Kuliah WhatsApp 30.03.19 – Mengenal Depresi

///Kuliah WhatsApp 30.03.19 – Mengenal Depresi

Kuliah WhatsApp 30.03.19 – Mengenal Depresi

Kuliah Whatsapp adalah program tanya jawab lewat group di aplikasi Telegram antara anggota YHPI dengan dokter/narasumber ahli lainnya untuk topik2 terkait Hipertennsi Paru yang diadakan secara rutin dan berkala.

Untuk bergabung dalam group Telegram dan mengikuti kuliah berikutnya, silakan hub 085210006799

Untuk membaca materi tanya jawab lainnya yang lebih lengkap, silakan klik LOGIN.

 

KULIAH TELEGRAM

Mengenal Depresi (Kenali untuk Hindari)

Sabtu, 30 Maret 2019 pk 19.30-20.30 WIB

Narasumber: Retno Utari, M.Psi., Psikolog

Psikolog di Pijar Psikologi dan RS PMI Bogor

 

Moderator: dr. Noviana & Eva

 

MATERI KULGRAM

  • Depresi adalah gangguan suasana hati atau mood yang dapat mempengaruhi pola pikir, perasaan dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Ketika mengalami depresi seseorang akan diliputi perasaan sedih berlebihan, putus harapan, merasa tidak bahagia, hilang ketertarikan pada hal yang sebelumnya ia sukai dan menyalahkan diri sendiri. Keadaan ini terjadi sepanjang hari dan berlangsung terus-menerus dalam kurun waktu tertentu.
  • Apa bedanya stress dengan depresi? Stress berbeda dengan depresi, gejalanya bersifat sementara dan sumber pencetusnya jelas.
  • Gejala depresi di ataranya kecemasan di berbagai situasi, murung dan sering menangis, menghindari lingkungan sosial, putus asa akan masa depan, enggan beraktivitas, pola tidur terganggu, dan kehilangan selera makan.
  • Beberapa hal yang dapat menyebabkan depresi yaitu: faktor fisik, faktor psikologis, faktor sosial.
  • Dimana ketiga faktor tersebut dapat saling mempengaruhi satu sama lain. Dibutuhkan dukungan keluarga, teman serta orang-orang di sekitar agar kita dapat terhindar dari kondisi depresi.
No. Pertanyaan dan Jawaban
1 Pertanyaan dari Umi:
Selamat malam mbak Retno, saya Umi ASD PH usia 27 tahun single dari Jogja. Mau sedikit curhat dan bertanya.
1.     Saya tergolong orang yang tidak percaya diri terhadap diri sendiri. Hampir tidak pernah bersosialisasi terutama terhadap tetangga. Saya merasa diri saya berbeda dengan mereka. Bagaimana cara mengatasi masalah ini agar bisa membaur dengan mereka? Karena saya termasuk orang yang kecil hati. Sedikit-sedikit merasa sedih jika ada perkataan yang mengecewakan hati.
2.     Saya selalu ingin menyibukkan diri agar saya lupa terhadap sakit yang saya alami. Apakah ini baik untuk saya? Apakah ini salah satu dampak depresi sehingga saya harus selalu memiliki sesuatu hal untuk dikerjakan untuk melupakan masalah/sakit yang saya alami? Jika tindakan saya termasuk salah, bagaimana solusi yang lainnya? Terimakasih sebelumnya.
Jawab:
1.     Yang perlu diingat bahwa kita tidak akan pernah bisa mengatur atau mengontrol orang lain akan berkata apa, berpikir apa atau melakukan apa. Lalu, siapa yang bisa kita kontrol? Ya, diri sendiri. Kalau tidak tenang dan nyaman dengan diri sendiri, tentulah akan sulit untuk tenang dan nyaman saat berinteraksi dengan orang lain. Motivasi diri sendiri untuk melakukan berbagai hal positif, termasuk berinteraksi dengan orang lain, karena interaksi dengan orang lain dapat memberikan energi positif untuk kita. Berprasangka baiklah pada diri sendiri, bahwa kita mampu. Kalau memang belum nyaman, pelan-pelan saja, percayalah dengan proses.
2.     Saya sarankan untuk melakukan pemeriksaan pada profesional terkait apakah betul Mbak mengalami depresi. Hindari melakukan self-diagnose atau mendiagnosa diri sendiri kemudian meyakini bahwa diri ini mengalami depresi.
2 Pertanyaan dari Troy:
Saya Troy PH Primer dari Bandung. Mau bertanya saat ini saya mudah cemas. Apalagi kalau sedang sendiri tidak ada orang di rumah, yang terpikir itu takut pingsan takut sesak dll. Apakah saya termasuk depresi? Kalau iya mohon solusinya. Terima kasih.
Jawab:
Pasti sangat tidak nyaman ya, Pak. Apa yang Bapak alami bisa jadi reaksi cemas. Namun, untuk menentukan apakah Bapak betul mengalami depresi, saya sarankan untuk melakukan pemeriksaan langsung ke psikolog atau psikiater, karena kondisi tersebut membutuhkan penanganan yang khusus.
3 Pertanyaan dari Arni:
Malam mbak Retno, nama saya Arni 36 tahun. Saya mau bertanya, jika seseorang sudah dalam tahap sulit menangis bahkan dalam kondisi ketika sangat sedih, apakah itu juga merupakan ciri depresi?
Jawab:
Hai selamat malam mbak Arni. Ingin menangis, tapi kok rasanya air mata ini sudah habis…mungkin apa yang mbak lalui sangat berat. Saya bisa memahami… Terkait ciri depresi yang telah saya paparkan di materi, bila memang dirasa ada yang mirip atau sudah sangat mengganggu, Mbak bisa coba berbagi dengan orang terdekat. Curhat dan mengekspresikan emosi dapat meringankan beban yang kita rasakan.
Membagi beban pada orang lain tidak selamanya mendatangkan solusi memang, tapi bisa meringankan.
4 Pertanyaan dari Dhian Deli:
Selamat malam mbak Retno, kenalkan saya Dhian 44 tahun. Saya sudah 13 tahun menjadi pasien PH. Selama ini sudah sering mengalami pasang surut. Walaupun saya tidak sampai depresi, tapi saya tahu saya mudah stress. Karena suatu hal yang tidak sesuai dengan harapan. Bagaimana caranya untuk menangani stress yang kambuhan ini. Makasih.
Jawab:
Selamat malam bu Dhian. Iya saya paham sekali, pasti apa yang Ibu alami sangat berat sehingga wajar sekali bila Ibu mengalami pasang surut. Seringkali apa yang kita harapkan, tidak sesuai dengan kenyataannya dan hal ini menimbulkan rasa kecewa. Stress memang seringkali muncul, saat apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Penanganan stress atau biasa disebut coping setiap orang bisa sangat berbeda-beda, ada yang curhat dengan orang lain, menulis, bernyanyi, dan lain-lain.
Seperti yang saya utarakan dimateri, stress memang bersifat sementara dan akan hilang seiring dengan selesainya sumber stress jadi bukan kambuhan. Ibu bisa mengenali kembali apa yang membuat Ibu nyaman saat mengalami situasi stress. Untuk langkah emergensi, bisa dengan minum air, mengatur nafas dari hidung dan hembuskan dari mulut sambal mengenali apa yang sebenarnya Ibu rasakan. Selamat mencoba…
5 Pertanyaan dari Eka Nur Kholifah:
Selamat malam mbak Retno. Bagaimana cara kita mengenali kalau kita sedang stress atau nggak dan caranya mengontrol diri? Karena yang saya rasakan sama saja tapi kok setiap sedang sesak & sakit diwaktu tertentu bisa hilang, tapi kadang saya lakukan seperti diwaktu-waktu tertentu itu biar hilang sesaknya, lah kok tetap saja & jadi gelisah.
Jawab:
Selamat malam, mbak Eka. Ini pertanyaan yang bagus sekali bagaimana mengenal diri ini sedang stress. Stress terjadi saat individu dihadapkan pada situasi yang menekan, seperti yang saya utarakan sebelumnya saat ekspektasi dan realita tidak sejalan.
Stress adalah suatu mekanisme yang terjadi di otak, tapi reaksinya bisa dirasakan langsung oleh tubuh. Contohnya, kepala pusing atau terasa terikat kuat, leher tegang atau berat, dada terasa sesak dan berat, selain itu bisa pula berdampak pada pencernaan.
Setiap manusia wajar sekali mengalami reaksi stress, selanjutnya beri waktu pada diri agar tidak terlalu lama berlarut pada stress tersebut.
6 Pertanyaan dari Indriani Ginoto:
Selamat malam mbak Retno, kenalkan saya Indri 37 tahun. Saya sering over analisa/takut/kuatir atas respon orang lain dimana akhirnya membuat kepikiran dan stress, meski sudah tau percuma. Bagaimana supaya bisa lebih cuek/solusi lain yang mungkin bisa dilakukan? Terima kasih.
Jawab:
Selamat malam, mbak Indriani. Ketika kita ingin melangkah maju sering dibayangi respon negatif dari orang sekitar pastilah tidak nyaman, ingin berbuat banyak tapi khawatir justru membuat orang lain kecewa.
Prinsipnya seperti yang saya utarakan di jawaban pertanyaan yang pertama. Kita tidak akan pernah bisa mengatur orang lain berpikir apa tentang kita. Tapi siapa yang bisa kita kontrol? Diri sendiri. Bila Mbak yakin apa yang Mbak lakukan adalah baik dan bermanfaat maka lakukanlah. Karena kita tidak akan pernah bisa menyenangkan dan memuaskan semua orang.
7 Pertanyaan dari Gati Dewayanti:
Saya Gati, mau bertanya. Kalau kita lagi stress atau banyak pikiran kok rasa di dada jadi tidak nyaman. Pengaruhnya gimana serta cara pengelolaan stress biar tidak berpengaruh di jantung kita.
Jawab:
Hai… Terima kasih sekali pertanyaannya bagus mengenai mengelola stress. Seperti ulasan saya sebelumnya, stress memang berdampak langsung pada fisik. Yang perlu dilakukan adalah mengenali dulu apa sih stressor atau sumber stressnya. Langkah sederhana adalah mundur sejenak dari situasi yang membuat Anda merasa tidak nyaman, minum air, lalu mengatur nafas.
Saya berikan tips singkat untuk mengatur nafas ya… Tarik nafas dari hidung, hembuskan dari mulut, terus ulangi dan lakukan selambat yang Anda bisa. Jadi, Tarik nafas perlahan dari hidung, hembuskan ringan dari mulut. Fokuskan seluruh perhatian pada irama nafas. Terima setiap reaksi yang dirasakan, sambil ucapkan kalimat-kalimat positif atau motivasi. Selamat mencoba…
8 Pertanyaan dari Asri Ramadhania:
Malam Mbak… Saya Asri 22 tahun, mau bertanya. Jika seseorang menyinggung tentang penyakit yang saya alami, saya selalu ingin menangis dan cepat emosi ya Mbak. Apakah itu salah saru ciri depresi? Cara untuk mengatasinya bagaimana?
Jawab:
Selamat malam mbak Asri. Ya, pasti rasanya sangat mengganggu ya bila ada yang membahas kondisi fisik kita. Mbak bisa lakukan komunikasi asertif. Asertif yakni menyampaikan apa yang sebenarnya kita rasakan dan pikirkan pada lawan bicara. Sampaikan saja apa yang mbak rasakan seperti “Saya terganggu” kemudian ditambah dengan situasi yang dimaksud “Saat kamu membahas kondisi kesehatan saya” kemudian sampaikan harapan Mbak “sebaiknya kita membahas hal lain yang menarik” sehingga lawan bicara paham akan apa yang kita rasakan dan pikirkan tanpa menyinggung perasaanya. Hal ini juga bisa kita terapkan di keseharian seperti menegur orang yang merokok di ruang tertutup atau situasi lain.
Yuk berlatih komunikasi asertif untuk kenyamanan berasama…
9 Pertanyaan dari Caregiver (pertanyaan titipan):
Saya ibu dari seorang pasien anak wanita diagnosa PJB usia 16 tahun. Apa karena Nadia depresi makanya akhir-akhir ini sering bengkak dan drop ya dan sering keluar masuk RS. Sehari-hari kadang ceria, kadang mengurung diri di kamar. Tapi kadang-kadang masih suka cerita tentang sekolah dan pelajaran kadang dengan temannya. Sebenarnya masih terbuka tapi tidak selalu. Saya takut sering dropnya karena kondisi psikis atau depresi. Apa yang sebaiknya saya lakukan sebagai seorang ibu? Terima kasih.
Jawab:
Tubuh kita ini terdiri atas sebuah segitiga yang saling mempengaruhi. Masing-masing sudut dari segitiga itu adalah sudut fisik, sudut psikologis dan sudut perilaku. Ketika salah saru merasa tidak nyaman, pasti akan mempengaruhi yang lain. Ketika psikologis merasa sedih atau cemas, pasti ada dampak langsung pada fisik dan tercermin pada sikap dan perilaku. Terlebih dalam kondisi putri Ibu yang fisiknya sangat sensitif. Mendampingi putri Ibu memang tidak mudah, Ibu bisa kembali membaca materi yang telah saya bagikan yakni terkait prinsip CINTA. Mari damping dengan C-I-N-T-A.
10 Pertanyaan dari Fira (pertanyaan titipan):
Saya Fira 22 tahun dari Purwodadi Purworejo diagnosa penyakit jantung bawaan ASD sejak 4 tahun yang lalu tepatnya saat kelas 2 SMA. Saya anak pertama dari empat bersaudara. Misal depresi itu bisa berdampak ke penyakit kulitkah? Saya pernah dengar ada yang pernah bilang begitu. Apa itu benar? Misal seperti timbul gatal-gatal berlebih. Sakit kulit hanya saat akan haid. Kulit menebal dan merah-merah. Timbul di area wajah, tangan, dan kaki. Ada gejala depresi mudah sedih. Mudah pusing karena kepikiran hal-hal sepele. Merasa rendah, tidak suka dan malas berkumpul dengan orang lain karena lebih senang sendiri. Saya tidak suka karena saya sudah memandang lingkungan luar selalu menyakiti terutama dari kata-kata dalam batin saya sering sekali seperti dari tetangga. Jadi hampir semua orang kunilai sama. Susah untuk menghilangkan persepri itu. Aku saking seringnya, hal-hal kecil bisa menyakiti hati. Aku heran kenapa aku over banget. Gampang banget tersinggung tertutama belakangan ini. Aktivitas sehari-hari di rumah saja. Apakah saya depresi? Apa yang harus saya lakukan?
Jawab:
Hai, Fira. Betul sekali, situasi psikologis atau mood bisa berdampak pada fisik. Reaksinya bisa bermacam-macam dan sangat berbeda pada setiap individu. Reaksi fisik yang kamu alami bisa jadi memang reaksi alergi tertentu. Perlu lebih mengenali, situasi seperti apa yang membuatmu merasa stress sehingga di lain waktu dapat dihindari atau dikontrol.
Untuk menentukan apakah kamu mengalami depresi, membutuhkan pemeriksaan langsung dari psikolog dan psikiater karena memang ada penanganan khusus agar tidak memperparah kondisi. Ibaratnya seperti ketika kamu akan memberi permen pada orang lain. Kamu tidak akan bisa memberi permen pada orang lain, bila kamu tidak punya permen. Kalau kamu tidak tenang dan nyaman dengan dirimu sendiri, bagaimana kamu bisa nyaman dan tenang saat berinteraksi dengan orang lin di sekitarmu. Berbaiksangkalah pada diri sendiri, tenangkan diri lalu motivasi untuk berbuat baik. Berbuat baik pada diri sendiri utamanya.
11 Pertanyaan dari Weni (pertanyaan titipan):
Saya Weni 29 tahun, dengan kelainan jantung bawaan ASD asal Wonosari. Selama mau disuruh operasi oleh dokter jantung aku sering ngga enak rasanya, suka mikir yang aneh-aneh dan susah tidur. Kalau tidur pasti terbangun tengah malam. Bagaimana mengatasinya? Seberapa berdampak pada penyakit yang kita derita? Apa yang harus saya lakukan? Terima kasih.
Jawab:
Selamat malam mbak Weni. Mendengar kabar bahwa harus operasi pasti ada rasa kaget, cemas dan khawatir ya. Semua perasaan itu begitu dominan sehingga terasa membayangi bahkan ketika hendak beristirahat. Mengingat kembali tujuan utama dari langkah operasi ini adalah demi kebaikan diri, akan memberikan kekuatan tersendiri pada diri. Membagikan apa yang kita rasakan pada orang lain dengan curhat dapat meringankan beban yang menggelayut. Sebelum tidur, Mbak bisa mempraktekkan mengatur nafas yang saya bagikan sebelumnya sambil mengucapkan kata-kata positif seperti tubuhku sehat, aku menghargai tubuhku, aku bersyukut atas diriku dan aku mencintai tubuhku. Ucapkan kalimat-kalimat tersebut sambil mengatur nafas dan gerakan tangan memeluk diri sendiri, tangna kanan meraih bahu kiri dan tangan kiri meraih bahu kanan. Merelaksasi tubuh bisa menenangkan dan menyamankan. Selamat mencoba…
Sekali lagi, kita tidak akan pernah bisa mengatur orang lain berpikir apa atau berkata apa, yang bisa kita kontrol adalah diri sendiri. Jangan terpaku pada kondisi fisik, focus pada potensi dan kekuatan yang kita miliki. Semangat untuk kita semua. Terima kasih dan semoga bermanfaat.
-Retno Utari, M.Psi., Psikolog
By | 2019-08-07T03:30:44+00:00 April 1st, 2019|Kuliah lewat Telegram|0 Comments

About the Author:

Yayasan
Yayasan Hipertensi Paru Indonesia adalah komunitas pasien, keluarga, dan kalangan medis pemerhati Hipertensi Paru. Silakan klik Daftar Anggota untuk bergabung dalam komuniitas dan klik IndoPHfamily untuk bergabung di forum utama pasien di Facebook
WhatsApp chat