individu yang sering merasa insecure dengan diri sendiri dan itu adalah hal yang wajar. Seperti yang dialami oleh kak Azkia saat ini. Kakak ingin mencoba untuk mencintai diri sendiri, tetapi ada hal-hal di dalam diri kakak yang tidak sesuai dengan harapan yang membuat kakak sulit untuk mencintai diri.
Hal yang perlu diingat adalah setiap individu memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Sebagai manusia, kita perlu berproses untuk menerima kekurangan dan kelebihan diri kita, bahwa tidak ada orang yang sempurna. Ingat juga untuk tidak membandingkan diri dengan orang lain. Ketika sedang merasa tidak percaya diri, tidak harus segara dilawan, tetapi diterima terlebih dahulu. Kemudian mencoba memunculkan pikiran alternatif yang lebih positif tentang diri.
Mencintai dan menyayangi diri sendiri tidak langsung memunculkan kepercayaan diri yang tinggi, tetapi bagaimana kita memilih untuk tidak menyakiti diri sendiri dan mendengarkan kebutuhan diri. Memilih untuk beristirahat dan tidak mengkritik diri sendiri sudah termasuk mencintai diri sendiri. Bahkan kakak masih bertahan dan rajin menjalani pengobatan hingga saat ini juga menunjukkan bahwa kakak peduli dan sayang dengan diri kakak. Untuk ke depannya kakak bisa melakukan aktivitas perawatan diri yang memunculkan emosi positif sehingga kakak lebih bisa memahami dan menyanyangi diri sendiri. Pasti tidak mudah, tetapi bisa dicoba secara bertahap.
Semangat menjalani hari-hari dan pengobatan, kak Azkia
9. Pertanyaan:
Nama: eka, 39 thn, Temanggung. ijin bertanya dok, akhir2 ini saya merasa selalu sedih & overthingking dgn kondisi saya yang ada saja apalagi dgn ada nya hasil lab dll yang kurang baik, gmn cara cara menentramkan hati & pikiran saat sdng kalut spt ini yaa dok? pdhl saya jg sudah berusaha mengalihkan dgn kegiatan lain dok, terimakasih 🙏
Jawaban:
Halo, kak Eka. Ketika merasa sedih dan overthinking terkait kondisi kesehatan, terutama saat mendapat hasil lab yang kurang baik sangat wajar sekali. Kakak sudah berusaha untuk melakukan kegiatan lain juga sudah sangat baik. Apabila dirasa kurang membantu, kakak bisa mulai mencoba untuk mengidentifikasi tubuh, pikiran, dan perasaan diri kakak terlebih dahulu.
Tanyakan kepada diri kak Eka, apa hal yang membuat kakak memunculkan perasaan sedih dan overthinking? Kemudian kakak bisa melakukan regulasi emosi dan pikiran. Mungkin sebagai contoh bisa kita menggunakan case hasil lab. Hasil lab yang kurang baik memang membuat kita khawatir. Namun, di sisi lain, hasil lab juga membantu kita memahami apa yang sedang terjadi pada tubuh kita dan mengetahui apa yang sedang dibutuhkan tubuh. Kita bisa fokus pada hal yang bisa kita lakukan untuk membuat diri kita menjadi lebih stabil. Untuk memudahkan memunculkan pikiran yang positif, kita bisa mencoba membuat tubuh menjadi relaks dahulu. Bisa kakak coba dengan melakukan relaksasi pernapasan dan grounding sesuai dengan kenyamanan kakak. Harapannya relaksasi membantu tubuh relaks sehingga lebih mudah untuk berpikir secara objektif.
Kakak sudah berusaha mengalihkan diri, tetapi mungkin saat ini yang dibutuhkan oleh tubuh adalah didengarkan dan dipahami. Semangat menjalani hari-hari dan pengobatan, kak Eka
10. Pertanyaan:
Nama:ifa, Usia:36thn, Domisili:Lamongan. Dok ijin bertanya. Dok selain ada PH saya jg penyintas autoimun dok.
Saya sudah sakit 15thn dok.minum obt jg teratur 15thn.tp terkadang masih saja tiba2 flare dok.dan disitu rasanya lelah dok.rasanya uda ingin menyerah saja.gimana ya dok caranya biar bilang kediri sendiri kalau hidup ini harus berlanjut dan tetap kuat lagi buat menjalani hari2 ke depan nya.
Jawaban:
Halo, kak Ifa. Rasa lelah dan ingin menyerah saat flare datang lagi itu sangat wajar. Di sisi lain, kakak sudah sangat hebat dalam menjalani semuanya selama 15 tahun, di mana kakak mampu untuk tetap disiplin menjalani pengobatan dan tetap mau bangkit ketika flare.
Karena flare itu bisa datang dan pergi, kakak bisa mencoba memahami bahwa itu adalah hal yang wajar kakak alami. Adanya flare bukan sebuah kelemahan, kakak sudah melewati berbagai fase sebelumnya, dan flare akan mereda seperti yang sudah terlewati. Ketika flare datang dan tubuh terasa tidak nyaman, izinkan diri untuk beristirahat, memulihkan diri hingga tubuh siap untuk menjalani aktivitas seperti biasa kembali.
Kakak menjalani ini semua selama 15 tahun sudah menunjukkan kalau kakak kuat dan berusaha untuk tetap bertahan, bahkan ketika rasanya sangat berat. Pasti kakak memiliki kemampuan dan bekal dari pengalaman-pengalaman kakak sebelumnya yang membuat kakak bisa tetap kuat menjalani hari-hari ke depan. Semangat menjalani hari-hari dan pengobatan kak Ifa
11. Pertanyaan:
Nama: Anggita, Umur: 24 tahun, Domisili: Tangerang. Bagaimana cara menerapkan self-compassion secara nyata ketika kondisi tubuh kita sendiri terasa tidak mendukung, bahkan membatasi banyak hal dalam hidup? Misalnya dalam situasi saya yang punya penyakit hipertensi paru yang belum diketahui penyebabnya, sehingga sering muncul rasa lelah, overthinking, dan perasaan tidak ‘cukup’ dibanding orang lain. Kadang di depan orang lain saya terlihat baik-baik saja, tapi sebenarnya saya lagi berjuang sendiri.
Dalam kondisi seperti ini, gimana caranya kita bisa benar-benar menerima diri sendiri tanpa merasa bersalah, tanpa merasa tertinggal, dan tanpa terus-terusan menyalahkan keadaan? Dan bagaimana cara menghadapi pikiran tentang masa depan, seperti karier atau pernikahan, yang terasa jadi terbatas karena kondisi kesehatan?
Jawaban:
Halo, kak Anggita. Memang butuh waktu untuk menerapkan self-compassion, apalagi ketika sadar bahwa banyak hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Kembali lagi, self-compassion bukan berarti kita selalu merasa baik-baik saja, tetapi bagaimana bisa tetap memperlakukan diri dengan lembut, bahkan saat hidup lagi tidak berjalan sesuai harapan.
Kita bisa menerapkan self-compassion seperti menjadi teman yang baik untuk diri sendiri. Apa yang kita lakukan dan kita katakan ketika teman terdekat kita sedang mengalami kesulitan? Apa yang kita katakan ketika teman kita tidak baik-baik saja?
Biasanya kita lebih mudah untuk mendukung dan memaafkan orang lain dibandingkan kepada diri sendiri. Self-compassion mengingatkan kita bahwa kita juga bisa dan perlu melakukan hal tersebut untuk diri kita. Kakak bisa mencoba menerapkan afirmasi positif dan mengidentifikasi pikiran negatif yang muncul. Pikiran seperti “aku tidak cukup”, bisa perlahan diubah menjadi “saat ini aku berprogress lebih pelan, tetapi bukan berarti aku gagal”.
Seringkali bagaimana keadaan di masa depan membuat kita cemas dan memikirkan bagaimana ke depannya. Rasa bersalah dan perasaan tertinggal juga muncul karena kita membandingkan diri dengan standar orang lain, padahal setiap orang punya timeline masing-masing. Untuk lebih menenangkan pikiran, kakak bisa mencoba fokus pada masa sekarang dahulu. Dengan kondisi sekarang, apa saja yang bisa dilakukan? Kakak bisa berusaha mengoptimalkan kemampuan, energi, dan waktu yang kakak miliki tanpa memaksakan diri.
Yakinkan pada diri kakak bahwa apapun yang dilakukan dan diusahakan tidak ada yang sia-sia. Semangat menjalani hari-hari dan pengobatan kak Anggita
12. Pertanyaan:
Nama : CICI, Usia : 27th, Domisili : Simalungun . saya kan penderita PJB PH, dengan penyakit ini suami saya dan keluarga suami saya, menganggap penyakit saya ini sudah sembuh, krna dilihat kondisi fisik saya sehat. Jd yang namnya pekerjaan rumah,menjaga anak itu semua saya, dan saya itu merasakan capek banget,lelah kali, jadi cepat sesak,bahkan kalok ada berita2 yang shock, pikiran itu langsung cemas,khawatir.
Saya itu org nya suka cemas,suka kepikiran kalok ada apa2, suka khawatir, kadang berujung sampe pening, berujung jadi ngedrop. Dan yang saya ingin pertanyakan, gimana menanggapi atau merespon suami dan keluarga suami,dan pikiran saya supaya syaa itu bisa tenang tidak berpikiran yang aneh2 dok
Jawaban:
Halo, kak Cici. Pasti sangat melelahkan ya kak ketika kondisi tubuh naik turun karena banyak aktivitas dan lingkungan belum benar-benar memahami bagaimana kondisi kakak sebenarnya.
Pekerjaan rumah dan mengurus anak adalah hal yang menjadi tanggung jawab bersama. Ketika kakak merasa kelelahan, kakak dapat berkomunikasi dengan pasangan terlebih dahulu. Bisa dilakukan dengan komunikasi asertif, yaitu tetap menyampaikan keinginan dan kebutuhan diri, tanpa menyuduntukan pihak lain. Harapannya suami kakak dapat mengerti bagaimana kondisi kakak selama ini. Kemudian secara bertahap, mencoba untuk mengomunikasikan dengan keluarga pasangan. Jika pasangan dan keluarga belum begitu mengerti, bisa diajak untuk ikut menemani saat kontrol kesehatan sehingga mereka mengetahui bagaimana keadaan kondisi kakak yang sebenarnya.
Untuk mengurangi perasaan tidak nyaman, kakak dapat melakukan hal-hal yang menyenangkan, hobby, perawatan diri, relaksasi, maupun grounding. Selain itu, kakak bisa membatasi informasi atau berita-berita yang dapat memicu kecemasan dan kekhawatiran.
Perlu waktu dan usaha untuk membuat orang lain mengerti dan memahami kondisi kita sebenarnya. Namun, kita bisa mencoba untuk mengomunikasikan dengan baik. Semangat menjalani hari-hari dan pengobatan, kak Cici
Terima kasih teman-teman YHPI, PHighters & caregivers yang sudah membersamai sesi hari ini. Terima kasih juga karena telah bersedia meluangkan waktu untuk mengenal, belajar, dan bertanya terkait self-compassion. Semoga bisa dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari ya
Perjalanan sebagai pasien penyakit kronis tidak pernah mudah, tetapi teman-teman tetap memilih untuk melanjuntukan, tetap minum obat, tetap datang kontrol, tetap berusaha untuk pulih. Semoga setelah ini teman-teman dapat lebih menyanyangi diri dan bersikap lembut pada diri sendiri, bahkan saat keadaan tidak mudah.
Semoga langkah teman-teman, PHighters dan Caregivers ke depan semakin ringan, semakin penuh harapan, dan semakin dikelilingi oleh dukungan yang tulus. Tetap semangat, tetap konsisten menjalani pengobatan, dan jangan lupa bahwa kita tidak sendirian
Mohon maaf untuk kata-kata yang kurang berkenan atau jawaban yang belum menjawab keseluruhan pertanyaan ya, teman-teman semuanya. Terima kasih sudah memberikan kesempatan untuk saling berbagi hari ini. Semoga sharing kali ini bisa bermanfaat dan bisa diterapkan secara perlahan dalam kehidupan sehari-hari. Sampai bertemu di kulwap yang lainnya._ Adlina Windya Megahputri, S.Psi.