OurPHJourney – Indriani – Berkat yang Tersamar

//OurPHJourney – Indriani – Berkat yang Tersamar

OurPHJourney – Indriani – Berkat yang Tersamar

“Semua telah diatur oleh Tuhan, kita hanya perlu menjalaninya dengan ikhlas” – Indriani Ginoto

Salam kenal,

Saya dengan Indriani, pasien Hipertensi Paru sekunder yang disebabkan oleh autoimun Lupus.

Saya didiagnosa Lupus sejak usia 13tahun di tahun 1994, dimana berkomplikasi menjadi Hipertensi Paru di 1997.

Perjalanan Lupus dan Hipertensi Paru sejak 1994 cukup panjang, berliku dan melewati banyak periode semangat-putus asa yang silih berganti, karena selain berkomplikasi ke jantung (menjadi Hipertensi Paru), Lupusnya juga berkomplikasi ke tulang, ginjal, paru, otak dan hipertiroid.

Beberapa periode yang sudah dilewati:

-kebocoran ginjal dimana diperlukan kemoterapi untuk menanganinya,

-kerusakan liver dan koma 1 minggu dimana Dokter sudah angkat tangan,

-demam disertai infeksi paru berat yang berlangsung berbulan-bulan dimana akhirnya infeksi naik ke mata kanan dan menyebabkan retina lepas, glukoma dan kebutaan,

-osteoporosis, vaskulitis di otak, hipertiroid dan masih banyak lagi periode opname di Rumah Sakit dan kondisi naik-turun lain yang tidak bisa diceritakan satu persatu disini.

Selain kondisi sakit, seperti kebanyakan teman-teman seperjuangan yang lain, saya juga masih harus menghadapi tantangan masalah keluarga dan finansial, terutama karena obat-obatan penyakit langka yang berbiaya mahal, dimana semakin diperparah karena keterbatasan fisik/tidak bisa bekerja normal karena disabilitas yang disebabkan oleh Hipertensi Paru.

Meski makin lama aktifitas semakin terbatas karena beberapa kondisi diatas yang datang bertubi, tetapi apapun itu, saya berusaha untuk menerima dan menjalaninya dengan ikhlas, sambil tetap berikhtiar dengan minum obat dan kontrol ke dokter secara teratur.

Saya sangat bersyukur, karena banyak hikmah yang saya dapatkan dalam perjalanan selama lebih dari 20 tahun ini. Keluarga juga cukup mendukung, terutama mama yang menjadi caregiver/pendamping selama perjalanan ini.

Penyertaan Tuhan juga sangat nyata selama ini, banyak mukjizat yang terjadi, terutama kekuatan yang Tuhan berikan hari demi hari untuk mampu melewati semuanya bersama denganNya.

Berikut adalah catatan kecil yang saya tulis dan post di Facebook pada 2016, yang sedikit banyak adalah rangkuman dari perubahan hidup yang saya alami…

22 Tahun Bersama Lupus

Kehilangan masa remaja..
Kehilangan teman-teman..
Kehilangan perkembangan fisik..
Kehilangan kesehatan..
Kehilangan kesempatan kuliah..
Kehilangan masa pacaran..
Kehilangan kesempatan berkeluarga..
Kehilangan kesempatan berkarir..
Kehilangan cita-cita..
Kehilangan kemampuan jalan2..
Kehilangan kemampuan beraktifitas..
Kehilangan mimpi2..
Kehilangan kebebasan..
Kehilangan kemandirian..
Kehilangan penglihatan kanan..
Kehilangan teman2 seperjuangan..

Tetapi Tuhan berkata dengan lembut..

“melalui semua yang dunia sebut sebagai kehilangan, engkau telah menemukan anugerahKU..”

10.05.16 – Indriani Ginoto

Hidup bersama Hipertensi Paru seperti pohon yang sedang dipangkas, seiring dengan waktu kita harus merelakan banyak hal dalam kehidupan ini, tetapi sekaligus mendapatkan banyak hal baru sebagai gantinya.

Tetap semangat, dan ingat bahwa apapun tantangan yang ada kedepan, semua sudah diatur olehNya dan kita hanya perlu menjalaninya dengan ikhlas…

Tetap ingat bahwa apa yang kita lihat dan anggap sebagai penderitaan/tantangan, seringkali merupakan “berkat yang tersamar” (blessings in disguise).

Salam Semangat

Indri

-What the caterpilar things is the end of the world, the butterfly knows is only the beginning-

(apa yang ulat pikirkan sebagai akhir dari kehidupan, kupu-kupu tahu bahwa itu hanyalah permulaan)

 

 

By | 2019-09-12T02:46:24+00:00 May 10th, 2016|Our PH Journey|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
WhatsApp chat