OurPHJourney – Tusimah – Kedua Anak Saya Merupakan Semangat Saya Untuk Menghadapi ASD+PH

//OurPHJourney – Tusimah – Kedua Anak Saya Merupakan Semangat Saya Untuk Menghadapi ASD+PH

OurPHJourney – Tusimah – Kedua Anak Saya Merupakan Semangat Saya Untuk Menghadapi ASD+PH

“Tes ECHO juga dilakukan kepada kedua anak saya, alhamdulillah keduanya terbebas dari penyakit jantung. Dan mereka merupakan semangat saya untuk menghadapi ASD+PH agar tidak mudah putus asa, kuat, dan selalu bangkit. Karena anak-anak saya masih membutuhkan kasih sayang seorang Ibu.” – Tusimah

Nama saya Tusimah ( Amah ) Asli Purworejo tp tinggal di Jogja..

๐ŸŒทุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูˆุฑุญู…ุฉุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡๐ŸŒท

Selamat malam teman-teman, semoga sehat walafiat. Izinkan saya berbagi lika-liku saya menjadi pasien ASD PH. Perkenalkan nama saya Tusimah (Amah), sekarang saya sudah berumur 51 tahun, sudah tidak muda lagi bukan? ๐Ÿ˜Š ุงู„ุญู…ุฏู„ ุงู„ู„ู‡

Merupakan anak ke-dua dari 7 bersaudara dan tinggal di Desa yang jauh dari keramaian kota juga minim fasilitas.

Sejak saya lahir, orang tua saya bercerita bahwa saya sering sakit2an dan pertumbuhan saya lumayan lambat dibanding yang lainnya. Saat masih di bangku sekolah dasar, waktu berjalan seperti biasa, tidak ada kejanggalan apapun terhadap diri saya. Namun, ketika saya menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama, saya mengalami sakit yang sangat lama dan pada saat itu saya mengalami tipes menurut diagnosa mantri. Karena jarak yang sangat jauh dari kota dan belum mengenal rumah sakit ataupun penanganan dari tenaga medis yang lebih modern, akhirnya saya hanya mengonsumsi obat yang terjual bebas di warung-warung sekitar rumah dan bersyukur bisa sembuh setelah kurang lebih 2 bulan sakit. Singkat cerita saya melanjutkan pendidikan saya di SMA dan kemudian merantau ke Ibu Kota, menemukan seorang pendamping hidup, kala itu usia saya 26 tahun dan belum ada gejala2 yang muncul. Kemudian, lahir lah anak pertama saya. Selang 3,5 tahun, saya mengandung anak kedua. Kejanggalan mulai terjadi saat saya mengandung, gejala demi gejala muncul seperti sesak nafas. Saya terus berpikir positif dan menganggap itu gejala yang biasa bagi Ibu hamil…

Akhir Tahun 1998 Suami Pergi untuk Selamanya๐Ÿฅ€

 

Disinilah saya mulai merasakan intensitas sesak nafas saya naik. Di kala hamil besar saya rutin mengecek kandungan ke Bidan, Bidan bilang itu akibat desakan dari bayi yang ada di dalam kandungan saya. Sehingga saya abaikan rasa itu…

 

Singkat cerita, tahun 2002 saya ambruk akibat sering sakit kepala, sesak nafas, dan merasa masuk angin berkepanjangan. Diagnosa dari dokter, saya mengidap sinusitis. Rasanya memang tidak nyaman bahkan menekan wajah saja sudah terasa sakit. Akhirnya dokter menyarankan untuk melakukan operasi sinusitis dan saya pun mengiyakan saran dari dokter. Post operasi, Ujian yang saya hadapi tak kunjung habis…

 

Tahun-tahun selanjutnya, sebagai karyawan sebuah pabrik, saya sering meminta izin tidak bekerja karena sakit. Sakit yang saya alami masih sama yaitu sakit kepala dan terkadang diikuti irama detak jantung yang tidak beraturan dan diagnosa dari dokter adalah lemah jantung ๐Ÿ˜ž๐Ÿ˜ž

๐Ÿ‚Di Diagnosa Mengidap Penyakit Jantung๐Ÿ‚

 

Tahun demi tahun saya hadapi, pada awal tahun 2011 saya sering sekali mengalami drop. Pernah sekali saya drop saat menjelang magrib dan dibawa di IGD RS Bethesda dan harus mondok beberapa hari karena detak jantung yang kencang dan diikuti sesak nafas dan dipindah ke bangsal pukul 01.00 dini hari, saya hanya sendiri (sepi) ๐Ÿ˜ž๐Ÿ˜ž

 

Kembali saya didiagnosa oleh doter poli dalam (Dokter Sapto) pembengkakan jantung. Dari situ saya mulai sering kontrol, karena tidak ada perubahan saya dirujuk ke poli jantung (dokter aryono).

 

Dengan dokter aryono sayapun di Echo dan ternyata ASD Skundum (2012) dan dirujuk ke RS Sardjito, dikarenakan terkendala biaya, saya mengabaikan itu dan hidup seperti biasa. Hari hari yang saya lewati cukup berat sering sesak nafas, ngos-ngosan, dan nyeri dada namun saya tetap bekerja dan mengabaikan rasa-rasa itu.

๐Ÿฅ€Sering Kambuh๐Ÿฅ€

 

Awal tahun 2014 saya merasa sering kambuh dan berobat lagi ke Bethesda dan saat perjalanan menuju Bethesda menggunakan Trans Jogja, saya pingsan dan untungnya terdapat 2 suster Bethesda yang kebetulan berada di bus yang sama. Sayapun dibawa ke Bethesda dan mondok kembali. Setelah itu saya bertemu dr Aryo lagi, dr Aryo marah besar karena mengabaikan perintah nya untuk melanjutkan pengobatan di Sardjito.

 

15 Januari 2014, merupakan awal saya berobat di RS Sardjito. Pemeriksaan berlanjut sebagai pasien umum karena belum adanya BPJS. Serangkaian tes saya jalani mulai dari rontgen, tes darah, Echo dan kesimpulan yang sangat menyayat hati, saya mengalami ASD Skundum dengan TVG 76.

 

Pemeriksaan masih berlanjut hingga pada akhir bulan maret 2015 saya menjalani kateter. Hasil dari kateter masuk ke Konferensi Bedah Jantung.

๐Ÿ‚๐Ÿ‚Hasil Konferensi Bedah Jantug๐Ÿ‚๐Ÿ‚

 

Hasil dari Konferensi dokter memutuskan untuk dilakukan operasi jantung. Dengan semangat ingin sembuh, saya rajin menanyakan jadwal operasi sambil melakukan serangkaian pemeriksaan seperti THT, Paru-paru, Bedah mulut dll. pun dilakukan sebelum melaksanakan Operasi bedah. Kala itu saya harus antri berbulan-bulan untuk mendapatkan kepastian tanggal operasi.

 

Selama 7 bulan saya menunggu, pada 19/9/15 Saya dapat jadwal operasi, namun kala itu keluarga belum mengizinkan sehingga ditunda selama 3 bulan dan dijadwalkan pada 23/12/2015. Saat tanggal tersebut tiba, operasi kembali tertunda karena saya datang bulan. Kemudian ditunda kembali.

 

Benar2 bingung harus senang atau sedih. Akhirnya keluarga mengikhlaskan saya menjalani operasi bedah. 01/02/2016 pukul 08.00 Saya masuk ruang operasi. Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan saya karena saya sudah dianestesi sampai pukul 18.00 saya keluar ruang operasi

 

2 hari di ICU karena detakan jantung yang sangat cepat dan keadaan sangat kritis.

22 hari opname, 2 hari di ICU, 5 hari du ICCU kemudian pindah ke bangsal. Perjuangan yang sangat luar biasa menurut saya.

 

3 hari setelah pulang dari RS saya mekakukan kontrol dan selang 3 bulan menjalankan evaluasi ECHO, senang rasanya, ASD sudah teratasi namun saat ECHO masih ada kebocoran sekitar 1 mm dan dapat menutup dengan sendirinya. 3 bulan selanjutnya saya menjalani ECHO dan alhamdulillah ASD + PH sudah tidak nampak.

 

Tes ECHO juga dilakukan kepada kedua anak saya, alhamdulillah keduanya terbebas dari penyakit jantung. Dan mereka merupakan semangat saya untuk menghadapi ASD+PHย  agar tidak mudah putus asa, kuat, dan selalu bangkit. Karena anak-anak saya masih membutuhkan kasih sayang seorang Ibu.

 

Itulah yang bisa saya paparkan mengenai pengalaman ASD PH yang saya alami. Kedepannya semoga semakin banyak penyakit PH yang terdeteksi sejak dini sehingga dapat mendapatkan penanganan yang intensif dan dapat sembuh seperti sedia kala. Terima kasih

 

๐ŸŒทุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูˆุฑุญู…ุฉุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡๐ŸŒท

 

By | 2019-09-25T04:42:15+00:00 March 18th, 2019|Our PH Journey|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
WhatsApp chat